Aku Seorang Istri Dirayu

11th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 2514 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Aku Seorang Istri Dirayu

Saya berumur 27 tahun. Saya sudah
berkeluarga dan sudah mempunyai anak satu. Saya menikah dengan seorang
pria bernama Niko. Niko adalah suami yang baik. Kami hidup
berkecukupan. Niko adalah seorang pengusaha yang sedang meniti karir.

Karena
kesibukannya, dia sering pergi keluar kota. Dia kasihan kepada saya
yang tinggal sendiri dirumah bersama anak saya yang berusia 2 tahun.
Karenanya ia lantas mengajak adiknya yang termuda bernama Roy yang
berusia 23 tahun untuk tinggal bersama kami. Roy adalah seorang
mahasiswa tingkat akhir di sebuah PTS. Kehidupan rumah tangga saya
bahagia, hingga peristiwa terakhir yang saya alami.

Selama kami
menikah kehidupan seks kami menurut saya normal saja. Saya tidak tahu
apa yang dimaksud dengan orgasme. Tahulah, saya dari keluarga yang
kolot. Memang di SMA saya mendapat pelajaran seks, tetapi itu hanya
sebatas teori saja. Saya tidak tahu apa yang dinamakan orgasme.

Saya
memang menikmati seks. Saat kami melakukannya saya merasakan nikmat.
Tetapi tidak berlangsung lama. Suami saya mengeluarkan spermanya hanya
dalam 5 menit. Kemudian kami berbaring saja. Selama ini saya sangka
itulah seks. Bahkan sampai anak kami lahir dan kini usianya sudah
mencapai dua tahun. Dia seorang anak laki-laki yang lucu.

Di
rumah kami tidak mempunyai pembantu. Karenanya saya yang membersihkan
semua rumah dibantu oleh Roy. Roy adalah pria yang rajin. Secara fisik
dia lebih ganteng dari suami saya. Suatu ketika saat saya membersihkan
kamar Roy, tidak sengaja saya melihat buku Penthouse miliknya. Saya
terkejut mengetahui bahwa Roy yang saya kira alim ternyata menyenangi
membaca majalah ‘begituan’.

Lebih terkejut lagi ketika saya
membaca isinya. Di Penthouse ada bagian bernama Penthouse Letter yang
isinya adalah cerita tentang fantasi ataupun pengalaman seks seseorang.
Saya seorang tamatan perguruan tinggi juga yang memiliki kemampuan
bahasa Inggris yang cukup baik.

Saya tidak menyangka bahwa ada
yang namanya oral seks. Dimana pria me’makan’ bagian yang paling intim
dari seorang wanita. Dan wanita melakukan hal yang sama pada mereka.
Sejak saat itu, saya sering secara diam-diam masuk ke kamar Roy untuk
mencuri-curi baca cerita yang ada pada majalah tersebut.

Suatu
ketika saat saya sibuk membaca majalah itu, tidak saya sadari Roy
datang ke kamar. Ia kemudian menyapa saya. Saya malu setengah mati.
Saya salting dibuatnya. Tapi Roy tampak tenang saja. Ketika saya keluar
dari kamar ia mengikuti saya.

Saya duduk di sofa di ruang TV. Ia
mengambil minum dua gelas, kemudian duduk disamping saya. Ia memberikan
satu gelas kepada saya. Saya heran, saya tidak menyadari bahwa saya
sangat haus saat itu. Kemudian ia mengajak saya berbicara tentang seks.
Saya malu-malu meladeninya. Tapi ia sangat pengertian. Dengan sabar ia
menjelaskan bila ada yang masih belum saya ketahui.

Tanpa
disadari ia telah membuat saya merasa aneh. Excited saya rasa. Kini
tangannya menjalari seluruh tubuh saya. Saya berusaha menolak. Saya
berkata bahwa saya adalah istri yang setia. Ia kemudian memberikan
argumentasi bahwa seseorang baru dianggap tidak setia bila melakukan
coitus. Yaitu dimana sang pria dan wanita melakukan hubungan seks
dengan penis pada liang kewanitaan.

Ia kemudian mencium bagian
kemaluan saya. Saya mendorong kepalanya. Tangannya lalu menyingkap
daster saya, sementara tangan yang lain menarik lepas celana dalam
saya. Ia lalu melakukan oral seks pada saya. Saya masih mencoba untuk
mendorong kepalanya dengan tangan saya. Tetapi kedua tangannya memegang
kedua belah tangan saya. Saya hanya bisa diam. Saya ingin meronta, tapi
saya merasakan hal yang sangat lain.

Tidak lama saya merasakan
sesuatu yang belum pernah saya alami seumur hidup saya. Saya mengerang
pelan. Kemudian dengan lembut menyuruhnya untuk berhenti. Ia masih
belum mau melepaskan saya. Tetapi kemudian anak saya menangis, saya
meronta dan memaksa ingin melihat keadaan anak saya. Barulah ia
melepaskan pegangannya. Saya berlari menemui anak saya dengan beragam
perasaan bercampur menjadi satu.

