Menik Dan Ayah Angkatnya Bag 2

10th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1833 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Menik Dan Ayah Angkatnya Bag 2

“Nah, sekarang untuk ini Yayah minta tanda terima kasihnya…”
Belum
sempat Menik mengerti, tiba-tiba dia sudah dipeluk lehernya dan
bibirnya didarati bibir Pak Hendro. Agak gelagapan dia tapi cepat
disambutnya ajakan berciuman ini dan meningkat sebentar saling melumat
hangat. Ada beberapa saat baru Pak Hendro melepas bibirnya, Menik
terlihat sempat terhanyut sebentar dalam asyiknya bergelut lidah
bertukar ludah barusan.

Bagian kedua adalah sepasang kalung kaki
yang dipakaikan Pak Hendro dengan meminta Menik duduk di tempat tidur.
Ini juga menggelikan, karena merasa persis seperti pemain kuda lumping
dan upah terima kasihnya juga lucu yaitu masing-masing betis Menik
diciumi dan dijilat-jilati setelah kalung itu terpasang.

Yang
ketiga, yang paling membuat Menik geli adalah ketika Pak Hendro
mengambil sepasang perhiasan payudara yang pemasangannya dijepit di
puting susu.
“Iddihh.., kok aneh-aneh aja si Yayah nih..?” kontan cekikikan geli dia sambil menekapi kedua buah dadanya dengan tangannya.
“Ya sudah, kalok masih geli ditunda dulu. Sini Yayah ambil tanda terima kasihnya duluan nanti pasangnya belakangan.”
Begitu
selesai bicara Pak Hendro langsung memajukan kepalanya, mulutnya
mendarat mencaplok sebelah susu Menik yang membulat montok itu.
“Sshh…”
Menik mengejang tertahan sewaktu mulut Pak Hendro mengenyoti puncak
susunya, mengulum dan menjilati puting yang berada di dalam mulut Pak
Hendro.

Kali ini geli lain. Geli yang memberi rangsang menaikkan
berahinya untuk menuju apa yang nantinya akan diminta Pak Hendro. Dan
ini mulai semakin terasa karena Pak Hendro agak berkepanjangan
mengisapi dan meremasi kedua bukit dadanya bergantian, sehingga
geli-geli enak yang meresap menyulut bara berahinya yang juga sudah
lama terpendam mulai menyala lagi. Maklum, Pak Hendro rupanya gemas
bernafsu dengan kedua susu si gadis ramping tapi ukurannya bulat montok
menggiurkan ini. Terbukti ketika Pak Hendro berhenti dan menarik
kepalanya, terlihat tatapan mata Menik sudah sayu tanda sudah
dipengaruhi tuntutan nafsunya. Tapi Pak Hendro belum selesai, dia
segera memasangkan perhiasan di kedua puting susu Menik, kali ini tidak
ada penolakan geli lagi.

Selepas itu kedua buah dada segar mulus
yang sudah berhias anting-anting itu dikecap lagi oleh mulut Pak
Hendro. Ada rangsang tersendiri baginya dengan kedua puting yang
tercuat oleh jepitan penahan bandul, senang menjilat-jilat ujungnya
membuat Menik bergerak-gerak kegelian, susunya berayun-ayun menimbulkan
bunyi bandul bergemerincing.
“Aahaaww… ge-yyii Paak..” Menik merengek manja namun dia senang dicandai mesra seperti ini.
“Tambah cantik kan Menik dihiasin gini, Yayah jadi makin gemes ngeliatnya…”
“Iya
tapi lucu… Aahsssh Paak… ca-kiitt..!” baru menjawab sudah disambung
merintih karena puting berikut bandulnya dicaplok Pak Hendro.
Dihisap
dan dijepit-jepit bandul itu dengan bibir, menarik-narik kecil
menjadikan putingnya juga ikut tertarik-tarik terasa perih. Tapi
perih-perih enak yang makin menambah Menik jadi makin lebih terangsang.

Sehingga
ketika dari situ Pak Hendro berlanjut dengan usahanya untuk membuka
celana pendek yang dikenakan Menik, si gadis mandah saja malah membantu
dengan mendoyongkan tubuhnya ke belakang, mengangkat pantatnya membuat
mudah celana berikut celana dalamnya dilolosi lepas. Pak Hendro
meskipun dalam dirinya sudah bergelora nafsunya ingin segera
menyetubuhi remaja cantik yang menggiurkan ini, tapi dia cukup
pengalaman untuk bisa menekan emosinya tidak menunjukkan wajah rakusnya.
“Sekarang
yang terakhir ini Yayah pasangin kalung perutnya…” katanya sambil
membelitkan dan mengaitkan sekali sebuah kalung perut di pinggang Menik.

