Malu Tapi Mau, Bag 1

4th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1123 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Malu Tapi Mau, Bag 1

Pertama kali aku pacaran yaitu pada waktu
semester pertama di kuliahku di sebuah perguruan tinggi swasta di kota
Y. Memang aku agak telat untuk pacaran, semasa SMA dulu dimana
sekolahku adalah sekolah homogen yang muridnya cowok semua
temen-temenku kebanyakan sudah pada punya pacar sementara aku masih
betah sendirian. Bukannya aku tidak laku atau bagaimana, tetapi memang
aku-nya yang belum mau untuk membina suatu hubungan di samping nasihat
dari orangtua yang menganjurkan aku untuk sekolah dulu sampai selesai
baru pacaran. Namun ketika aku masuk ke bangku perkuliahan nasihat dari
orangtuaku jadi tidak mempan ketika aku naksir seorang cewek sekelas
yang cantik, seksi, pintar dan merupakan “bunga” kampus di angkatanku,
Adriana namanya dan biasa dipanggil Ana. Dia cewek yang mempunyai darah
keturunan dari Jawa Timur – Kalimantan – Belanda, jadi masih bau-bau
indo gitu. Langsung aku putar otak untuk mencari cara mendekatinya,
maklum baru kali itu aku mencoba untuk melamar cewek untuk jadi pacar.

Singkat
kata akhirnya aku dapatkan Ana menjadi pacarku. Awal-awal kami pacaran
berjalan biasa-biasa saja dalam arti normal saja, seperti layaknya
remaja lain yang berpacaran. Namun ketika suatu waktu aku ajak Ana
keluar untuk merayakan Valentines Day dia menagih janji yang aku
ucapkan waktu di jalan. Memang waktu itu aku beri dia kejutan seikat
mawar merah tanda cintaku padanya, kelihatan dia surprise sekali dan
bertanya “Wah, kamu ini senengnya kok bikin kejutan sih sayang. Masih
ada kejutan lagi tidak nanti?” Aku jawab saja sekenaku, “Oh, pasti ada
doong…” sambil otakku berputar karena memang aku tidak ada kejutan
lagi untuknya. Ketika di mobil masih di parkiran sebuah rumah makan
yang tempatnya memang agak gelap setelah kami selesai makan dan akan
pulang, Ana kembali menagih janjiku itu “Mana doong, katanya ada
kejutan lagi buat aku?” rajuknya manja. Aku terhenyak bingung, belum
sempat aku berpikir tanpa kusadari aku menyorongkan wajahku ke wajah
cantiknya untuk mencium pipinya. Tapi ternyata cewekku itu malah
menyambutnya dengan bibir sensualnya hingga bibir kami saling beradu.
Aku sempat kaget juga, maklum baru kali itu aku mencium bibir cewek.

Tapi
karena ketika SMA aku sering baca buku porno dan liat film BF maka aku
pun segera mencoba untuk mengimbangi cewekku dengan memainkan bibirku
di bibirnya. Tidak lama kami berciuman, mungkin dia merasakan aku yang
begitu canggung dalam berciuman, alamak… malu sekali aku. Memang bagi
Ana, aku ini adalah pacarnya yang ketiga setelah putus dengan
pacar-pacarnya yang terdahulu jadi dia sudah berpengalaman dalam urusan
cium-mencium dan seks dibandingkan dengan aku yang hanya tahu teorinya
saja. Tapi inilah awal dari semua cerita indah kami saat berpacaran.

