www.sang-pakar.site Aku Ingin Rasakan Lubang Pantatmu Bu Dosen

Terima kasih kuucapkan kepada penggemar
situs ranjangpedas, ini adalah ceritaku yang terjadi beberapa waktu
lalu dan akan terjadi terus, entahlah sampai kapan aku pun tidak akan
pernah tahu. Cerita yang akan kuutarakan sekarang adalah cerita
pengalamanku yang kedua, tapi dalam cerita ini aku pada lawan jenisku
ini yang pertama. Dan cerita pertamaku telah kuutarakan sebelumnya.
Baiklah aku akan memberi tahu sedikit tentang keadaanku, sebut saja
namaku Andra, aku berumur 20 tahun, tinggi badanku sekitar 170 cm, aku
tidak terlalu ganteng, tapi bisa disebut lebih dari lumayan, hidungku
tidak mancung dan tidak juga pesek, ukurannya pun sedang, rambutku ikal
dan sekarang sedang akan kupanjangi. Postur tubuhku bagus hal ini
mungkin karena aku suka olahraga yang bersifat pertarungan, karena
itulah aku ikut bermacam olahraga bela diri. Dadaku bidang dan sedikit
ditumbuhi bulu.

Pengalaman ini terjadi beberapa waktu lalu
dengan seorang dosen pembimbing di tempatku kuliah. (Oh yach, aku
kuliah di PTS terkenal di kotaku dengan jurusan teknik). Saat ini aku
masih tahun pertama kuliah. Kejadian ini sebenarnya sebelumnya belum
ada di otakku, hal ini terjadi di luar keinginanku, tapi dasar nafsu
kalau sudah menjadi raja maka tidak akan tahu lagi berbuat apa.

Sebut
saja nama dosenku Amelia, orangnya lumayan cantik, umurnya berkisar 43
tahun. Kulitnya putih bersih dan kelihatan mulus sekali, tingginya
sekitar 165 cm, bodinya bagus banget, orang bilang seperti gitar
Spanyol, lingkar pantatnya bulat, pinggangnya ramping dengan buah dada
yang ranum berukuran, setelah kejadian tersebut kuketahui 36B, pokoknya
“tokcer” dech. Aku biasanya memanggil dosenku ini dengan sebutan “Ibu”,
Ia dosen tetap di Universitasku, bidangnya Kalkulus (untuk mahasiswa
teknik pasti tahu). Aku senang belajar dengannya, ia pandai sekali dan
paham sekali bagaimana mengajar yang baik dan ia sangat disiplin
terhadap mahasiswanya.

Saat awal-awal kuliah, tidak ada yang
spesial yang terjadi antara aku dengannya, yach biasa saja, layaknya
mahasiswa yang lain, tapi tanpa kusadari Bu Lia selalu memperhatikanku
(kuketahui setelah ini). Tapi setelah menjelang ujian tengah semester
aku mulai curiga dengan gerak-gerik dan perhatiannya padaku. Kalau
tidak salah waktu itu aku datang agak telat sehingga pelajaran untuk
sesaat berhenti. Bu lia memperhatikanku, aku dapat bangku di urutan
paling depan (yach, biasanya bangku paling depan selalu paling akhir
diisi). Sejenak kupikir ia melihatku terlalu lama karena aku datang
telat, tapi setelah pelajaran mulai ia selalu melirik kepadaku, dan aku
sadar sekali tentang hal itu dan aku menjadi risih karena hampir setiap
3 menit ia selalu melirikku, dan aku lebih risih lagi ketika ia melirik
bagian selangkanganku yang waktu itu aku memakai celana yang agak
ketat, sehingga bagian selangkanganku kelihatan mengelembung, (mungkin
penisku kebesaran yang menurut Bu Lia setelah kejadian ini). Aku waktu
itu makai baju jungkis dan di luarnya kupakai kemeja, aku
berusaha menutupi bagian selangkanganku dengan kemeja yang kupakai
sebagai jaket. Karena sering melirik maka ia mengajar pelajaran jadi
sering salah, ini terbukti dengan perkatannya, “Kok saya sering salah
yach..” hal ini dikatakannya setelah ia berbuat kesalahan untuk
kesekian kalinya.

