Areal Perkemahan

18th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1393 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Areal Perkemahan

Waktu itu tahun 2010 saat saya baru saja
menjadi mahasiswa semester satu sebuah perguruan tinggi komputer
terkenal di Depok (di sebelah sebuah universitas negeri beken). Seluruh
mahasiswa baru ketika itu diwajibkan ikut kegiatan Jambore dan Bakti
Sosial (Jambaksos) yang diadakan di sebuah areal perkemahan di daerah
Sukabumi, Jawa Barat.

Pada hari yang ditentukan, siang hari kami
semua bersiap-siap di kampus tercinta, kemudian segera diberangkatkan
dengan menggunakan beberapa truk bak terbuka. Setelah menempuh
perjalanan lebih kurang tiga sampai empat jam, diakibatkan ada salah
satu truk yang salah jalan sehingga semua truk lain harus diam menunggu
sejenak di suatu tempat, akhirnya kami tiba di tempat tujuan kami. Hari
sudah mulai gelap. Kulihat sekeliling kami. Uh, seram juga. Suasana
sunyi dan gelap, maklum di daerah pegunungan yang tidak terlalu banyak
penduduknya. Yang terdengar hanya suara mesin diesel truk yang cukup
berisik. Akhirnya dengan konvoi truk satu persatu, kamu menuju tempat
terbuka sebagai tempat parkir truk-truk yang kami tumpangi tersebut.
Sudah sampai?, Belum! Kami masih harus berjalan kaki lagi beberapa jauh
melalui jalan setapak untuk mencapai tempat di mana kami akan
mendirikan tenda-tenda kami.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh
malam saat kami memasuki areal perkemahan. Wah! Ternyata areal
perkemahan sudah diterangi oleh beberapa lampu sorot yang cukup besar
kekuatannya, yang sudah disiapkan oleh tim panitia yang telah
mendahului kami ke sana satu hari sebelumnya. Mereka juga telah
mendirikan dua buah MCK darurat. Satu khusus cewek dan satu khusus
cowok. Dengan tubuh sedikit letih akibat perjalanan yang cukup jauh,
kami pun mendirikan tenda masing-masing dengan bimbingan beberapa orang
panitia. Satu tenda diisi oleh satu grup yang terdiri dari empat sampai
lima orang. Cewek dan cowok pisah tenda. Katanya sih, takut terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan! Saya memang sial, grup saya semuanya
terdiri dari anak-anak yang belum saya kenal. Saya memang orangnya
pemalu dan agak penakut, sehingga kurang cepat dalam bergaul. Setelah
makan malam dan sedikit waktu istirahat, diadakan briefing mengenai
jadwal kegiatan Jambaksos di hari-hari berikutnya. Briefing inilah
satu-satunya acara yang diadakan pada hari pertama itu.

Tengah
mengikuti briefing, tiba-tiba saya merasa ingin pipis. Saya ragu-ragu
untuk turun ke MCK yang didirikan di tepi sungai yang mengalir dekat
perkemahan kami. Saya yang memang dasar penakut, urung ke MCK tersebut.
Habis jalan ke sana cukup jauh lagipula gelap sekali. Sementara untuk
meminta dampingan salah seorang panitia malu rasanya. Akhirnya saya
putuskan pergi ke balik semak yang sekelilingnya sepi dan agak
tersembunyi serta agak jauh dari kerumunan orang-orang yang sedang
mengikuti briefing.

Ah…, Lega rasanya setelah saya
mengeluarkan seluruh isi kandung kemih saya. Mungkin kalau ditampung di
botol, setengah liter ada. Saya memang menahan pipis dari waktu masih
di daerah Bogor saat perjalanan menuju kemari. Apalagi ditunjang oleh
dinginnya udara pegunungan di sini sampai ke sumsum tulang.