Sejak
saat itu kemudian aku jadi ketagihan untuk mencium bibir sensual
gadisku itu, bahkan malah dia yang membimbing tanganku untuk
membelai-belai bagian tubuhnya. Pada suatu ketika saat kami berciuman
di suatu lembah yang sepi di pinggir sawah aku kembali dibuat malu oleh
Ana karena waktu itu memang aku hanya mencium bibirnya saja sedangkan
tanganku anteng hanya memeluk pinggul atau punggungnya.
Dibimbingnya tanganku menuju buah dadanya yang berukuran 36B itu, dan
kembali aku terhenyak karena kekenyalan bukit indah kembar tersebut.
Tanganku menelungkupi buah dada itu walau masih tertutup baju, tapi ada
rasa nikmat dan senjataku jadi tegang. Lalu aku lepaskan ciumanku
sambil menatapnya tapi tanganku masih memegangi buah dadanya “Ada apa
sayang?” tanya Ana. Aku tersipu malu, kemudian Ana bertanya, “Mau
pegang ini hhh…?” sambil matanya melirik ke buah dadanya yang indah
itu. “Boleh..?” tanyaku, tanpa menjawab Ana langsung menarik tanganku
masuk ke kaos ketatnya sampai ke BH-nya dan kemudian dipelorotkan satu
tali BH-nya sehingga buah dadanya menyembul keluar. Tanganku pun
kembali menelungkupi buah dadanya yang montok dan kenyal itu hanya
bedanya sekarang tidak ada penghalang sehingga putingnya yang bulat dan
keras itu terasa di telapak tanganku. Ana mendesah dan kembali kami
berciuman, senjataku pun menjadi semakin tegang dan mengembang dalam
celana jeansku.

Karena nafsuku sudah sampai ubun-ubun kugesekkan
kemaluanku ke perutnya, Ana semakin mendesah merasakan besarnya
senjataku. Semua itu kami lakukan sambil berdiri bersandar pada sebuah
pohon. Karena tempat itu agak terbuka akhirnya kami akhiri cumbuan kami
karena takut ketahuan warga sekitar. Namun setelah itu aku jadi semakin
berani dan pintar dalam bercumbu, sering kami melakukan di rumahku di
saat mengerjakan tugas kampus berdua, didukung suasana rumah yang sepi
karena kedua orangtuaku bekerja dan adikku waktu itu masih sekolah
hanya ada pembantu yang menyambi buka warung kelontong di garasi
rumahku. Kadang juga kami bercumbu saat di bioskop, di mobil, sampai di
toilet kampus bahkan saat kami berdua berboncengan naik motor Ana
sering meremas-remas dan memainkan batang kemaluanku dari belakang. Di
atas sofa saat di rumahku kami bercumbu dengan hot-nya, aku buka kaos
ketat Ana yang memakai resleting di depan sebagai kancing (sengaja aku
belikan kaos itu untuknya supaya mudah dibuka saat ingin bercumbu). Aku
buka BH-nya sehingga tampaklah buah dadanya yang menyembul indah di
hadapanku. Kemudian aku remas-remas dengan gerakan memutar dari luar
menuju ke dalam.

Sementara itu aku melumat bibir sensualnya,
kemudian turun ke lehernya. Aku jilati lehernya sampai ke telinganya,
Ana mendesah pelan pertanda dia mulai terangsang. Jilatanku turun terus
sampai kemudian ke buah dadanya. Aku jilati dan caplok buah dada itu,
kusedot-sedot, lalu kujilati putingnya. Ana meremas rambutku sambil
menekan kepalaku ke dadanya. Terus kulakukan itu terhadap buah dada
yang satu lagi. Jilatanku turun ke perut, kujilati perutnya Ana
menggelinjang kegelian. Tapi jilatanku tidak bisa turun lagi karena
terhalang celana panjang katunnya. Nafsuku semakin memuncak, kemaluanku
tegang sekali ingin mencari lubang kenikmatannya untuk kumasuki.

Kurebahkan
dia di sofa itu kemudian kugulung ke atas sampai ke paha celana
katunnya. Terlihat betis indahnya menantang serta paha mulusnya yang
putih itu seakan memanggilku untuk mengelusnya. Langsung saja kucium,
jilati, dan elus mulai betis indahnya sampai ke pahanya. Memang aku
selalu tertarik dengan cewek yang cantik seksi dan mempunyai sepasang
kaki yang indah dan panjang seperti Ana cewekku itu. Batang kemaluanku
sudah tambah tegang di dalam celana pendekku yang kukenakan dan aku
tidak tahan lagi, kemudian aku tindih tubuh Ana sambil mengepaskan
kemaluanku yang tegang itu di liang kemaluannya yang masih tertutup
celana katun itu. Ana memelukku dan kemudian kugesek-gesekkan batang
kemaluanku di situ sambil tanganku tak henti mengelus betis mulus dan
meremas pahanya.

