Anak Bos, Namanya inge

18th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1508 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Anak Bos, Namanya inge

Mungkin memang sudah
normal bila seseorang tertarik dengan ras yang lain. Juraganku punya
seorang anak tunggal, gadis berumur 17 tahun, kelas 2 SMA favorit di
Surabaya. Namanya Inge. Tiap hari aku mengantarnya ke sekolah. Aku
kadang hampir tidak tahan melihat tubuh Inge yang seksi sekali.
Tingginya kira-kira 170 cm, dan payudaranya besar dan kelihatannya
kencang sekali. Ukurannya kira-kira 36C. Ditambah dengan penampilannya
dengan rok mini dan baju seragamnya yang tipis, membuatku ingin sekali
menyetubuhinya. Setiap kali mengantarnya ke sekolah, ia duduk di bangku
depan di sampingku, dan kadang-kadang aku melirik melihat pahanya yang
putih mulus dengan bulu-bulu halus atau pada belahan payudaranya yang
terlihat dari balik seragam tipisnya itu.

Tapi aku selalu ingat,
bahwa dia adalah anak juraganku. Bila aku macam-macam bisa dipecatnya
aku nanti, dan angan-anganku untuk melanjutkan kuliah bisa berantakan.
Siang itu seperti biasa aku jemput dia di sekolahnya. Mobil BMW biru
metalik aku parkir di dekat kantin, dan seperti biasa aku menunggu
Non-ku di gerbang sekolahnya.

Tak lama dia muncul bersama teman-temannya.

“Siang, Non.., mari saya bawakan tasnya”.

“Eh…, Pak, udah lama nunggu?”, katanya sambil mengulurkan tasnya padaku.

“Barusan kok Non..”, jawabku.

“Nge…,
ini toh supirmu yang kamu bicarain itu. Lumayan ganteng juga sih…,
ha…, ha..”, salah satu temannya berkomentar. Aku jadi rikuh dibuatnya.

“Hus..”, sahut Non-ku sambil tersenyum. “Jadi malu dia nanti..”.

Segera aku bukakan pintu mobil bagi Non-ku, dan temannya ternyata juga ikut dan duduk di kursi belakang.

“Kenalin nih Pak, temanku”, Non-ku berkata sambil tersenyum. Aku segera mengulurkan tangan dan berkenalan.

“Herman”, kataku sambil merasakan tangan temannya yang lembut.

“Mei-Ling”, balasnya sambil menatap dadaku yang bidang dan berbulu.

“Pak,
antar kita dulu ke rumah Mei-Ling di Darmo Permai”, instruksi Non Inge
sambil menyilangkan kakinya sehingga rok mininya tersingkap ke atas
memperlihatkan pahanya yang putih mulus.

“Baik Non”, jawabku. Tak
terasa penisku sudah mengeras menyaksikan pemandangan itu. Ingin
rasanya aku menjilati paha itu, dan kemudian mengulum payudaranya yang
padat berisi, kemudian menyetubuhinya sampai dia meronta-ronta…, ahh.

Tak
lama kitapun sampai di rumah Mei-Ling yang sepi. Rupanya orang tuanya
sedangke luar kota, dan merekapun segera masuk ke dalam. Tak lama Non
Inge ke luar dan menyuruhku ikut masuk.

“Saya di luar saja Non”.

“Masuk saja Pak…, sambil minum dulu…, baru kita pulang”.

Akupun mengikuti perintah Non-ku dan masuk ke dalam rumah. Ternyata mereka berdua sedang menonton VCD di ruang keluarga.

“Duduk di sini aja Pak”, kata Mei-Ling menunjuk tempat duduk di sofa di sebelahnya.

“Ayo jangan ragu-ragu..”, perintah Non Inge melihat aku agak ragu.

“Mulai disetel aja Mei”, Non Inge kemudian mengambil tempat duduk di sebelahku.

Tak
lama kemudian…, film pun dimulai…, Woww…, ternyata film porno. Di
layar tampak seorang pria negro sedang menyetubuhi dua perempuan bule
secara bergantian. Napas Non Inge di sampingku terdengar memberat,
kemudian tangannya meremas tanganku. Akupun sudah tidak tahan lagi
dengan segala macam cobaan ini. Aku meremas tangannya dan kemudian
membelai pahanya. Tak berapa lama kemudian kamipun berciuman. Aku tarik
rambutnya, dan kemudian dengan gemas aku cium bibirnya yang mungil itu.

“Hmm… Eh”, Suara itu yang terdengar dari mulutnya, dan tangankupun tak mau diam beralih meremas-remas payudaranya.