“Hi
hi hi hi…, Hei, ngapain kamu di situ?!” Tampak dua orang panitia
datang ke arah saya sambil cengengesan. Saya mengenal mereka, yang satu
namanya Alfa (bukan nama sebenarnya), yang rambutnya sepundaknya
sedikit kecoklatan, sedangkan yang rambutnya hitam pekat dipotong
pendek adalah Pratiwi (juga bukan nama sebenarnya). Kedua-duanya tinggi
tubuhnya hampir sama. Sama-sama cantik dan sama-sama sensual. Payudara
merekapun termasuk berukuran besar dan membulat, dengan milik Pratiwi
sedikit lebih besar ketimbang milik Alfa. Ini kelihatan dari balik kaus
oblong cukup ketat yang mereka kenakan. Mereka berdua adalah anggota
seksi P3K.

“Saya…, saya lagi buang air, Kak”, jawab saya dengan
takut-takut. Tapi Alfa dan Pratiwi malah mendekati dan melompat turun
ke tempat persembunyian saya yang letaknya sedikit di bawah areal
perkemahan itu.

“Kenapa kamu pipis di sini, hah?, Bukannya kita sudah punya MCK sendiri di sana?”, tanya Alfa.

“Habis,
saya takut, Kak.” Saya masukkan penis saya dan saya naikkan kait
retsleting celana saya. Alfa dan Pratiwi tertawa melihat perbuatan saya.

“Eit!
Ini garasi jangan ditutup dulu”, kata Pratiwi sambil meremas
selangkangan saya. Ouch! Kemudian tangannya membuka kembali retsleting
yang sempat saya tutup.

“Wow! Fa, lihat, doi nggak pake celana dalam!”, Saya memang jarang mengenakan celana dalam bila pergi ke mana-mana.

“Mana,
Wi? Gue mau lihat”, sahut Alfa mendekati selangkangan saya. Pratiwi
memberi tempat kepada Alfa. Alfa memasukkan tangan kanannya ke dalam
celah ritsluiting saya. Dia mengelus-ngelus senjata saya dengan
tangannya yang hangat, membuat saya mulai menggelinjang menahan nikmat.

“Wi,
doi belum disunat! Kamu pernah main sama penis yang belum disunat?”,
Alfa mengeluarkan penis saya dari dalam sangkarnya. Pratiwi hanya
mengangkat bahunya saja.

“Eh, Oom Senang. Ini hukuman kamu karena sudah buang air sembarangan! Sekarang kamu diam aja yah!”, kata Alfa sedikit melotot.

Alfa
mendekatkan penis saya ke mulutnya. Beberapa detik kemudian mulutnya
telah asyik melumat penis saya. Ah, penis saya itu semakin mengeras.
Ini menambah keasyikan tersendiri bagi Alfa yang terus mengulum penis
saya yang meskipun tidak terlalu panjang namun berdiameter cukup besar.
Mata saya hampir mencelat keluar sewaktu Alfa menjilat-jilati ujung
penis saya yang tegang menjulang. Gelitikkan lidahnya yang nikmat mulai
membangkitkan gairah birahi saya yang selama ini terpendam.

“Fa!
Bagi dong gue! Jangan kamu habisin sendiri!”, Pratiwi tidak mau kalah.
Ia mengarahkan tangannya ke belakang pinggang saya, lalu
dipelorotkannya celana panjang saya ke bawah sehingga menampakkan penis
saya yang tampak sudah siap tempur. Dinginnya udara malam yang menusuk
kulit paha saya yang telanjang tidak terasa, terhapus oleh kenikmatan
yang sedang saya alami di selangkangan saya. Kemudian Pratiwi
mendekatkan bibirnya yang ranum dengan sapuan lipstik tipis ke penis
saya. Lalu dengan lahapnya mereka berdua menguasai penis saya dengan
kuluman dan jilatan lidah mereka yang bertubi-tubi, membuat tubuh saya
seperti tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang aduhai ini.