“Ssh… ah.. ah.. ah.. ehm… sayang, I want it
real baby… ehm.. ehmm.. ssh…” desah Ana di kupingku. Aku tidak
peduli dengan kata-katanya, gesekanku kupercepat payudara Ana
bergerak-gerak karena desakanku di tubuhnya. Ana semakin tidak karuan
gerakannya, sambil menggigit bibir bawahnya dia terus mendesah dan aku
semakin terangsang oleh desahannya itu. Tak lama kemudian Ana
memperketat pelukannya sambil membenamkan wajahnya ke dadaku yang
berbulu dan berteriak tertahan (takut ketahuan pembantuku soalnya),
“Aaahh… sayaaanggg… ooohhh… aku keluar baby… eeehhh…
hhhmm…” Kuhentikan gesekanku di kemaluannya, dan Ana melepaskan
pelukannya sambil mengecup bibirku dan berkata “Kamu huebat sayang…”
dengan matanya yang indah mengerjap-ngerjap seakan masih menikmati
orgasmenya itu. Sekarang tinggal aku yang belum tuntas, Ana seakan
mengerti keinginanku kemudian bangkit dan membuka celanaku kemudian
meraih batang kemaluanku yang berdiri tegak itu, dielusnya perlahan
kemudian dikocoknya lalu dikulumnya batang kemaluanku. Geli sekali
rasanya, tapi enak sekali! Lain sekali rasanya apabila aku onani
sendiri menggunakan guling yang selama ini sering aku lakukan.

Disedot-sedot
oleh mulutnya kemaluanku, tapi kemudian aku tarik kepalanya dan kusuruh
Ana untuk tengkurap di sofa. Setelah tengkurap kupandangi pantatnya
yang padat bulat itu lalu kuremas-remas. Aku lalu mengangkanginya dan
menggesekkan batang kemaluanku mula-mula di betis indahnya lalu di paha
putih mulusnya kemudian berakhir di pantat bulatnya yang masih tertutup
celana katun itu. Kugesekkan, oooh… nikmat sekali pantatnya sambil
tanganku meremas-remas payudaranya dan kuciumi pipi dan lehernya.
Gesekanku di pantatnya semakin kupercepat, sampai Ana terdorong ke
depan karena gerakanku. Akhirnya penantianku hampir sampai, “Oh…
Ana…pantatmu enak sekali… uuuh… aku mau keluar sayang… aaah…”
dan, “Creet.. croot… croot…” air maniku memancar keluar di dalam
celana dalamku. Aku terkulai lemas menindih Ana yang masih tengkurap
sementara batang kemaluanku masih di pantatnya yang bulat itu.

Setelah
itu kami merapikan baju dan kembali mengerjakan tugas kuliah kami. Nah,
maka ketika kami dapat tugas dalam kuliah, kami senang soalnya dapat
kesempatan untuk bercumbu ria, untuk memperlancar itu aku dan Ana
selalu berdua membentuk kelompok sendiri (maklum, kami berdua memang
sama-sama punya nafsu yang besar).

Namun itu belum seberapa,
puncaknya saat mahasiswa angkatanku akan mengadakan study tour ke
Jakarta, tentu saja aku serta Ana jadi panitia inti dan karena aku
menjabat sebagai sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan. Maka otomatis
rumahku jadi base camp anak-anak panitia untuk membuat
surat-surat kunjungan ke instansi-instansi di Jakarta dan perijinan
serta membuat buletin study tour. Nah, sebelum teman-teman datang Ana
pagi-pagi sekali sudah datang di rumahku, tidak lain tujuannya untuk
bercumbu mesra itu tadi. Namun bukan itu yang akan kuceritakan, karena
ada pengalaman lain yang tak terlupakan buatku untuk kuceritakan di
sini.

Bersambung ke bagian 02

Malu Tapi Mau, Bag 1