Aku Dipaksa Oleh Ayah Tiriku

7th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 2210 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Aku Dipaksa Oleh Ayah Tiriku

Charles masih terlalu kecil untuk bisa
membantu dan mengerti tentang kesulitan hidup. Meski usia ibu sudah
berkepala empat tetapi masih cantik dan bentuk tubuhnya masih bahenol
dan menarik. Maklum ibu memang suka memelihara tubuhnya dengan jamu
Jawa. Selain itu, sejak muda ibu memang cantik. Ibuku blasteran,
ayahnya belanda dan Ibu Sunda. Ayahku sendiri dari suku Ambon tetapi
kelahiran Banyumas. Ia lebih Jawa ketimbang Ambon, meski namanya Ambon.
Selama hidup sampai meninggal ayah bahkan belum pernah melihat Ambon.

Ayah
meninggal karena kecelakaan bus ketika bertugas di Jakarta. Bus yang
ditumpanginya ngebut dan nabrak truk tangki yang memuat bahan bakar
bensin. Truk dan bus sama-sama terbakar dan tak ada seorang
penumpangpun yang selamat termasuk ayahku.

Sejak itu, ibuku
menjanda sampai tiga tahun lamanya. Baru setahun yang lalu diam-diam
ibu pacaran dengan duda tanpa anak, teman sekantor ayahku dulu. Namanya
Sutoyo, usianya sama dengan ibuku, 42 tahun. Sebenarnya aku sudah
curiga, sebab Pak Toyo (aku memanggil-nya “Pak” karena teman ayahku)
yang rumahnya jauh sering datang minum jamu dan ngobrol dengan ibuku.
Lama-lama mereka jadi akrab dan lebih banyak ngobrolnya daripada minum
jamu. Kecurigaanku terbukti ketika pada suatu hari. ibu memanggilku dan
diajaknya bicara secara khusus.

“Begini Cyn”, kata ibu waktu itu.

“Ayahmu kan sudah tiga tahun meninggalkan kita, sehingga ibu sudah cukup lama menjanda.”

Aku
langsung bisa menebak apa yang akan dikatakan ibu selanjutnya. Aku
sudah cukup dewasa untuk mengetahui betapa sepinya ibu ditinggal ayah.
Ibu masih muda dan cantik, tentunya ia butuh seseorang untuk
mendampinginya, melanjutkan kehidupan. Aku sadar sebab aku juga wanita
meski belum pernah menikah.

“Ibu tak bisa terus menerus hidup
sendiri. Ibu butuh seseorang untuk mendampingi ibu dan merawat kalian
berdua, kamu dan adikmu masih butuh perlindungan, masih butuh kasih
sayang dan tentu saja butuh biaya untuk melanjutkan studi, kalian demi
ibu sudi menikah kembali dengan Pak Toyo dengan harapan masa depan
kalian lebih terjamin.

Kamu mengerti?” begitu kata ibu.

“Ibu mau menikah dengan Pak Toyo?” aku langsung saja memotongnya.

“Tidak apa-apa kok Bu, Pak Toyo kan orang baik, duda lagi. Apalagi dia kan bekas teman ayah dulu!”.

“Rupanya
kamu sudah cukup dewasa untuk bisa membaca segala sesuatu yang terjadi
sekelilingmu, Cyn”, ibu tersenyum. “Kamu benar-benar mirip ayahmu.”

Tak
berapa lama kemudian ibu menikah dengan Pak Toyo dengan sangat
sederhana dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat. Sesudah itu ibu
diboyong ke rumah Pak Toyo, dan rumah kami, kios dan segala isinya
menjadi tanggung jawabku. Ibu datang pagi hari setelah kios aku buka
dan pulang sore hari dijemput Pak Toyo sepulangnya dari kantor.