Ketika saya kembali dia hanya
tersenyum. Saya tidak tahu harus bagaimana. Ingin saya menamparnya
kalau mengingat bahwa sebenarnya ia memaksa saya pada awalnya. Tetapi
niat itu saya urungkan. Toh ia tidak memperkosa saya. Saya lalu duduk
di sofa kali ini berusaha menjaga jarak. Lama saya berdiam diri.

Ia
yang kemudian memulai pembicaraan. Katanya bahwa saya adalah seorang
wanita baru. Ya, saya memang merasakan bahwa saya seakan-akan wanita
baru saat itu. Perasaan saya bahagia bila tidak mengingat suami saya.
Ia katakan bahwa perasaan yang saya alami adalah orgasme. Saya baru
menyadari betapa saya telah sangat kehilangan momen terindah disetiap
kesempatan bersama suami saya.

Hari kemudian berlalu seperti
biasa. Hingga suatu saat suami saya pergi keluar kota lagi dan anak
saya sedang tidur. Saya akui saya mulai merasa bersalah karena sekarang
saya sangat ingin peristiwa itu terulang kembali. Toh, ia tidak berbuat
hal yang lain.

Saya duduk di sofa dan menunggu dia keluar kamar.
Tapi tampaknya dia sibuk belajar di kamar. Mungkin dia akan menghadapi
mid-test atau semacamnya. Saya lalu mencari akal supaya dapat berbicara
dengannya. Saya kemudian memutuskan untuk mengantarkan minuman kedalam
kamar.

Disana ia duduk di tempat tidur membaca buku kuliahnya.
Saya katakan supaya dia jangan lupa istirahat sambil meletakkan minuman
diatas meja belajarnya. Ketika saya permisi hendak keluar, ia berkata
bahwa ia sudah selesai belajar dan memang hendak istirahat sejenak. Ia
lalu mengajak saya ngobrol. Saya duduk ditempat tidur lalu mulai
berbicara dengannya.

Tidak saya sadari mungkin karena saya lelah
seharian, saya sambil berbicara lantas merebahkan diri diatas tempat
tidurnya. Ia meneruskan bicaranya. Terkadang tangannya memegang tangan
saya sambil bicara. Saat itu pikiran saya mulai melayang teringat
kejadian beberapa hari yang lalu.

Melihat saya terdiam dia mulai
menciumi tangan saya. Saat saya sadar, tangannya telah berada pada
kedua belah paha saya, sementara kepalanya tenggelam diantara
selangkangan saya. Oh, betapa nikmatnya. Kali ini saya tidak melawan
sama sekali. Saya menutup mata dan menikmati momen tersebut.

Nafas
saya semakin memburu saat saya merasakan bahwa saya mendekati klimaks.
Tiba-tiba saya merasakan kepalanya terangkat. Saya membuka mata bingung
atas maksud tujuannya berhenti. Mata saya terbelalak saat memandang ia
sudah tidak mengenakan bajunya. Mungkin ia melepasnya diam-diam saat
saya menutup mata tadi.

Tidak tahu apa yang harus dilakukan saya
hanya menganga saja seperti orang bodoh. Saya lihat ia sudah tegang.
Oh, betapa saya ingin semua berakhir nikmat seperti minggu lalu. Tangan
kirinya kembali bermain diselangkangan saya sementara tubuhnya
perlahan-lahan turun menutupi tubuh saya.

Perasaan nikmat
kembali bangkit. Tangan kanannya lalu melolosi daster saya. Saya
telanjang bulat kini kecuali bra saya. Tangan kirinya meremasi buah
dada saya. Saya mengerang sakit. Tangan saya mendorong tangannya, saya
katakan apa sih maunya. Dia hanya tersenyum.

Saya mendorongnya
pelan dan berusaha untuk bangun. Mungkin karena intuisinya mengatakan
bahwa saya tidak akan melawan lagi, ia meminggirkan badannya. Dengan
cepat saya membuka kutang saya, lalu rebah kembali. Ia tersenyum
setengah tertawa. Dengan sigap ia sudah berada diatas tubuh saya
kembali dan mulai mengisapi puting susu saya sementara tangan kanannya
kembali memberi kehidupan diantara selangkangan saya dan tangan kirinya
mengusapi seluruh badan saya.

Selama kehidupan perkawinan saya
dengan Niko, ia tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini saat kami
melakukan hubungan seks. Seakan-akan seks itu adalah buka, mulai,
keluar, selesai. Saya merasakan diri saya bagaikan mutiara dihadapan
Roy.

