Mencoba Kejantanan 5 Prajurit

22nd August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 2004 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Mencoba Kejantanan 5 Prajurit

“Waduh..
Sus! Nggak bisa keluar nih bannya, mana HP-ku habis batterainya, wah!
Gimana nih?” Dewi panik dan sepertinya kehabisan akal.

“HP-ku juga
nih, mana hujan lagi, sepi kendaraan lagi, kalau gini sich! Meski ada
orang yang memperkosa kita nggak pa-pa deh! Asal kita diantar pulang
saja”, aku ngomong sekenanya.

“Gila kau Sus, tapi benar juga asal jangan kasar-kasar kali ya, hehehe..!”

“Loh! Semakin kasar semakin nikmat lagi, hahaha..!” kami tertawa seakan-akan kami sudah terlepas dari masalah.

“Sus, kalau kita di dalam mobil saja, kita akan di sini sampai mampus”, gerutu Dewi.

“Habis gimana lagi, di luar kan hujan gitu.”

“Yah
kamu, nggak takut diperkosa, masak takut sama hujan, ya sudah aku saja
yang keluar, kucoba dorong mobil ini keluar dari lubang”, Dewi nekat
dengan semangat empat lima dia keluar dan mulai mendorong moncong depan
mobil sialan ini.

Aku melihat Dewi berusaha dengan keras dan mengerahkan seluruh tenaganya, tapi mobil sialan ini tidak bergerak sedikit pun.

“Sus!
Hidupin mesinnya!” Dewi teriak-teriak, kuhidupkan mesin lalu giginya
kuganti gigi mundur, ternyata mobil hanya bergeming sedikit saja. Lalu
aku ikut keluar dan juga mencoba mendorong sama-sama dan ternyata tidak
membawa perubahan yang berarti.

“Ya.. nggak bisa juga Wik”, keluhku.

“Iyah, tapi bodimu cukup bagus basah-basah gini Sus..”

“Kamu itu mabok ya? Tapi bodimu juga terlihat bagus”, lalu kami tertawa-tawa.

“Hei..!
Sus itu ada mobil, kita cegat yuk”, sambil Dewi menunjuk ke arah mobil
truk yang semakin mendekat, dan kemudian kami bergegas berlari sampai
ke tengah jalan dan melambai-lambaikan kedua tangan kami. Dan kami
berhasil, truk itu ternyata adalah truknya tentara.

“Kenapa kalian?
Kenapa dengan mobilnya?” Teriak supir truk, dan kami menghampirinya,
“Itu Pak mobil kami masuk parit, jadi mobil kami tidak bisa jalan lagi
nih Pak!” kujawab dengan nada yang mesra.

“O iya! Hei! Anak-anak bantu nyonya-nyonya ini ayo cepat.” Kemudian turun empat orang dari belakang truk itu.

“Mari
Nyonya, anda yang pegang kemudi”, kata salah satunya dengan tegas
kepadaku, lalu kujawab, “Loh, kok Nyonya sih, kan aku masih muda dan
single lagi”, sambil kugoda dia, huh badannya tegap, tampangnya nggak
jelek-jelek amat, tapi yang penting kan bodinya kekar.

Kucoba
menghidupkan mesin lagi beberapa kali tapi tak mau hidup-hidup, waduh
kenapa ya?, dan kulihat ternyata bensinnya sudah habis.

“Waduh Mas bensinnya habis, ada cadangan ngak mas-mas ini”, teriakku.

“Waduh maaf Nona kami tak punya..”

“Yah sudah, kalau gitu kami ikut kalian saja”, setelah kami mengambil tas, kami langsung naik truk mereka.

Setelah
masuk, dengan santainya aku melepas bajuku yang basah di hadapan
keempat prajurit yang tidak jelas pangkatnya itu, kulihat mereka
menatap kami tanpa berkedip sedikit pun, lalu kudekati salah satu dari
mereka setelah pakaianku terlepas semua. “Kenapa? suka dengan bodiku
hmm…” godaku. Kulihat jakunnya naik turun dan matanya tak
henti-hentinya melihat payudaraku yang boleh dibilang montok dan seksi
cukup mengoda pokoknya. Lalu kupegang tangannya, kudekatkan ke
bongkahan payudaraku, “Gruuungg!” suara itu tiba-tiba merusak suasana
hening, “Hei! Jangan berangkat dulu”, mereka berempat bergegas
mendekati jendela sopir, entah apa yang mereka bicarakan.

“Sus, kamu sudah gila ya?” tegur Dewi yang terlihat agak malu-malu tapi mau.

“Sudahlah,
lagian kita kan kedinginan butuh penghangat dong”, sambil kucubit susu
kirinya dan Dewi pun tersenyum dan mulai melepas bajunya.