Kehidupan
kami bahagia dan biasa-biasa saja sampai pada suatu hari, sekitar empat
bulan setelah ibu menikah, suatu tragedi di rumah tangga terjadi tanpa
setahu ibuku. Aku memang sengaja diam dan tidak membicarakan peristiwa
itu kepada ibuku, aku tidak ingin melukai perasaannya. Aku terlalu
sayang pada ibu dan biarlah kutanggung sendiri.

Kejadian itu
bermula ketika aku sedang berada di rumah ibuku (rumah Pak Toyo)
mengambil beberapa barang dagangan atas suruhan ibu. Hal tersebut biasa
kulakukan apabila aku sedang tidak kuliah. Bahkan aku juga sering tidur
di rumah ibuku bersama adik. Tak jarang sehari penuh aku berada di
rumah ibu saat ibu berada di rumah kami menjaga kios jamu.

Kadangkala
aku memang butuh ketenangan belajar ketika sedang menghadapi ujian
semester. Rumah ibu Sepi di siang hari sebab Pak Toyo bekerja dan ibu
menjaga kios, sementara di rumah itu tidak ada pembantu. Siang itu ibu
menyuruhku mengambil beberapa barang di rumah Pak Toyo karena
persediaan di kios habis. Ibu memberiku kunci agar aku bisa masuk rumah
dengan leluasa. Tetapi ketika aku datang ternyata rumah tidak dikunci
sebab Pak Toyo ada di rumah. Aku sedikit heran, kenapa Pak Toyo pulang
kantor begitu awal, apakah sakit?

“Lho, Bapak kok sudah pulang?” tanyaku dengan sedikit heran. “Sakit ya Pak?”.

“Ah tidak”, jawab Pak Toyo.” Ada beberapa surat ketinggalan. kamu sendiri kenapa kemari? Disuruh ibumu ya?”.

“Iya
Pak, ambil beberapa barang dagangan”, jawabku biasa-biasa saja. Seperti
biasa aku terus saja nyelonong masuk ke ruang dalam untuk mengambil
barang yang kuperlukan.

Tak kusangka, Pak Toyo mengikutiku dari
belakang. Ketika aku sudah mengambil barang dan hendak berbalik, Pak
Toyo berdiri begitu dekat dengan diriku sehingga hampir saja kami
bertubrukan. Aku kaget dan lebih kaget lagi ketika tiba-tiba Pak Toyo
memeluk pinggangku. Belum sempat aku protes, Pak Toyo sudah mencium
bibirku, dengan lekatnya.

Barang dagangan terjatuh dari tanganku
ketika aku berusaha mendorong tubuh Pak Toyo agar melepaskan tubuhku
yang dipeluknya erat sekali. Tetapi ternyata Pak Toyo sudah kerasukan
setan jahanam. Ia sama sekali tak menghiraukan doronganku dan bahkan
semakin mempererat pelukannya. Aku tak berhasil melepaskan diri. Pak
Toyo menekan tubuhku dengan tubuhnya yang besar dan berat. Aku mau
berteriak tetapi tiba-tiba tangan kanan Pak Toyo menutup mulutku.

“Kalau kamu berteriak, semua tetangga akan berdatangan dan ibumu akan sangat malu”, katanya dengan suara serak.

Nafasnya terengah-engah menahan nafsu. “Berteriaklah agar kita semua malu!”

Aku
jadi ketakutan dan tak berani berteriak. Rasa takut dan kasihan kepada
ibu membuat aku luluh. Pikirku, bagaimana kalau sampai orang lain tahu
apa yang sedang terjadi dan apa yang diperbuat suami ibuku terhadapku.

