Digoda Ibu Mertua

10th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 2769 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Digoda Ibu Mertua

Perkenalkan dulu namaku Tomy. Sudah satu
minggu ini akau berada di rumah sendirian. Istriku, Riris, sedang
ditugaskan dari kantor tempatnya bekerja untuk mengikuti suatu
pelatihan yang dilaksanakan di kota lain selama dua minggu. Terus
terang saja aku jadi kesepian juga rasanya. Kalau mau tidur rasanya kok
aneh juga, kok sendirian dan sepi, padahal biasanya ada istri di
sisiku. Memang perkawinan kami belum dikaruniai anak. Maklum baru 1
tahun berjalan. Karena sendirian itu, dan maklum karena otak laki-laki,
pikirannya jadi kemana-mana.

Aku teringat peristiwa yang aku
alami dengan ibu mertuaku. Ibu mertuaku memang bukan ibu kandung
istriku, karena ibu kandung Riris telah meninggal dunia. Ayah mertuaku
kemudian kawin lagi dengan ibu mertuaku yang sekarang ini dan kebetulan
tidak mempunyai anak. Ibu mertuaku ini umurnya sekitar 40 tahun,
wajahnya ayu, dan tubuhnya benar-benar sintal dan padat sesuai dengan
wanita idamanku. Buah dadanya besar sesuai dengan pinggulnya. Demikian
juga pantatnya juga bahenol banget. Aku sering membayangkan ibu
mertuaku itu kalau sedang telentang pasti vaginanya membusung ke atas
terganjal pantatnya yang besar itu. Hemm, sungguh menggairahkan.

Peristiwa
itu terjadi waktu malam dua hari sebelum hari perkawainanku dengan
Riris. Waktu itu aku duduk berdua di kamar keluarga sambil membicarakan
persiapan perkawinanku. Mendadak lampu mati. Dalam kegelapan itu, ibu
mertuaku (waktu itu masih calon) berdiri, saya pikir akan mencari
lilin, tetapi justru ibu mertuaku memeluk dan menciumi pipi dan bibirku
dengan lembut dan mesra. Aku kaget dan melongo karena aku tidak mengira
sama sekali diciumi oleh calon ibu mertuaku yang cantik itu.

Hari-hari
berikutnya aku bersikap seperti biasa, demikian juga ibu mertuaku. Pada
saat-saat aku duduk berdua dengan dia, aku sering memberanikan diri
memandang ibu mertuaku lama-lama, dan dia biasanya tersenyum manis dan
berkata, “Apaa..?, sudah-sudah, ibu jadi malu”.
Terus terang saja
aku sebenarnya merindukan untuk dapat bermesraan dengan ibu mertuaku
itu. Aku kadang-kadang sagat merasa bersalah dengan Riris istriku, dan
juga ayahku mertua yang baik hati. Kadang-kadang aku demikian kurang
ajar membayangkan ibu mertuaku disetubuhi ayah mertuaku, aku bayangkan
kemaluan ayah mertuaku keluar masuk vagina ibu mertuaku, Ooh
alangkah…! Tetapi aku selalu menaruh hormat kepada ayah dan ibu
mertuaku. Ibu mertuaku juga sayang sama kami, walaupun Riris adalah
anak tirinya.

Pagi-pagi hari berikutnya, aku ditelepon ibu
mertuaku, minta agar sore harinya aku dapat mengantarkan ibu menengok
famili yang sedang berada di rumah sakit, karena ayah mertuaku sedang
pergi ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku sih setuju saja. Sore
harinya kami jadi pergi ke rumah sakit, dan pulang sudah sehabis
maghrib. Seperti biasa aku selalu bersikap sopan dan hormat pada ibu
mertuaku.

