Cerita Seks, Guru Les Privat, Bag 1

17th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1543 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Cerita Seks, Guru Les Privat, Bag 1

Seminggu yang lalu Fanny mulai rutin mengikuti
les privat Fisika di rumahku, Renne Lobo, aku seorang duda. Aku
mempunyai sebuah rumah mungil dengan dua buah kamar, diantaranya ada
sebuah kamar mandi yang bersih dan harum. Kamar depan diperuntukkan
ruang kerja dan perpustakaan, buku-buku tersusun rapi di dalam rak
dengan warna-warna kayu, sama seperti meja kerja yang di atasnya
terletak seperangkat komputer. Sebuah lukisan yang indah tergantung di
dinding, lukisan itu semakin tampak indah di latar belakangi oleh warna
dinding yang serasi. Ruang tidurnya dihiasi ornamen yang serasi pula,
dengan tempat tidur besar dan pencahayaan lampu yang membuat suasana
semakin romantis. Ruang tamu ditata sangat artistik sehingga terasa
nyaman.

Rumahku memang terkesan romantis dengan terdengar pelan
alunan lagu-lagu cinta, Fanny sedang mengerjakan tugas yang baru
kuperintahkan. Dia terlalu asyik mengerjakan tugas itu, tanpa sengaja
penghapusnya jatuh tersenggol. Fanny berusaha menggapai ke bawah
bermaksud untuk mengambilnya, tapi ternyata dia memegang tanganku yang
telah lebih dulu mengambilnya. Fanny kaget melihat ke arahku yang
sedang tersenyum padanya. Fanny berusaha tersenyum, saat tangan kirinya
kupegang dan telapak tangannya kubalikkan dengan lembut, kemudian
kutaruh penghapus itu ke dalam telapak tangannya.

Aku sebagai
orang yang telah cukup berpengalaman dapat merasakan getaran-getaran
perasaan yang tersalur melalui jari-jari gadis itu, sambil tersenyum
aku berkata, “Fan, kamu tampak lebih cantik kalau tersenyum seperti
itu”. Kata-kataku membuat gadis itu merasa tersanjung, dengan tidak
sadar Fanny mencubit pahaku sambil tersenyum senang.

“Udah punya pacar Fan?”, godaku sambil menatap Fanny.

“Belum, Kak!”, jawabnya malu-malu, wajahnya yang cantik itu bersemu merah.

“Kenapa, kan temen seusiamu sudah mulai punya pacar”, lanjutku.

“Habis mereka maunya cuma hura-hura kayak anak kecil, caper”, komentarnya sambil melanjutkan menulis jawaban tugasnya.

“Ohh!”, aku bergumam dan beranjak dari tempat duduknya, mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.

“Minum Coca Cola apa Fanta, Fan?”, lanjutku.

“Apa ya! Coca Cola aja deh Kak”, sahutnya sambil terus bekerja.

Aku
mambawa dua kaleng minuman dan mataku terus melihat dan menelusuri
tubuh Fanny yang membelakangi, ternyata menarik juga gadis ini,
badannya yang semampai dan bagus cukup membuatku bergairah, pikirku
sambil tersenyum sendiri.

“Sudah Kak”, suara Fanny mengagetkan
lamunanku, kuhampiri dan kusodorkan sekaleng Coca-Cola kesukaan gadis
itu. Kemudian aku memeriksa hasil pekerjaan itu, ternyata benar semua.

“Ahh, ternyata selain cantik kamu juga pintar Fan “, pujiku dan membuat Fanny tampak tersipu dan hatinya berbunga-bunga.

Aku
yang sengaja duduk di sebelah kanannya, melanjutkan menerangkan
pemecahan soal-soal lain, Bau wangi parfum yang kupakai sangat lembut
dan terasa nikmat tercium hidung, mungkin itu yang membuatnya tanpa
sadar bergeser semakin dekat padaku.

Pujian tadi membuatnya
tidak dapat berkonsentrasi dan berusaha mencoba mengerti apa yang
sedang dijelaskan, tapi gagal. Aku yang melihatnya tersenyum dalam hati
dan sengaja duduk menyamping, agak menghadap pada gadis itu sehingga
instingku mengatakan hatinya agak tergetar.