Selepas
itu tiba-tiba Pak Hendro menundukkan wajahnya ke perut Menik. Dikira
akan mengecup bagian perut itu untuk minta tanda terima kasih, tapi
rupanya lebih ke bawah lagi. Yaitu ketika kedua tangan Pak Hendro
menyusup dari bawah kedua pahanya, membuka jepitan paha itu sekaligus
mengangkat membuatnya mengangkang. Dia segera tahu bahwa Pak Hendro
menuju ke liang senggamanya. Menik memang sudah terbiasa memberikan
kemaluannya dikerjai mulut Pak Hendro, cepat ditutupnya matanya
menunggu Pak Hendro berlanjut, karena dia tahu rasa apa yang akan
didapatkannya nanti.

Saat itu, begitu mulut Pak Hendro menempel
dan langsung menyedoti rakus bagian menganga itu, dalam dua tiga jurus
saja Menik sudah lemas tulang-tulangnya diresapi nikmat.”Ahhnng…”
mengerang dia oleh geli yang terasa menyengat sampai ke ubun-ubun,
langsung merosot tubuhnya jadi menelentang rata punggung ke belakang
karena serasa tangannya tidak kuat lagi menopang. Lewat lagi beberapa
jurus dia sudah meliuk-liuk tubuhnya oleh jilatan lidah terlatih yang
mengilik kelentitnya, menusuk-nusuk kaku membuatnya semakin penasaran
ingin segera disetubuhi.

Pak Hendro berhenti untuk membuka
bajunya dan sementara itu kedua kaki Menik yang tadi disanggahnya
diletakkan telapaknya di tepi tempat tidur, tetap membuat posisi Menik
mengangkang lebar.
“Enak kan kalok Yayah bikinin gini..?” tanyanya menguji sambil melepasi bajunya satu persatu.
“He-ehh…
tappinya jangan lama-lama Yahh.., nggak kuat Akku…” Menik
terbata-bata menjawab jujur kelemahannya kalau liang kewanitaannya kena
disosor mulut lelaki.

Selesai membuat dirinya sama bertelanjang
bulat, Pak Hendro kembali meneruskan mengerjai liang senggama Menik
dengan permainan mulutnya, membuat si gadis betul-betul matang terbakar
oleh rangsang nafsunya. Sambil begitu Pak Hendro sendiri dalam posisi
duduk berlutut mulai melepasi bajunya tanpa dilihat Menik dan mulai
mempersiapkan batang kejantanannya untuk bisa menyalurkan kerinduan
nafsunya sekaligus mengisi kebutuhan yang dituntut berahi nafsu Menik.




Cukup lama Pak Hendro membakar nafsu
Menik lewat hisapan mulut di liang senggamanya, membuat Menik hampir
hangus menunggu saat untuk disetubuhi. Tapi sebelum mulutnya meminta,
tiba-tiba dirasakan tubuhnya ditarik diajak bangun. Pak Hendro
melingkarkan kedua lengan Menik di lehernya, Menik cepat mengetatkan
rangkulan mengikuti ajakan Pak Hendro yang segera menggendong untuk
memindahkannya dari posisi semula ke tempat dimana dia akan segera
masuk ke babak sanggama, karena dirasanya ada gerakan Pak Hendro untuk
bangkit berdiri.

Memang benar, tapi sebelum sampai ketempat yang
dimaksud, Menik seperti sudah akan mendapatkan apa yang diingininya
lebih cepat dari perkiraannya. Tubuhnya terasa melayang seiring dengan
gerakan Pak Hendro berdiri dengan mengangkatnya pada kedua pahanya,
tapi ketika telah tegak dan gaya berat tubuhnya menekan lagi ke bawah,
“Hahhg…” mengejang dia karena dirasanya kepala batang keperkasaan Pak
Hendro mendesak sampai terjepit di mulut lubang kemaluannya.
Dan makin memberat dia ke bawah makin menyodok batang itu masuk.
Tapi, “Hhoogh…” kali ini menggerung tenggorokannya karena yang berikutnya terasa ketat dan perih.
Tidak tahan berlanjut, dia pun mengetatkan lagi rangkulannya seolah-olah ingin memanjati tubuh Pak Hendro naik ke atas lagi.