“aah…,
Kak…, saya sudah mau keluar…”, kata saya mendesah-desah. Tapi Alfa
dan Pratiwi tidak mempedulikannya. Mereka masih asyik menjelajahi
seluruh permukaan selangkangan saya dengan mulut dan lidah mereka yang
seperti ular. Akhirnya dengan dua-tiga kali kedutan, saya memuntahkan
seluruh cairan kental isi penis saya ke wajah Alfa.

“Ma… Maaf,
Kak. Saya nggak sengaja.” Alfa bukannya marah melainkan malah tersenyum
senang. Dijilatinya air mani saya yang ada di wajahnya.

Mengetahui
bahwa dirinya tidak kebagian cairan nikmat saya, Pratiwi
menjulur-julurkan lidahnya ke arah wajah Alfa. Ia ikut menjilat-jilati
wajah Alfa seperti meminta bagian. Alfa tampaknya mengalah. Tiba-tiba
bibirnya yang merah merekah mencium bibir Pratiwi. Dan Pratiwi pun
membalasnya. Sementara tangannya mulai meremas-remas dua tonjolan bulat
yang ada di dada Alfa.

“Ah.. Wi… Terusin… Ah…” Persetujuan
Alfa ini membuat Pratiwi melanjutkan kegiatannya. Ia melepaskan kaus
oblong yang dikenakan Alfa. Kemudian tangan kirinya diselipkan ke balik
BH Alfa yang berwarna putih. Diremas-remasnya payudara mulus Alfa yang
bulat membusung. Sesudah itu tangannya beralih ke punggung Alfa.
Dibukanya pengikat BH Alfa. Dan tak terhalangi lagi payudara Alfa yang
indah seperti buah mangga harumanis yang ranum, dengan puting susunya
yang tinggi menjulang menggemaskan dikeliling oleh lingkaran kemerahan
yang cukup lebar. Tanpa mau melepaskan kesempatan emas ini, mulut
Pratiwi langsung melumat puting susu Alfa yang mulai menegang. Dengan
lidahnya yang menjulur-julur seperti ular, dijilatinya ujung puting
susu yang menggairahkan itu. Sekali-sekali disedotnya puting susu itu,
membuat mata Alfa mendelik kenikmatan.

Melihat perbuatan kedua senior saya itu, tak saya sadari, penis saya yang tadi sudah loyo bangkit kembali dan semakin mengeras.

Sekonyong-konyong
Alfa melepaskan diri dari jamahan Pratiwi. Ia memandangi temannya
dengan wajah seperti memohon. Pratiwi pun memahami apa maksud Alfa. Ia
menanggalkan semua pakaian yang dikenakannya, lalu merebahkan tubuh
bugilnya yang mulus di rumput dengan beralaskan pakaian yang telah
dilepasnya tadi. Mulut Alfa langsung menyergap payudara Pratiwi yang
berukuran besar laksana buah pepaya bangkok tapi tampak kenyal dan
kencang. Lidahnya menjelajahi setiap inci bagian payudara temannya yang
memang indah dan membusung itu, termasuk celah-celah yang membelah
kedua bukit kembar dengan ujungnya yang mencuat tinggi itu. Dengan
mahir Alfa menggesek-gesekkan ujung lidahnya yang basah ke ujung puting
susu Pratiwi yang tinggi dan keras, membuat Pratiwi menggerinjal keras
sementara mulutnya mendesis-desis bak ular yang siap menerkam
mangsanya. Sementara tangan kirinya menelusuri selangkangan Pratiwi. Ia
mempermainkan clitoris memerah yang ada di bibir vagina Pratiwi.
Diusap-usapnya daging kecil pembawa nikmat itu dengan halusnya dengan
jari tengahnya. Diimbangi dengan gerakan naik-turun pantat Pratiwi yang
bahenol itu. Kemudian dengan sekali gerakan, Alfa menyodokkan jari
telunjuk, jari tengah, dan jari manisnya sekaligus ke dalam vagina
Pratiwi, membuat tubuh temannya ini terhentak keras ke atas. Pratiwi
tampak memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang tidak bisa
ditandingi oleh apapun di dunia ini ketika Alfa memainkan ketiga
jarinya itu masuk-keluar vagina Pratiwi, makin lama makin cepat.