Kemudian Roy mulai mencium bibir saya. Saya balas dengan
penuh gairah. Sekujur tubuh saya terasa panas sekarang. Kemudian saya
rasakan alatnya mulai mencari-cari jalan masuk. Dengan tangan kanan
saya, saya bantu ia menemukannya. Ketika semua sudah pada tempatnya, ia
mulai mengayuh perahu cinta kami dengan bersemangat.

Kedua
tangannya tidak henti-hentinya mengusapi tubuh dan dada saya. Saya
hanya bisa memejamkan mata saya. Aduh, nikmatnya bukan kepalang.
Tangannya lalu mengalungkan kedua tangan saya pada lehernya. Saya
membuka mata saya. Ia menatap mata saya dengan sejuta arti. Kali ini
saya tersenyum. Ia balas tersenyum. Mungkin karena gemas melihat saya,
bibirnya lantas kembali memagut.

Oh, saya merasakan waktunya
telah tiba. Kedua tangan saya menarik tubuhnya agar lebih merapat. Dia
tampaknya mengerti kondisi saya saat itu. Ini dibuktikannya dengan
mempercepat laju permainan. Ahh, saya mengerang pelan. Kemudian saya
mendengar nafasnya menjadi berat dan disertai erangan saya merasakan
kemaluan saya dipenuhi cairan hangat.

Sejak saat itu, saya dan
dia selalu menunggu kesempatan dimana suami saya pergi keluar kota
untuk dapat mengulangi perbuatan terkutuk itu. Betapa nafsu telah
mengalahkan segalanya. Setiap kali akan bercinta, saya selalu
memaksanya untuk melakukan oral seks kepada saya. Tanpa itu, saya tidak
dapat hidup lagi. Saya benar-benar memerlukannya.

Dia juga
sangat pengertian. Walaupun dia sedang malas melakukan hubungan seks,
dia tetap bersedia melakukan oral seks kepada saya. Saya benar-benar
merasa sangat dihargai olehnya.

Ceritanya dulu suami saya Niko
punya komputer. Kemudian oleh Roy disarankan agar berlangganan
internet. Menurutnya juga dapat dipakai untuk berbisnis. Suami saya
setuju saja. Pernah Roy melihat saya memandangi Niko saat dia
menggunakan internet, kemudian dia tanya kepada saya, apa saya kepingin
tahu.

Niko yang mendengar lalu menyuruh Roy untuk mengajari saya
menggunakan komputer dan internet. Pertama-tama saya suka karena banyak
yang menarik. Hanya tinggal tekan tombol saja. Bagus sekali. Tetapi
saya mulai bosan karena saya kurang mengerti mau ngapain lagi.

Saat
itulah Roy lalu menunjukkan ada yang namanya Newsgroup di internet.
Saat pertama kali baca saya terkejut sekali. Banyak berita dan pendapat
yang menarik. Tetapi waktu saya tidak terlalu banyak. Saya harus
mengurus anak saya. Dia baru dua tahun. Saya sayang sekali kepadanya.
Kalau sudah tersenyum dapat menghibur saya walaupun dalam keadaan sedih.

Saya
tidak mengerti program ini. Hanya Roy ajarkan kalau mau menulis tekan
tombol ini. Terus begini, terus begini, dan seterusnya. Tetapi saya
tidak cerita-cerita sama dia kalau kemarin saya sudah kirim berita ke
Newsgroup. Takut dia marah sama saya. Saya hanya bingung mau cerita
sama siapa. Masalahnya saya benar-benar sudah terjerumus. Saya tidak
tahu bagaimana harus menghentikannya.

Kini saya bagaikan
memiliki dua suami. Saya diperlakukan dengan baik oleh keduanya. Saya
tahu suami saya sangat mencintai saya. Saya juga sangat mencintai suami
saya. Tetapi saya tidak bisa melupakan kenikmatan yang telah
diperkenalkan oleh Roy kepada saya.

Suami saya tidak pernah
curiga sebab Roy tidak berubah saat suami saya ada di rumah. Tetapi
bila Niko sudah pergi keluar kota, dia memperlakukan saya sebagaimana
istrinya. Dia bahkan pernah memaksa untuk melakukannya di kamar kami.
Saya menolak dengan keras. Biar bagaimana saya akan merasa sangat
bersalah bila melakukannya ditempat tidur dimana saya dan Niko menjalin
hubungan yang berdasarkan cinta.

Saya katakan dengan tegas
kepada Roy bahwa dia harus menuruti saya. Dia hanya mengangguk saja.
Saya merasa aman sebab dia tunduk kepada seluruh perintah saya. Saya
tidak pernah menyadari bahwa saya salah. Benar-benar salah.

Suatu
kali saya disuruh untuk melakukan oral seks kepadanya. Saya benar benar
terkejut. Saya tidak dapat membayangkan apa yang harus saya lakukan
atas ‘alat’nya. Saya menolak, tetapi dia terus memaksa saya. Karena
saya tetap tidak mau menuruti kemauannya, maka akhirnya ia menyerah.

