Enaknya Jadi Dokter

18th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 2252 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Enaknya Jadi Dokter

Aku sebenarnya enggan memperkenalkan diri
sebagai dokter, namun untuk kelengkapan cerita, aku terpaksa mengakui
bahwa aku memang dokter.

Telah belasan tahun berpraktek aku di
kawasan kumuh ibu kota, tepatnya di kawasan Pelabuhan Rakyat di Jakarta
Barat. Pasienku lumayan banyak, namun rata-rata dari kelas menengah ke
bawah. Jadi sekalipun telah belasan tahun aku berpraktek dengan jumlah
pasien lumayan, aku tetap saja tidak berani membina rumah tangga, sebab
aku benar-benar ingin membahagiakan isteriku, bila aku memilikinya
kelak, dan kebahagiaan dapat dengan mudah dicapai bila kantongku tebal,
simpananku banyak di bank dan rumahku besar.

Namun aku tidak
pernah mengeluh akan keadaanku ini. Aku tidak ingin
membanding-bandingkan diriku pada Dr. Susilo yang ahli bedah, atau Dr.
Hartoyo yang spesialis kandungan, sekalipun mereka dulu waktu masih
sama-sama kuliah di fakultas kedokteran sering aku bantu dalam
menghadapi ujian. Mereka adalah bintang kedokteran yang sangat
cemerlang di bumi pertiwi, bukan hanya ketenaran nama, juga kekayaan
yang tampak dari Baby Benz, Toyota Land Cruiser, Pondok Indah, Permata
Hijau, Bukit Sentul dll.

Dengan pekerjaanku yang melayani
masyarakat kelas bawah, yang sangat memerlukan pelayanan kesehatan yang
terjangkau, aku memperoleh kepuasan secara batiniah, karena aku dapat
melayani sesama dengan baik. Namun, dibalik itu, aku pun memperoleh
kepuasan yang amat sangat di bidang non materi lainnya.

Suatu
malam hari, aku diminta mengunjungi pasien yang katanya sedang sakit
parah di rumahnya. Seperti biasa, aku mengunjunginya setelah aku
menutup praktek pada sekitar setengah sepuluh malam. Ternyata sakitnya
sebenarnya tidaklah parah bila ditinjau dari kacamata kedokteran, hanya
flu berat disertai kurang darah, jadi dengan suntikan dan obat yang
biasa aku sediakan bagi mereka yang kesusahan memperoleh obat malam
malam, si ibu dapat di ringankan penyakitnya.

Saat aku mau
meninggalkan rumah si ibu, ternyata tanggul di tepi sungai jebol, dan
air bah menerjang, hingga mobil kijang bututku serta merta terbenam
sampai setinggi kurang lebih 50 senti dan mematikan mesin yang sempat
hidup sebentar. Air di mana-mana, dan aku pun membantu keluarga si ibu
untuk mengungsi ke atas, karena kebetulan rumah petaknya terdiri dari 2
lantai dan di lantai atas ada kamar kecil satu-satunya tempat anak
gadis si ibu tinggal.

Karena tidak ada kemungkinan untuk pulang,
maka si Ibu menawarkan aku untuk menginap sampai air surut. Di kamar
yang sempit itu, si ibu segera tertidur dengan pulasnya, dan tinggallah
aku berduaan dengan anak si ibu, yang ternyata dalam sinar
remang-remang, tampak manis sekali, maklum, umurnya aku perkirakan baru
sekitar awal dua puluhan.

“Pak dokter, maaf ya, kami tidak dapat
menyuguhkan apa apa, agaknya semua perabotan dapur terendam di bawah”,
katanya dengan suara yang begitu merdu, sekalipun di luar terdengar
hamparan hujan masih mendayu dayu.

“Oh, enggak apa-apa kok Dik”, sahutku.

Dan untuk melewati waktu, aku banyak bertanya padanya, yang ternyata bernama Sri.

Ternyata
Sri adalah janda tanpa anak, yang suaminya meninggal karena kecelakaan
di laut 2 tahun yang lalu. Karena hanya berdua saja dengan ibunya yang
sakit-sakitan, maka Sri tetap menjanda. Sri sekarang bekerja pada
pabrik konveksi pakaian anak-anak, namun perusahaan tempatnya bekerja
pun terkena dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Saat aku
melirik ke jam tanganku, ternyata jam telah menunjukkan setengah dua
dini hari, dan aku lihat Sri mulai terkantuk-kantuk, maka aku sarankan
dia untuk tidur saja, dan karena sempitnya kamar ini, aku terpaksa
duduk di samping Sri yang mulai merebahkan diri.

