Nafsu Buta

7th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1625 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Nafsu Buta

Maksud
dan tujuan semua ini aku ceritakan agar dapat dijadikan pegangan dan
referensi buat semua orang yang membacanya, supaya kejadian yang
kualami tidak terjadi pada orang lain, disamping hal tersebut agar
semakin lepas dari sisa beban batin yang mungkin masih ada di diriku.

Kejadiannya
memang tidak diduga dan tidak direncanakan. Awalnya hanya sedikit salah
paham antara aku dan istriku. Dari kesalah-pahaman itu, aku sedikit
merasa sakit hati dan saat itu aku mencoba untuk tidak mau bertegur
sapa dengan istriku. Hal itu aku lakukan, karena awalnya aku ingin
menggoda sampai dimana ketahanan nafsu seks istriku bila tidak kusentuh
selama seminggu. Karena perlu diketahui pembaca, bahwa istriku dan aku
umumnya tiga hari sekali rutin melakukan senggama dan itu semua umumnya
berakhir dengan cucuran kenikmatan. Memang selama ini kami berdua
selalu bervariasi dalam melakukan hubungan seks, dan kami merasa tidak
mengalami masalah dalam hal yang satu ini.

Sebelum kulanjutkan
cerita ini, kuceritakan dulu perihal keluargaku. Di rumahku tinggal aku
(36 tahun, asal pulau Pariwisata), istriku Ayu (nama panggilan istriku
sesuai dengan orangnya) yang cantik molek, kulit kuning langsat karena
turunan dari kota kembang, rambut lurus hitam lebat dan ini sama dengan
bulu kemaluannya yang hitam dan lebat, umurnya baru 34 tahun dan hidung
mancung, lalu ada dua orang laki-laki lagi yang tinggal di rumahku,
yaitu Dani, anakku yang baru berumur tiga tahun dan Wisne (25 tahun)
keponakanku yang awalnya numpang tinggal karena keperluan mencari kerja
dan saat ini tidak lagi tinggal di rumahku karena telah aku suruh
pulang karena menyangkut perselingkuhan dengan istriku.

Jadi
setelah selama tiga hari aku mencoba menggoda benteng ketahanan istriku
dengan cara tidak bertegur sapa dan tidak memberikan kebutuhan
biologisnya, ada sisi lain yang aku bisa nikmati, yaitu aku melihat
perubahan tingkah dari istriku, tingkah laku yang serba salah, tidur
tidak tenang dan banyak lagi hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku
lihat. Hal ini entah karena aku yang memberikan ekstra perhatian secara
sembunyi-sembunyi atau memang karena akibat dari situasi perseteruan
antara aku dan istriku.

Suatu malam, kulihat jam menunjuk di
angka sembilan malam, saat itu hari keenam aku membisu, aku sengaja
pura-pura tidur duluan dan aku yakin istriku tidak lama pasti menyusul
masuk kamar seperti biasanya. Pada jam-jam segitu, umumnya kami masih
nonton TV bersama di ruang keluarga termasuk juga Wisne keponakanku.
Sebenarnya aku sendiri belum ngantuk tapi aku hanya ingin tahu tingkah
laku istriku saja. Beberapa menit aku pura-pura sudah tidur dengan
sedikit mengeluarkan suara dengkur dan terlihat bayang-bayang (karena
pakai lampu tidur) saat itu istriku susah tidur. Dan aku nyaris tidak
percaya dengan apa yang aku lihat bahwa istriku memainkan tangannya di
selangkangannya sendiri. Awalnya hanya tangannya yang terlihat
bergerak, digesek-gesek naik turun dengan irama yang teratur tapi
setelah beberapa saat kemudian, kulihat istriku melepaskan CD-nya dan
gerakan tangannya semakin tidak beraturan dibarengi nafas yang semakin
ngos-ngosan. Darahku berdesir dan hampir aku tidak bisa menahan nafsuku
sendiri ketika melihat istriku terengah-engah karena nikmat yang
dibuatnya sendiri. Tapi aku tetap pada pendirianku semula, aku
seolah-seolah masih sakit hati dan tidak mau bertegur sapa, jadi saat
itu aku hanya menikmati tingkah sensual istriku.

Dua hari
berikutnya, aku lakukan hal yang sama, yaitu sekitar jam sembilan aku
masuk kamar. Beberapa menit aku tunggu, istriku tidak masuk kamar
seperti biasanya dan aku sengaja menunggu reaksi selanjutnya karena aku
sendiri belum merasa mengantuk. Sekitar setengah jam, istriku belum
masuk juga, tapi aku sayup-sayup mendengar istriku bicara dengan
seseorang. Dan beberapa saat kemudian, istriku masuk kamar tapi cuma
sebentar dan kemudian keluar lagi dengan menutup pintu secara perlahan
tidak seperti biasanya, mungkin dikiranya aku sudah tertidur pulas pada
saat istriku masuk kamar. Aku semakin ingin tahu, apa yang akan
dilakukan istriku selanjutnya dan bebarapa menit kemudian, aku
mendengar pintu kamar sebelah, yaitu kamar Wisne keponakanku ditutup,
tapi suara TV masih menyala. Aku pikir keponakanku pergi tidur dan
istriku masih nonton TV sendiri. Sekitar lima belas menit, aku ingin
melihat apa yang dilakukan istriku dengan cara naik di atas kursi
melihat melalui jendela ventilasi, tapi di sekeliling ruangan keluarga
tidak terlihat seorang pun, hanya TV yang menyala, lalu aku bertanya
dalam hati kemana perginya istriku, mungkinkah ke kamar mandi, tapi
sayup-sayup kudengar ada suara-suara yang sedikit mencurigakan.