Dalam perjalan pulang itu, aku memberanikan diri bertanya, “Bu, ngapain sih dulu ibu kok cium Tomy?”.
“Aah, kamu ini kok maih diingat-ingat juga siih”, jawab ibuku sambil memandangku.
“Jelas dong buu…, Kan asyiik”, kataku menggoda.
“Naah, tambah kurang ajar thoo, Ingat Riris lho Tom…, Nanti kedengaran ayahmu juga bisa geger lho Tom”.
“Tapii, sebenarnya kenapa siih bu…, Tomy jadi penasaran lho”.
“Aah,
ini anak kok nggak mau diem siih, Tapi eeh…, anu…, Tom, sebenarnya
waktu itu, waktu kita jagongan itu, ibu lihat tampangmu itu kok ganteng
banget. Hidungmu, bibirmu, matamu yang agak kurang ajar itu kok membuat
ibu jadi gemes banget deeh sama kamu. Makanya waktu lampu mati itu,
entah setan dari mana, ibu jadi pengin banget menciummu dan
merangkulmu. Ibu sebenarnya jadi malu sekali. Ibu macam apa kau ini,
masa lihat menantunya sendiri kok blingsatan”.
“Mungkin, setannya ya
Tomy ini Bu…, Saat ini setannya itu juga deg-degan kalau lihat ibu
mertuanya. Ibu boleh percaya boleh tidak, kadang-kadang kalau Tomy lagi
sama Riris, malah bayangin Ibu lho. Bener-bener nih. Sumpah deh. Kalau
Ibu pernah bayangin Tomy nggak kalau lagi sama Bapak”, aku semakin
berani.
“aah nggak tahu ah…, udaah…, udaah…, nanti kalau
keterusan kan nggak baik. Hati-hati setirnya. Nanti kalau nabrak-nabrak
dikiranya nyetir sambil pacaran ama ibu mertuanya. Pasti ibu yang
disalahin orang, Dikiranya yang tua niih yang ngebet”, katanya.
“Padahal
dua-duanya ngebet lo Bu. Buu, maafin Tomy deeh. Tomy jadi pengiin
banget sama ibu lho…, Gimana niih, punya Tomy sakit kejepit celana
nihh”, aku makin berani.
“Aduuh Toom, jangan gitu dong. Ibu jadi
susah nih. Tapi terus terang aja Toom.., Ibu jadi kayak orang jatuh
cinta sama kamu.., Kalau udah begini, udah naik begini, ibu jadi pengin
ngeloni kamu Tom…, Tom kita cepat pulang saja yaa…, Nanti diterusin
dirumah…, Kita pulang ke rumahmu saja sekarang…, Toh lagi kosong
khan…, Tapi Tom menggir sebentar Tom, ibu pengen cium kamu di sini”,
kata ibu dengan suara bergetar.

ooh aku jadi berdebar-debar
sekali. Mungkin terpengaruh juga karena aku sudah satu minggu tidak
bersetubuh dengan istriku. Aku jadi nafsu banget. Aku minggir di tempat
yang agak gelap. Sebenarnya kaca mobilku juga sudah gelap, sehingga
tidak takut ketahuan orang. Aku dan ibu mertuaku berangkulan, berciuman
dengan lembut penuh kerinduan. Benar-benar, selama ini kami saling
merindukan.
“eehhm…, Toom ibu kangen banget Toom”, bisik ibu mertuaku.
“Tomy juga buu”, bisikku.
“Toom…, udah dulu Tom…, eehmm udah dulu”, napas kami memburu.
“Ayo jalan lagi…, Hati-hati yaa”, kata ibu mertuaku.
“Buu penisku kejepit niih…, Sakit”, kataku.
“iich anak nakal”, Pahaku dicubitnya.
“Okey…, buka dulu ritsluitingnya”, katanya.
Cepat-cepat
aku buka celanaku, aku turuni celana dalamku. Woo, langsung berdiri
tegang banget. Tangan kiri ibu, aku tuntun untuk memegang penisku.
“Aduuh Toom. Gede banget pelirmu…, Biar ibu pegangin, Ayo jalan. Hati-hati setirnya”.
Aku
masukkan persneling satu, dan mobil melaju pulang. Penisku dipegangi
ibu mertuaku, jempolnya mengelus-elus kepala penisku dengan lembut.
Aduuh, gelii… nikmat sekali. Mobil berjalan tenang, kami berdiam
diri, tetapi tangan ibu terus memijat dan mengelus-elus penisku dengan
lembut.

Sampai di rumahku, aku turun membuka pintu, dan langsung
masuk garasi. Garasi aku tutup kembali. Kami bergandengan tangan masuk
ke ruang tamu. Kami duduk di sofa dan berpandangan dengan penuh
kerinduan. Suasana begitu hening dan romantis, kami berpelukan lagi,
berciuman lagi, makin menggelora. Kami tumpahkan kerinduan kami. Aku
ciumi ibu mertuaku dengan penuh nafsu. Aku rogoh buah dadanya yang
selalu aku bayangkan, aduuh benar-benar besar dan lembut.
“Buu, Tomy kangen banget buu…, Tomy kangen banget”.
“Aduuh Toom, ibu juga…, Peluklah ibu Tom, peluklah ibu” nafasnya semakin memburu.
Matanya
terpejam, aku ciumi matanya, pipinya, aku lumat bibirnya, dan lidahku
aku masukkan ke mulutnya. Ibu agak kaget dan membuka matanya. Kemudian
dengan serta-merta lidahku disedotnya dengan penuh nafsu.
“Eehhmm.., Tom, ibu belum pernah ciuman seperti ini…, Lagi Tom masukkan lidahmu ke mulut ibu”