Dalam hatiku berkata, makanya jangan melirik
yang tidak-tidak dong. Hal itu berlangsung hingga 3 kali pertemuan, dan
juga ia sepertinya lebih mendekatkan diri padaku, tapi aku tetap jaga
image antara aku dengan dosen tentu aku berusaha sebaik mungkin padanya
walau aku bertanya-tanya dalam hati apa ia tidak puas sama suaminya.
Hingga ujian tengah semester berlalu, aku tahu ujianku banyak yang
betul dan aku tahu nilaiku bisa berkisar antara A atau B. Tapi saat itu
ia memanggilku ke ruangannya sehabis kuliah usai.

“Ndra… nanti kamu ikut saya ke ruangan saya!”

“Baik, Bu.. tapi ada apa yach Bu…” jawabku ingin tahu.

“Tidak ada apa-apa, saya ingin minta tolong pada kamu satu hal…” jawabnya dengan penuh senyum di bibirnya yang mungil.

Aku
bertanya-tanya dalam hati ada apakah gerangan, sekilas terpikir olehku
ia akan mengajakku melakukan… Tapi kubuang pikiranku itu jauh-jauh
takut-takut nanti ia bisa mengerti pikiran orang lagi.

Aku
mengikutinya dari belakang menuju ruangnya yang terletak cukup jauh
dari keramaian mahasiswa. Dalam perjalan ke sana aku berusaha untuk
tetap untuk tidak negatif thinking, dengan cara berbicara
dengannya apa saja tentu berhubungan dengan kuliah yang diberikannya
tadi karena memang aku agak kurang paham karena pikiranku
terbelah-belah. Sesampai di ruangnya ia duduk di kursinya dan aku tetap
berdiri karena memang kebetulan di situ hanya ada satu kursi, dan aku
memberanikan diri untuk bertanya padanya.

“Ada apa yach Bu, sehingga saya harus ikut Ibu ke ruangan Ibu..?”

“Begini, kemarin Ibu sudah membuat semua daftar nilai hasil ujian MID semua mahasiswa yang kuliah dengan Ibu, tapi daftar tersebut tanpa sengaja hilang entah kemana..” jelasnya.

“Jadi… Bu..?” tanyaku tidak sabaran.

“Jadi
Ibu pingin minta tolong, sama kamu untuk membantu Ibu untuk membuat
daftar itu lagi, padahal kalau Ibu sendiri yang membuatnya harus makan
waktu 2 malam, karena harus teliti…” jelasnya lagi.

“Gimana, dengan hasil ujian saya Bu..?” tanyaku lagi untuk menyakinkan hasil dengan prakiraanku.

“Karena
itulah Ibu minta tolong sama kamu, kamu dapat nilai A untuk ujian ini,
jadi Ibu pikir kamu sanggup membantu Ibu,” pintanya dengan sedikit nada
memohon.

“Kapan Bu…?” tanyaku singkat karena aku bangga dengan hasil ujianku yang baru kuketahui.

“Kamu tidak kemana-mana kan malam ini..?”

“Tidak..” balasku singkat.

“Malam ini aja yach, kamu tau kan alamat ini,” seraya ia sambil menyodorkan alamatnya.

Tanpa
sengaja kertas itu jatuh. Aku mengambil kertas itu dengan membungkukkan
badan, ia pun berniat menggambilnya, posisiku dengannya dekat sekali
bahkan aku bisa mencium bau parfumnya yang menggairahkan.

“Maaf Bu..” ucapku padanya.

“Tidak apa kok Ndra…”

Bibirnya kecilnya sembari memberi senyuman yang memikat. Aku bahkan bisa mencium nafasnya yang harum.