“Kamu bisa ngerti yang baru kakak jelaskan Fan”, kataku sambil melihat wajah Fanny lewat sudut mata.

Fanny
tersentak dari lamunannya dan menggeleng, “Belum, ulang dong Kak!”,
sahutnya. Kemudian aku mengambil kertas baru dan diletakkan di
depannya, tangan kananku mulai menuliskan rumus-rumus sambil
menerangkan, tangan lainnya diletakkan di sandaran kursi tempatnya
duduk dan sesekali aku sengaja mengusap punggungnya dengan lembut.

Fanny
semakin tidak bisa berkonsentrasi, saat merasakan usapan lembut jari
tanganku itu, jantungnya semakin berdegup dengan keras, usapan itu
kuusahakan senyaman dan selembut mungkin dan membuatnya semakin terlena
oleh perasaan yang tak terlukiskan. Dia sama sekali tidak bisa
berkonsentrasi lagi. Tanpa terasa matanya terpejam menikmati belaian
tangan dan bau parfum yang lembut.

Dia berusaha melirikku, tapi
aku cuek saja, sebagai perempuan yang selalu ingin diperhatikan, Fanny
mulai mencoba menarik perhatianku. Dia memberanikan diri meletakkan
tangan di atas pahaku. Jantungnya semakin berdegup, ada getaran yang
menjalar lembut lewat tanganku.

Selesai menerangkan aku
menatapnya dengan lembut, dia tak kuasa menahan tatapan mata yang tajam
itu, perasaannya menjadi tak karuan, tubuhnya serasa menggigil saat
melihat senyumku, tanpa sadar tangan kirinya meremas lembut pahaku,
akhirnya Fanny menutup mata karena tidak kuat menahan gejolak
didadanya. Aku tahu apa yang dirasakan gadis itu dengan instingku.

“Kamu
sakit?”, tanyaku berbasa basi. Fanny menggelengkan kepala, tapi
tanganku tetap meraba dahinya dengan lembut, Fanny diam saja karena
tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku genggam lembut jari tangan
kirinya.

Udara hangat menerpa telinganya dari hidungku, “Kamu
benar-benar gadis yang cantik, dan telah tumbuh dewasa Fan”, gumamku
lirih. pujian itu membuat dirinya makin bangga, tubuhnya bergetar, dan
nafasnya sesak menahan gejolak di dadanya. Dan Fanny ternyata tak kuasa
untuk menahan keinginannya meletakkan kepalanya di dadaku, “Ahh..”,
Fanny mendesah kecil tanpa disadari.

Aku sadar gadis ini mulai
menyukaiku, dan berhasil membangkitkan perasaan romantisnya. Tanganku
bergerak mengusap lembut telinga gadis itu, kemudian turun ke leher,
dan kembali lagi naik ke telinga beberapa kali. Fanny merasa
angan-angannya melambung, entah kenapa dia pasrah saja saat aku
mengangkat dagunya, mungkin terselip hatinya perasaan ingin terus
menikmati belaian-belaian lembut itu.

“Kamu memang sangat cantik dan aku yakin jalan pikiranmu sangat dewasa, Aku kagum!”, kataku merayu.

Udara
hangat terasa menerpa wajahya yang cantik, disusul bibir hangatku
menyentuh keningnya, lalu turun pelan ke telinga, hangat dan lembut,
perasaan nikmat seperti ini pasti belum pernah dialaminya. Anehnya dia
menjadi ketagihan, dan merasa tidak rela untuk cepat-cepat mengakhiri
semua kejadian itu.

“Ja.., jangan Kak”, pintanya untuk menolak.
Tapi dia tidak berusaha untuk mengelak saat bibir hangatku dengan
lembut penuh perasaan menyusuri pipinya yang lembut, putih dan halus,
saat merasakan hangatnya bibirku mengulum bibirnya yang mungil merah
merekah itu bergeter, aku yakin baru pertama kali ini dia merasakan
nikmatnya dikulum dan dicium bibir laki-laki.