Ibu
mendorongku pelan, memandangku dengan mesra. Dirangkulnya lagi diriku
dan berbisik, “Tom, bawalah Ibu ke kamar…, Enakan di kamar, jangan
disini”.
Dengan berangkulan kami masuk ke kamar tengah yang kosong.
Aku merasa tidak enak di tempat tidur kami. Aku merasa tidak enak
dengan Riris apabila kami memakai tempat tidur di kamar kami.
“Bu kita pakai kamar tengah saja yaa”.
“Okey,
Tom. Aku juga nggak enak pakai kamar tidurmu. Lebih bebas di kamar
ini”, kata ibu mertuaku penuh pengertian. Aku remas pantatnya yang
bahenol.
“iich.., dasar anak nakal”, ibu mertuaku merengut manja.

Kami
duduk di tempat tidur, sambil beciuman aku buka pakaian ibu mertuaku.
Aku sungguh terpesona dengan kulit ibuku yang putih bersih dan mulus
dengan buah dadanya yang besar menggantung indah. Ibu aku rebahkan di
tempat tidur. Celana dalamnya aku pelorotkan dan aku pelorotkan dari
kakinya yang indah. Sekali lagi aku kagum melihat vagina ibu mertuaku
yang tebal dengan bulunya yang tebal keriting. Seperti aku membayangkan
selama ini, vagina ibu mertuaku benar menonjol ke atas terganjal
pantatnya yang besar. Aku tidak tahan lagi memandang keindahan ibu
mertuaku telentang di depanku. Aku buka pakaianku dan penisku sudah
benar-benar tegak sempurna. Ibu mertuaku memandangku dengan tanpa
berkedip. Kami saling merindukan kebersamaan ini. Aku berbaring miring
di samping ibu mertuaku. Aku ciumi, kuraba, kuelus semuanya, dari
bibirnya sampai pahanya yang mulus.

Aku remas lembut buah
dadanya, kuelus perutnya, vaginanya, klitorisnya aku main-mainkan.
Liangnya vaginanya sudah basah. Jariku aku basahi dengan cairan vagina
ibu mertuaku, dan aku usapkan lembut di clitorisnya. Ibu menggelinjang
keenakan dan mendesis-desis. Sementara peliku dipegang ibu dan
dielus-elusnya. Kerinduan kami selama ini sudah mendesak untuk
ditumpahkan dan dituntaskan malam ini. Ibu menggeliat-geliat,
meremas-remas kepalaku dan rambutku, mengelus punggungku, pantatku, dan
akhirnya memegang penisku yang sudah siap sedia masuk ke liang vagina
ibu mertuaku.
“Buu, aku kaangen banget buu…, Tomyy kanget banget…, Tomy anak nakal buu..”, bisikku.
“Toom…,
ibu juga. sshh…, masukin Toom…, masukin sekarang…, Ibu sudah
pengiin banget Toom, Toomm…”, bisik ibuku tersengal-sengal. Aku naik
ke atas ibu mertuaku bertelakn pada siku dan lututku.

Tangan
kananku mengelus wajahnya, pipinya, hidungnya dan bibir ibu mertuaku.
Kami berpandangan. Berpandangan sangat mesra. Penisku dituntunnya masuk
ke liang vaginanya yang sudah basah. Ditempelkannya dan digesek-gesekan
di bibir vaginanya, di clitorisnya. Tangan kirinya memegang pantatku,
menekan turun sedikit dan melepaskan tekanannya memberi komando penisku.

