Hanya Dengan Pria Lain Aku Bergairah

7th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1632 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Hanya Dengan Pria Lain Aku Bergairah

Jangan pernah berpikir Tut, aku akan
menceraikanmu. Kalau memang maumu hendak menyiksa perasaanku, mending
kugantung saja perkawinan ini. Dengan begitu, kita seri. Kamu bisa
bahagia dengan mencari di luar, begitu pun denganku. Tapi soal status,
jangan lupa, kamu masih tetap istriku… selamanya!

Kata-kata
Mas Santoso tiba-tiba mengiang di telingaku. Malam, sudah tua benar.
Jam di dinding kamar hotel yang kutempati dengan Bram, kekasih baruku,
telah menunjukkan pukul 24.15. Tapi aku masih termangu di depan
jendela, mencoba mengurai kembali perjalanan hidupku. Dari keinginan
orangtuaku untuk mengawinkan aku dengan Mas Santoso yang sebenarnya tak
pernah kucintai, sampai dengan sederet petualanganku dengan lelaki lain
yang memberikan kenikmatan berlebih-lebih.

Entahlah, mungkin
karena aku tak pernah mencintai Mas Santoso, setiap ia menuntut haknya
sebagai suami, aku selalu ogah-ogahan. Kalau toh harus melayaninya,
itupun kulakukan dengan terpaksa. Hasilnya, sungguh jauh dari
memuaskan. Itu pula kesan yang diperoleh Mas Santoso dariku. “Kalau
begini terus, bisa-bisa aku impoten. Soalnya di atas ranjang, kamu tak
ubahnya sepotong batang pisang. Dingin, kayak es”, gerutu Mas Santoso.

Sejak
menikah dengan Mas Santoso 4 tahun lalu, rasanya bisa dihitung dengan
jari aku melakukan hubungan suami-istri dengannya. Terus terang, aku
lebih banyak menolak daripada melayani hasrat seksualnya. Kalau toh
mau, ya itu tadi, dengan setengah hati. Artinya, aku juga tak pernah
bermimpi bisa mendapatkan kenikmatan surga duniawi saat berhubungan
intim dengannya.

Sebaliknya jika melakukan dengan pria lain,
rasa yang kudapatkan sungguh dahsyat luar biasa. Aku mampu berperan
aktif di ranjang. Mencoba memuaskan pasanganku, dan sebaliknya berharap
kepuasan setimpal darinya. Tak mampu kuingat lagi, dengan beberapa pria
yang bukan suamiku aku pernah tidur bersama. Salah satunya adalah Bram,
seorang mahasiswa hukum usianya terpaut 5 tahun lebih muda dari usiaku
sendiri yang sudah menginjak kepala 3.

Aku kenal denga Bram
karena ia kost di rumah seorang tetangga. Posturnya yang tinggi dan
tegap, membuat fantasiku melayang membayangkan yang bukan-bukan. Sampai
akhirnya dengan seribu satu cara dan rayuan, pemuda asal Flores itu
dengan senang hati kuseret ke atas ranjang.

“Kok ngelamun, apa
yang Mbak pikirkan?” Suara bariton Bram membuyarkan lamunanku.
Ternyata, ia sudah terbangun dari lelapnya, setelah sore tadi kami
melewatkan permainan babak pertama. “Di sini kitakan mau senang-senang.
Jadi kalau bisa, yang lain-lain dilupakan dulu”, rajuk Bram sambil
menarik tubuhku kepelukannya.

Dada Bram yang bidang, bulu-bulu
dadanya yang keriting dan gelap, menimbulkan rasa geli serta getaran
hebat. Benar kata Bram, kenapa aku mesti melamunkan sesuatu yang
seharusnya tak menyita pemikiranku benar. Apalagi menurut keyakinanku,
Mas Santoso saat ini pun pasti tenggelam dalam pelukan Sri, sekretaris
di perusahaan kontraktor miliknya. Saya begitu yakin tentang hal itu,
karena akhir-akhir ini Mas Santoso sudah jarang pulang. Salah seorang
pegawainya yang begitu dekat denganku, suatu ketika memergoki mobil Mas
Santoso diparkir di depan rumah kost Sri.

Tangan kekar Bram yang
dipenuhi bulu-bulu lebat, meraih bagian belakang leherku, dan dengan
begitu otomatis wajahku terdongak. Kesempatan itu tak disia-siakannya,
bibirku dilumatnya dengan kecupan kuat disertai gelitikan lidahnya. Tak
lama kemudian, lidahnya menjalar ke leher, dada, terus kebawah… Aku
menggelinjang beberapa kali, geli campur nikmat. Aku yang sejak tadi
tak mengenakan sehelai pakaian pun, membuatnya lebih gampang
mencumbuku. “Yang begini kan lebih menyenangkan Mbak, daripada mikir
yang nggak-nggak”, kata Bram sambil membopong tubuhku ke atas ranjang.

