Aku, Suamiku Dan Temannya, Bag 2

20th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 2576 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Aku, Suamiku Dan Temannya, Bag 2

Tubuh kami sebentar menyatu kemudian
sebentar lagi merenggang diiringi desah nafas kami yang semakin lama
semakin cepat. Sementara itu aku pun kembali melirik ke arah suamiku.
Kudapati suamiku agak ternganga menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi
oleh Syamsul. Melihat penampilan suamiku itu, timbul kembali geram di
hatiku, maka secara lebih demonstratif lagi kulayani permainan Syamsul
sehebat-hebatnya secara aktif bagaikan adegan dalam sebuah film biru.
Keadaan ini tiba-tiba membuatku merasakan ada suatu kepuasan dalam
diriku. Hal itu bukan saja disebabkan oleh kenikmatan seks yang sedang
kualami bersama Syamsul, akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan
lain yaitu aku telah dapat melampiaskan rasa kesalku terhadap suamiku.
Suamiku menghendakiku berhubungan seks dengan laki-laki lain dan malam
ini kulaksanakan sepuas-puasnya, sehingga malam ini aku bukan seperti
aku yang dulu lagi. Diriku sudah tidak murni lagi karena dalam tubuhku
telah hadir tubuh laki-laki lain selain suamiku.

Setelah agak
beberapa lama kami bergumul tiba-tiba Syamsul menghentikan gerakannya
dan mengeluarkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan tegar
dari liang kenikmatanku. Kupikir dia telah mengalami ejakulasi dini.
Pada mulanya aku agak kecewa juga karena aku sendiri belum merasakan
apa-apa. Bahkan aku tidak merasakan adanya sperma yang tumpah dalam
rahimku. Akan tetapi rupanya dugaanku salah, kulihat alat kejantanannya
masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya. Syamsul menghentikan
persetubuhannya karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk
meneruskan hubungan seks tersebut. Kini dia yang akan menonton diriku
disetubuhi oleh suamiku sendiri.

Suamiku dengan segera
menggantikan Syamsul dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat.
Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian hebat dan bernyala-nyala
sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan tubuhnya ke
tubuhku. Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh
pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Syamsul, maka ketika suamiku
menghunjamkan alat kejantanannya ke dalam liang kenikmatanku, kurasakan
alat kejantanan suamiku itu kini terasa hambar. Kurasakan otot-otot
liang senggamaku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit alat
kejantanan itu sebagaimana ketika alat kejantanan Syamsul yang
berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar liang
senggamaku. Alat kejantanan suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke
dalam liang senggamaku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan
tidak begitu terasa lagi dalam liang senggamaku yang kini telah pernah
diterobos oleh sesuatu benda yang lebih besar.

Di lain keadaan
mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau
mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa
sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia
mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku dan dalam waktu kurang dari satu
menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat. Malahan
karena alat kejantanan suamiku tidak berada dalam liang kewanitaanku
secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh spermanya agak di luar
liang kewanitaanku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali
sehingga seluruh permukaan kemaluan sampai ke sela pahaku basah kujub
dengan cairan sperma suamiku. Selanjutnya suamiku langsung terjerembab
tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku.

Sementara
itu aku masih dalam keadaan liar. Bagaikan seekor kuda betina binal aku
jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku belum sempat mengalami
puncak ejakulasi sama sekali semenjak disetubuhi oleh Syamsul. Oleh
karena itu sambil mengerang-erang kecil aku raih alat kejantanan
suamiku itu dan meremas-remasnya dengan kuat agar dapat segera tegang
kembali. Akan tetapi setelah berkali-kali kulakukan usahaku itu tidak
membawa hasil. Alat kejantanan suamiku malahan semakin layu sehingga
akhirnya aku benar-benar kewalahan dan membiarkan dia tergolek tanpa
daya di tempat tidur. Selanjutnya tanpa ampun suamiku tertidur dengan
nyenyak dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.

Aku segera
bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang
bulat menuju kamar mandi yang memang menyatu dengan kamar tidurku untuk
membersihkan cairan sperma suamiku yang melumuri tubuhku. Tidak berapa
lama kemudian tiba-tiba Syamsul yang masih dalam keadaan bertelanjang
bulat menyusul ke dalam kamar mandi. Dia langsung memelukku dari
belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi.
Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir bak mandi sehingga aku
kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian
Syamsul menyetubuhi diriku dari belakang dengan garangnya sehingga
dengan cepat aku telah mencapai puncak ejakulasi terlebih dahulu.
Begitu aku sedang mengalami puncak ejakulasi, Syamsul menarik alat
kejantanannya dari liang sengamaku, kemudian dengan sangat brutal dia
segera menggarap lubang duburku. Aku jadi agak terpekik keras dan
bergelinjang dengan hebat ketika alat kejantanannya itu tiba-tiba
memasuki lubang duburku.

Tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata
betapa perasaanku saat itu mendapatkan pengalaman yang belum pernah
kurasakan sama sekali. Selama ini suamiku sendiri belum pernah
menyetubuhi duburku sebagaimana yang dilakukan Syamsul sekarang ini.
Ketika kami sedang asyik melakukan anal seks, tiba-tiba suamiku
menyusul ke kamar mandi. Dia kelihatan tidak senang kami melakukan
hubungan seks di kamar mandi. Dengan nada suara yang agak keras dia
memerintahkanku untuk segera kembali ke kamar dan melakukan hubungan
seks di sana, di hadapannya.

Dengan masih tetap berbugil aku
kembali ke kamar tidur dan langsung merebahkan diri di tempat tidur.
Sementara itu suamiku mengikuti merebahkan diri di tempat tidur tapi
untuk selanjutnya dia tertidur kembali dengan nyenyaknya. Rupanya
suamiku benar-benar kelelahan disebabkan oleh suatu tekanan ketegangan
syaraf yang tinggi dan juga agak setengah mabuk karena mengkonsumsi
alkohol terlalu banyak. Sedangkan aku justru sebaliknya. Seluruh
tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan liang kenikmatanku dan
lubang duburku berdenyut agak aneh dalam suatu gerakan liar yang sangat
sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami selama ini. Aku kini
tidak dapat tidur walaupun barusan aku telah mengalami orgasme di kamar
mandi bersama Syamsul.

Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba
Syamsul muncul di hadapanku. Dia masih tetap bertelanjang bulat
sebagaimana juga diriku. Dengan tatapan yang tajam dia menarikku dari
tempat tidur dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah
kamarku. Bagaikan didorong oleh suatu kekuatan hipnostisme yang besar,
aku mengikuti Syamsul ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang
sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang
bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu.
Memang saat itu aku merasa diriku seakan berada dalam suatu suasana
yang mirip pada saat aku mengalami malam pengantinku yang pertama.
Sambil mendekap diriku Syamsul terus-menerus menciumiku sehingga aku
kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Dan tidak lama
kemudian tubuh kami kami pun sudah bersatu kembali dalam suatu
permainan persetubuhan yang dahsyat.

Tidak berapa lama kemudian
Syamsul membalikkan tubuhku sehingga kini aku berada di posisi atas.
Selanjutnya dengan spontan kuraih alat kejantanannya dan memandunya ke
arah liang senggamaku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh
Syamsul dan mulai mengayunkan tubuhku turun naik di atas tubuhnya.
Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat
dan kuat sambil berdesah-desah kecil. Sementara itu Syamsul dengan
tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba
kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai
mengerang-erang kecil. Dengan semakin cepat aku menggerakkan tubuhku
turun naik di atas tubuh Syamsul dan nafasku pun semakin memburu
berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang
berada di bawahku. Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik
kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat dan tubuhku langsung
terkulai menelungkup di atas tubuh Syamsul.

Setelah beberapa
saat aku tertelungkup di atas tubuh Syamsul, tiba-tiba dia bangkit
dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia
menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat
tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga liang kenikmatanku
yang telah basah kuyup tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan
lebar. Selanjutnya Syamsul mengacungkan alat kejantanannya yang masih
berdiri dengan tegang itu ke arah liang kewanitaanku dan menghunjamkan
kembali alat kejantanannya tersebut ke tubuhku dengan garang. Aku
menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika alat kejantanan Syamsul
mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan
mundur maju dalam liang senggamaku. Aku pun kini semakin hebat
menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun naiknya
alat kejantanan Syamsul yang semakin lama semakin cepat menggenjotkan
di atas tubuhku.

Kami bergumul bagaikan dua ekor binatang liar
yang sedang bertarung, saling hempas dan saling bantai tubuh
masing-masing dengan sekuat tenaga tanpa mempedulikan apa-apa lagi
kecuali berlomba untuk menggali segala kenikmatan dari tubuh
masing-masing. Nafas kami semakin memburu berdesah-desah dengan kencang
yang kadang-kadang diselingi dengan pekikan kecil di luar kesadaran
masing-masing. Tubuh bugil kami yang sedang bersatu padu itu pun basah
dengan keringat. Aku merasakan betapa liang kewanitaanku menjadi tidak
terkendali berusaha menghisap dan melahap alat kejantanan Syamsul yang
teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh
otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya.

Selama pertarungan itu
beberapa kali aku terpekik agak keras karena mencapai puncak orgasme
berkali-kali, sementara itu Syamsul masih tetap tegar dan perkasa
mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku. Akan tetapi akhirnya kulihat
Syamsul tiba juga pada puncaknya. Dengan mimik wajah yang sangat luar
biasa dia melepaskan puncak orgasmenya secara bertubi-tubi
menyemprotkan seluruh spermanya ke dalam tubuhku dalam waktu yang amat
panjang. Sementara itu alat kejantanannya tetap dibenamkannya
sedalam-dalamnya di liang kewanitaanku sehingga seluruh cairan
birahinya terhisap dalam tubuhku sampai titik penghabisan. Selanjutnya
kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap
menyatu. Selama kami tergolek, alat kejantanan Syamsul masih tetap
terbenam dalam tubuhku, dan aku pun memang berusaha menjepitnya
erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari
dalam tubuhku.

Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan
lelah, Syamsul mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang
segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat
dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan. Selanjutnya
kubenamkan wajahku ke dadanya mengecup puting susunya sambil menjilati
permukaan dada yang bidang dan penuh dengan bintik-bintik keringat. Aku
tidak tahu mengapa aku melakukan hal itu. Akan tetapi yang terang
kurasakan keringat Syamsul saat itu membuat semacam rangsangan yang
lain dalam diriku.

Syamsul agak memejamkan matanya menikmati
sentuhan-sentuhan ujung lidahku itu, sementara itu tangannya dengan
halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang
mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya. Suasana romantis ini
akhirnya membuat gairah kami muncul kembali. Kulihat alat kejantanan
Syamsul mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta
Syamsul segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar
untuk kemudian mulai menyetubuhi diriku kembali.

Berlainan
dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan
persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar. Kali ini
kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang
romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya
sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana
kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang
melakukan kewajibannya. Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala
kepasrahan melayani Syamsul sebagaimana aku melayani suamiku selama
ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali. Suasana ini berakhir
dengan tibanya kembali puncak ejakulasi kami secara bersamaan. Kami
kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk
kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam.

Semenjak
pengalaman kami malam itu, suamiku tidak mempermasalahkan lagi soal
fantasi seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu.
Hubunganku dan suamiku pun tetap berlangsung seperti biasa-biasa saja
seperti dahulu. Hanya memang sejak pengalaman kami malam itu kurasakan
gairah suamiku berangsur-angsur normal. Bila kami melaksanakan
kewajiban suami-istri, dia telah dapat melaksanakannya secara normal
sebagaimana lazimnya walaupun secara kualitas kurasakan tidak sehebat
sebagaimana yang kualami bersama Syamsul.

Kuakui malam itu
Syamsul memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun
bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku. Malam
itu aku telah merasakan suatu kepuasan seksual yang luar biasa hebatnya
yang belum pernah kualami bersama suamiku selama ini. Walaupun telah
beberapa kali menyetubuhiku, Syamsul masih tetap saja kelihatan bugar.
Alat kejantanannya pun masih tetap berfungsi dengan baik melakukan
tugasnya keluar masuk liang kewanitaanku dengan tegar hingga membuatku
menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak
putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak
orgasme dengan berkali-kali namun alat kejantanan Syamsul masih tetap
tegar bertahan. Memang secara terus terang kuakui bahwa selama
melakukan hubungan seks dengan suamiku beberapa bulan belakangan itu,
aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam
waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu.
Sehingga secara terus terang setelah hubungan kami yang pertama di
malam itu kami masih tetap berhubungan tanpa sepengetahuan suamiku.

Awalnya
di suatu pagi Syamsul berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah
berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta
tolong kepadaku untuk menyalurkan kebutuhan seksnya yang katanya sudah
beberapa lama tidak dapat terpenuhi dari istrinya berhubung kesehatan
istrinya yang sangat tidak mengizinkan. Mulanya aku ragu memenuhi
permintaannya itu. Akan tetapi anehnya aku tidak kuasa untuk menolak
permintaan tersebut. Sehingga kubiarkan saja dia melepaskan hasrat
birahinya yang selama itu tidak tersalurkan dan kami melakukan hubungan
cinta kilat di ruang tamu sambil berdiri. Hubungan itu rupanya membawa
diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri.

Ketika
kami berhubungan seks secara terburu-buru di suatu ruangan terbuka
kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan.
Keadaan ini membawa hubunganku dan Syamsul semakin berlanjut.
Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Syamsul sering membuat suatu
pertemuan sendiri di luar rumah. Melakukan hubungan seks yang liar di
luar rumah, baik dari satu kamar cottage ke kamar cottage lainnya
ataupun dari satu kamar hotel ke kamar hotel lainnya. Kami saling
mengisi kebutuhan jasmani masing-masing dalam adegan-adegan sebagaimana
yang pernah kami lakukan di kamar tidurku di malam itu, dan sudah
barang tentu perbedaannya kali ini adegan-adegan tersebut kini kami
lakukan tanpa dihadiri dan tanpa diketahui oleh suamiku. Sebagai wanita
yang sehat dan normal, aku tidak menyangkal bahwa berkat anjuran
suamiku malam itu aku telah mendapatkan makna lain dari kenikmatan
hubungan seksual yang hakiki walaupun hal itu pada akhirnya kuperoleh
dari teman suamiku, yang kini menjadi teman tidurku.

TAMAT

Aku, Suamiku Dan Temannya, Bag 2