Belum
lagi aku jernih berpikir Pak Toyo menyeretku masuk ke kamar tidur dan
mendorongku sampai jatuh telentang di tempat tidur. Dengan garangnya
Pak Toyo menindih tubuhku dan menciumi wajahku. Sementara tangannya
yang kanan tetap mendekap mulutku, tangan kirinya mengambil sesuatu
dari dalam saku celananya. Benda kecil licin segera dipaksakan masuk ke
dalam mulutku. Benda kecil yang ternyata kapsul lunak itu pecah di
dalam mulut dan terpaksa tertelan. Setelah menelan kapsul itu mataku
jadi berkunang-kunang, kepalaku jadi berat sekali dan anehnya, gairah
seksku timbul secara tiba-tiba. Jantungku berdebar keras sekali dan
aliran darahku terasa amat cepat. Entah bagaimana, aku pasrah saja dan
bahkan begitu mendambakan sentuhan seorang lelaki. Gairah itu begitu
memuncak dan menggebu-gebu itu datang secara tiba-tiba menyerang
seluruh tubuhku.

Samar-samar kulihat wajah Pak Toyo menyeringai
di atasku. Perlahan-lahan ia bangkit dan melepaskan seluruh pakaianku.
Kemudian ia membuka pakaiannya sendiri. Aku tak bisa menolak. Diriku
seperti terbang di awang-awang dan meski tahu apa yang sedang terjadi,
tetapi sama sekali tak ada niat untuk melawan.

Begitu juga
ketika Pak Toyo yang sudah tak berpakaian menindih tubuhku dan
menggerayangi seluruh badanku, aku pasrah saja. Bahkan ketika aku
merasakan suatu benda asing memasuki tubuhku, aku tak bisa berbuat
apa-apa. Tak kuasa untuk menolak, karena aku merasakan kenikmatan luar
biasa dari benda asing yang mulai menembus dan bergerak-gerak di dalam
liang kewanitaanku. Kesadaranku entah berada di mana. Hanya saja aku
tahu, apa yang sedang terjadi pada diriku, Aku telah diperkosa Pak Toyo!

Ketika
siuman, kudapati diriku telentang di ranjang Pak Toyo (yang juga
ranjang ibuku) tanpa busana. Pakaianku berserakan di bawah ranjang.
Sprei morat-marit dan kulihat bercak darah di sprel itu. Aku
menangis…, aku sudah tidak perawan lagi! Aku sudah kehi1angan apa
yang paling bernilai dalam hidup seorang wanita. Aku merasa jijik dan
kotor. Aku bangkit dan bagian bawah tubuhku terasa sakit sekali…,
nyeri! Tetapi aku tetap berusaha bangkit dan dengan tertatih-tatih
berjalan ke kamar mandi. Kulihat jam dinding, Wah…, Sudah tiga jam
aku berada di rumah itu. Aku harus segera pulang agar ibu tidak
menunggu-nunggu. Aku segera mandi dan membersihkan diri serta berdandan
dengan cepat.

Kuambil barang dagangan yang tercecer di lantai
dan segera pulang. Pak Toyo sudah tidak kelihatan lagi, mungkin sudah
kembali ke kantor. Kubiarkan ranjang morat-marit dan sprei berdarah itu
tetap berada di sana. Aku tak peduli. Hatiku sungguh hancur lebur.
Kebencianku kepada Pak Toyo begitu dalam. Pada suatu saat, aku akan
membalasnya.

“Kok lama sekali?” tanya ibu ketika aku datang.

“Bannya
kempes Bu, nambal dulu!” jawabku sambil mencoba menutupi perubahan
wajahku yang tentu saja pucat dan malu. Kuletakkan barang dagangan di
meja dan rasanya ingin sekali aku memeluk ibu dan memohon maaf serta
menceritakan apa yang telah dilakukan suaminya kepadaku.

Tetapi
hati kecilku melarang. Aku tak ingin membuat ibu sedih dan kecewa. Aku
tak ingin ibuku kehilangan kebahagiaan yang baru saja didapatnya. Aku
tak kuasa membayangkan bagaimana hancurnya hati Ibu bila mengetahui apa
yang telah dilakukan suaminya kepadaku. Biarlah Untuk sementara
kusimpan sendiri kepedihan hati ini.

