Godain Pak Guru

1st August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1446 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Godain Pak Guru

Sebut saja namaku Etty (bukan yang
sebenarnya), waktu itu aku masih sekolah di sebuah SMA swasta.
Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit yang putih kekuningan, bentuk
tubuh yang langsing tetapi padat berisi, kaki yang langsing dari paha
sampai tungkai, bibir yang cukup sensual, rambut hitam lebat terurai
dan wajah yang oval. Payudara dan pantatkupun mempunyai bentuk yang
bisa dibilang lumayan.

Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga
tidak mengherankan bila di sekolah aku mempunyai banyak teman baik
anak-anak kelas III sendiri atau kelas I, aku sendiri waktu itu masih
kelas II. Laki-laki dan perempuan semua senang bergaul denganku. Di
kelaspun aku termasuk salah satu murid yang mempunyai kepandaian cukup
baik, ranking 6 dari 10 murid terbaik saat kenaikan dari kelas I ke
kelas II.

Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak
jarang pula para guru senang padaku dalam arti kata bisa diajak
berdiskusi soal pelajaran dan pengetahuan umum yang lain. Salah satu
guru yang aku sukai adalah bapak guru bahasa Inggris, orangnya ganteng
dengan bekas cukuran brewok yang aduhai di sekeliling wajahnya, cukup
tinggi (agak lebih tinggi sedikit dari pada aku) dan ramping tetapi
cukup kekar. Dia memang masih bujangan dan yang aku dengar-dengar
usianya baru 27 tahun, termasuk masih bujangan yang sangat ting-ting
untuk ukuran zaman sekarang.

Suatu hari setelah selesai
pelajaran olah raga (volley ball merupakan favoritku) aku duduk-duduk
istirahat di kantin bersama teman-temanku yang lain, termasuk
cowok-cowoknya, sembari minum es sirup dan makan makanan kecil. Kita
yang cewek-cewek masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos
dan celana pendek. Memang di situ cewek-ceweknya terlihat seksi karena
kelihatan pahanya termasuk pahaku yang cukup indah dan putih.

Tiba-tiba
muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya Freddy
(bukan sebenarnya) dan kita semua bilang, “Selamat pagi Paa…aak”, dan
dia membalas sembari tersenyum.

“Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley”.

Aku
menjawab, “Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak”. “Iya,
nanti jam setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu”.

Aku dan teman-teman mengajak, “Di sini aja Pak, kita ngobrol-ngobrol”, dia setuju.

“OK, boleh-boleh aja kalau kalian tidak keberatan”!

Aku
dan teman-teman bilang, “Tidak, Pak.”, lalu aku menimpali lagi,
“Sekali-sekali, donk, Pak kita dijajanin”, lalu teman-teman yang lain,
“Naa…aa, betuuu…uuul. Setujuuuu…..”.

Ketika Pak Freddy
mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat karena memang aku
senang akan kegantengannya dan kontan teman-teman ngatain aku.

“Alaa…, Etty, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.

Pak Freddy menjawab, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.

Kemudian
sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan salah satu
kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena masih
menggunakan celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak Pak
Freddy tersenyum dan aku berpura-pura minta maaf.

“Sorry, ya Pak”.

Dia menjawab, “That’s OK”. Di dalam hati aku tertawa karena sudah bisa mempengaruhi pandangan Pak Freddy.

Di
suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Freddy dan pamit
kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore
dengan alasan mau mengerjakan PR bersama-sama. Secara kebetulan pula
Mama dan papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang hari yang
paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Freddy, dia
baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.

“Eeeeh, kamu Et. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”.

Aku menjawab, “Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.

Lalu
dia mengajak masuk ke dalam, “Oooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah
saya kecil begini. Tunggu, ya, saya paké baju dulu”. Memang tampak Pak
Freddy hanya mengenakan handuk saja. Tak lama kemudian dia keluar dan
bertanya sekali lagi tentang keperluanku. Aku sekedar menjelaskan,
“Cuma mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak, rumahnya”.

Dia tersenyum, “Saya kost di sini. Sendirian.”

Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan siang dan Pak Freddy tanya, “Udah laper, Et?”.

Aku jawab, “Lumayan, Pak”.