Kejadian
ini berlangsung beberapa kali, dengan akhir dia mengalah. Hingga
terjadi pada suatu hari dimana saat saya menolak kembali dia mengancam
untuk tidak melakukan oral seks kepada saya. Saya bisa menikmati
hubungan seks kami bila dia telah melakukan oral seks kepada saya
terlebih dahulu.

Saya tolak, karena saya pikir dia tidak serius.
Saya berpikir bahwa dia masih menginginkan seks sebagaimana saya
menginginkannya. Ternyata dia benar-benar melakukan ancamannya. Dia
bahkan tidak mau melakukan hubungan seks lagi dengan saya. Saya bingung
sekali. Saya membutuhkan cara untuk melepaskan diri dari kerumitan
sehari-hari. Bagi saya, seks merupakan alat yang dapat membantu saya
menghilangkan beban pikiran.

Selama beberapa hari saya merasa
seperti dikucilkan. Dia tetap berbicara dengan baik kepada saya. Tetapi
setiap kali saya berusaha mengajaknya untuk melakukan hubungan seks dia
menolak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya berusaha semampu saya
untuk merayunya, tetapi dia tetap menolak.

Saya bingung, apa
saya tidak cukup menarik. Wajah saya menurut saya cukup cantik. Pada
masa-masa kuliah, banyak sekali teman pria saya yang berusaha mencuri
perhatian saya. Teman wanita saya bilang bibir saya sensual sekali.
Saya tidak mengerti bibir sensual itu bagaimana. Yang saya tahu saya
tidak ambil pusing untuk hal-hal seperti itu.

Saya tidak
diijinkan terlalu banyak keluar rumah oleh orang tua saya kecuali untuk
keperluan les ataupun kursus. Saya orangnya supel dan tidak pilih-pilih
dalam berteman. Mungkin hal ini yang (menurut saya pribadi)menyebabkan
banyak teman pria yang mendekati saya.

Sesudah melahirkan, saya
tetap melanjutkan aktivitas senam saya. Dari sejak masa kuliah saya
senang senam. Saya tahu saya memiliki tubuh yang menarik, tidak kalah
dengan yang masih muda dan belum menikah. Kulit saya putih bersih,
sebab ibu saya mengajarkan bagaimana cara merawat diri.

Bila
saya berjalan dengan suami saya, selalu saja pria melirik kearah saya.
Suami saya pernah mengatakan bahwa dia merasa sangat beruntung memiliki
saya. Saya juga merasa sangat beruntung memiliki suami seperti dia.
Niko orangnya jujur dan sangat bertanggung jawab. Itu yang sangat saya
sukai darinya. Saya tidak hanya melihat dari fisik seseorang, tetapi
lebih dari pribadinya.

Tetapi Roy sendiri menurut saya sangatlah
ganteng. Mungkin itu pula sebabnya, banyak teman wanitanya yang datang
kerumah. Katanya untuk belajar. Mereka biasa belajar di teras depan
rumah kami. Roy selain ganteng juga pintar menurut saya. Tidaklah sulit
baginya untuk mencari wanita cantik yang mau dengannya.

Saya
merasa saya ditinggalkan. Roy tidak pernah mengajak saya untuk
melakukan hubungan seks lagi. Dia sekarang bila tidak belajar dikamar,
lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman-teman wanitanya. Saya
kesepian sekali dirumah. Untung masih ada anak saya yang paling kecil
yang dapat menghibur.

Hingga suatu saat saya tidak dapat menahan
diri lagi. Malam itu, saat Roy masuk ke kamarnya setelah menonton film,
saya mengikutinya dari belakang. Saya katakan ada yang perlu saya
bicarakan. Anak saya sudah tidur saat itu. Dia duduk di tempat
tidurnya. Saya bilang saya bersedia melakukannya hanya saya tidak tahu
apa yang harus saya perbuat.

Dengan gesit dia membuka seluruh
celananya dan kemudian berbaring. Dia katakan bahwa saya harus
menjilati penisnya dari atas hingga bawah. Walaupun masih ragu-ragu,
saya lakukan seperti yang disuruh olehnya. Penisnya mendadak ‘hidup’
begitu lidah saya menyentuhnya. Kemudian saya disuruh membasahi seluruh
permukaan penisnya dengan menggunakan lidah saya.

Dengan bantuan
tangan saya, saya jilati semua bagian dari penisnya sebagaimana seorang
anak kecil menjilati es-krim. Tidak lama kemudian, saya disuruh
memasukkan penisnya kedalam mulut saya. Saya melonjak kaget. Saya
bilang, dia sendiri tidak memasukkan apa apa kedalam mulutnya saat
melakukan oral seks kepada saya, kenapa saya harus dituntut melakukan
hal yang lebih.