Celakanya
Pak Hendro seperti tidak mengerti apa yang dialami Menik, merasa batang
kejantanannya sudah mulai terjepit masuk, dia mengira justru Menik yang
sudah mengajak lebih dulu untuk langsung masuk di babak sanggama. Dalam
posisi seperti itu dia malah berusaha untuk memasukkan batangnya lebih
jauh lagi. Kedua kakinya ditekuk merendah sebentar agar Menik terduduk
menggantung di pahanya sehingga kedua perut agak merenggang. Karena
dalam posisi itu dia bisa melepas sebelah sanggahan tangannya untuk
kemudian membubuhi ludah di sisa batangnya yang belum masuk, baru
setelah itu dia berlanjut untuk membenamkan batang keperkasaannya.

Sekarang
batang ini sudah masuk sebagian, Pak Hendro menegakkan tubuhnya lagi
dan sambil berusaha menekan lebih jauh dengan pintar dia mengalihkan
perhatian Menik lewat gerakan berjalan seolah-olah mencari tempat
sanggama yang lebih enak. Memang, semakin dibenamkan lebih dalam,
terasa olehnya Menik mencengkeram sambil merintih kesakitan tapi Pak
Hendro pura-pura tidak mendengar.
“Ssshhgh.. ssakkit Yaahh…” akhirnya tidak tahan juga suara Menik terdengar mengutarakan perihnya.
Menik
memang sudah hapal dengan bentuk dan ukuran alat viltal ayah angkatnya
yang sering dipermainkannya ini, tapi untuk dimasukkan ke liang
senggamanya baru kali inilah dia merasakannya.

“Iya, iya, memang
agak perih kalok dibawa jalan-jalan begini. Sebentar lagi, Yayah mau
cari tempat yang enak buat kita.” buru-buru Pak Hendro menghibur tapi
lega dia karena dirasanya seluruh panjang batang kejantanannya sudah
terendam habis.
“Mau dimana Yah..?” tanya Menik agak heran sambil menarik kepalanya.
Sekarang bisa terlihat raut wajahnya yang sudah pucat pasi lantaran menahan sakit.
“Kita cari tempat yang lebih enak maennya.”

Dengan
memondong Menik, sementara batang kejantanannya tetap terendam di liang
senggamanya Menik, Pak Hendro menuju ke ruang tengah. Di situ di depan
TV terpasang sebuah permadani berukuran 2×3 meter, kesitulah rupanya
Menik dibawa. Mengatur posisi Menik menelentang dengan tetap menjaga
kemaluan tidak terlepas, begitu selesai Pak Hendro mulai mengajak Menik
masuk pada babak sanggama untuk meresap nikmatnya pertemuan kedua
kemaluan ini. Sanggama ala Pak Hendro yang unik, sebab bukan saja
pemilihan tempatnya nyentrik tapi juga caranya terasa asing bagi Menik.
Beda sekali dengan bekas pacarnya yang dalam sanggama mereka goyang
pantat dibawa bekerja aktif memompa penis ke luar masuk vaginanya, tapi
dengan Pak Hendro justru tidak bergaya tradisional seperti itu.

Bermain
masih dalam keadaan saling menempel berhadapan dengan batang kemaluan
tetap terendam dalam, tanpa ada gerakan menggesek keluar masuk, Menik
dibawa berguling-guling di seluas permadani itu seperti seorang anak
kecil sedang diajak bergelut canda oleh ayahnya. Tetapi lebih cocok
disebut seperti sepasang penari balet yang sedang beradegan lantai
dalam gaya erotis. Sebab sementara bergulingan, kadang Menik di atas
kadang pula di bawah, Pak Hendro mengiringi dengan kerja mulutnya serta
tangan yang tidak terputus melanda sekujur tubuhnya dari mulai atas
kepala hingga ke ujung kakinya.

Di situ kadang dikecup mesra,
dijilati atau digigiti gemas, juga kadang diusap, dipijat, diremas di
bagian manapun dari tubuh Menik dapat dicapai mulut atau tangannya.
Menik tidak ubahnya diperlakukan seperti boneka permainannya. Boneka
cantik berhias yang semakin bergemerincing suara bandulnya semakin
membuat hatinya senang dan asik menggelutinya.Tapi asyik bukan hanya
buat Pak Hendro, Menik yang semula masih merasa perih dan masih pasif
mulai mendapatkan rasa asyik yang sama, malah lebih lagi. Gaya baru
yang diterimanya ini terasa begitu mesra menghilangkan perih yang
diderita. Dan ujung batang yang tadinya terasa begitu ketat serta
menyodok begitu jauh di dalam perutnya sekarang justru dirasakan enak
luar biasa mengorek-ngorek tuntutan berahinya jadi cepat terluapkan,
melayang-layang dibuai kenikmatan yang datang melanda susul menyusul.

