Aku Si Pelacur

1st August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1665 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Aku Si Pelacur

Kenalkan namaku Indah. Umurku 24 tahun.
Statusku bersuami dengan 2 orang anak. Pekerjaanku pelacur. Tetapi
nanti dulu, jangan mencemoohku dulu. Saya bukan pelacur kelas Kramat
Tunggak apalagi Monas di Jakarta atau Gang Dolly di Surabaya. Saya
seorang pelacur profesional. Oleh karena itu tarip pemakaian saya juga
tidak murah. Untuk
short play sebesar US$ 200, dengan uang muka
US$ 100 dibayar saat pencatatan pesanan dan kekurangannya harus
dilunasi sebelum pengguna jasa saya sebelum menaiki tubuh saya.
Jelasnya, sebelum kunci kamar tempat berlangsungnya permainan dikunci.
Short play
berlangsung 1 jam, paling lama 3 jam, tergantung stamina customer.
Kalau sesudah 1 jam, sudah merasa capai, dan tidak memiliki lagi
kekuatan untuk ereksi, apalagi untuk ejakulasi, artinya permainan sudah
usai. Semua kesepakatan ini tertulis dalam tata cara pemakaian tubuh
atau jelasnya lagi tata cara persewaan kemaluan saya. Ini sudah
penghasilan bersih, sudah merupakan
take home pay.

Saya
tidak mau tahu soal sewa kamar, minum, makan malam dan sebagainya.
Semua aturan ini saya buat dari hasil pengalaman menjadi pelacur selama
3 tahun (saya berniat berhenti menjadi pelacur dua tahun lagi, bila
modal saya sudah cukup). Saya tidak pernah diskriminasi, apakah pembeli
saya itu seorang pejabat atau konglomerat. Pokoknya ada uang kemaluan
saya terhidang, tak ada uang silakan hengkang. More money more service,
no money no service. Biasanya para langganan yang sudah ngefans betul
pada saya masih memberi tips. Setelah persetubuhan selesai, saya akan
menanyakan, “Bapak (atau Mas) puas dengan layanan saya?” Jawabnya bisa
macam-macam. “Luar biasa!” mengatakan demikian sambil menggelengkan
kepalanya. Atau ada yang menganggukkan kepala, “Biasa!”. Tetapi ini
yang sering, tanpa berkata sepatahpun memberikan lembaran ratusan
ribuan dua atau tiga lembar. Untuk tarip long-play atau all night, tergantung kesepakatan saja, namun tidak akan kurang dari enam ratus dolar. Itu tentang tarip.

Sekarang
tentang service. Saya akan menuruti apa saja yang diminta oleh
pelanggan (customer) selama hal itu tidak merusak atau menyakiti tubuh
saya atau tubuh pelanggan. Dengan mulut, oke, begitu juga mandi kucing
atau mandi susu yaitu memijati tubuh pelanggan dengan buah dada saya
yang putih dan montok, juga oke-oke saja. Tetapi bersetubuh sambil
disiksa, atau saya harus menyiksa pasangan saya, saya akan menolak.

Tiga
tahun menjadi pelacur telah memberikan pengalaman hidup yang besar
sekali dalam diri saya. Saya mempunyai buku catatan harian tentang
hidup saya. Saya selalu menulis pengalaman persetubuhan saya dengan
bermacam-macam orang, suku bangsa bahkan dengan laki-laki dari bangsa
lain (Afrika, India, Perancis, dan lain-lain). Tetapi kalau selama tiga
tahun saya menggeluti profesi saya itu lahir dua orang anak manusia,
(masing-masing berumur 2 tahun 3 bulan dan satunya lagi 1 tahun),
tentunya saya tidak bisa bahkan tidak mungkin mengetahui siapa bapak
masing-masing anak itu. Cobalah dihitung, kalau dalam seminggu saya
disetubuhi oleh minimal 10 orang, dalam 1 bulan ada 30 orang yang
memarkir kemaluannya di kemaluan saya (1 minggu saat menstruasi, saya
libur).

Tetapi ini tidak berarti anak itu tanpa bapak. Resminya
anak itu adalah anak Pak Hendrik (nama samaran). Dia adalah boss tempat
saya secara resmi bekerja. Seorang notaris dan sekarang sedang merintis
membuka kantor pengacara. Pekerjaan resmi (pekerjaan tidak resmi saya
adalah pelacur) ini cocok dengan pendidikan saya. Saya, mahasiswa
tingkat terakhir Fakultas Hukum salah satu universitas swasta, jurusan
hukum perdata. Tetapi nantinya saya kepingin menjadi notaris, seperti
Pak Hendrik ini. Sebetulnya saya ditawari Pak Hendrik untuk menangani
kantor pengacara yang akan didirikannya tadi. Tetapi saya tidak mau.
Menurut persepsi saya (mudah-mudahan persepsi saya salah) dunia
peradilan di negeri kita masih semrawut. Mafia, nepotisme, sogok,
intimidasi masih kental mewarnai dunia peradilan kita. Dari yang di
daerah sampai ke Mahkamah Agung (ini kata majalah Tempo loh). Tetapi
sudahlah itu bukan urusan saya. Lalu darimana saya kenal dengan Pak
Hendrik? Itu terjadi pada tahun pertama saya menjadi pelacur.