Jam
7:30 malam aku berniat menepati janjiku pada dosenku yang satu ini. Aku
mandi, dan berdandan dengan rapi, dan tanpa menunggu lagi ku-stater
Civic Wonder-ku ke alamat yang tadi kusimpan. Tanpa kesulitan aku
sampai alamat yang dituju karena memang aku sudah hafal keadaan kotaku.
Rumahnya besar sekali dengan 2 lantai, dengan halaman yang luas dan
pagar yang tinggi, di sisi bagian kanan belakang dapat kuterka ada
kolam renang, berarti menandakan ia orang yang cukup kaya. Aku masuk
dengan pagar yang dibukakan oleh satpam jaga dan langsung tanpa
mengetuk pintu ia keluar dan menyuruhku masuk. Aku tertegun dengan
kedaannya, ia memakai gaun tidur berwarna kuning muda, yang tipis dan
panjangnya, hanya sampai lutut. Rambutnya yang sebahu di biarkan
tergerai, aku terdiam beberapa saat. Betapa cantiknya dia malam itu,
maupun dengan keadaan rumahnya, ruangan tamunya tertata dengan rapi,
baik perabotannya maupun kedaan sofanya yang kelihatannya berharga
jutaan rupiah, maupun furniture lainnya.

“Hayo, masuk…! lagi mikirin apa sich…” tegurnya membuyarkan lamunanku.

“Ah.. tidak apa kok Bu..” ucapku sekenanya.

Aku melangkah masuk dan duduk di ruangan tengah karena ia menyuruhku untuk mengikutinya di ruangan itu.

“Mau minum apa Ndra…” tanya pemilik bibir manis ini.

“Apa aja dech Bu asal jangan es teh aja Bu..”

Masalahnya saat itu hujan mulai turun dengan lebat saat aku masuk ke rumah mewah ini.

“Coklat panas, mungkin bagus yach buat kamu…” tanyanya.

“Iya dech Bu, coklat panas aja..”

Karena aku memang suka sekali coklat.

Setelah
berbincang sebentar, aku menanyakan pekerjaan yang akan kubantu. Tapi
bagus juga untuk menghilangkan kekakuan antara kami. Dan aku jadi tahu
kalau suaminya seorang pengusaha mebel dan furniture antik dan sekarang
sedang berada di luar negeri untuk mengembangkan usahanya di sana,
anaknya ada 2 orang yang besar sekarang sedang kuliah di Jerman
sekarang sudah tahun ketiga, dan yang kecil cewek masih SMU dan lebih
sering menginap di rumah neneknya karena memang rumah neneknya dekat
dengan sekolahnya. Dan di rumah itu sekarang hanya aku dan dia,
sedangkan pembantunya, suami istri tinggal tidak jauh dari rumah mewah
ini dan datang dari pagi hingga sore. Satpam 1 orang dan akan tetap
berada di posnya hingga pagi. Berarti hanya ada aku dan dia di rumah
ini.

“Oh Yach, Bu, mana hasil ujiannya..” tanyaku setelah ngalor-ngidul kemana-mana.

“Oh iya, jadi kepanjangan ngomongnya,” seraya memberi senyuman dan tawa kecil.

Ia
memintaku untuk ikut ke ruangan kerjanya yang terletak di dalam kamar
pribadinya, semula aku menolak karena tidak sopan masuk ke kamar
seorang wanita yang suaminya tidak di rumah. Tapi karena sedikit
paksaan aku mau juga. Kamarnya besar sekali art-nya begitu indah, dengan luas kira-kira 7 m x 5 m, bayangkan saja bathtub-nya
terletak di dalam kamar dengan gaya Romawi, sedangkan meja kerja
terletak di seberangnya 2 kursi dan di dalamnya dilengkapi televisi
layar datar 60 inci, dan elektronik lainnya. Aku duduk di kursi
kerjanya dan tiba-tiba ia merangkulku.

“Ndra… sebenarnya tidak
ada yang namanya daftar nilai, daftar nilai hanya ada jika udah ujian
semester,” katanya begitu lembut hingga hampir seperti berbisik di
telingaku.

Aku bingung, masih belum hilang bengongku ia berbisik di telingaku dan mencium telingaku.

“Ndra… bantu Ibu ya, puaskan Ibu…”

“Tidak mungkin Bu…” aku setengah menolak tapi tidak mencegahnya untuk membuka kancing kemejaku satu persatu.

“Kamu mengerti kan, keadaan seorang istri yang sering ditinggal lama oleh suaminya,” kata Ibu Lia setengah memohon.