Mesin
truk tak lama kemudian mati lagi dan keempat prajurit itu dengan cepat
melucuti bajunya masing-masing. “Nona jangan salahkan kami, karena kami
sudah empat bulan tidak pernah menyentuh wanita, mungkin nanti agak
kasar”, kata salah seorang prajurit yang hanya tinggal celana dalamnya
saja yang menempel di tubuhnya. Kemudian dia mendekap tubuhku lalu
langsung melumat halus bibirku, ternyata dia mahir memainkan lidahnya,
nafasku habis rasanya, dan sekilas kulihat prajurit yang lain menggelar
terpal dalam tuk yang cukup luas itu dan kulihat Dewi sudah mulai dikerjai seorang prajurit yang mulai membelai, mencium dan mengulum dada montok milik Dewi.

Setelah
beberapa saat berciuman, prajurit yang berhadapan denganku mulai
mencium leher di bawah telingaku sambil mendesah-desah merasakan
kenikmatan, setelah itu dia merambat mengerjai susu sebelah kiriku
dengan liar dan ganas. Ssst! Sunguh nikmat sekali. Dengan tiba-tiba
badanku ditarik lalu dibaringkan ke atas terpal kasar di lantai truk
itu. Sekilas kulihat supir tadi juga mulai naik, kemudian dengan
tergesa-gesa melepas pakaiannya sampai polos, lalu mendekatiku dan
menuju selangkanganku, kemudian dia menjilati liang kewanitaanku,
langsung aku mendesis dan mengeram, dengan tiba-tiba prajurit yang tadi
membaringkanku langsung menghimpit kepalaku dengan selangkangannya,
kemudian dengan cepat kulepas celana dalamnya. Setelah keluar batang
kemaluannya kemudian langsung kulahap batang kemaluan yang lumayan
besar itu. Kukulum-kulum dan kusedot kuat-kuat hingga prajurit itu
mengeram-ngeram sambil menekan-nekan kepalaku sampai aku sesak nafas.
Sesekali aku mendengus dan mendesis akibat ulah supir truk yang mejilat
dan menggigit lembut klitorisku, sampai tubuhku mengejang lalu tak lama
kemudian sepertinya tumpah semua cairan dalam liang kewanitaanku.

Aku
tetap sibuk dengan batang kemaluan yang ada dalam mulutku lalu
kurasakan payudaraku ada yang meremas dan sesekali dikulum-kulum.
Sungguh kewalahan aku melayani mereka. Dengan tiba-tiba aku mendengar
erangan Dewi tepat di sebelah kiri kupingku, ternyata dia sedang dalam
keadaan tengkurap di antara kedua prajurit. “Gilaaa Susss.. ughhh..
ssst!” Dewi mulutnya ngomel-ngomel nggak karuan sambil merem-melek tak
berdaya. Gila, Dewi dikerjai depan belakang. Lalu prajurit-prajurit
yang mengerjaiku berusaha membimbingku untuk nungging, setelah nungging
di atas salah seorang dari mereka dan setelah batang kemaluan prajurit
di bawahku tepat di antara bibir kewanitaanku, pantatku ditarik dengan
keras-keras hingga masuk semua betang kemaluan prajurit itu dengan
lancar karena liang kewanitaanku sudah licin.

Setelah beberapa
kali genjotan prajurit yang lain berusaha memasukkan batang kemaluannya
ke dalam anusku. “Ssst.. aaah.. aaah!” Gila sakit banget, baru kali ini
anusku digarap orang. “Aaakkh..!” aku menjerit sekuat tenaga begitu
batang kemaluan prajurit yang besar itu masuk ke dalam anusku. Selang
beberapa saat, terasa juga nikmatnya gesekan dari dua lubangku yang
sebelumnya tidak terbayang, meski rasa sakit masih menyertai. Kemudian
tubuhku mengejang dan sampailah aku pada klimaks kedua, tapi
kuperhatikan kedua prajurit itu masih sibuk menggenjotku. Pelir besar
tiba-tiba berada di wajahku, kemudian peler itu didorongnya ke mulutku
yang kemudian kukulum dan kusedot, di sela-sela desisan dan eranganku.
“Ayo Nona sedot yang kuat!” kata prajurit itu sambil menekan-nekan
kepalaku. “Uuugh.. aaakh.. essst!” suara geraman dan desisan silih
berganti saling sahut menyahut dalam truk itu.

