Karena Cinta Bukan Hanya Nafsu Semata

5th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 844 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Karena Cinta Bukan Hanya Nafsu Semata

Aku seorang musisi amatir, dan
berdomisili di Yogyakarta. Pacarku, Rani tinggal di Jakarta, dan kami
sudah 3 tahun berhubungan antara serius dan tidak. Maksudnya kami
serius pacaran, tapi kami sudah berkomitmen untuk sementara tidak
terlalu terikat, karena kami yakin keterikatan akan menyebabkan kami
tidak bisa menikmati hidup muda kami. Karena tempat tinggal kami
berjauhan, jadi hanya sesekali saja aku bertemu muka dengan Rani. Kalau
pas liburan, Rani kadang menjengukku ke Yogya, dan sebaliknya. Nah,
saat-saat seperti itulah, cerita ini terjadi.

Saat itu aku
sedang mengutak-atik not di piano elektrik temanku yang ditaruh di
studio latihan di rumahku. Tiba-tiba suara piano itu jadi keras sekali,
membuatku kaget setengah mati. Aku sempat merinding, habis kan setahuku
di rumah nggak ada orang. Jadi siapa dong yang membesarkan volume piano
di ruang mixer? Dengan segan aku mengintip ke ruang mixer. Ruangan itu
gelap sekali, cuma kelihatan lampu-lampu mixer dan sound processor
saja. Pelan-pelan kuperiksa mixer-nya, ternyata memang volumenya besar
sekali. Saat itu aku bingung tentang siapa yang membesarkan kalau bukan
hantu, tiba-tiba ada sesuatu yang melompati punggungku dan langsung
saja membekap mulut dan mataku. Refleks saja aku menyikut penyerang
itu, kena perutnya. Dia jatuh, dan langsung kupiting tangannya sambil
aku menyalakan lampu. Ya ampun, ternyata Rani yang mengisengi aku. Dia
memakai jaket hitam, dan jeans ketat hitam juga. Matanya basah dan
mukanya mengernyit kesakitan. Langsung kubangunkan dia sambil
menggotong dia ke ruangan studio yang berkarpet tebal. Kubaringkan di
karpet sambil mengusap keringatnya yang keluar sambil menahan rasa
mualnya kena sikutku tadi.

“Aduh Rani, ngapain sih kamu ngagetin
aku kayak gitu?” Sambil menahan tangisnya, “Kamu ini bukannya nolongin
malah nyalahin aku. Makanya liat-liat dulu, baru gebuk. Untung nggak
kena ulu hati. Kalau kena, pasti deh kamu seneng kalau aku mati,
kehabisan napas. Biar kamu bisa cari yang lain kan.” Busyet nih anak
cantik, lagi kesakitan sempat juga bercanda. Jelas saja dong aku
tersenyum. “Aduh maafin aku ya sayang. Kamu juga sih, datang nggak
ngasih kabar dulu. Kapan sampai di Yogya? Kok bisa masuk ke dalam? Kan
pagarnya aku kunci”, kataku. “Aku mau ngasih kejutan sama kamu. Aku
sampe di Yogya tadi pagi jam 06.00. Terus naik taksi ke sini. Liat
rumah kamu sepi, daripada ngebel malah nggak surprise lagi mendingan
aku lompat pagar aja”, katanya.

Dasar Rani ini memang orangnya
cuek banget. Kadang-kadang kalau isengnya kumat, tomboy-nya mengalahkan
laki-laki. Padahal aslinya feminin banget. Cantik, tinggi, lincah dan
anggun juga bisa (tergantung saatnya). Kulitnya putih, dan badan yang
tinggi untuk ukuran cewek, membuat dia bisa tampil cantik dengan gaya
dan mode apapun. “Maafin aku ya sayang. Kejutanmu berhasil, sayangnya
terlalu berhasil. Maafin aku ya”, kataku sambil mengelus rambut
hitamnya yang panjangnya sepunggung, dan dengan lembut aku mencium
keningnya.

Setelah itu kami bercerita banyak mengenai kabar
masing-masing. Rani baru saja diterima di SMU 3, dan dia senang di
sana. Aku juga cerita lagu-lagu yang baru band kami ciptakan dan latih
selama ini sambil menyetelkan contoh lagu itu di CD player. Beberapa
lagu lewat, dia manggut-manggut sambil bilang, “Gab, lagunya
bagus-bagus. Asyik juga buat goyang, nge-groove banget”, sambil
meneruskan mendengar lagu berikutnya. Aku keluar studio dulu,
membuatkan es jeruk untuk kekasihku tercinta biar mualnya agak
mendingan. Waktu aku balik Rani memandangku sayu sambil bilang, “Gaby
sayang, puterin lagi lagu yang nomor lima dong. Lagunya romantis
banget. Aku jadi terharu dengerinnya.” Ya sudah, aku putarkan lagi ke
track 5, lagunya memang lembut banget, romantis deh pokoknya. Rani
berdiri sambil memegang tanganku, “Dance with me, honey!”, pintanya.
Kupegang tangannya, lalu kami berdansa mengikuti alunan musik yang aku
ciptakan. Sambil memeluknya, aku melihat matanya berlinang air mata.