Menyaksikan
pemandangan yang indah ini, insting kelaki-lakian saya mendorong saya
menghampiri kedua cewek yang tengah dilanda nafsu birahi itu. Dengan
sedikit rasa takut dan ragu-ragu, saya pegang pinggang Alfa. Setelah
menyadari tidak adanya penolakan, membuat rasa keberanian saya timbul,
ditambah oleh rasa aneh di selangkangan saya yang sudah minta untuk
dilampiaskan. Saya membuka retsleting celana panjang Alfa kemudian saya
turunkan celana panjang itu berikut celana dalam yang dipakainya sampai
sebatas mata kaki. Seketika itu juga tercium aroma khas nan segar dari
selangkangan Alfa yang terpampang bebas. Tanpa menunda-nunda lagi, saya
segera menghunjamkan penis saya ke dalam vagina Alfa dengan keras dari
belakang, membuat cewek itu menjerit kecil, “Ouuhh…”

“Ah…,
terusin…, lebih kencang…, lebih dalam…,. Ouhh…”, Desah-desahan
penuh kenikmatan dari Alfa membuat saya tambah bernafsu. Saya semakin
mempertinggi intensitas masuk-keluarnya gerakan penis saya di dalam
vagina Alfa, mengakibatkan tubuh molek gadis itu berguncang-guncang
dengan keras. Kedua payudaranya yang menggantung molek di dadanya dan
ikut bergoyang-goyang mengimbangi guncangan tubuhnya sedang dilumat
oleh Pratiwi. Puting susunya yang menjulang itu tengah diisap-isap oleh
temannya, semakin membuat Alfa mendesah-desah hebat. Sementara di
bagian bawah, saya masih mempermainkan penis saya terus-menerus di
dalam vaginanya, membuat Alfa kehilangan keseimbangan. Tubuhnya yang
putih dan mulus jatuh menindih tubuh Pratiwi yang ada di bawahnya.
Namun ini tidak menghentikan permainan kita.

“uuh…, Kak…, Saya
sudah mau keluar…, Mau…, di dalam…, atau…, di luar…?”, Saya
merasakan sudah tidak mampu lagi menahan gejolak yang ada di burun saya.

“hh…, Di dalam aja…, Ouhh…”, jawab Alfa sambil terus menggerinjal.

Akhirnya
permainan kita usai sudah, diakhiri dengan ditembakkannya lagi
cairan-cairan kental berwarna putih dari penis saya ke dalam vagina
Alfa. Saya dengan penis masih berada di dalam vagina Alfa terkulai
lemas di samping tubuh cewek itu yang dengan lemas masih menindih tubuh
Pratiwi yang kelihatannya kurang puas.

“Kamu masih punya hutang lho sama gue”, kata Pratiwi mengingatkan saya. Saya tidak menjawab, hanya mengangguk saja.

Lima
menit lamanya kami terdiam. Setelah itu kami bangkit dan membereskan
pakaian kami kembali, bersamaan dengan selesainya acara briefing malam
itu. Dengan mengendap-endap setelah menengok ke sekeliling terlebih
dahulu kami bertiga keluar dari tempat persembunyian kami, kemudian
dengan perasaan sepertinya tidak pernah terjadi apa-apa, kami kembali
ke tenda kami masing-masing untuk bergabung dengan teman-teman lainnya.

“Eh,
kamu tadi ngapain bertiga sama Kak Tiwi dan Kak Alfa?”, tanya salah
seorang teman saya satu tenda. Saya hanya tersenyum penuh arti.

TAMAT

Areal Perkemahan