Dengan alasan hendak ke
rumah teman, aku mandi dan membersihkan diriku (lagi). Di kamar mandi
aku menangis sendiri, menggosok seluruh tubuhku dengan sabun
berkali-kali. Jijik rasanya aku terhadap tubuhku sendiri. Begitu keluar
dan kamar mandi aku langsung dandan dan pamit untuk ke rumah teman.
Padahal aku tidak ke rumah siapa-siapa. Aku larikan motorku keluar kota
dan memarkirnya di tambak yang sepi. Aku duduk menyepi sendiri di sana
sambil menguras air mataku.

“Ya Tuhan, ampunilah segala dosa-dosaku” ratapku seorang diri.

Baru
sore menjelang magrib aku pulang. Ibu sudah dijemput Pak Toyo pulang ke
rumahnya sehingga aku tak perlu bertemu dengan lelaki bejat itu. Kios
masih buka dan adik yang menjaganya. Ketika aku pulang, aku yang
menggantikan menjaga kios dan adik masuk untuk belajar.

Untuk
beberapa hari lamanya aku sengaja tidak ingin bertemu Pak Toyo. Malu,
benci dan takut bercampur aduk dalam hatiku. Aku sengaja menyibukkan
diri di belakang apabila pagi-pagi Pak Toyo datang mengantar ibu ke
kios. Sorenya aku sengaja pergi dengan berbagai alasan saat Pak Toyo
menjemput ibu pulang.

Namun meski aku sudah berusaha untuk terus
menghindar, peristiwa itu toh terulang lagi. Peristiwa kedua itu
sengaja diciptakan Pak Toyo dengan akal liciknya. Ketika sore hari
menjemput ibu, Pak Toyo mengatakan bahwa ia baru saja membeli sebuah
sepeda kecil untuk adikku, Charles. Sepeda itu ada di rumah Pak Toyo
dan adik harus diambil nya sendiri.

Tentu saja adikku amat
gembira dan ketika Pak Toyo menyarankan agar adik tidur di rumahnya,
adik setuju dan bahkan ibu dengan senang hati mendorongnya. Bertiga
mereka naik mobil dinas Pak Toyo pulang ke rumah mereka. Karena tidak
ada orang lain di rumah, sebelum Pukul sembilan kios sudah kututup.

Rupanya,
setelah sampai di rumah dan menyerahkan sepeda kecil kepada adik, Pak
Toyo beralasan harus kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus
diselesaikannya malam itu juga. Ibu tidak curiga dan sama sekali tidak
mengira kelau kepergian suaminya sebenarnya tidak ke kantor, melainkan
kembali ke kios untuk nemperkosaku.

Waktu itu sudah pukul
sepuluh malam dan kios sudah lama aku tutup. Tiba-tiba saja Pak Toyo
sudah ada di dalam rumah. Rupanya Ia punya kunci milik ibu sehinga ia
bisa bebas keluar masuk rumah kami. Aku amat kaget dan ingin
mendampratnya, tetapi kembali dengan tenang dan wajah menyeringai, Pak
Toyo mengancamku “Ayo, berteriaklah agar semua tetangga datang dan tahu
apa yang sudah aku lakukan terhadapmu!” ancamnya serius. “Ayo
berteriaklah agar ibumu malu dan seluruh keluargamu tercoreng!”
tambahnya dengan suara serak.

Sekali lagi aku terperangah.
Mulutku sudah mau berteriak tetapi kata-kata Pak Toyo sekali mengusik
hatiku. Perasaan takut akan terdengar tetangga, ketakutan nama ibuku
akan menjadi tercoreng, kecemasan bahwa tetangga akan mengetahui
peristiwa perkosaanku, aku hanya berdiri terpaku memandang wajah penuh
nafsu yang siap menerkamku. Aku tak bisa berpikir jernih tagi. Hanya
perasaan takut dan takut yang terus mendesak naluriku.