Lalu
dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Saya mau
ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau kan?”.

Langsung kujawab, “Ok-ok aja, Pak.”.

Sewaktu
Pak Freddy pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku jalan-jalan sampai
ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi
seadanya saja. Tetapi tanpa disengaja aku melihat kamar Pak Freddy
pintunya terbuka dan aku masuk saja ke dalam. Kulihat koleksi bacaan
berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari mulai majalah sampai
buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada majalah porno
dari luar negeri dan langsung kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukan
main. Cowok dan cewek yang sedang bersetubuh dengan berbagai posisi dan
entah kenapa yang paling menarik bagiku adalah gambar di mana cowok
dengan asyiknya menjilati vagina cewek dan cewek sedang mengisap penis
cowok yang besar, panjang dan kekar.

Tidak disangka-sangka suara
Pak Freddy tiba-tiba terdengar di belakangku, “Lho!! Ngapain di situ,
Et. Ayo kita makan, nanti keburu dingin nasinya”.

Astaga! Betapa
kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak wajahnya
biasa-biasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya
dan aku segera keluar dengan berkata tergagap-gagap, “Ti..ti..tidak,
eh, eng…gggak ngapa-ngapain, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya, Pak”.

Pak
Freddy hanya tersenyum saja, “Ya. Udah tidak apa-apa. Kamar saya
berantakan. tidak baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk”.

Syukurlah Pak Freddy tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera.

Pada saat makan aku bertanya, “Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat dibaca semua, ya Pak?”.

Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya, “Yaa..aah, belum semua. Lumayan buat iseng-iseng”.

Lalu aku memancing, “Kok, tadi ada yang begituan”.

Dia bertanya lagi, “Yang begituan yang mana”.

Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, “Emm…, Ya, yang begituan, tuh. Emm…, Majalah jorok”.

Kemudian dia tertawa, “Oh, yang itu, toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman saya waktu dia ke Eropa”.

Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Freddy menawarkan aku untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.

Lalu dia menawarkan diri, “Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk”.

Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah porno yang tergeletak di atas tempat tidurnya.

Begitu
tiba di dalam kamar, Pak Freddy bertanya lagi, “Betul kamu tidak
malu?”, aku hanya menggelengkan kepala saja. Mulai saat itu juga Pak
Freddy dengan santai membuka celana jeans-nya dan terlihat olehku
sesuatu yang besar di dalamnya, kemudian dia menindihkan dadanya dan
terus semakin kuat sehingga menyentuh vaginaku. Aku ingin merintih
tetapi kutahan.

Pak Freddy bertanya lagi, “Sakit, Et”. Aku hanya
menggeleng, entah kenapa sejak itu aku mulai pasrah dan mulutkupun
terkunci sama sekali. Semakin lama jilatan Pak Freddy semakin berani
dan menggila. Rupanya dia sudah betul-betul terbius nafsu dan tidak
ingat lagi akan kehormatannya sebagai Seorang Guru. Aku hanya bisa
mendesah”,aa…, aahh, Hemm…, uuuuu…, uuuh”.

Akhirnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak Freddy pun naik dan bertanya.

“Enak, Et?”

“Lumayan, Pak”.

Tanpa
bertanya lagi langsung Pak Freddy mencium mulutku dengan ganasnya,
begitupun aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku
mengelus-elus penis yang perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya
sudah berdiri sempurna. Mulutnya mulai mengulum kedua puting
payudaraku. Praktis kami berdua sudah tidak berbicara lagi, semuanya
sudah mutlak terbius nafsu birahi yang buta. Pak Freddy berhenti
merangsangku dan mengambil majalah porno yang masih tergeletak di atas
tempat tidur dan bertanya kepadaku sembari salah satu tangannya
menunjuk gambar cowok memasukkan penisnya ke dalam vagina seorang cewek
yang tampak pasrah di bawahnya.

“Boleh saya seperti ini, Et?”.

Aku
tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin Pak
Freddy menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua
kakiku lebar-lebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya
berusaha membuka belahan vaginaku yang rapat, sedangkan tangan kanannya
menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vaginaku.