Tapi
anehnya, pada setengah angkatan Bram menghentikan langkahnya. Ia justru
duduk di tepian ranjang, sambil tetap memeluk tubuhku di atas tubuhnya.
Dalam posisi berhadap-hadapan, aku duduk dipangkuannya. Bram jadi
leluasa mencumbu bagian depan dadaku. Berkali-kali ia mencium dan
mengulum puncak dari dadaku. Aku merasa nikmat yang luar biasa. Tapi
meski tubuhku meliuk-liuk menahan geli dan kenikmatan yang begitu
dahsyat, Bram tak mencoba menghentikan cumbuannya. Sebaliknya, ia
semakin ganas mencium dan mengulum, terus begitu, berulang-ulang
seperti tak pernah bosan. Ketika kurasakan sesuatu mengaliri sekujur
tubuhku, dan karenanya aku jadi sedikit tegang, sambil tersenyum nakal,
Bram sedikit mengangkat tubuhku. Dengan kelihaian luar biasa, tiba-tiba
saja tubuh kami sudah menyatu. Di atas pangkuannya, aku mulai memacu.
Cepat dan semakin cepat. Sementara Bram dengan tatap melenguh, berusaha
mengimbangi gerakanku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Aduh,
rasanya aku melayang-layang dibuatnya.

Saat kelelahan mulai
menyergap tubuh kami, Bram berinisiatif dengan mengubah posisi. Kami
berbaring sambil tetap berpagut mesra. Ia tetap menggelutiku,
bergerak-gerak di atas tubuhku, dari samping maupun belakang. Dan
ketika sesuatu yang menggelegak seakan hendak termuntahkan, Bram
memelukku erat-erat sambil mendesis, “Oohh.. yes!”

Jauh sebelum
dekat dengan Bram, aku mengenal mitra kerja suamiku di perusahaan jasa
kontruksi, namanya Pieter. Pria Manado yang menikah dengan wanita asal
Kediri itu ternyata naksir berat kepadaku. Padahal ia sangat tahu, aku
ini istri kolega bisnisnya. Dari kerlingan mata yang dilakukan
sembunyi-sembunyi, senyum penuh arti, sampai terpukau di pantatku saat
Mas Santoso lengah.

Sampai suatu malam, ketika Pieter datang ke
rumahku, kemesraan itu terjadilah. Sebab baru seperempat jam Pieter
duduk di ruang depan. Mas Santoso pamit akan keluar sebentar membeli
sesuatu. Tinggallah aku dengan Pieter meneruskan obrolan. Satu jam
lewat, perbincangan kami mulai menemukan titik kejenuhan, tapi Mas
Santoso belum kembali juga. Sampai akhirnya, tiba-tiba Pieter
menyeletuk, “Nggak usah ditunggu suamimu, paling-paling ia kerumah Sri.
Sebab siang tadi lewat telepon, ia sudah janjian makan malam dengan
sekretaris itu.”

Anehnya, meski menerima kabar tak menyenangkan
itu aku masih bisa tertawa, tertawa lepas. Seperti tak ada beban.
Melihat sikapku tak berubah, Pieter jadi semakin berani. Ia menyeret
kursinya mendekatiku. Ketika obrolan kembali mengalir, kedua tanganku
sudah berada digenggamannya. Sampai akhirnya dengan suara mendesah ia
berkata, “Kamu cantik sekali Tut. Kalau Santoso sampai membiarkanmu
merana begini, rugi besar dia. Percayalah, semua laki-laki akan
mengatakan kamu cantik, menggairahkan. Termasuk aku, begitu
mengagumimu.”

Aku tahu, kata-kata yang meluncur dari mulut
Pieter benar-benar tulus. Justru. Dengan pengakuannya itu, timbul
simpatiku kepadanya. Maka ketika Pieter berdiri dan mulai memelukku,
aku tak berusaha menolak. Bahkan dengan penuh perasaan, aku ganti
mendekapnya penuh kemesraan. Tapi rupanya, sudah lama Pieter memendam
sesuatu kepadaku. Buktinya, ia tak cukup memeluk dan menciumku untuk
menumpahkan perasaannya. Ketika pagutan-pagutan hangat membuat kami
semakin terbakar, ia berani membimbingku masuk ke kamar.