Detik
berikutnya aku berdiri dan membiarkan dia melucuti satu persatu
pakaianku dan sampai aku telanjang bulat, matanya tak berkedip manatap
kemaluanku yang over size, panjangnya kira-kira 20 cm dengan diameter 4 cm.

“Bu… jangan cuma dilihat dong Bu…” kataku sedikit bercanda.

“Punyamu
besar sekali, mungkin tidak masuk semua ke dalam vagina Ibu..” balasnya
dengan nafas sedikit memburu menandakan ia terangsang dan betul-betul
bernafsu.

Kemudian aku mendekatinya dan mencium bibirnya dengan
lembut serta melumat bibirnya yang kecil, bahkan lidah kami saling
memilin, tangan kiri menggosok tengkuk dan pundaknya sedangkan tangan
kananku meremas buah dada indah milik orang yang sebelumnya kuhormati,
putingnya kuputar dengan lembut walau masih diluar gaun sutra yang
lembut ini. Lain halnya dengan tangan Bu Lia, tangan kanannya
mengocok-ngocok kemaluanku yang tadi sudah sedikit tegang, dan tangan
kirinya berusaha melepaskan ikatan gaun tidurnya. Aku pun membantunya
melepaskan gaun tidurnya itu, dan ia langsung bugil, ternyata tanpa
menggunakan BH, ia juga tidak menggunakan celana dalam, (oh yach aku
belum melihat bentuk vaginannya, karena bibir kami masih saling
melumat). Aku meneruskan aksiku ini, bahkan sekarang tangan kiriku
meremas payudara kanannya dan tangan kananku meremas pantatnya yang
aduhai (bahenol), bibirku menghisap bibir bawahnya, air ludah kami
bercampur terasa manis dan lidahku berusaha masuk ke dalam bibirnya.

Setelah
puas berpagutan, aku mulai turun ke lehernya yang jenjang dan terus ke
tengah-tengah buah dadanya yang padat berisi yang sedikit sudah turun,
aku mendorongnya hingga ia bersandar pada dinding. Lidahku kemudian
menghisap-hisap puting payudaranya dengan kuat, ia merintih keenakan.

“Oh…
ohhmmm… enak sayang…!” desahannya menambah semangatku untuk
menghisap lebih kuat. Bahkan seluruh payudaranya kujilati dan kucupang
dengan kuat, sehingga ia tambah kuat merintih.

“Ahh… ahhhm ohh…”

Aku
semangkin menggila, puas dengan yang kiri kuganti dengan yang kanan
hingga meninggalkan bekas yang memerah. Aku begitu gemas dengan benda
kenyal yang semakin mengeras itu, makanya kukeluarkan jurusku yang
pernah kubaca di buku-buku tentang cara membuat pasangan lebih
terangsang, tapi untuk pengalamannya baru ini yang pertama.

Aku kemudian turun ke bawah dan terus ke
selangkangannya, baunya harum, jauh dari yang kuperkirakan sebelumnya,
tanpa pikir panjang aku kemudian menjilati klitorisnya hingga semakin
keras desahannya. “Ahhh… aaahhh.. ohmmm… enak sayang yach di
situ… ohmmm…” Tidak puas dengan cara berdiri seperti ini aku
kemudian mengangkatnya ke atas meja dan mengangkangkan kakinya selebar
mungkin dan aku duduk di kursi. Kemudian aku kembali mengeluarkan
lidahku dan mengulas klistorisnya dan aku berusaha memasukkan lidahku
sedalam mungkin dalam lubang vaginanya, seperti yang pernah kulihat di
blue film. Kemudian lidahku semakin ke bawah dan aku menjilati anusnya tanpa merasa jijik.

“Kaaammu.. suukaaa kaan… saayyaannng… oh ennakh sekaaallii lidah kamu…” desahannya semakin kuat.

Mungkin kalau ruangan itu tidak kedap suara pasti sampai kedengaran hingga ruang tengah.