Dalam
hati aku berpikir, mungkinkah istriku masturbasi di kamar mandi. Karena
semakin penasaran, maka secara perlahan, aku keluar kamar dan bergerak
ala detektif mencari asal suara yang mencurigakan itu. Hampir aku tidak
percaya, datangnya suara dari kamar keponakanku. Karena diluar
dugaanku, aku harus bertindak cepat untuk mengetahui apa yang dilakukan
istriku di kamar keponakanku sendiri, hatiku berdebar-debar dan aku
sadar tidak boleh ceroboh dalam bertindak, maka secara perlahan kuambil
kursi untuk melihat sedang apa mereka di kamar keponakanku. Astaga apa
yang kulihat, istriku sedang berciuman mesra dengan Wisne, hampir aku
langsung mendobrak pintu kamar keponakanku, tapi aku gemetar bercampur
rasa penasaran dan ada perasaan unik tersendiri begitu melihat istriku
bergumul dan bermesraan dengan orang lain, sehingga kuputuskan untuk
mengintip perselingkuhan yang dilakukan istriku. Sebenarnya ada rasa
ingin marah dan cemburu, tapi di sisi lain, ada perasaan lain yang
membuat aku berdebar-debar ingin menyaksikan.

Kulihat mereka
masih ciuman sambil bersandar di dinding, tangan kanan istriku telah
merogoh batang kejantanan Wisne yang masih pakai celana pendek dan
tangan tangan Wisne meremas-remas buah dada istriku yang masih pakai
daster. Jantungku semakin berdebar dan tidak terasa aku ikut terangsang
karena selama ini aku pun menahan nafsuku. Terlihat keduanya sangat
bernafsu, terutama istriku. Sambil tangan kanan tetap meremas dan
mengocok batang kemaluan Wisne, tangan kirinya melepaskan kancing
dasternya dan dalam beberapa saat, dasternya merosot ke lantai, sedang
tangan Wisne terlihat berusaha membuka kaitan BH istriku, lalu mulut
Wisne beralih ke putting susu istriku. Terlihat istriku menggeliat
keenakan. Dan tangan istriku tidak ketinggalan, membuka kancing celana
Wisne dan langsung melorotkan CD Wisne. Terlihat batang kemaluan Wisne
telah tegak dengan gagahnya, besar dan panjangnya hampir sama dengan
punyaku, hanya punya Wisne agak sedikit bengkok ke atas dan agak lebih
kuning dari punyaku, mungkin karena dia masih perjaka dan belum pernah
diasah.

Dan setelah kedua-duanya telanjang bulat, mereka
bergeser ke arah ranjang dan sambil masih berciuman, istriku direbahkan
dengan kaki masih di lantai.

Terdengar suara permohonan istriku pada Wisne, “Wisne cepat masukkan barangmu… cepaaat..!”

Mereka
terlihat terburu-buru. Karena terlalu lebatnya bulu kemaluan istriku,
batang kejantanan Wisne tidak bisa langsung masuk, dan tangan Wisne
terlihat menyibakkan bulu-bulu kemaluan istriku. Batang kejantanannya
digesek-gesekkan ingin masuk, tetapi terlihat agak susah. Perlu
diketahui, istriku saat melahirkan Dani dengan cara operasi caesar,
jadi hingga saat ini, lubang senggama istriku masih normal dan sempit.

Karena
agak mengalami hambatan memasukkan batang kejantanannya, lalu istriku
sedikit membuka selangkangannya dan, “Blesss…” masuklah kepala batang
kejantanan Wisne.

Wajah Wisne terlihat nyengir kegelian yang nikmat
dan dengan daya tekan ke depan batang keperkasaan Wisne amblass ke
liang senggama istriku.

“Ohh… ohhhh…” keluh kenikmatan istriku.

Dengan
posisi badan istriku rebah di ranjang dan kaki sedikit diangkat dan
kedua tangan istriku dirangkulkan di leher Wisne, sedang Wisne sendiri
dengan posisi berdiri dan tangannya bertopang pada ranjang, terlihat
mereka menikmati kocokkan-kocokkan yang dibuatnya. Hanya beberapa saat,
kocokkan batang kemaluan Wisne semakin cepat dan terlihat mata Wisne
meram melek dan istriku memprotesnya.

“Jangan dulu Wis… jangan dulu… Aku belum apa-apa Wis…” pinta istriku.