Dengan
tenang, tanpa takut dipergoki Mas Santoso, Pieter melanjutkan
cumbuannya sambil melolosi satu-persatu pakaianku. “Sudah lama
sebenarnya gelora hati ini ingin kutumpahkan kepadamu. Tapi aku masih
ragu, apakah engkau mau menerimanya”, ucap Pieter dengan nafas memburu,
sembari mendaratkan ciuman-ciuman mautnya di wajah, leher dan dadaku.

Dalam
keadaan telentang, dan akhirnya tanpa selembar kain pun, aku hanya bisa
pasrah, sambil berharap sesuatu yang menyenangkan itu tiba juga, Tapi
Pieter agaknya pintar menyenangkan seorang wanita, Geraknya tetap
pelan, hati-hati tapi penuh perasaan. Dan ketika gerakanku sudah
seperti cacing kepanasan, ia mahfum bahwa saatnya tiba. Dengan sepenuh
hati, ia menghimpitku dan mulai melakukan gerakan-gerakan teratur naik
turun. Tetap pelan, tapi justru hal itu membuatku penasaran. “Ayo Piet,
cepat, cepat…”, Pintaku seperti kurang sabar.

Bagiku, sebuah
pengalaman baru melakukan hubungan intim dengan tempo yang terkesan
lambat, tapi bertenaga dan penuh perasaan. Ternyata, hasilnya jauh
lebih menyenangkan. Sampai akhirnya ketika pelabuhan yang kami tuju
sudah di depan mata, aku baru sadar puncak kepuasan itu telah kami raih
bersama-sama. Saking bahagianya, aku sampai menangis sambil menggigit
pundak Pieter. “Kamu sungguh hebat”, pujiku.

Lepas dari pelukan
Pieter, seorang pejabat di pemerintahan berhasil menggaet hatiku. Pak
Sos, namanya. Usianya sudah hampir setengah abad, tapi penampilan yang
wangi dan rapi sempat membuatku mabuk kepayang. Satu hal lagi, ketika
aku jatuh dalam pelukan Pak Sos, suamiku-Mas Santoso-sedang dililit
persoalan keuangan berkaitan dengan tendernya yang sepi sebagai seorang
kontraktor. Akibatnya, hal itu jadi semacam faktor pendorong intimnya
hubunganku dengan Pak Sos. Selain mendapatkan kepuasan biologis, Pak
Sos juga memberiku dukungan finansial. Bahkan aku pernah dibelikan
sebuah rumah cukup mewah di pinggiran kota, meski akhirnya dengan
alasan tertentu kujual lagi.

Aku pertama kali kenal dengan Pak
Sos berkaitan dengan proyek tender suamiku yang belum turun juga.
Karena berbagai cara yang ditempuh untuk membujuk Pak Sos yang punya
kewenangan menggolkan proyek itu, Mas Santoso akhirnya minta bantuanku.
“Mungkin karena kamu seorang wanita, Pak Sos bisa lunak hatinya”,
begitu harapan suamiku.

Apa boleh buat, permintaan Mas Santoso
mesti kupenuhi. Ketika tiba di ruang kerjanya yang besar dan ber-AC,
kesan yang muncul pertama saat bertatap muka dengan Pak Sos adalah
berwibawa tapi cuek. Tanpa membuang-buang waktu, aku mulai melancarkan
jurus-jurus rayuan. Tapi seperti yang kuduga, Pak Sos tak gampang
ditundukkan dengan cara-cara klise begitu. Aku mulai putus asa. Apalagi
dengan angkuhnya Pak Sos berujar, “Bilang sama suamimu, nggak etis dia
menyuruh istrinya merayuku untuk mendapatkan tender. Katakan padanya,
apakah harga istrinya cuma sebuah tender?”

Telingaku jadi panas,
aku nyaris menangis mendengarnya. Tapi meski begitu, kira-kira sepekan
kemudian datang surat dinas dari kantor Pak Sos, yang isinya
menjelaskan bahwa beliau setuju mendapatkan proyek yang diinginkannya.
Mas Santoso tampak berbunga-bunga, tapi sebaliknya dengan aku.
Menyadari semua itu aku jadi muak. Aku merasa telah dipermainkannya,
dijadikan umpan agar dia berhasil mendapatkan proyek yang diinginkannya.

Sampai
suatu siang, ketika Mas Santoso sudah berangkat ngantor, tanpa diduga
Pak Sos menelepon ke rumah. Mula-mula, dia cuma basa-basi. Mulai
menanyakan soal rumah tangga sampai menyinggung pekerjaan Mas Santoso,
“Apa kamu nggak tersinggung dengan cara-cara suamimu mendapatkan tender
proyek, sampai melibatkan istrinya untuk melobi-lobi begitu?” tanya Pak
Sos.