Sebelum
aku mampu mengambil keputusan apa yang akan kulakukan, Pak Toyo sudah
maju dan mendekap tubuhku. Sekali lagi aku ingin berteriak tetapi
suaraku tersendat di tenggorokan. Entah bagaimana awalnya namun yang
aku tahu lelaki itu sudah menindih tubuhku dengan tanpa busana. Yang
jelas, malam itu aku terpaksa melayani nafsu suami ibuku yang
menggebu-gebu.

Dengan ganas ayah tiriku itu memperlakukan aku
seperti pelacur. Ia memperkosaku berkali-kali tanpa belas kasihan.
Dengus nafasnya yang berat dan tubuhnya yang menindih tubuhku apalagi
ketika ada sesuatu benda keras mulai masuk menyeruak membelah bagian
sensitif dan paling terhormat bagi kewanitaanku membuat aku merintih
kesakitan. Aku benar-benar dijadikannya pemuas nafsu yang benar-benar
tak berdaya.

Pak-Toyo kuat sekali. Ia memaksaku berbalik kesana
kemari berganti posisi berkali-kali dan aku terpaksa menurut saja.
Hampir dua jam Pak Toyo menjadikan tubuhku sebagai bulan-bulanan nafsu
seksnya. Bukan main! Begitu ia akan selesai kulihat Pak Toyo mencabut
batangannya dari kemaluanku dengan gerakan cepat ia mengocok-ngocokkan
batangannya yang keras itu dengan sebelah tangannya dan dalam hitungan
beberapa detik kulihat cairan putih kental menyemprot dengan banyak dan
derasnya keluar dari batang kejantanannya, cairan putih kental itu
dengan hangatnya menyemprot membasahi wajah dan tubuhku, ada rasa jijik
di hatiku selain kurasakan amis dan asin yang kurasakan saat cairan itu
meleleh menuju bibirku, setelah itu ia lunglai dan terkapar di samping
tubuhku, tubuhku sendiri bagai hancur dan tak bertenaga.

Seluruh
tubuhku terasa amat sakit, dan air mata bercucunan di pipiku. Namun
terus terang saja, aku juga mencapai orgasme. Sesuatu yang belum pernah
kualami sebelumnya. Entah apa yang membuat ada sedikit perasaan senang
di dalam hatiku. Rasa puas dan kenikmatan yang sama sekali tak bisa aku
pahami. Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa terjadi, tetapi
kadangkala aku justru rindu dengan perlakuan Pak Toyo terhadapku itu.
Aku sudah berusaha berkali-kali menepis perasaan itu, tetapi selalu
saja muncul di benakku. Bahkan kadangkala aku menginginkan lagi dan
lagi! Gila bukan?

Dan memang, ketika pada suatu sore ibu sedang
pergi ke luar kota dan Pak Toyo mandatangiku lagi, aku tak menolaknya.
Ketika ia sudah berada di atas tubuhku yang telanjang, aku justru
menikmati dan mengimbanginya dengan penuh semangat. Rupanya apa yang
dilakukan Pak Toyo terhadapku telah menjadi semacam candu yang
membuatku menjadi kecanduan dan ketagihan. Aku kini mulai menikmati
seluruh permainan dan gairah yang luar biasa yang tak bisa kuceritakan
saat ini dengan kata-kata.

Pak Toyo begitu bergairah dan
menikmati seluruh lekuk-lekuk tubuhku dengan liarnya, akupun mulai
berani mencoba untuk merasakan bagian-bagian tubuh seorang lelaki,
akupun kini mulai berani untuk balas mencumbui, membelai seluruh bagian
tubuhnya dan mulai berani untuk menjamah batang kejantanan ayah tiriku
ini, begitu keras, panjang dan hangat. Aku menikmati dengan
sungguh-sungguh, Luar Biasa!