Dia berkata bahwa itu disebabkan karena memang
bentuk genital dari pria dan wanita berbeda. Jadi bukan masalah
apa-apa. Dia bilang bahwa memang oral seks yang dilakukan wanita
terhadap pria menuntut wanita memasukkan penis pria kedalam mulutnya.
Sebenarnya saya juga sudah pernah baca dari majalah-majalah Penthouse
miliknya, saya hanya berusaha menghindar sebab saya merasa hal ini
sangatlah tidak higienis.

Karena khawatir saya tidak memperoleh
apa yang saya inginkan, saya menuruti kemauannya. Kemudian saya disuruh
melakukan gerakan naik dan turun sebagaimana bila sedang bercinta,
hanya bedanya kali ini, penisnya berada di dalam mulut saya, bukan pada
liang senggama saya.

Selama beberapa menit saya melakukan hal
itu. Saya perlahan-lahan menyadari, bahwa oral seks tidaklah
menjijikkan seperti yang saya bayangkan. Dulu saya membayangkan akan
mencium atau merasakan hal-hal yang tidak enak. Sebenarnya hampir tidak
terasa apa-apa. Hanya cairan yang keluar dari penisnya terasa sedikit
asin. Masalah bau, seperti bau yang umumnya keluar saat pria dan wanita
berhubungan seks.

Tangannya mendorong kepala saya untuk naik
turun semakin cepat. Saya dengar nafasnya semakin cepat, dan gerakan
tangannya menyebabkan saya bergerak semakin cepat juga. Kemudian
menggeram pelan, saya tahu bahwa dia akan klimaks, saya berusaha
mengeluarkan alatnya dari mulut saya, tetapi tangannya menekan dengan
keras. Saya panik. Tidak lama mulut saya merasakan adanya cairan
hangat, karena takut muntah, saya telan saja dengan cepat semuanya,
jadi tidak terasa apa-apa.

Saat dia sudah tenang, dia kemudian
melepaskan tangannya dari kepala saya. Saya sebenarnya kesal karena
saya merasa dipaksa. Tetapi saya diam saja. Saya takut kalau dia marah,
semua usaha saya menjadi sia-sia saja. Saya bangkit dari tempat tidur
untuk pergi berkumur. Dia bilang bahwa saya memang berbakat. Berbakat
neneknya, kalau dia main paksa lagi saya harus hajar dia.

Sesudah
nafasnya menjadi tenang, dia melakukan apa yang sudah sangat saya
tunggu-tunggu. Dia melakukan oral seks kepada saya hampir 45 menit
lebih. Aduh nikmat sekali. Saya orgasme berulang-ulang. Kemudian kami
mengakhirinya dengan bercinta secara ganas.

Sejak saat itu, oral seks merupakan hal
yang harus saya lakukan kepadanya terlebih dahulu sebelum dia melakukan
apa-apa terhadap saya. Saya mulai khawatir apakah menelan sperma tidak
memberi efek samping apa-apa kepada saya. Dia bilang tidak, malah
menyehatkan. Karena sperma pada dasarnya protein. Saya percaya bahwa
tidak ada efek samping, tetapi saya tidak percaya bagian yang
‘menyehatkan’. Hanya saya jadi tidak ambil pusing lagi.

Tidak
lama berselang, sekali waktu dia pulang kerumah dengan membawa kado.
Katanya untuk saya. Saya tanya apa isinya. Baju katanya. Saya gembira
bercampur heran bahwa perhatiannya menjadi begitu besar kepada saya.
Saat saya buka, saya terkejut melihat bahwa ini seperti pakaian dalam
yang sering digunakan oleh wanita bila dipotret di majalah Penthouse.
Saya tidak tahu apa namanya, tapi saya tidak bisa membayangkan untuk
memakainya.

Dia tertawa melihat saya kebingungan. Saya tanyakan
langsung kepadanya sebenarnya apa sih maunya. Dia bilang bahwa saya
akan terlihat sangat cantik dengan itu. Saya bilang “No way”. Saya
tidak mau dilihat siapapun menggunakan itu. Dia bilang bahwa itu
sekarang menjadi ‘seragam’ saya setiap saya akan bercinta dengannya.

Karena
saya pikir toh hanya dia yang melihat, saya mengalah. Memang benar,
saat saya memakainya, saya terlihat sangat seksi. Saya bahkan juga
merasa sangat seksi. Saya menggunakannya di dalam, dimana ada
stockingnya, sehingga saya menggunakan pakaian jeans di luar selama
saya melakukan aktivitas dirumah seperti biasa. Efeknya sungguh di luar
dugaan saya. Saya menjadi, apa itu istilahnya, horny sekali.

Saya
sudah tidak tahan menunggu waktunya tiba. Dirinya juga demikian
tampaknya. Malam itu saat saya melucuti pakaian saya satu persatu, dia
memandangi seluruh tubuh saya dengan sorot mata yang belum pernah saya
lihat sebelumnya. Kami bercinta bagaikan tidak ada lagi hari esok.