“Hsshngg
addduuuh Yyahh… sshngh dduhh.. hmm aaahhghrh..!” begitu dalam
akibatnya sampai-sampai tidak tertahankan lagi, masih ditengah asyiknya
digeluti Pak Hendro, Menik sudah mengerang membuka orgasmenya satu kali
sebelum berikutnya menyusul lagi secara bersamaan dengan Pak Hendro.
Ini
terasa luar biasa, sebab kalau biasanya dia merasa seperti dipaksakan
keluarnya oleh gesekan-gesekan cepat penis bersama pacar lawan mainnya,
yang ini lebih melegakan menyalurkannya lewat geliat-geliat erotis
tubuhnya yang dilipat-lipat oleh Pak Hendro.
“Aaahnng.. ssshh-dduuh
Yahh… Ak-kku klu-ar laggi sshh… hngmmm shg…” disitu baru selesai
yang satu sudah menyusul lagi rangsangan gairah untuk menikmati yang
berikutnya.

Memang akhir dari permainan sama-sama meletihkan,
tapi kalau saja Pak Hendro masih bisa bertahan lebih lama lagi
rasa-rasanya Menik akan sambung menyambung orgasme yang bisa
dicapainya. Betul-betul suatu permainan yang unik mengesankan, karena
dengan hanya menanam batang dalam-dalam saja sudah membuat Menik
terpuaskan secara luar biasa. Begitulah, permainan serasa mimpi indah
yang dialami Menik dalam hubungan pertama ini sudah langsung membuat
Menik ketagihan kepada Pak Hendro.

“Gimana, puas nggak maen gini sama Yayah..?” tanya Pak Hendro menguji apa yang barusan dialami Menik.
“Itu
sih bukan puas lagi, tapi mabok namanya.. Gimana nggak, sekali tancep
tapi Aku sampe tiga kali ngeluarinnya… Yayah pinter aja ngerjain
Aku…” jawab Menik mengakui apa yang didapatnya sekaligus menyatakan
pujian kagumnya kepada kehebatan Pak Hendro, “Tapinya lemes banget Aku
Pak..” lanjutnya sambil menyusupkan kepalanya manja-manja sayang di
dada Pak Hendro.

Sejak itu Menik memang tidak pernah
sungkan-sungkan meminta kalau sedang ingin digauli ayah angkatnya.
Seperti misalnya tengah malam itu Pak Hendro terbangun agak kaget
karena dia merasakan seseorang naik berbaring di sebelahnya. Segera dia
mengenali bahwa Menik yang barusan naik berbaring memunggungi di
sebelahnya. Pak Hendro tersenyum mengerti bahwa Menik yang sudah
seminggu tidak digauli karena haid, sekarang rupanya sudah selesai dan
tentu sudah kepingin lagi disetubuhinya. Tanpa bertanya dia pun
mengembangkan selimutnya menutupi Menik dan berbalik merapati memeluk
si gadis dari belakang.

Betul juga, ketika sebelah tangannya
disusupi sekaligus menyingkap gaun tidurnya untuk meremasi susunya,
terasa olehnya bahwa Menik makin menempelkan pantatnya yang tidak
mengenakan celana dalam itu ke jendulan batang kemaluannya. Pak Hendro
makin menggoda, dia memindahkan tangannya merabai jendulan kemaluan
Menik dari arah belakang pantatnya. Sebentar diusap-usapnya liang
senggama yang terjepit itu, Menik pura-pura diam saja. Begitu juga
waktu Pak Hendro mulai mencolokkan satu jarinya ke dalam jepitan itu,
masih belum ada reaksi Menik. Tapi waktu jari itu mulai digesek sambil
mengorek-ngorek ada beberapa lama terasa Menik mulai tidak tahan dan
mulai menggelinjang sambil merintih.