Tampak rambut
Sri yang panjang terburai di atas bantal. Dadanya yang membusung tampak
bergerak naik turun dengan teraturnya mengiringi nafasnya. Ketika Sri
berbalik badan dalam tidurnya, belahan bajunya agak tersingkap,
sehingga dapat kulihat buah dadanya yang montok dengan belahan yang
sangat dalam. Pinggangnya yang ramping lebih menonjolkan busungan buah
dadanya yang tampak sangat menantang. Aku coba merebahkan diri di
sampingnya dan ternyata Sri tetap lelap dalam tidurnya.

Pikiranku
menerawang, teringat aku akan Wati, yang juga mempunyai buah dada
montok, yang pernah aku tiduri malam minggu yang lalu, saat aku
melepaskan lelah di panti pijat tradisional yang terdapat banyak di
kawasan aku berpraktek. Tapi Wati ternyata hanya nikmat di pandang,
karena permainan seksnya jauh di bawah harapanku. Waktu itu aku
hampir-hampir tidak dapat pulang berjalan tegak, karena burungku masih
tetap keras dan mengacung setelah ‘selesai’ bergumul dengan Wati.
Maklum, aku tidak terpuaskan secara seksual, dan kini, telah seminggu
berlalu, dan aku masih memendam berahi di antara selangkanganku.

Aku
mencoba meraba buah dada Sri yang begitu menantang, ternyata dia tidak
memakai beha di bawah bajunya. Teraba puting susunya yang mungil. dan
ketika aku mencoba melepaskan bajunya, ternyata dengan mudah dapat
kulakukan tanpa membuat Sri terbangun. Aku dekatkan bibirku ke
putingnya yang sebelah kanan, ternyata Sri tetap tertidur. Aku mulai
merasakan kemaluanku mulai membesar dan agak menegang, jadi aku
teruskan permainan bibirku ke puting susu Sri yang sebelah kiri, dan
aku mulai meremas buah dada Sri yang montok itu. Terasa Sri bergerak di
bawah himpitanku, dan tampak dia terbangun, namun aku segera menyambar
bibirnya, agar dia tidak menjerit. Aku lumatkan bibirku ke bibirnya,
sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Terasa sekali Sri yang
semula agak tegang, mulai rileks, dan agaknya dia menikmati juga
permainan bibir dan lidahku, yang disertai dengan remasan gemas pada ke
dua buah dadanya.

Setalah aku yakin Sri tidak akan berteriak,
aku alihkan bibirku ke arah bawah, sambil tanganku mencoba menyibakkan
roknya agar tanganku dapat meraba kulit pahanya. Ternyata Sri sangat
bekerja sama, dia gerakkan bokongnya sehingga dengan mudah malah aku
dapat menurunkan roknya sekaligus dengan celana dalamnya, dan saat itu
kilat di luar membuat sekilas tampak pangkal paha Sri yang mulus,
dengan bulu kemaluan yang tumbuh lebat di antara pangkal pahanya itu.

Kujulurkan
lidahku, kususupi rambut lebat yang tumbuh sampai di tepi bibir besar
kemaluannya. Di tengah atas, ternyata clitoris Sri sudah mulai
mengeras, dan aku jilati sepuas hatiku sampai terasa Sri agak
menggerakkan bokongnya, pasti dia menahan gejolak berahinya yang mulai
terusik oleh jilatan lidahku itu.

Sri membiarkan aku bermain
dengan bibirnya, dan terasa tangannya mulai membuka kancing kemejaku,
lalu melepaskan ikat pinggangku dan mencoba melepaskan celanaku.
Agaknya Sri mendapat sedikit kesulitan karena celanaku terasa sempit
karena kemaluanku yang makin membesar dan makin menegang.

Sambil
tetap menjilati kemaluannya, aku membantu Sri melepaskan celana panjang
dan celana dalamku sekaligus, sehingga kini kami telah bertelanjang
bulat, berbaring bersama di lantai kamar, sedangkan ibunya masih
nyenyak di atas tempat tidur.