“Yach…
Bu… aku akan menjilati sampai Ibu puas…” ucapku sesat melepaskan
jilatanku dan kembali menjilati anusnya, aku mengangkat kaki Bu Lia ke
atas dan kembali menjilati anusnya karena ia tahu aku menjilati anusnya
ia menahan nafasnya sehingga kelihatan seperti sedang buang air, dan
lubang anusnya perlahan membuka. Tanpa membuang kesempatan lidah
bermain lebih dalam ke dalam lubang anusnya dan terus dan kembali ke
liang kemaluannya yang semakin banjir oleh cairan kewanitaannya lalu
kujilati dan sesaat kemudian ia memekik dengan kuat.

“Ah…
ahhh… Nddraaa… Ibuuu tidak tahan lagi, masukin sakarang yach…”
ujarnya di tengah desahannya semakin menjadi yang menambah semangatku.
Aku menyukai vaginanya, habis cairannya terasa sedikit asin dan enak,
mungkin gurih bagiku. Aku tak peduli dengan permintaannya, lidahku
semakin terus menjilati kemaluannya dan jari tengahku keluar masuk di
lubang anusnya, sampai akhirnya.

“Ahhh… ohhhmmm… Ibuu, maauu keluuaarr saayaanng…”

dan..

“Croott… creeettt… croot…”

Tubuh
Bu Lia mengejang dan kaku dan kemudian lemas setelah mengalami orgasme
yang hebat, lidahku kubiarkan di dalam dan terasa otot vaginanya
menjepit dan meremas lidahku. Terbayang olehku pasti enak sekali jika
batang kemaluanku yang ada di dalam liang kemaluannya ini. Lima menit
kemudian kujilati dan kubersihkan kemaluannya dengan lidah, cairan
maninya kujilati dan kutelan semua, habis rasanya enak dan aku suka
sekali.

Ia kembali terangsang dan aku kemudian berbisik
kepadanya untuk pindah di tempat tidur. Aku menggendongnya dan
menghempaskannya di tempat tidur, kakinya kubiarkan terjuntai ke bawah
dan aku kembali mengangkang kakinya lebar-lebar dan kembali kujilati
kemaluannya tapi lima menit kujilati ia duduk dan mendorong tubuhku.
“Sayang… sini Ibu pingin ngisep penismu…” katanya seranya memegang
dan mengocok batang kemaluanku yang tegangnya sudah maksimal. Ia
berusaha memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya yang mungil. Pertama
ia menjilati kepala kemaluanku, rasanya badanku terasa kesetrum
keenakan, seluruh syarafku rasanya tegang, dan detik kemudian ia
berusaha memasukkan kemaluanku yang over long dan over size
ke dalam mulutnya pertama cuma kepala penisku saja yang masuk dan
kemudian mili demi mili masuk ke dalam mulutnya, baru setengahnya ia
sudah menariknya lagi dan menjilati lagi.

“Buu… kalau nggak bisa, tidak usah dimasukin semua Bu…” ujarku.

“Tidak..! harus masuk semua sayang…” timpalnya kembali ia berusaha memasukan batang kemaluanku ke dalam mulutnya.

Baru sampai setengahnya aku menekan pantat ke depan, tanganku memegang kepala Bu Lia.

“Ehk…
akhh…” mulutnya tercekat tapi ia tak berusaha mengeluarkan kemaluanku
dari mulutnya, sudah 3/4 tinggal seperempat lagi dan akhirnya dengan
usaha yang cukup lama kemaluanku masuk semua ke dalam mulutnya hingga
ke pangkalnya. Terasa sedikit ngilu ketika giginya menyetuh kepala
kemaluanku, dan terasa benar olehku kepala kemaluanku sampai di
tenggorokannya. Bu Lia menatapku dengan bangga dan kemudian
mengeluarkan dari mulutnya, dan setelah keluar ia menghisap dan
mengocok serta mengeluar-masukkan kemaluanku ke dalam mulutnya.
“Ahhh… ehhh… eeennaakkhhh…” ujarku sambil memegang kepalanya
seolah-olah aku sedang menyetubuhi mulutnya. 15 menit berlalu dengan
posisi ini aku kemudian mengangkatnya, dan menelentangkannya di atas spring bed
mewah ini dan mengangkangkan kakinya lebar-lebar dan mengarahkan
kemaluanku ke lubang senggamanya, kugosokkan kemaluanku pada
klistorisnya, ia mendesah keenakan.