Jantung di dadanya
berdegup makin keras, perasaan nikmat yang menyelimuti hatinya semakin
membuatnya melambung. “Uuhh..!”, hatinya tergelitik untuk mulai
membalas ciuman dan kuluman-kuluman hangatku.

“Aaahh..”, dia
mendesah merasakan remasanku lembut di payudara kiri yang menonjol di
dadanya, seakan tak kuasa melarang. Dia diam saja, remasan lembut
menambah kenikmatan tersendiri baginya.

“Dadamu sangat indah Fan”,
sebuah pujian yang membuatnya semakin mabuk, bahkan tangannya kini
memegang tanganku, tidak untuk melarangnya, tapi ikut menekan dan
mengikuti irama remasan di tanganku. Dia benar-benar semakin
menikmatinya. Serdadukupun mulai menegang.

“Aaahh”, Fanny
mendesah kembali dan pahanya bergerak-gerak dan tubuhnya bergetar
menandakan vaginanya mulai basah oleh lendir yang keluar akibat
rangsangan yang dialaminya, hal itu membuat vaginanya terasa geli,
merupakan kenikmatan tersendiri. Dia semakin terlena diantara
degup-degup jantung dan keinginannya untuk mencapai puncak kenikmatan.
Diimbanginya kuluman bibir dan remasan lembut di atas buah dadanya.

Saat tanganku mulai membuka kancing baju seragamnya, tangannya mencoba menahannya.

“Jangan
nanti dilihat orang”, pintanya, tapi tidak kupedulikan. Kulanjutkan
membuka satu persatu, dadanya yang putih mulus mulai terlihat, buah
dadanya tertutup bra warna coklat.

Seakan dia sudah tidak peduli
lagi dengan keadaannya, hanya kenikmatan yang ingin dicapainya, dia
pasrah saat kugendong dan merebahkannya di atas tempat tidur yang
bersprei putih. Di tempat tidur ini aku merasa lebih nyaman, semakin
bisa menikmati cumbuan, dibiarkannya dada yang putih mulus itu makin
terbuka.

“Auuuhh”, bibirku mulai bergeser pelan mengusap dan
mencium hangat di lehernya yang putih mulus. “Aaaahh”, dia makin
mendesah dan merasakan kegelian lain yang lebih nikmat.

Aku
semakin senang dengan bau wangi di tubuhnya. “Tubuhmu wangi sekali”,
kembali rayuan itu membuatnya makin besar kepala. Tanganku itu
dibiarkan menelusuri dadanya yang terbuka. Fanny sendiri tidak kuasa
menolak, seakan ada perasaan bangga tubuhnya dilihat dan kunikmati.
Tanganku kini menelusuri perutnya dengan lembut, membuatnya
menggelinjang kegelian. Bibir hangatku beralih menelusuri dadanya.

“Uhh.!”,
tanganku menarik bajunya ke atas hingga keluar dari rok abu-abunya,
kemudian jari-jarinya melepas kancing yang tersisa dan menari lembut di
atas perutnya. “Auuuhh” membuatnya menggelinjang nikmat, perasaannya
melambung mengikuti irama jari-jariku, sementara serdaduku terasa makin
tegang.

Dia mulai menarik kepalaku ke atas dan mulai mengimbagi
ciuman dan kuluman, seperti caraku mengulum dan mencium bibirnya.
“Ooohh”, terdengar desah Fanny yang semakin terlena dengan ciuman
hangat dan tarian jari-jariku diatas perutnya, kini dada dan perutnya
terlihat putih, mulus dan halus hanya tertutup bra coklat muda yang
lembut.

Aku semakin tegang hingga harus mengatur gejolak birahi
dengan mengatur pernafasanku, aku terus mempermainkan tubuh dan
perasaan gadis itu, kuperlakukan Fanny dengan halus, lembut, dan tidak
terburu-buru, hal ini membuat Fanny makin penasaran dan makin bernafsu,
mungkin itu yang membuat gadis itu pasrah saat tanganku menyusup ke
belakang, dan membuka kancing branya.

Bersambung Ke Bagian 2……….

Cerita Seks, Guru Les Privat, Bag 1