Saat kulihat di
sebelah, Dewi terkapar dan lemas, sesekali dia mengeram karena prajurit
itu masih getol menyetubuhi Dewi. Gila rasanya aku mau keluar untuk
ketiga kalinya sebentar lagi, beberapa saat kemudian kurasakan kedua
prajurit yang menyetubuhiku depan belakang mengeram serta merangkul
kuat-kuat tubuhku dan kemudian kurasakan liang kewanitaan dan duburku
tersembur cairan yang hangat hampir bersamaan, aku pun mencapai klimaks
yang ketiga.

Setelah aku mencapai klimaks, aku semakin
bersemangat mengulum dan menyedot batang kemaluan di hadapanku sampai
pada akhirnya cairan hangat itu menyembur memenuhi rongga
tenggorokanku. Lalu prajurit itu melepaskanku dan bergerak menjauhiku.
Dan kulihat Dewi pun mulai di tinggal sendirian, kemudian kelima
prajurit itu mendekat. “Ayo sini kita gantian, aku pingin rasain juga
dia”, kata salah satu dari mereka sambil tertawa-tawa, waduh habis aku.

Dua
prajurit yang menyetubuhi Dewi mendekat, lalu satu dari mereka
menggendongku dan kemudian setelah pelernya tepat di tengah-tengah
liang kewanitaanku, aku sedikit diturunkan dan amblas sudah batang
kemaluannya tertelan liang kewanitaanku tanpa halangan. Aku
disetubuhinya sambil berdiri, sambil tangannya tak henti-hentinya naik
turun dengan posisi aku merangkul erat tubuhnya, kemudian dari belakang
duburku disodok peler dari belakang, aku menjerit dan mengeram
kesakitan, buah dadaku digerayanginya dengan brutal.

Setelah
beberapa saat aku dikerjain berdiri, aku diturunkan kemudian aku
disuruh mengangkangi seorang prajurit, dan setelah pas masuklah kembali
peler besar itu dalam liang kewanitaanku, dan yang lain menyusul
menimpaku dari belakang, dan bukannya masuk ke duburku melainkan juga
masuk ke dalam liang kewanitaanku, gila ini prajurit, dengan kasar dan
brutal akhirnya masuk juga pelernya meski hanya setengahnya, tapi
sakitnya bukan main aku menjerit-jerit minta ampun tapi tidak di
gubrisnya. Karena mungkin tidak memuaskan dia, maka peler yang masuk
hanya setengah itu dicabutnya kemudian dengan serta-merta menyodokkan
ke duburku dengan keras, lalu mengosoknya dengan brutal, tak lama
kemudian dia mencapai klimaks, setelah beberapa saat lalu batang
kemaluannya dicabutnya.

Sekarang aku berkonsentrasi pada satu
orang saja, aku merubah posisiku dengan posisi nangkring di atas
selangkangannya, kemudian aku mulai naik turun dan sedikit goyang kanan
kiri, hingga tak lama kemudian pertahanannya terlihat sedikit goyang,
begitu pula aku sepertinya aku akan mencapai klimaks keempat kalinya.
Setelah beberapa saat kurasakan liang kewanitaanku di sembur cairan
hangat dan kemudian aku pun mencapai klimaks yang keempat kalinya, kami
pun saling menggeram, lalu aku menggulirkan tubuhku di samping prajurit
yang terlihat lemas. Kulihat Dewi masih di kerjai tiga orang prajurit,
Dewi meringis-ringis sambil terus dijejali batang kemaluan prajurit
yang besar itu. Karena aku merasa kasihan dengan Dewi dengan sedikit
sempoyongan kuhampiri mereka kemudian kutarik salah satu dari mereka
yang sedang getol-getolnya ngerjai dubur Dewi lalu kukangkangi dia,
setelah tepat posisi pelernya diantara bibir kewanitaanku, kududuki dan
langsung masuk seluruh batang kemaluan prajurit itu. Kugoyang-goyang
dengan gencar hingga prajurit itu kewalahan menghadapi seranganku,
membuatnya tak kuasa menahan lahar spermanya, menyemburlah spermanya
dalam liang kewanitaanku. Karena aku belum mencapai klimaks lagi
kepalang tanggung sehinga aku tetap menggoyang pinggulku sampai aku
mencapai klimaks.

Setelah selesai prajurit-prajurit itu
mengerjaiku dan Dewi mereka terlihat lelah. Aku menghampiri Dewi,
kulihat wajahnya sudah lelah, “Gimana Wik?” bisikku. “Wah! habis aku,
sampai aku klimaks lima kali Sus”, Dewi menjawab pertanyaanku dengan
sisa-sisa tenaganya. Setelah itu kami minta diantar ke rumah
kontrakanku dan kemudian aku menghubungi jasa mobil derek kemudian kami
istirahat setelah kami mandi bersama.

TAMAT                   

Mencoba Kejantanan 5 Prajurit

Cerbung anal sex petualangan dewi