“Oohh… ennnakhh Sayang ayo
musukkan sekarang…!” Aku mengambil posisi lurus dan menekankan
pantatku secara perlahan dan ternyata sulit juga memasukkan kemaluanku
ke dalam lubang senggamanya, padahal kupikir pasti tidak terlalu sulit
karena ia sudah melahirkan 2 orang anak dari lubang ini, tapi ternyata
masih sangat sempit dan susah untuk dimasuki. Perlahan kumasukkan
sedikit demi sedikit batang kemaluanku ke dalam lubang senggama yang
kelihatannya sangat bersih dan lezat dijilati. “Aahh… aooohhh…
terus… Sayang…” rintihnya saat kemaluanku sudah masukkan 1/3 ke
dalam lubang senggamanya dan aku kemudian menekan sedikit lebih kuat,
ia memekik kesakitan.

“Auuuww… pelan Sayang… sakit…”

“Maaf Bu saya bernafsu sekali.”

Aku
kembali menekankan pantatku perlahan dan 2/3 sudah amblas di dalam
vaginanya yang kempot ke dalam. Aku kembali menyentakkan pantatku
dengan kuat dan ia kembali memekik kesakitan disertai lolongan panjang.

“Aaauuuw… ahhhwww…”

“Maaf Bu…”

Aku
menghentikan dan aku mengatakan bahwa bagaimana kalau istrihat saja dan
berhenti saja dulu, tapi ia mencegahku dan malah ia menyuruhku untuk
mengocoknya.

Aku menurun-naikkan pantatku dengan tempo yang
sangat lambat dan menekan kembali dengan sangat lambat, mungkin dengan
begini otot vaginanya akan terbiasa menerima kemaluanku. “Aahh…
ehhhttt… ohmmm…” desahan Bu Lia semakin membuatku bernafsu, aku
merasakan seluruh kamaluanku dipijat sangat kuat oleh otot vaginanya.
Nikmat sekali rasanya. “Buuu… ennnakh… Bu, punya Ibuu.. semppiit
sekaali Buu… ohmmm…” Aku mendesah dengan kuatnya, aku mempercepat
tempo goyangan pinggulku. Keluar masuk dan sepertinya vaginanya sudah
mulai terbiasa dengan penisku yang semakin mengeras. Cairan pelicin
vagina Bu Lia mengalir dengan derasnya sehingga menambah mudahnya
pergesekan dinding vaginanya dengan batang kemaluanku, hingga berbunyi,
“Belbb… clebb… bleeeb… clebb…”

Lima belas menit kemudian
Bu Lia sepertinya sudah ngos-ngosan, ia mendekatku erat. Aku semakin
bersemangat menaik-turunkan pantatku dengan cepat. Tanganku meremas
payudara kanannya dengan kuat dan putingnya kutekan dengan kuat hingga
keluar air yang berwarna putih dan ternyata itu air susu dan tanpa
ampun aku menyedot puting berwarna coklat muda itu dengan kuat kuremas
payudara itu dengan kuat, kedua-duanya tak luput dari hisapanku
sehingga rangsangan pada Bu Lia semakin bertambah ini ditandai dengan
desahan yang semakin kuat. Akhirnya 5 menit kemudian tubuh Bu Lia
menegang dan ia memeluk dengan erat sekali dan ia berteriak.

“Ndraaa… benamkan yang dalam…”

Tanpa ampun aku menusuknya dengan sangat sehingga terasa olehku pangkal rahimnya.

“Akkuuu…
keluuuaaarr Ndrrraaa, oohhmm eenaakhh…” pekik Bu Lia dengan keras dan
tubuhnya terasa bergetar hebat menandakan ia benar-benar mengalami
orgasmes yang hebat.

“Croottt… ccreettt… crooeettt…”

Mani
Bu Lia terasa sangat hangat dan banyak, mungkin sampai 7 kali semburan
sehingga terasa vagina Bu Lia becek dan dipenuhi oleh maninya sendiri.