“Sssh udah Yaah ja-ngann pake ta-ngann…, nggak en-nakk…”
“Pake apa dong enaknya..?” bisik Pak Hendro menggoda.
“Macupinn kontol Yayahh ajaa…” jawab Menik dengan logat manja kekanak-kanakan.
Pak
Hendro segera berhenti dan Menik memang tidak perlu meminta dua kali
karena jelas ayah angkatnya sudah tahu keinginannya. Terbukti Pak
Hendro sudah memasangkan guling di depannya yang langsung dipeluk kedua
kaki Menik sehingga posisi vaginanya lebih menungging, ini dimaksudkan
agar lebih mudah dimasuki pada posisi itu.

Dan sebentar kemudian
dirasakannya Pak Hendro yang sudah melorotkan celananya membebaskan
kemaluannya mulai menempelkan batangnya di depan liang kewanitaannya
Menik. Baru saja bertemu kedua kemaluan telanjang itu, Menik sudah
langsung menjulurkan tangannya untuk melakukan sendiri
menggosok-gosokkan kepala kejantanan Pak Hendro di mulut lubang
senggamanya. Dari caranya yang tidak sabaran, Pak Hendro semakin yakin
bahwa Menik betul-betul sedang kepingin sekali. Dia membiarkan dulu
menunggu sampai batangnya mengencang baru kemudian dia mengambil alih
lagi untuk memasukkan batangnya itu.

Dibasahi dulu dengan
ludahnya seputar kepala batangnya, setelah itu mulai disesapkan
terjepit di mulut lubang kewanitaan Menik. Begitu terasa mulai masuk,
segera disambung dengan disogok pelan-pelan sambil menekan semakin lama
semakin dalam. Sampai di batas yang bisa dicapai, barulah dia menunda
dan kembali merapat mendekap Menik. Menyusupkan lagi tangannya meremasi
kedua susu sambil diiringi mengecupi leher si gadis yang langsung
berbalik menoleh dengan mimik wajah terlihat senang.
“Ahss… enak Yaahh..!” komentar pertama Menik.
“Udah kepengen sekali ya Nduk..?” tanya Pak Hendro tersenyum manis.
“He-ehh udah ampir seminggu nggak gini sama Yayah, Nik nggak bisa tidur Yah..!”
“Seneng ya memeknya dimasukin punya Yayah kayak gini..?”
“Ceneng Yah…, enyak diogok-ogok ontol ‘ede Yayah..” jawabnya kembali dengan logat manja kekanak-kanakannya.
“Ya udah, sekarang bobo deh sambil Yayah ogok-ogok supaya tambah pules bobonya…”

Menik
membalikkan lagi kepalanya membelakangi Pak Hendro, seolah-olah
mengikuti anjuran ayah angkatnya yang akan membuatnya tidur enak dengan
menyogok-nyogokkan batang kejantanan di liang senggamanya, tapi ketika
terasa batang itu mulai dimainkan keluar masuk pelan, dia ternyata
terbawa memainkan juga pinggulnya mengocok pelan seirama gerakan Pak
Hendro. Irama permainan ini tidak meningkat hangat seperti biasanya,
karena masing-masing seperti ingin bermain berlambat-lambat dengan
membatasi gerakan-gerakan mereka, tapi nikmat yang dirasa tidak kalah
enaknya dibanding biasanya. Malah permainan kalem ini terasa lebih
mengasyikkan dengan mengkonsentrasikan pada gelut kemaluan yang lebih
banyak ditekan dan diputar dalam-dalam diikuti penyaluran gemas-gemas
nafsu pada remasan-remasan yang mencengkeram ketat. Begitu juga seperti
ingin mencegah suaranya terlepas kendali, Menik menutupi wajahnya
dengan bantal dan menggigitnya erat-erat. Pak Hendro memainkan terus
batang keperkasaannya membuatnya bisa menyusul Menik tepat pada
waktunya. Karena ketika terasa Menik mulai berorgasme, Pak Hendro pun
tiba bersamaan di saat ejakulasinya.

Permainan selesai dan
bersambung acara tidur bagi Menik, tapi Pak Hendro masih ingin
merapihkan diri dulu. Dibantu Menik sendiri yang mengangkangkan kedua
kakinya lebar-lebar, Pak Hendro segera menyeka bersih bekas-bekas
cairan di lubang kemaluan Menik. Ini memang satu kebiasaan si manja
yang kalau selesai sanggama dan tertumpah oleh cairan mani dia selalu
malas untuk mencuci, sehingga harus Pak Hendro yang membantunya. Begitu
ketika dirasa sudah bersih, barulah Pak Hendro menyusul tidur memeluki
Menik.

TAMAT



Menik Dan Ayah Angkatnya Bag 2