Sejak
saat itu, saya lebih sering lagi dibelikan pakaian dalam yang seksi
olehnya. Saya tidak tahu dia mendapatkan uang darimana, yang saya tahu
semua pakaian ini bukanlah barang yang murah. Lama-kelamaan saya mulai
khawatir untuk menyimpan pakaian ini dilemari kami berdua (saya dan
Niko) sebab jumlahnya sudah termasuk banyak. Karenanya, pakaian ini
saya taruh di dalam lemari Roy.

Dia tidak keberatan selama saya
bukan membuangnya. Katanya, dengan pakaian itu kecantikan saya bagai
bidadari turun dari langit. Pakaian itu ada yang berwarna hitam, putih
maupun merah muda. Tetapi yang paling digemari olehnya adalah yang
berwarna hitam. Katanya sangat kontras warnanya dengan warna kulit saya
sehingga lebih membangkitkan selera.

Saya mulai menikmati
hal-hal yang diajarkan oleh Roy kepada saya. Saya merasakan semua
bagaikan pelajaran seks yang sangat berharga. Ingin saya menunjukkan
apa yang telah saya ketahui kepada suami saya. Sebab pada dasarnya,
dialah pria yang saya cintai. Tetapi saya takut bila dia beranggapan
lain dan kemudian mencium perbuatan saya dan Roy.

Saya tidak
ingin rumah tangga kami hancur. Tetapi sebaliknya, saya sudah tidak
dapat lagi meninggalkan tingkat pengetahuan seks yang sudah saya capai
sekarang ini.

Suatu ketika, Roy pulang dengan membawa teman
prianya. Temannya ini tidak seganteng dirinya, tetapi sangat macho.
Pada mukanya masih tersisa bulu-bulu bekas cukuran sehingga wajahnya
sedikit terlihat keras dan urakan. Roy memperkenalkan temannya kepada
saya yang ternyata bernama Bari.

Kami ngobrol panjang lebar.
Bari sangat luas pengetahuannya. Saya diajak bicara tentang politik
hingga musik. Menurut penuturannya Bari memiliki band yang sering main
dipub. Ini dilakukannya sebagai hobby serta untuk menambah uang saku.
Saya mulai menganggap Bari sebagai teman.

Bari semakin sering
datang kerumah. Anehnya, kedatangan Bari selalu bertepatan dengan saat
dimana Niko sedang tidak ada dirumah. Suatu ketika saya menemukan
mereka duduk diruang tamu sambil meminum minuman yang tampaknya adalah
minuman keras. Saya menghampiri mereka hendak menghardik agar menjaga
kelakuannya.

Ketika saya dekati ternyata mereka hanya minum
anggur. Mereka lantas menawarkan saya untuk mencicipinya. Sebenarnya
saya menolak. Tetapi mereka memaksa karena anggur ini lain dari yang
lain. Akhirnya saya coba walaupun sedikit. Benar, saya hanya minum
sedikit. Tetapi tidak lama saya mulai merasa mengantuk. Selain rasa
kantuk, saya merasa sangat seksi.

Karena saya mulai tidak kuat
untuk membuka mata, Roy lantas menyarankan agar saya pergi tidur saja.
Saya menurut. Roy lalu menggendong saya ke kamar tidur. Saya heran
kenapa saya tidak merasa malu digendong oleh Roy dihadapan Bari.
Padahal Bari sudah tahu bahwa saya sudah bersuami. Saya tampaknya tidak
dapat berpikir dengan benar lagi.

Kata Roy, kamar saya terlalu
jauh, padahal saya berat, jadi dia membawa saya ke kamarnya. Saya
menolak, tetapi dia tetap membawa saya ke kamarnya. Saya ingin melawan
tetapi badan rasanya lemas semua. Sesampainya dikamar, Roy mulai
melucuti pakaian saya satu persatu. Saya mencoba menahan, karena saya
tidak mengerti apa tujuannya. Karena saya tidak dalam kondisi sadar
sepenuhnya, perlawanan saya tidak membawa hasil apa apa.

Kini
saya berada diatas tempat tidur dengan keadaan telanjang. Roy mulai
membuka pakaiannya. Saya mulai merasa bergairah. Begitu dirinya
telanjang, lidahnya mulai bermain-main didaerah selangkangan saya. Saya
memang tidak dapat bertahan lama bila dia melakukan oral seks terhadap
saya. Saya keluar hanya dalam beberapa saat. Tetapi lidahnya tidak
kunjung berhenti. Tangannya mengusapi payudara saya. Kemudian mulutnya
beranjak menikmati payudara saya.