Kelihatan Pak
Freddy agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam vaginaku yang masih
rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin otot-otot sekitar
vaginaku masih kaku. Pak Freddy memperingatkan, “Tahan sakitnya, ya,
Et”. Aku tidak menjawab karena menahan terus rasa sakit dan, “Akhh…,
bukan main perihnya ketika batang penis Pak Freddy sudah mulai masuk,
aku hanya meringis tetapi Pak Freddy tampaknya sudah tak peduli lagi,
ditekannya terus penisnya sampai masuk semua dan langsung dia
menidurkan tubuhnya di atas tubuhku. Kedua payudaraku agak tertekan
tetapi terasa nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di vaginaku.

Semakin
lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan penis Pak
Freddy mengocok vaginaku. Aku terengah-engah, “Hah, hah, hah,…”.
Pelukan kedua tangan Pak Freddy semakin erat ke tubuhku dan spontan
pula kedua tanganku memeluk dirinya dan mengelus-elus punggungnya.
Semakin lama gerakan penis Pak Freddy semakin memberi rasa nikmat dan
terasa di dalam vaginaku menggeliat-geliat dan berputar-putar.

Sekarang
rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Freddy kemudian agak
mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua tangannya
dan telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan dengan keras
ke atas kasur dan ouwwww…, Pak Freddy semakin memperkuat dan
mempercepat kocokan penisnya dan di wajahnya kulihat raut yang gemas.
Semakin kuat dan terus semakin kuat sehingga tubuhku bergerinjal dan
kepalaku menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Freddy agak
merintih bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam vaginaku. Rupanya
air maninya sudah keluar dan segera dia mengeluarkan penisnya dan
merebahkan tubuhnya di sebelahku dan tampak dia masih terengah-engah.

Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku, “Gimana, Et? Kamu tidak apa-apa? Maaf, ya”.

Sembari tersenyum aku menjawab dengan lirih, “tidak apa-apa. Agak sakit Pak. Saya baru pertama ini”.

Dia berkata lagi, “Sama, saya juga”.

Kemudian aku agak tersenyum dan tertidur karena memang aku lelah, tetapi aku tidak tahu apakah Pak Freddy juga tertidur.

Sekitar
pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Freddy dan rupanya sewaktu aku
tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak olehku pak
Freddy hanya menggunakan handuk dan berkata, “Kita mandi, yuk. Kamu
harus pulang kan?”.

Badanku masih agak lemas ketika bangun dan
dengan tetap dalam keadaan telanjang bulat aku masuk ke kamar mandi.
Kemudian Pak Freddy masuk membawakan handuk khusus untukku. Di situlah
kami berdua saling bergantian membersihkan tubuh dan akupun tak
canggung lagi ketika Pak Freddy menyabuni vaginaku yang memang di
sekitarnya ada sedikit bercak-bercak darah yang mungkin luka dari
selaput daraku yang robek. Begitu juga aku, tidak merasa jijik lagi
memegang-megang dan membersihkan penisnya yang perkasa itu.

Setelah
semua selesai, Pak Freddy membuatkan aku teh manis panas secangkir.
Terasa nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar kembali. Sekitar
jam 17:45 aku pamit untuk pulang dan Pak Freddy memberi ciuman yang
cukup mesra di bibirku. Ketika aku mengemudikan mobilku, terbayang
bagaimana keadaan Papa dan Mama dan nama baik sekolah bila kejadian
yang menurutku paling bersejarah tadi ketahuan. Tetapi aku cuek saja,
kuanggap ini sebagai pengalaman saja.

Semenjak itulah, bila ada
waktu luang aku bertandang ke rumah Pak Freddy untuk menikmati
keperkasaannya dan aku bersyukur pula bahwa rahasia tersebut tak pernah
sampai bocor. Sampai sekarangpun aku masih tetap menikmati genjotan Pak
Freddy walaupun aku sudah menjadi mahasiswa, dan seolah-olah kami
berdua sudah pacaran. Pernah Pak Freddy menawarkan padaku untuk
mengawiniku bila aku sudah selesai kuliah nanti, tetapi aku belum
pernah menjawab. Yang penting bagiku sekarang adalah menikmati dulu
keganasan dan keperkasaan penis guru bahasa Inggrisku itu.

TAMAT

Godain Pak Guru