Pada akhir permainan Pak Toyo
terlihat amat puas dan begitu juga aku. Namun karena malu, aku tak
berkata apa-apa ketika Pak Toyo meninggalkan kamarku. Aku sengaja diam
saja, agar tak menunjukkan bahwa aku juga puas dengan permainan itu.
Bagaimanapun juga aku adalah seorang wanita yeng masih punya rasa malu.
Akan tetapi, ketika Pak Toyo sudah pergi ada rasa sesal di dalam hati.
Ada perasaan malu dan takut. Bagaimanapun Pak Toyo adalah suami ibuku.
Pak Toyo telah menikahi ibuku secara sah sehingga ia menjadi ayah
tiriku, pengganti ayah kandungku.

Adalah dosa besar melakukan
hubungan tak senonoh antara anak dan ayah tiri. Haruskah kulanjutkan
pertemuan dan hubungan penuh nafsu dan maksiat ini?

Di saat-saat
sepi sediri aku termenung dan memutuskan untuk menjauh dan Pak Toyo,
serta tidak melakukan hubungan gelap itu lagi. Namun di saat-saat ada
kesempatan dan Pak Toyo mendatangiku serta mengajak “bermain” aku tak
pernah kuasa menolaknya. Bahkan kadangkala bila dua atau tiga hari saja
Pak Toyo tidak datang menjengukku, aku merasa kangen dan ingin sekali
merasakan jamahan-jamahan hangat darinya.

Perasaan itulah yang
kemudian membuat aku semakin tersesat dan semakin tergila-gila oleh
“permainan” Pak Toyo yang luar biasa hebat. Dengan penuh kesadaran
akhirnya aku menjadi wanita simpanan Pak Toyo di luar pengetahuan ibuku.

Sampai
sekarang rahasia kami masih tertutup rapat dan pertemuan kami sudah
tidak terjadi di rumah lagi, tetapi lebih banyak di losmen, hotel-hotel
kecil dan di tempat-tempat peristirahatan. Yah, disana aku dan Pak Toyo
bisa bermain cinta dengan penuh rasa sensasi yang tinggi dan tidak
kuatir akan kepergok oleh ibuku, kini aku dan ayah tiriku sudah seperti
menjadi suami istri.

Untuk mencegah hal-hal yang sangat mungkin
terjadi, dalam melakukan hubungan seks Pak Toyo selalu memakai kondom
dan aku pun rajin minum jamu terlambat bulan. Semua itu tentu saja di
luar sepengetahuan ibu. Aku memang puas dan bahagia dalam soal
pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi sebenarnya jauh di dalam lubuk
hati-aku sungguh terguncang. Bagaimana tidak? Aku telah merebut suami
ibuku sendiri dan ‘memakannya’ secara bergantian.

Kadangkala aku
juga merasa kasihan kepada ibu yang sangat mencintaiku. Kalau saja
sampai ibu tahu hubungan gelapku dengan Pak Toyo, Ibu pasti akan sedih
sekali. Hatinya bakal hancur dan jiwanya tercabik-cabik. Bagaimana
mungkin anak yang amat disayanginya bisa tidur dengan suaminya? Sampai
kapan aku akan menjalani hidup yang tak senonoh dan penuh dengan
maksiat ini?

Entahlah, sekarang ini aku masih kuliah. Mungkin
bila nanti sudah lulus dan jadi sarjana aku bisa keluar dan lingkugan
rumah dan bekerja di kota lain. Saat ini mungkin aku belum punya
kekuatan untuk pergi, tetapi suatu saat nanti aku pasti akan pergi jauh
dan mencari lelaki yang benar-benar sesuai dan dapat kuandalkan sebagai
suami yang baik, dan tentunya kuharapkan lebih perkasa dari yang
kudapatkan dan kurasakan sekarang.

Mungkin dengan cara itu aku bisa melupakan Pak Toyo dan melupakan peristiwa-peristiwa yang sangat memalukan itu.

TAMAT                   

Aku Dipaksa Oleh Ayah Tiriku