Kubuka
kancing seragamnya satu persatu sehingga tampak bongkahan daging kenyal
yang putih mulus punya Non-ku itu. Aku singkap BH-nya ke bawah sehingga
tampaklah putingnya yang merah muda dan kelihatan sudah menegang.

“Ayo…,
hisap Pak.., ahh”. Tak perlu dikomando lagi, langsung aku jilat
putingnya, sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang sebelah kiri.
Aku tidak memperhatikan apa yang dilakukan temannya di sebelah, karena
aku sedang berkonsentrasi untuk memuaskan nafsu birahi Non Inge.
Setelah puas menikmati payudaranya, akupun berpindah posisi sehingga
aku jongkok tepat di depan selangkangannya. Langsung aku singkap rok
seragam SMA-nya, dan aku jilat CD-nya yang berwarna pink. Tampak bulu
vaginanya yang masih jarang menerawang di balik CD-nya itu.

“Ayo,
jilatin memekku Pak”, Non Inge mendesah sambil mendorong kepalaku.
Langsung aku sibak CD-nya yang berenda itu, dan kujilati kemaluannya.

“Ohh…,
nikmat sekali…”, erangan demi erangan terdengardari mulut Non-ku yang
sedang aku kerjai. Benar-benar beruntung aku bisa menjilati kemaluan
seorang gadis kecil anak konglomerat. Tanganku tak henti mengelus,
meremas payudaranya yang besar dan kenyal itu.

“Aduh, cepetan
dong, yang keras…, aku mau keluar.., ehhmm ohh..”. Tangan Non Inge
meremas rambutku sambil badannya menegang. Bersamaan dengan itu
keluarlah cairan dari lubang vaginanya yang langsung aku jilat habis.
Akupun berdiri dan membuka ritsluiting celanaku. Tapi sebelum sempat
aku buka celanaku, Non Inge telah ambil alih.

“Biar saya yang buka Pak”, katanya.

Tangannya
yang mungil melepas kancing celana jeansku, dan membantuku membukanya.
Kemudian tangannya meremas-remas penisku dari luar CD-ku. Dijilatinya
CD-ku sambil tangannya meremas-remas pantatku. Akupun sudah tak tahan
lagi, langsung aku buka CD-ku sehingga penisku yang berukuran 20 cm dan
sudah tegak, bergelantung ke luar.

“Ih, besar sekali”, desis Non
Inge, sambil tangannya mengelus-elus penisku. Tak lama kemudian
dijilatinya buah pelirku terus menyusuri batang kemaluanku. Dijilatinya
pula kepala penisku sebelum dimasukkannya ke dalam mulutnya. Aku remas
rambutnya yang berbando itu, dan aku gerakkan pantatku maju mundur,
sehingga aku seperti menyetubuhi mulut anak juraganku ini. Rasanya luar
biasa…, bayangkan…, penisku yang berukuran 20 cm itu dan berwarna
hitam legam sedang dikulum oleh mulut seorang gadis manis. Pipinya yang
putih tampak menggelembung terkena batang kemaluanku.

“Punyamu besar sekali Pak…, saya suka.., ehmm..”, katanya sambil kemudian kembali mengulum kemaluanku.

Setelah
kurang lebih 10 menit Non Inge menikmati penisku, dia suruh aku duduk
di sofa. Kemudian dia menghampiriku sambil membuka seluruh pakaiannya
sehingga dia tampak telanjang bulat. Dinaikinya pahaku, dan
diarahkannya penisku ke liang vaginanya.

“Ayo.., setubuhi saya..”,
katanya memberi instruksi, aku tahu dia ingin merasakan nikmatnya
penisku yang besar itu. Diturunkannya pantatnya, dan peniskupun masuk
perlahan ke dalam liang vaginanya.

Kemaluannya masih sempit
sekali sehingga masih agak sulit bagi penisku untuk menembusnya. Tapi
tak lama masuk juga separuh dari penisku ke dalam lubang kemaluan anak
juraganku ini.

“Ahh…, yeah…, sekarang masukin deh penis bapak
yang besar itu di memekku”, katanya sambil naik turun di atas pahaku.
Tangannya meremas dadanya sendiri, dan kemudian disodorkannya putingnya
untukku.

“Yah, begitu dong Pak”, Tak perlu aku tunggu lebih lama
lagi langsung aku lahap payudaranya yang montok itu. Sementara itu Non
Inge masih terus naik turun sambil kadang-kadang memutar-mutar
pantatnya, menikmati penis besar sopirnya ini.