Waktu
itu saya hamil 2 bulan. Kebetulan Pak Hendrik mem-booking saya. Setelah
selesai menikmati tubuh dan kemaluan saya sepuasnya, saya
muntah-muntah. Itu terjadi waktu saya bangun pagi. Dia bertanya apa
saya hamil. Saya jawab iya. Lalu dia bertanya siapa bapaknya. “Ya
entahlah”, jawab saya. Waktu itulah dia menawari pekerjaan untuk saya,
kesediaan untuk secara resmi menjadi suami saya dan tentunya
melegalisir bayi yang akan saya lahirkan. Saya tidak tahu bagaimana dia
mengurus tetek bengeknya di kantor catatan sipil dan bagaimana dia
dapat menjinakkan isterinya. Yang jelas setelah itu tiap hari Selasa
dan Kamis saya berkantor di kantor Pak Hendrik. Lalu apa keuntungan Pak
Hendrik? Ya pasti ada. Tiap hari Selasa dan Kamis, dia akan sarapan
kedua. Mulai dari menciumi, meraba-raba badan dan buah dada, dan
terakhir menyutubuhi. Kadang-kadang saya malah tidak sempat bekerja
karena selalu dikerjai oleh suami saya tersebut. (Bangunan yang dipakai
sebagai kamar kerja Pak Hendrik dan saya terpisah dengan bangunan untuk
ruang kerja stafnya).

Wajah saya memang cantik. Tinggi dan berat
serasi, bahkan berat badan di atas angka ideal, namun terkesan seksi.
Buah dada cukup besar, tetapi tidak kebesaran seperti perempuan yang
menjalani operasi plastik dengan mengganjal buah dadanya dengan
silikon. Kata orang saya cukup seksi tetapi dari sikap dan penampilan
sehari-hari juga terkesan cerdas. Singkat kata, kalau ada perempuan
laku disewa Rp 1,6 juta sekali pakai, bayangkan sendiri bagaimana
penampilan, penghidangan dan rasanya. Baiklah terakhir saya ceritakan
tentang pengawal saya, atau bodyguard saya.

Namanya Mulyono.
Saya biasa memanggilnya Dik Mul, karena memang usianya baru 21 tahun,
tiga tahun lebih muda dari saya. Orangnya tinggi, atletis dengan
potongan rambut cepak, dan penampilannya seperti militer. Konon
katanya, sehabis lulus SLTA Mulyono pernah mengikuti tes masuk di
AKMIL, tetapi jatuh pada tes psikologi tahap 2. Orangnya sopan (asli
dari Klaten, Jawa Tengah) dan disiplin, dia juga sangat loyal pada saya
(saya sudah sering mengetes kesetiaannya tersebut). Mulyono sudah saya
anggap adik sendiri. Menjadi sopir pribadi, mengurus pembayaran
kontrak, mengatur waktu kerja, melindungi dari berbagai pemerasan oknum
keamanan dan sebagainya, pokoknya seperti sekretaris pribadi. Hanya
saja dia tidak tinggal serumah dengan saya. Saya kontrakkan dekat
dengan rumah saya. Selain itu dia masih mengikuti kuliah di Universitas
Terbuka, Fakultas Hukum. Lalu berapa gajinya? Itu rahasia perusahaan.

Tetapi yang jelas, sebagai seorang penjaga putri cantik, atau penjaga kebun wisata, sekali waktu dia saya beri kesempatan untuk mencicipi atau menikmati keindahan kebun
itu. Mula-mula dia memang menolak. Itu terjadi pada suatu malam minggu
di rumah. Dia saya panggil, saya minta dia memijati badan saya. Dia
menurut. Saya hanya mengenakan gaun malam tipis dengan celana dalam dan
BH yang siap dilepas. Mula-mula kaki saya dipijatnya pelan-pelan, enak
sekali rasanya. Rasanya tangannya berbakat untuk memijit. Kemudian naik
ke betis, yang kiri kemudian yang kanan. “Dasternya ditarik ke atas
saja Dik Mul”, kata saya waktu dia mulai memijat bokong. Saya sengaja
memancing nafsu seksnya sedikit demi sedikit. Sementara nafsu saya
sudah mulai terbangun dengan pemijatan pada bokong tadi. Bokong saya
diputar-putar, dan nafsu seks saya semakin bertambah. Terus pemijatan
pada pinggang, lalu punggung. Pada pemijatan di punggung kancing BH
saya lepas, sehingga seluruh punggung dapat dipijat secara merata tanpa
ada halangan.