Yang pasti dari pembicaraan pertelepon selama 30 menit itu,
aku akhirnya tahu bahwa Pak Sos ternyata bukan tipe lelaki yang cuek
dan kaku seperti yang kuduga sebelumnya. Sebaliknya, jika sudah
mengobrol cukup lama dengannya, aku menyadari kalau ia cukup hangat dan
romantis sebagai lelaki. Lebih dari itu, lewat suaranya yang
serak-serak basah, ia begitu perhatian pada lawan jenisnya. Misalnya
ketika aku mengutarakan keinginan untuk bekerja, Pak Sos dengan
antusias menanggapi bahwa hal itu bisa gampang kudapatkan, asal aku tak
pilih pekerjaan, atau berhitung soal pendapatan yang kuperoleh, “Kalau
mau, ada lowongan di perusahaan milik kolega yang saya jamin pasti mau
menerimamu. Kalau kamu serius, datanglah besok ke kantorku. Kita
bicarakan lebih detil di sini”, undangnya. Keesokan hari, lewat tengah
hari seperti waktu yang kami sepakati, aku datang ke kantor Pak Sos.
Aku sempat kecewa ketika sampai di depan pintu, ada tulisan: Keluar.
Artinya, seperti kebiasaan di kantor-kantor pemerintah, si pejabat tak
ada di tempat karena sedang keluar ruangan. Tapi saat aku termangu di
depan pintu, seorang bawahan Pak Sos datang mendekati sambil berbisik,
“Bu Tut, silakan masuk saja, Pak Sos ada di dalam kok. Ia sengaja
membuat tulisan begitu, agar tak ada yang mengganggunya.”

Pak
Sos memang ada di ruangannya, tersenyum-senyum di atas kursi besarnya
begitu melihat kedatanganku. Aku dipersilakan duduk, sementara ia
membuka lemari es kecil untuk mengambil 2 botol softdrink. Tak lama
kemudian kami tenggelam pada obrolan yang lebih serius, menyangkut
keinginanku untuk bekerja. Ketika pembicaraan berganti topik, soal
rumahtanggaku, soal hubanganku dengan Mas Santoso, nada bicara Pak Sos
jadi terdengar lembut, teduh dan begitu hangat. Tak terasa, ketika aku
begitu hanyut menceritakan nasib perkawinanku, ia sudah berdiri begitu
dekat denganku. Ketika tetes-tetes air mata membasahi pipiku, Pak Sos
dengan merengkuh pundakku dan kemudian memelukku penuh perasaan.

Kami
tenggelam dalam keharuan yang dalam. Tapi ketika perasaan kami sudah
begitu menyatu, keharuan itu mendadak saja jadi gelora yang
berkobar-kobar, manakala tangan Pak Sos yang sangat terlatih mulai
bergerak liar di bagian-bagian tubuhku yang paling sensitif. Ketika
kancing-kancing blusku telah terbuka semua, aku seperti tak sadar kalah
dalam posisi telentang di atas meja kerja Pak Sos, dan ia dengan begitu
bernafsu, menghimpit dan mencumbuiku.

Kami seperti 2 manusia
yang kehilangan akal. Di atas meja itu kami memperagakan permainan aneh
yang yang menyenangkan, setelah Pak Sos melepas pertahanan terakhir
dari kain paling tipis yang kukenakan. Nafas Pak Sos memburu seiring
dengan gerakan-gerakan yang teratur. Di atas meja, hanya dengan melihat
langit-langit atap ruangannya, aku terhentak-hentak dan merasakan
tubuhku seperti tengah mengambang. Dan ketika puncak kenikmatan telah
kami raih bersama, sadarlah aku bahwa hal itu seharusnya tak kami
lakukan di kantornya. Sambil tersipu-sipu, aku membenahi kembali
pakaianku yang berantakan. Tapi Pak Sos cepat menghibur, “Jangan merasa
bersalah, tenang-tenang saja. Mau kuambilkan minuman lagi?”

Sejak
beberapa bulan lalu, ia harus pindah kerja di kota Malang karena ada
mutasi pekerjaan. Karena itu untuk melipur kesepian hati, aku
berkenalan dengan Bram, pemuda tanggung yang ternyata lebih bisa
memuaskan soal urusan ranjang, dibanding suami sahku, Mas Santoso.
Tentang laki-laki terakhir, hingga detik ini masih terikat perkawinanku
meski ia sudah jarang pulang, karena lebih suka menginap di rumah Sri,
sekretarisnya. Aku sendiri, terus terang saja rasanya tak cukup siap
untuk menghentikan semua kesenangan ini.

TAMAT                   

Hanya Dengan Pria Lain Aku Bergairah