Guru Bahasa Inggris

8th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1156 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Guru Bahasa Inggris

Sejalan dengan waktu, kini aku bisa
kuliah di universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di
Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup
beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan
tinggi.

Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku
bertemu dengan guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya.
Ternyata Ibu Shinta masih segar bugar dan amat menggairahkan.
Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top
tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih
muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar
di sekolah kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan
siswanya adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami
rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan
harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil
menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.

Tiba-tiba
Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kami
terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas
malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang
tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun mengambil tasnya kemudian
aku teringat akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan
teman-teman. Lamunanku buyar ketika Ibu Shinta memanggilku.

“Kenapa Jack”

“Ah..
tidak apa-apa”, jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding
itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di sampingku,
membuat jantungku selalu berdebar-debar).

“Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Shinta.

“Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya”, jawabku dengan ragu-ragu.

“Terima kasih Jack”.

Tanpa
sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Shinta bahwa aku suka
kepadanya, “Oh my God what i’m doing”, dalam hatiku. Ternyata keadaan
berkata lain, Ibu Shinta terdiam saja dan langsung keluar dari ruang
kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta ternyata sudah
cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke
negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti
sejenak di depan kantornya lalu Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk
ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malam-malam
begini. Aku semakin penasaran lalu masuk dan bermaksud mengajaknya
pulang tapi Ibu Shinta menolak. Aku merasa tidak enak lalu menunggunya,
kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan cepat Ibu Shinta hendak menolak
tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Shinta menciumku dan aku pun
membalasnya.

Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan
cepat aku menciumnya dengan segala kegairahanku yang terpendam.
Ternyata Ibu Shinta tak mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yang
sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja
aku menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah sehingga ciuman
kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu
Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku
sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu
persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh
hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata
amat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat
seksi.

Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu
Shinta setengah telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya,
sehingga perlahan-lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka
baju sehingga badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu
Shinta, “Jack kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup
pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin
menahan birahinya yang juga mulai naik.

Tanpa disuruh dua kali,
secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman
dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Shinta. Kini aku jongkok
di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua kakinya.
Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk
dibungkus celana dalam warna hitam yang amat minim. Sambil mencium
pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang
senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke
atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya
jilatanku sampai di pangkal pahanya.

“Mau apa kau sshh… sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.

“Ooo…
oh.. oh..”, desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai bermain-main
di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih
dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya
kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku.
Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di
sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat. Lidahku
kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam
dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin
keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya. “Aahh… Kau
pintar sekali. Belajar dari mana hh…”

Tanpa sungkan-sungkan
Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang
menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal,
meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih
polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya.
Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Shinta
seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan.
Mulutku seperti melekat di mulutnya. “Uh kamu pengalaman sekali ya.
Sama siapa? Pacarmu?”, tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara
dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua
payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku,
BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan
rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya.
Padat, kencang dan putih mulus.

“Nggak adil. Kamu juga harus
telanjang..” Ibu Shinta pun melucuti kaos, celanaku, dan terakhir
celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh segera
diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas ranjang,
berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya,
mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku
menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan
jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami
menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan
batang kemaluanku ke mulutnya.

“Gantian dong..” Tanpa menunggu
jawabannya segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil.
Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri
sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. “Justru
di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main seksnya gimana?”,
tanyaku sambil menciumi payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab. Dia malah
mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian
memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai
basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku
sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi
lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah ingin
segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan
barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai
menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar.
“Ohh…”, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk
ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera
bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh
jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut
bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta
menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan.
Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan.
“Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya dengan tubuh menggelinjang
menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati
orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang
berkeringat. “Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging di atas meja..,
sekarang kita main dong di atas meja ok!” Aku mengatur badannya dan Ibu
Shinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya. “Gaya apa lagi
ini?”, tanyanya.

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan
menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan
mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama
ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai
dua kali, kami istirahat.

“Capek?”, tanyaku. “Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku”.

“Tapi kan nikmat Bu..”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.

“Ya
deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar
spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku. Sekarang
Ibu Shinta yang di atas”, kataku sambil mengatur posisinya.

Aku
terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar
memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk
tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta
tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat.
Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi
diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika
dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya
konvensional. Ibu Shinta kurebahkan dan aku menembaknya dari atas.
Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan
batang kemaluanku. “Oh Ibu Shinta.., aku mau keluar nih ahh..” Tak lama
kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta
kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan
liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima
menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.

Kami
berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas
merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu
kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap
kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa
kujemput.

Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku.
Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir.
Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi
lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan
tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta makin
terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana
dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
“Uuuhh.., mmmhh..”, Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah
sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok
mininya.

Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok
belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium
puting susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang
seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian
belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak
sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit
kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua
pahanya. “Ehhh…, mmmhh..”. Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan
pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku
berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.

“Ooohh..,
aduuuhh..”. Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap
di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak
dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali
lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak
dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan
meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika
aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak
terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku,
dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan
di pipi Ibu Shinta. “Mmmhh…, mmmhh.., ooohhm..”. Ketika Ibu Shinta
membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai
menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya.
“Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss…”, erangku.

Ibu
Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang
kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan
batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20
menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali
sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. “Ibu Shinta.., ooohh..,
enaaak.., teruuus”, teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka
dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku
lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu.., “Creet.., suuurr..,
ssuuur..”

“Oughh.., Jack.., nikmat..”, erangnya tertahan karena
mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena hisapannya
terlalu kuat akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil
kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, “Crooot..,
croott.., crooot..”, banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.

“Aaahkk..,
ooough”, ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan masih mampu
lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat
bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan
Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan
tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu
Shinta, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan
pantatku dari belakang. “Ohm, masuk.., augh.., masukin”

Perlahan
kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Shinta
semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan
oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu.
Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi dan mulutnya
mulai menceracau, “Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh..,
aduhhh.., enak.., Jack”

Aku merangkulkan kedua lenganku ke
punggung Ibu Shinta, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu
Shinta sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap
hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera
menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan
menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba
mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu
Shinta makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir
kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya
pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh
batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya
hingga telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku
sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan
siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan
merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah,
dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak
bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.

TAMAT

Guru Bahasa Inggris