Aku
membiarkan kemaluanku di dalam vaginanya beberapa saat, kubiarkan
dosenku yang cantik ini menikmati orgamesnya sambil memilin payudaranya
supaya ia merasa kesempurnaan dari orgasme. 10 menit aku membiarkan
kemaluan yang masih tegar dan belum merasakan akan adanya tanda akan
orgasme, dan kemudian Bu Lia yang bermandikan keringat dan begitu pun
tubuhku berkata,”Ndra.. kamu hebat sekali, aku sudah 2 kali tapi kamu
belum apa-apa…”

Kemudian aku bangkit dan mencabut penisku yang
terasa licin, kemudian kujilati lagi cairan vaginanya sampai bersih,
yah hitung-hitung membangkitkan lagi nafsu si Dosen. Aku mengambil
posisi 69 dan kemudian setelah Bu Lia kembali bernafsu aku meminta
untuk bertumpu pada tangan dan sikunya. Aku akan melakukan doggy style. Aku memasukkan kemaluan dari belakang dan ternyata tanpa sulit lagi kemaluanku amblas di dalam lubang kemaluannya.

“Bless…”

Kemudian
aku kembali mengocok Bu Lia dengan penuh semangat, disertai desahan dan
pekikan dari Bu Lia, begitu denganku berteriak dan mendesah dengan kuat.

“Ahhh… ohhhmm… eeennnaakkhh… koccookk yang keenccang sayyaaangg…” rintih Bu Lia.

Aku
menjilati lehernya dan tanpa hentinya meremas payudara yang mengeras
dan pantatku maju mundur dengan sangat erotis dan beraturan. 12 menit
kemudian Bu Lia kembali mengejang, dan mencapai puncaknya.

“Ohhmm… akuuu sampaiii Ndrraa… sayaanngg…” desahnya dengan tubuh mengejang kaku.

Aku terus mengocoknya tanpa henti bahkan ruangan itu dipenuhi oleh bunyi buah pelir yang basah yang beradu dengan pahanya.

“Plok… plookk…”

Dan bunyi lubang senggama Bu Lia yang sedang beradu dengan batang kemaluanku.

“Bleb… bleeb… cleeb…”

Aku tidak peduli.

“Oh sayaangg aku capek… tooloong berhentiii sebbeentarr,” mohon Bu Lia.

Aku
tahu pasti rasanya ngilu dan geli sekali. Tapi aku tidak peduli bahkan
beberapa menit kemudian Bu Lia kembali mencapai orgasmenya yang keempat
dan saat itu aku sudah merasakan aku sudah hampir keluar dan aku
mempercepat goyangan pinggulku dan merubah posisiku dengan cara
menidurkan Bu Lia dan mengangkat sebelah kakinya dan memasukkannya dari
samping, dan 10 menit kemudian aku merasakan sesuatu yang sudah
terkumpul di ujung kemuluanku akan meledak.

“Aaahhh… Buuu… aaakuuu ssammpaii…” rintihku sampai mendekapnya dengan sangat erat.

“Buu kuukeluuarkan diimannaaa… Buuu…” tanyaku dalam rintihan.

“Dii… dalam aajaaa sayaanng…” pintanya sambil mendekapku kuat.

“Saayyaaangg… Iiibuu… juugaa sampaii ssaayyaanngg kitaa saaammaaa saajaa… ooohhmm…”

Tubuhku merasakan tegang dan kaku, begitupun Bu Lia yang orgasme yang kesekian kalinya, dan…

“Crreeettt… ccrrot… seerr…”

Air
maniku dan air mani Bu Lia keluar bersamaan, kemaluanku sampai ke dasar
rahim Bu Lia. Rasanya penuh sekali dan otot Bu Lia semakin kuat
menjepit kemaluanku. 15 menit aku terdiam menikmati sisa orgasmeku,
begitu juga Bu Lia, kemudian masih dalam keadaan berpagutan Bu Lia
memujiku.

“Sayang, belum pernah Ibu merasakan orgasme sampai
lima kali dalam satu ronde sebelumnya, tapi baru sekarang, kamu begitu
hebat, kamu orang pertama bermain dengan Ibu selain suami, dan biasanya
suami Ibu hanya mampu betahan cuma lima menit, padahal Ibu belum
apa-apa…”

“Bu, baru sekali ini aku bersetubuh Bu, Ibu yang
mengambil keperjakaanku, rasanya enak sekali Bu… memek Ibu enak
sekali sedotannya asyik,” balasku pada Bu Lia.