Waktu Mulyono memijat leher, dia terlhat sangat
berhati-hati. Setelah saya membalikkan badan, Mul akan memulai memijat
dari kaki. Tetapi saya mengatakan agar dari atas dulu. Rupanya dia
bingung juga kalau dari atas mulai darimana kepala atau leher, padahal
dada saya sudah terbuka sehingga kedua bukit kembar yang putih dan
kekar itu terbuka dan merangsang yang melihatnya. Belum sampai dia
menjawab pertanyaan saya, saya sudah mengatakan,

“Dik Mul, Mbak Indah dicium dulu yach!”

“Ach enggak Mbak jangan.”

“Lho kenapa? Dik Mul nggak sayang sama Mbak ya?”

Tanpa
menunggu jawaban, saya sambar leher Mul, saya peluk kuat-kuat, saya
cium bibirnya. Dengan kedua kaki saya, tubuhnya saya telikung, saya
sekap. Dia terlihat gelagapan juga. Lama leher dan kepala Dik Mul dalam
dekapan saya. Rasanya seperti mengalahkan anak kecil dalam pergulatan
karena Dik Mul ternyata diam saja. Baru setelah lima menit, Dik Mul
memberikan perlawanan. Pelukan saya lepaskan. Dia mulai mencium lembut
pipi saya, turun ke dagu, lalu dada, di antara kedua buah dada saya.
Disapunya dengan bibirnya semua daerah sensitif di sekitar mulut, dada
dan leher. Saya menikmati benar ciuman ini. Apalagi setelah bibirnya
turun ke bawah di sekitar pusat, pangkal paha dan sekitar kemaluan saya.

Tanpa
saya sadari tubuh saya meliuk-liuk, mengikuti dan menikmati rangsangan
erotis yang mengalir di seluruh tubuh. Kemaluan saya mulai basah,
menanti sesuatu yang akan masuk. Setelah puas diciumi, saya berbisik,
“Dik Mul, masukkan sekarang kemaluannya ya! Saya sudah nggak tahan…”
Dia lalu berdiri dan mulai melepaskan, baju, celana, kaus baju dan
terakhir celana dalamnya. Kini penisnya terlihat utuh putih kehitaman,
dengan semburat urat-urat kecil di sekitar pangkalnya. Ujungnya seperti
ujung bambu runcing, lebih panjang bagian bawah. Penis itu mencuat ke
atas, membentuk sudut lebih kurang 30 derajat dengan bidang horisontal.

Pelan-pelan
penis itu mulai ditelusupkan di antara bibir kemaluan saya. Setelah itu
ditarik secara pelan-pelan. Kemaluannya dan kemaluan saya dapat
diibaratkan dua kutub magnit, pergesekannya membangkitkan arus listrik
yang merambat dari kemaluan keseluruh tubuh, juga dari kemaluannya dan
memberikan rasa nikmat yang sangat kepada pasangan yang sedang
ber-charging tersebut. Gosokan kemaluan Mulyono yang semakin cepat
membuat seluruh tubuh saya seperti terkena listrik. Kemaluan saya
terasa berdenyut meremas kemaluan Mulyono. Saya orgasme, dan ini
terulang lagi beberapa kali, multi orgasme. Makin lama rangsangan itu
semakin meningkat. Bersetubuh dengan Mulyono memang saya rasakan agak
lain. Biasanya saya bersikap meladeni kepada para pelanggan, tetapi
dengan Mulyono saya seperti diladeni, dipuaskan rasa haus saya. Gerakan
keluar-masuk kemaluannya yang lambat, ciuman disekitar buah dada yang
terkadang diselingi dengan menghisap-hisap putingnya, dan reaksi
menggeliat-geliatnya tubuh saya, seperti suatu pertunjukkan slow motion yang mengasyikkan.

Dan
ketika saraf tubuh saya tak lagi kuat menampung muatan listrik itu,
saya berbisik, “Dik Mul, tembak sekarang ya!” Dan Mulyono mempercepat
gesekan kemaluannya, sampai pada puncaknya kakinya mengejang. Bersama
itu pula saya peluk kuat-kuat tubuh Mulyono. Inilah puncak
persetubuhanku dengan Mulyono. Teman-teman, sekian dulu perkenalan saya
yang panjang lebar.

TAMAT                   

Aku Si Pelacur