Kaki
ibu mertuaku dikangkangnya lebar-lebar, dan aku sudah tidak sabar lagi
untuk masuk ke vagina ibu mertuaku. Kepala penisku mulai masuk, makin
dalam, makin dalam dan akhirnya masuk semuanya sampai ke pangkalnya.
Aku mulai turun naik dengan teratur, keluar masuk, keluar masuk dalam
vagina yang basah dan licin. Aduuh enaak, enaak sekali.
“Masukkan separo saja Tom. Keluar-masukkan kepalanya yang besar ini…, Aduuh garis kepalanya enaak sekali”.
Nafsu
kami semakin menggelora. Aku semakin cepat, semakin memompa penisku ke
vagina ibu mertuaku. “Buu, Tomy masuk semua, masuk semua buu”
“Iyaa
Toom, enaak banget. Pelirmu ngganjel banget. Gede banget rasane. Ibu
marem banget” kami mendesis-desis, menggeliat-geliat, melenguh penuh
kenikmatan. Sementara itu kakinya yang tadi mengangkang sekarang
dirapatkan.
Aduuh, vaginanya tebal banget. Aku paling tidak tahan
lagi kalau sudah begini. Aku semakin ngotot menyetubuhi ibu mertuaku,
mencoblos vagina ibu mertuaku yang licin, yang tebal, yang sempit
(karena sudah kontraksi mau puncak). Bunyinya kecepak-kecepok membuat
aku semakin bernafsu. Aduuh, aku sudah tidak tahan lagi.
“Buu Tomy mau keluaar buu…, Aduuh buu.., enaak bangeet”.
“ssh…, hiiya Toom, keluariin Toom, keluarin”.
“Ibu
juga mau muncaak, mau muncaak…, Toomm, Tomm, Teruss Toomm”, Kami
berpagutan kuat-kuat. Napas kami terhenti. Penisku aku tekan kuat-kuat
ke dalam vagina ibu mertuaku.

Pangkal penisku berdenyut-denyut.
menyemprotlah sudah spermaku ke vagina ibu mertuaku. Kami bersama-sama
menikmati puncak persetubuhan kami. Kerinduan, ketegangan kami tumpah
sudah. Rasanya lemas sekali. Napas yang tadi hampir terputus semakin
menurun.
Aku angkat badanku. Akan aku cabut penisku yang sudah menancap dari dalam liang vaginanya, tetapi ditahan ibu mertuaku.
“Biar
di dalam dulu Toom…, Ayo miring, kamu berat sekali. Kamu nekad
saja…, masa’ orang ditindih sekuatnya”, katanya sambil memencet
hidungku. Kami miring, berhadapan, Ibu mertuaku memencet hidungku lagi,
“Dasar anak kurang ajar…, Berani sama ibunya.., Masa ibunya dinaikin,
Tapi Toom…, ibu nikmat banget, ‘marem’ banget. Ibu belum pernah
merasakan seperti ini”.
“Buu, Tomy juga buu. Mungkin karena curian
ini ya buu, bukan miliknya…, Punya bapaknya kok dimakan. Ibu juga,
punya anakya kok ya dimakan, diminum”, kataku menggodanya.
“Huush,
dasar anak nakal.., Ayo dilepas Toom.., Aduuh berantakan niih Spermamu
pada tumpah di sprei, Keringatmu juga basahi tetek ibu niih”.
“Buu, malam ini ibu nggak usah pulang. Aku pengin dikelonin ibu malam ini. Aku pengin diteteki sampai pagi”, kataku.
“Ooh
jangan cah bagus…, kalau dituruti Ibu juga penginnya begitu. Tapi
tidak boleh begitu. Kalau ketahuan orang bisa geger deeh”, jawab ibuku.
“Tapi buu, Tomy rasanya emoh pisah sama ibu”.
“Hiyya,
ibu tahu, tapi kita harus pakai otak dong. Toh, ibu tidak akan kabur..,
justru kalau kita tidak hati-hati, semuanya akan bubar deh”.
Kami
saling berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman lagi
penuh kelembutan. Tiada kata-kata yang keluar, tidak dapat diwujudkan
dalam kata-kata. Kami saling mengasihi, antara ibu dan anak, antara
seorang pria dan seorang wanita, kami tulus mengasihi satu sama lain.

Malam
itu kami mandi bersama, saling menyabuni, menggosok, meraba dan
membelai. Penisku dicuci oleh ibu mertuaku, sampai tegak lagi.
“Sudaah, sudaah, jangan nekad saja. Ayo nanti keburu malam”.
Malam
itu sungguh sangat berkesan dalam hidupku. Hari-hari selanjutnya
berjalan normal seperti biasanya. Kami saling menjaga diri. Kami
menumpahkan kerinduan kami hanya apabila benar-benar aman. Tetapi kami
banyak kesempatan untuk sekedar berciuman dan membelai. Kadang-kadang
dengan berpandangan mata saja kami sudah menyalurkan kerinduan kami.
Kami semakin sabar, semakain dewasa dalam menjaga hubungan cinta-kasih
kami.

TAMAT

Digoda Ibu Mertua

Oohh binalnya ibu mertua q