Kini kami melakukannya dalam
‘missionary position’. Begitulah istilahnya kalau saya tidak salah
ingat pernah tertulis dimajalah-majalah itu. Ah, nikmat sekali. Saya
hampir keluar kembali. Tetapi ia malah menghentikan permainan. Sebelum
saya sempat mengeluarkan sepatah katapun, tubuh saya sudah dibalik
olehnya. Tubuh saya diangkat sedemikian rupa sehingga kini saya
bertumpu pada keempat kaki dan tangan dalam posisi seakan hendak
merangkak.

Sebenarnya saya ingin tiduran saja, saya merasa tidak
kuat untuk menopang seluruh badan saya. Tetapi setiap kali saya hendak
merebahkan diri, ia selalu mengangkat tubuh saya. Akhirnya walaupun
dengan susah payah, saya berusaha mengikuti kemauannya untuk tetap
bangkit. Kemudian dia memasukkan penisnya ke dalam liang kewanitaan
saya. Tangannya memegang erat pinggang saya, lalu kemudian mulai
menggoyangkan pinggangnya. Mm, permainan dimulai kembali rupanya.

Kembali
kenikmatan membuai diri saya. Tanpa saya sadari, kali ini, setiap kali
dia menekan tubuhnya kedepan, saya mendorong tubuh saya kebelakang.
Penisnya terasa menghunjam-hunjam kedalam tubuh saya tanpa ampun yang
mana semakin menyebabkan saya lupa diri.

Saya keluar untuk
pertama kalinya, dan rasanya tidak terkira. Tetapi saya tidak memiliki
maksud sedikitpun untuk menghentikan permainan. Saya masih ingin
menggali kenikmatan demi kenikmatan yang dapat diberikan olehnya kepada
saya. Roy juga mengerti akan hal itu. Dia mengatur irama permainan agar
bisa berlangsung lama tampaknya.

Sesekali tubuhnya
dibungkukkannya kedepan sehingga tangannya dapat meraih payudara saya
dari belakang. Salah satu tangannya melingkar pada perut saya,
sementara tangan yang lain meremasi payudara saya. Saat saya menoleh
kebelakang, bibirnya sudah siap menunggu. Tanpa basa-basi bibir saya
dilumat oleh dirinya.

Saya hampir mencapai orgasme saya yang
kedua saat dia menghentikan permainan. Saya bilang ada apa, tetapi dia
langsung menuju ke kamar mandi. Saya merasa sedikit kecewa lalu
merebahkan diri saya ditempat tidur. Jari tangan saya saya selipkan
dibawah tubuh saya dan melakukan tugasnya dengan baik diantara
selangkangan saya. Saya tidak ingin’mesin’ saya keburu dingin karena
kelamaan menunggu Roy.

Tiba-tiba tubuh saya diangkat kembali.
Tangannya dengan kasar menepis tangan saya. Iapun dengan langsung
menghunjamkan penisnya kedalam tubuh saya. Ah, kenapa jadi kasar
begini. Belum sempat saya menoleh kebelakang, ia sudah menarik rambut
saya sehingga tubuh saya terangkat kebelakang sehingga kini saya
berdiri pada lutut saya diatas tempat tidur.

Rambut saya
dijambak kebelakang sementara pundaknya menahan punggung saya sehingga
kepala saya menengadah keatas. Kepalanya disorongkan kedepan untuk
mulai menikmati payudara saya. Dari mulut saya keluar erangan pelan
memintanya untuk melepaskan rambut saya. Tampaknya saya tidak dapat
melakukan apa-apa walaupun saya memaksa. Malahan saya mulai merasa
sangat seksi dengan posisi seperti ini.

Semua ini dilakukannya
tanpa berhenti menghunjamkan dirinya kedalam tubuh saya. Saya merasakan
bahwa penisnya lebih besar sekarang. Apakah ia meminum semacam obat
saat dikamar mandi? Ah, saya tidak peduli, sebab saya merasakan
kenikmatan yang teramat sangat.

Yang membuat saya terkejut
ketika tiba-tiba dua buah tangan memegangi tangan saya dari depan. Apa
apaan ini? Saya mulai mencoba meronta dengan sisa tenaga yang ada pada
tubuh saya. Kemudian tangan yang menjambak saya melepaskan pegangannya.
Kini saya dapat melihat bahwa Roy berdiri diatas kedua lututnya diatas
tempat tidur dihadapan saya.

Jadi, yang saat ini menikmati saya
adalah… Saya menoleh kebelakang. Bari! Bari tanpa membuang kesempatan
melumat bibir saya. Saya membuang muka, saya marah sekali, saya merasa
dibodohi. Saya melawan dengan sungguh-sungguh kali ini. Saya mencoba
bangun dari tempat tidur. Tetapi

Bari menahan saya. Tangannya
mencengkeram pinggang saya dan menahan saya untuk berdiri. Sementara
itu Roy memegangi kedua belah tangan saya. Saya sudah ingin menangis
saja.