Mata Sri tampak agak terbelalak
saat dia memandang ke arah bawah perutku, yang penuh ditumbuhi oleh
rambut kemaluanku yang subur, dan batang kemaluanku yang telah membesar
penuh dan dalam keadaan tegang, menjulang dengan kepala kemaluanku yang
membesar pada ujungnya dan tampak merah berkilat.

Kutarik kepala
Sri agar mendekat ke kemaluanku, dan kusodorkan kepala kemaluanku ke
arah bibirnya yang mungil. Ternyata Sri tidak canggung membuka mulutnya
dan mengulum kepala kemaluanku dengan lembutnya. Tangan kanannya
mengelus batang kemaluanku sedangkan tangan kirinya meremas buah
kemaluanku. Aku memajukan bokongku dan batang kemaluanku makin dalam
memasuki mulut Sri. Kedua tanganku sibuk meremas buah dadanya, lalu
bokongnya dan juga kemaluannya. Aku mainkan jariku di clitoris Sri,
yang membuatnya menggelinjang, saat aku rasakan kemaluan Sri mulai
membasah, aku tahu, saatnya sudah dekat.

Kulepaskan kemaluanku
dari kuluman bibir Sri, dan kudorong Sri hingga telentang. Rambut
panjangnya kembali terburai di atas bantal. Sri mulai sedikit
merenggangkan kedua pahanya, sehingga aku mudah menempatkan diri di
atas badannya, dengan dada menekan kedua buah dadanya yang montok,
dengan bibir yang melumat bibirnya, dan bagian bawah tubuhku berada di
antara kedua pahanya yang makin dilebarkan. Aku turunkan bokongku, dan
terasa kepala kemaluanku menyentuh bulu kemaluan Sri, lalu aku geserkan
agak ke bawah dan kini terasa kepala kemaluanku berada diantara kedua
bibir besarnya dan mulai menyentuh mulut kemaluannya.

Kemudian
aku dorongkan batang kemaluanku perlahan-lahan menyusuri liang sanggama
Sri. Terasa agak seret majunya, karena Sri telah menjanda dua tahun,
dan agaknya belum merasakan batang kemaluan laki-laki sejak itu. Dengan
sabar aku majukan terus batang kemaluanku sampai akhirnya tertahan oleh
dasar kemaluan Sri. Ternyata kemaluanku cukup besar dan panjang bagi
Sri, namun ini hanya sebentar saja, karena segera terasa Sri mulai
sedikit menggerakkan bokongnya sehingga aku dapat mendorong batang
kemaluanku sampai habis, menghunjam ke dalam liang kemaluan Sri.

Aku
membiarkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluan Sri sekitar 20
detik, baru setelah itu aku mulai menariknya perlahan-lahan, sampai
kira-kira setengahnya, lalu aku dorongkan dengan lebih cepat sampai
habis. Gerakan bokongku ternyata membangkitkan berahi Sri yang juga
menimpali dengan gerakan bokongnya maju dan mundur, kadangkala ke arah
kiri dan kanan dan sesekali bergerak memutar, yang membuat kepala dan
batang kemaluanku terasa di remas-remas oleh liang kemaluan Sri yang
makin membasah.

Tidak terasa, Sri terdengar mendasah dasah,
terbaur dengan dengusan nafasku yang ditimpali dengan hawa nafsu yang
makin membubung. Untuk kali pertama aku menyetubuhi Sri, aku belum
ingin melakukan gaya yang barangkali akan membuatnya kaget, jadi aku
teruskan gerakan bokongku mengikuti irama bersetubuh yang tradisional,
namun ini juga membuahkan hasil kenikmatan yang amat sangat. Sekitar 40
menit kemudian, disertai dengan jeritan kecil Sri, aku hunjamkan
seluruh batang kemaluanku dalam dalam, kutekan dasar kemaluan Sri dan
seketika kemudian, terasa kepala kemaluanku menggangguk-angguk di dalam
kesempitan liang kemaluan Sri dan memancarkan air maniku yang telah
tertahan lebih dari satu minggu.

Terasa badan Sri melamas, dan
aku biarkan berat badanku tergolek di atas buah dadanya yang montok.
Batang kemaluanku mulai melemas, namun masih cukup besar, dan kubiarkan
tergoler dalam jepitan liang kemaluannya. Terasa ada cairan hangat
mengalir membasahi pangkal pahaku. Sambil memeluk tubuh Sri yang
berkeringat, aku bisikan ke telinganya, “Sri, terima kasih, terima
kasih…”

TAMAT                   

Enaknya Jadi Dokter