“Sekarang setubuhi saya dalam posisi nungging..”, instruksinya. Diapun turun dan menungging menghadap ke sofa.

“Ayo
Pak.., setubuhi saya dari belakang”, Non Inge menjelaskan maksudnya
padaku. Akupun segera berdiri di belakangnya, dan mengelus-elus
pantatnya yang padat.

Kemudian kuarahkan penisku ke lubang
vaginanya, tetapi agak sulit masuknya. Tiba-tiba tak kusangka ada
tangan lembut yang mengelus penisku dan membantu memasukkannya ke liang
vagina Non Inge. Aku lihat ke samping, ternyata Mei Ling, yang
membantuku menyetubuhi temannya. Dia tersenyum sambil mengelus-elus
pantat dan pahaku.

Aku langsung menyetubuhi Non Inge dari belakang. Kugerakkan pantatku maju mundur, sambil memegang pinggul Nonku.

“Ahh…,
Pak…, Pak…, Terus.., nikmat sekali”, Non Inge mengerang nikmat.
Tubuhnya tampak berayun-ayun, dan segera kuremas dari belakang.
Kupilin-pilin puting susunya, dan erangan Non Inge makin hebat.

Mei
Ling sekarang telah berdiri di sampingku dan tangannya sibuk menelusuri
tubuhku. Ditariknya rambutku dan diciumnya bibirku dengan penuh nafsu.
Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku. Sambil berciuman dibukanya
kancing baju seragamnya sehingga tampak buah dadanya yang tidak terlalu
besar, tetapi tampak padat.

“Ohh.., terus dong pak yang cepat”, Non Inge mengerang makin hebat. Tak berapa lama terasa cairan hangat membasahi penisku.

“Non…, saya juga hampir keluar..”, kataku.

“Tahan sebentar Pak.., keluarin dimulutku…”, kata Non Inge.

Non
Inge dan Mei Ling berlutut di depanku, dan Mei-Ling yang sejak tadi
tampak tak tahan melihat kami bersetubuh di depannya, langsung mengulum
penisku di mulutnya. Sementara itu Non Inge menjilat-jilat buah
pelirku. Mereka berdua bergantian mengulum dan menjilat penisku dengan
penuh nafsu. Akupun sibuk membelai rambut kedua remaja ini, yang sedang
memuaskan nafsu birahi mereka.

“Ayo, goyang yang keras Pak..”, Non Inge memberiku instruksi sambil menelentangkan tubuhnya di atas karpet ruang keluarga.

“Ayo
penisnya taruh di sini Pak”, kata Non Inge lagi. Akupun segera menaruh
berlutut di atas dada Non-ku dan menjepit penisku di antara dua bukit
kembarnya. Segera aku maju mundurkan pantatku, sambil tanganku
mengapitkan buah dadanya.

“Oh, nikmat sekali..”.

Sementara
Mei Ling sibuk mengelap tubuhku yang basah karena keringat. Tak berapa
lama kemudian, akupun tak tahan lagi. Kuarahkan penisku ke dalam mulut
Non Inge, dan dikulumnya sambil meremas-remas buah pelirku.

“Ahh…,
Non…, ahh”, jeritku dan air manikupun menyembur ke dalam mulut mungil
Non Inge. Akupun tidur menggelepar kecapaian di atas karpet, sementara
Non Inge dan Mei Ling sibuk menjilati bersih batang kemaluanku.

Setelah
itu kamipun sibuk berpakaian, karena jam sudah menunjukkan pukul 15.00.
Orang tua Inge termasuk orang tua yang strict pada anaknya, sehingga
bila dia pulang telat pasti kena marah. Di mobil dalam perjalanan
pulang, Inge memberiku uang Rp 100.000,-.

“Ambil Pak, buat uang
rokok, Tapi janji jangan bilang siapa-siapa tentang yang tadi ya”,
katanya sambil tersenyum. Akupun mengangguk senang.

“Besok kita ulangi lagi ya Pak…, soalnya Mei-Ling minta bagian”.

Demikian
kejadian ini terus berlanjut. Hampir setiap pulang sekolah, Non Inge
akan pura-pura belajar bersama temannya. Tetapi yang terjadi adalah dia
menyuruhku untuk memuaskan nafsu birahinya dan juga teman-temannya,
Mei-Ling, Linda, Nini,dll.

Tapi akupun senang karena selain mendapat
penghasilan tambahan dari Non Inge, akupun dapat menikmati tubuh remaja
mereka yang putih mulus.

TAMAT                   

Anak Bos, Namanya inge