Saya merasa diperalat. Ya, saya hanya menjadi alat bagi
mereka untuk memuaskan nafsu saja. Sekilas teringat dibenak saya wajah
suami dan anak saya. Tetapi kini semua sudah terlambat. Saya sudah
semakin terjerumus.

Roy bergerak mendekat hingga tubuhnya
menekan saya dari depan sementara Bari menekan saya dari belakang. Dia
mulai melumat bibir saya. Saya tidak membalas ciumannya. Tetapi ini
tidak membuatnya berhenti menikmati bibir saya. Lidahnya memaksa masuk
kedalam mulut saya. Tangan saya dilingkarkannya pada pinggangnya,
sementara Bari memeluk kami bertiga.

Saya mulai merasakan sesak
napas terhimpit tubuh mereka. Tampaknya ini yang diinginkan mereka,
saya bagaikan seekor pelanduk di antara dua gajah. Perlahan-lahan
kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar disekujur tubuh saya.
Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkansaya
melambung di luar batas imajinasi saya sebelumnya. Saya keluar dengan
deras dan tanpa henti. Orgasme saya datang dengan beruntun.

Tetapi
Roy tidak puas dengan posisi ini. Tidak lama saya kembali pada ‘dog
style position’. Roy menyorongkan penisnya kebibir saya. Saya tidak mau
membuka mulut. Tetapi Bari menarik rambut saya dari belakang dengan
keras. Mulut saya terbuka mengaduh. Roy memanfaatkan kesempatan ini
untuk memaksa saya mengulum penisnya.

Kemudian mereka mulai
menyerang tubuh saya dari dua arah. Dorongan dari arah yang satu akan
menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada diarah lainnya semakin
menghunjam. Saya hampir tersedak. Roy yang tampaknya mengerti kesulitan
saya mengalah dan hanya diam saja. Bari yang mengatur segala gerakan.

Tidak
lama kemudian mereka keluar. Sesudah itu mereka berganti tempat.
Permainan dilanjutkan. Saya sendiri sudah tidak dapat menghitung berapa
banyak mengalami orgasme. Ketika mereka berhenti, saya merasa sangat
lelah. Walupun dengan terhuyung-huyung, saya bangkit dari tempat tidur,
mengenakan pakaian saya seadanya dan pergi ke kamar saya.

Di
kamar saya masuk ke dalam kamar mandi saya. Di sana saya mandi air
panas sambil mengangis. Saya tidak tahu saya sudah terjerumus kedalam
apa kini. Yang membuat saya benci kepada diri saya, walaupun saya
merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun setiap saya
teringat kejadian itu, saya merasa basah pada selangkangan saya.

Malam
itu, saat saya menyiapkan makan malam, Roy tidak berbicara sepatah
katapun. Bari sudah pulang. Saya juga tidak mau membicarakannya. Kami
makan sambil berdiam diri.

Sejak saat itu, Bari tidak pernah
datang lagi. Saya sebenarnya malas bicara kepada Roy. Saya ingin
menunjukkan kepadanya bahwa saya tidak suka dengan caranya menjebak
saya. Tetapi bila ada suami saya saya memaksakan diri bertindak biasa.
Saya takut suami saya curiga dan bertanya ada apa antara saya dan Roy.

Hingga
pada suatu kesempatan, Roy berbicara bahwa dia minta maaf dan sangat
menyesali perbuatannya. Dikatakannya bahwa ‘threesome’ adalah salah
satu imajinasinya selama ini. Saya mengatakan kenapa dia tidak
melakukannya dengan pelacur. Kenapa harus menjebak saya. Dia bilang
bahwa dia ingin melakukannya dengan ‘someone special’.

Saya
tidak tahu harus ngomong apa. Hampir dua bulan saya melakukan mogok
seks. Saya tidak peduli kepadanya. Saya membalas perbuatannya seperti
saat saya pertama kali dipaksa untuk melakukan oral seks kepadanya.

Selama
dua bulan, ada saja yang diperbuatnya untuk menyenangkan saya. Hingga
suatu waktu dia membawa makanan untuk makan malam. Saya tidak tahu apa
yang ada dipikirannya. Hanya pada saat saya keluar, diatas meja sudah
ada lilin. Saat saya duduk, dia mematikan sebahagian lampu sehingga
ruangan menjadi setengah gelap.

Itu adalah ‘candle light dinner’
saya yang pertama seumur hidup. Suami saya tidak pernah cukup romantis
untuk melakukan ini dengan saya. Malam itu dia kembali minta maaf dan
benar-benar mengajak saya berbicara dengan sungguh-sungguh. Saya tidak
tahu harus bagaimana.

Saya merasa saya tidak akan pernah
memaafkannya atas penipuannya kepada saya. Hanya saja malam itu begitu
indah sehingga saya pasrah ketika dia mengangkat saya ke kamar tidurnya.

TAMAT

Aku Seorang Istri Dirayu

Cersex aku seorang istriCersex binor mamud suka horny