“Kenapa Sayang?”, tanyaku.

“Enggak.., Cuma aku merasa betapa bahagianya apabila seseorang dicintai seperti lirik lagu itu.”

“Do you wanna know something, honey?”, tanyaku lagi.

“What is it, dear?”

“This song is written by me, to express how deep is my love… just for you, honey!”, kataku.

“Oooh,
Gaby.., What a wonderful gift from God you are for me”, sambil dia
berbicara begitu, air matanya tambah deras dan pelukannya semakin erat
serta dansanya tambah lembut. Mataku jadi basah juga. Aku sangat
mencintai Rani. Kalau mungkin, biarlah seluruh hidupku aku jalani
bersama dia.

Rani minta lagu tersebut diulang terus, biar dansa
kami tidak putus-putus dan liriknya bisa makin diresapi. Pelan-pelan
sambil terlarut dalam indahnya lagu dan lembutnya dansa kami, Rani
mengangkat kepalanya dari dadaku dan mengecup lembut bibirku.
Kecupannya lembut sekali. Mungkin kurang menyenangkan bagi yang cuma
ingin seks saja. Tapi bagi yang saling mencinta, kecupan seperti itu
jauh lebih kena di hati daripada apa yang terjadi sesudahnya.

Lampu
studio yang cukup redup, alunan musik merdu yang keluar dari sound
system yang keren dan kuat powernya (kebetulan tidak tembus keluar
sehingga tidak mengganggu tetangga, karena studio musiknya kedap
suara). Kami saling mengecup dengan lembut dalam waktu lama.

Sambil
tetap berputar mengikuti irama lagu, Rani berkata, “Gaby my love,
bercintalah denganku sayang. Di sini dan lakukan sekarang!”

Aku tersenyum dingin sambil berkata, “Rani, ma’af aku tidak bisa melakukannya”.

Rani kaget, “Kenapa sayang?”

“Aku tidak ingin bercinta denganmu, Aku hanya ingin mencintaimu. Bukan untuk berhubungan badan, tapi hanya mencintaimu sayang”.

Dia
tersenyum, sambil melanjutkan kecupannya, namun kali ini tangannya
mulai meraba-raba punggungku, dan bibirnya tidak menutup lagi,
melainkan membuka untuk memberi jalan lidahnya menusuk bibirku. Aku pun
bereaksi seperti layaknya seorang lelaki yang normal. Kuelus lembut
punggungnya, kasar sekali. Jelas saja, wong masih pakai jaket jeans.
Pelan-pelan kubuka jaket hitamnya, dan memandang kaos ketatnya yang
berwarna merah tanpa lengan, menonjolkan keindahan tubuh dan dadanya
yang berukuran 34B. Tidak terlalu besar, cukup mungil tapi yang penting
bagiku kencangnya bukan besarnya. Daripada seperti Pamella Anderson
yang besar tapi tidak kencang.

Kujelajahi terus sekujur badan
bagian atasnya. Kunikmati setiap jengkal dari tubuh indahnya. Mulai
dari punggungnya, perlahan-lahan merayap ke pinggangnya, perutnya, dan
dada indahnya. Di balik kaos merah ketatnya aku bisa melihat dan
merasakan puting yang semakin mengeras dan menjulur keluar dari
tempatnya, mencetak sempurna pada pembungkusnya. Kuputarkan jemariku di
sekitar putingnya yang keras luar biasa, sambil berbisik lembut ke
telinga Rani.

“Coba rasakan, Rani. Rasakan sentuhanku ini!”

“Mmmhhh..
mmhhh”, cuma itu bunyi yang keluar dari mulutnya, karena terlalu penuh
imajinasinya oleh keindahan cinta kami berdua. Walaupun begitu, dia
memang bukan tipe cewek banyak bicara sedikit bertindak. Buktinya
omongannya sedikit, tapi tanpa sadar tangannya meraba halus celana
jeans-ku, melonjakkan batang kemaluanku dari kungkungan celana dalamku.
Dia terus saja mengelus barang kesayangannya ini dengan semakin keras,
seakan dia tahu persis bahwa celana jeans yang tebal itu menghalangi
batang kemaluanku untuk merasakan kenikmatan belaian jemarinya.

“Oh Sayang, ijinkan aku menikmati burungmu. Akan kubuktikan bahwa segalanya hanya untuk kamu, Gaby.”

“Rasakan semuanya, Sayang. Lakukan apa yang kamu mau. Segala diriku adalah milikmu Rani.”