“Kemaluanmu besar
sekali Sayang, padahal kemaluan suami Ibu 1/3-nya saja, mungkin tidak
sampai, Ibu sempat berpikir apakah bisa masuk ke dalam punya Ibu dan
rasanya manimu kental sekali Sayang, sampai sekarang rahim Ibu terasa
hangat,” ujarnya.

“Boleh tidak aku ulangi lagi…?” pintaku menatap matanya.

“Tentu saja boleh Sayang, tapi izinkan dulu Ibu istirahat sebentar yach…”

Aku
hanya mengangguk kecil, dan dalam hitungan menit Bu Lia sudah terlelap,
sedangkan aku setelah mencabut batang kemaluanku kupandingi tubuh Bu
Lia dan aku berpikir dan seolah tak percaya aku telah bersetubuh dengan
dosenku yang tadinya kuhormati.

Dua jam sudah Bu Lia terlelap
dan ketika ia terbangun aku sedang asyik menjilati lubang senggamanya
dan lubang anusnya. Jam waktu itu menunjukkan pukul 12:10 karena aku
sempat melirik jam dinding.

“Oh Sayang, kamu lagi cari apaan..?” tanyanya sedikit bercanda.

“Cari Biji kerang, Bu,” balasku lagi dalam canda.

Kemudian
tanpa buang waktu kusuruh ia menungging, aku mau merasakan lubang
anusnya. Lalu kuarahkan kemaluanku yang telah mengacung keras ke lubang
pantatnya itu.

“Ahh, sayaangg jangan dii situuu donnng…”

“Blebb…”

Belum habis ia bicara, kudorong pantatku dengan kuat.

“Akhh… ehheekkk…” jeritnya.

“Buu, saya inngin rasakan lubang pantat Ibu…” pintaku sedikit memohon.

“Pelan-pelan yach… sakit Ndraa…”

Aku
mengocok lubang anusnya dengan penuh semangat, kupikir Bu Lia tidak
akan menikmatinya tetapi malahan ia malah cepat keluar dan bahkan lebih
banyak dan lebih sering dari yang sebelumnya dan aku mengeluarkan
spermaku di dalam anusnya hingga aku kecapaian dan tertidur dengan
pulas, begitu pun dengan Bu Lia. Paginya kami mengulangi lagi hingga
puas, pukul 11:30 siang aku pulang karena ada kuliah nanti jam 02:00.
Di kampus aku bertemu dengan Bu Lia, ia hanya melirikku dan memberikan
senyuman sekilas. Kulihat jalannya agak lain, agak sedikit terangkat,
katanya masih sakit di bagian anusnya, habis memang aku memaksanya
untuk bermain di situ dan ternyata lebih nikmat. Kata Bu Lia aku yang
pertama mencicipi lubang pantatnya dan menelan maninya.

Sejak
saat itu aku semakin sering bermain ke rumah Bu Lia, yach untuk
membantu Bu Lia menyelesaikan pekerjaannya (hee… heee.. heee…).
Tentu asal Bu Lia tidak menolak, begitupun aku selain nilai Kalkulusku
A+ aku juga dikasih uang yang cukup banyak setiap bermain dengan Bu Lia
yang cantik. Bahkan ia berjanji mau menukar Civic tuaku dengan Escudo
tahun tinggi.Perlu pembaca ketahui kami tidak melakukan di kamar saja,
tapi juga di bathtub, di ruang tengah, ruang tamu, garasi, di
kolam renang (di saat malam), di kamar anak-anaknya dan di dalam mobil
bahkan kami juga pernah melakukannya di dalam kelas dan aula di saat
mahasiswa telah bubar semua. Huh… memang dasar rezeki nomplok.

TAMAT


Aku Ingin Rasakan Lubang Pantatmu Bu Dosen

www cerita sex bu haji di paksasayang pantat mamah mau di entot lagi dong