“Demikian pula aku Sayang. Lakukan pada diriku apapun yang kamu inginkan. Rani sayang kamu, Gaby.”

Setelah
mendapat ijin darinya, langsung saja (tapi dengan tetap lembut) kubuka
kaos ketat merahnya. Wah.. pantas saja putingnya menonjol sekali, dia
tidak memakai bra.

“Ran, kamu kok nggak pakai bra sih? Panas ya?”

“Sengaja
kubuka waktu kamu buatin es jeruk untukku. Tuh, branya aku lempar di
belakang drum. Kalau kamu lebih suka branya, ambil aja. Tapi kalau
lebih suka isinya tetaplah di sini sambil ekspresikan cintamu untukku.”

Wah,
masa sih aku mentingin branya, kalau bisa malahan jangan pernah dia
pakai bra lagi. Lagi pula payudara sekencang itu, untuk apa pakai bra
lagi sih? Rani pun tidak mau kalah. Dia membuka celana jeans-ku dengan
agak terburu-buru. Sialnya ujung batang kemaluanku yang memang sudah
keluar dari celana dalamnya terjepit retsleting.

“Aduh Rani, hati-hati dong Sayang. Sakit kan.”

“Ya
ampun, Gab.. burungmu sih yang nakal. Belum dibuka udah keluar duluan.
Salah kamu sendiri.. eh enggak deh, salah kamu sih (katanya sambil
menunjuk batang kemaluanku).”

“Ran, nanti kalau dimarahin dia ngambek lho.”

“He.. he.. he.. nggak deh. Bercanda kok ya sayang (sambil mengelus dan mengocok lembut batang kemaluanku).”

“Ssshhh… aduh Rani. Nikmat sekali Sayang. Teruskan teruskan…”

Setelah
sekian menit Rani mengocok lembut batang kemaluanku, batang kemaluanku
kini tegang sempurna. Setelah puas dikerjai Rani, aku mengangkat dia ke
atas piano. Kusuruh dia duduk di situ, setelah selesai kupeloroti
celana jeans-nya yang juga ketat. Setelah penghalangnya tersingkirkan,
barulah aku bisa sepuasnya menghirup harum tubuh kekasihku tercinta
itu. Mulai dari dada, jilatanku berangsur-angsur menurun sampai ke
daerah perutnya yang putih bersih.

Setelah itu, dengan tidak
terburu-buru biar dia penasaran, aku menjilati bagian belakang
lututnya, percayalah teman, ada sensasi tersendiri untuk wanita saat
kita menjilati bagian ini. Dari situ jilatan naik ke paha depan,
belakang, dan terakhir paha bagian dalam. Di situ jilatanku tidak cuma
merambat lurus tapi berputar-putar. Mendekati liang kenikmatannya,
menjauh lagi, mendekati lagi, menjauh lagi, mendekati lagi, menjauh
lagi. Teman-teman, tidak akan ada cewek yang tidak penasaran saat
diperlakukan selembut itu. Sama seperti Rani, dia sampai menangis
karena sudah tidak dapat menahan nafsunya, sehingga dia nekad menarik
rambutku ke arah liang kenikmatannya, saking semangatnya sampai daguku
terbentur piano yang ditidurinya. Lidahku menjelajah bibir luar liang
kenikmatannya dengan tetap lembut dan mesra, sebelum akhirnya kupuaskan
dahagaku dan dahaganya dengan menyeruput (bukan menyedot lho. Seperti
kita kalau mau minum teh yang masih panas, diseruput). Katanya setelah
selesai, seruputan itu terasa nikmat sekali, seperti memakai vibrator
tapi lebih nikmat lagi karena yang menggetarkan mulut cowoknya sendiri
dan bukan mesin.

“Aduh… duhhh… Gab, kamu apain sih
klitorisku? Aduh Gab, lagi dong… sshhh nikmat banget tuh. Sssh Gab…
Gab… Gab… aahhh”. Akhirnya Rani orgasme juga. Dia memang tidak
pernah berkata terus terang kalau mau orgasme. Dia lebih suka
mengekspresikannya lewat sikap dan keributan seperti tadi itu. Melihat
wajah Rani yang bersimbah keringat, matanya yang tertutup, dan
keningnya yang berkerut menahan rasa nikmat yang masih mendera
otot-otot liang kenikmatannya, hatiku bahagia karena aku bisa
menyenangkan dan memuaskan gairah seks kekasihku tercinta itu, walaupun
aku belum sempat mendaratkan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya.
Memang hingga kini aku belum pernah memasukkan batang kemaluanku ke
dalam liang kenikmatannya karena aku sangat mencintainya, dan bagiku
bercinta yang sesungguhnya (bersetubuh) saat pernikahan jauh lebih
berarti daripada bercinta saat ini yang hanya berdasarkan nafsu belaka.

TAMAT

Karena Cinta Bukan Hanya Nafsu Semata