Dan terdengar suara rintihan nikmat Wisne, “Ehhh… eeh… creeet… cruuuttt…”

Mungkin
karena belum berpengalaman, dia tidak bisa mengendaliakan senjatanya
dan dalam hati, aku bersyukur bahwa istriku tidak mendapatkan
kenikmatan dari Wisne dengan harapan nantinya minta dilanjutkan
denganku, suaminya.

Kulihat istriku memukul-mukul pundak Wisne.

“Kamu ini gimana sih..? Baru beberapa menit sudah keluar… Aku belum apa-apa…” kata istriku.

Wisne sambil ngos-ngosan menjawab, “Maaf Tante, Wisne belum pengalaman… “

Wisne
merebahkan diri telentang di ranjang, batang kejantanannya semakin
mengendor, lunglai basah kuyup akibat campuran cairan spermanya dan
lendir dari liang senggama istriku. Terlihat istriku mengambil kain
untuk membersihkan kemaluannya dari semprotan dan tetesan sperma Wisne
dan dilanjutkan membersihkan batang kemaluan Wisne. Kupikir berakhirlah
adegan ranjang mereka.

Ternyata dengan kelihaian istriku serta
nafsu yang masih belum terlampiaskan, batang kejantanan Wisne
diusap-usap, dielus dan dikocok-kocok lembut oleh tangan lentik
istriku. Akhirnya terlihat mulai mengembang lagi batang keperkasaan
Wisne. Biasanya aku kalau habis main dengan istriku, batang
kejantananku tidak bisa bangun lagi, mungkin karena tempo permainan
yang amat lama dan biasanya istriku langsung terkulai lemas sama
seperti aku yang selanjutnya tertidur lelap.

Kini batang
keperkasaan Wisne tegak menantang kembali dan istriku tidak
menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan posisi Wisne tetap telentang,
istriku mengatur posisi jongkok, persis di atas batang keperjakaan
Wisne. Otomatis, dalam hal ini, istriku yang berperan. Tangan kanannya
memegang batang keperkasaan Wisne dan menuntun masuk ke lubang
kemaluannya. Selanjutnya, istriku bergerak naik turun. Terlihat
pantatnya yang kuning mulus berayun seirama dengan gerakannya.

Dalam beberapa menit, terdengar rengekkan nikmat istriku, “Ooohh… ooohhh… ooohhh… ooohhh…”

Istriku melenguh nikmat dan kocokannya semakin kencang dan, “Ooohhh… ooohhh… ooohhh…” semakin panjang lengkuhannya.

“Ooohhh… Wisne.., Aku mau keluar Wis… Ooohhh…”

Batang
keperkasaan Wisne menancap semua, amblas dan yang terlihat hanya
butir-butir kemaluan Wisne. Istriku terkulai lemas di atas dada Wisne.
Hal itu dibiarkan saja oleh Wisne, malah kedua tangan Wisne
meremas-remas pantat istriku.

Beberapa menit kemudian, Wisne
berusaha membalikkan posisi. Istriku ditelentangkan dan Wisne
bergantian jongkok tepat di atas liang senggama istriku. Lubang
kemaluan istriku terlihat mengkilap karena lendir yang dikeluarkannya.
Dengan perlahan, Wisne mulai memompa naik turun dan pinggul istriku
ikut menggoyang ke arah kiri dan kanan.

“Ooohhh… ooohhh…” terpaksa batang kemaluanku kukocok sendiri karena tidak tahan melihat adegan panas istriku.

Kocokan
Wisne kali ini lama sekali, tidak berhenti-berhenti dan terdengar
istriku minta dipercepat gerakan mengocoknya batang keperkasaan Wisne.

“Teruuusss…
teruuusss… cepat kocok terus Wis.., cepat lagi Wis..!” sampai
terdengar suara kocokan batang kejantanan Wisne di liang senggama
istriku, “Pleeekkk… pleeekkk… pleeekkk…”

Wisne mulai melenguh lagi, “Ohhh… eeehhh… ooohhh… eeehhh…”

Istriku
tidak ketinggalan, juga ikut mendesah, “eeehhh… eeehhh… eeehhh…
eeehhh… teruuusss..! terrruuusss..! Aku mau keluar lagi Wiiisss..!
Ooohhh…”

Wisne menekan batang kemaluannya kuat-kuat di lubang
kemaluan istriku karena kedua tangan istriku merangkul pantat Wisne
untuk ditekankan ke arahnya. Aku pikir, Wisne juga sudah keluar maka
batang kemaluanku kukocok terus hingga spermaku muncrat juga.

“Ooohhh… creeettt… crettt…”

Beberapa menit kemudian, terdengar istriku bicara pada Wisne, “Cabut dulu kontolmu Wis..!”

Wisne
mencabut batang kemaluannya dari jepitan liang senggama istriku.
Istriku berbalik tengkurap, mau apa lagi mereka. Ternyata kejantanan
Wisne masih terangsang berat.

“Masukkan lagi kontolmu Wis… cepaattt..!” pinta istriku lagi.

Agak sedikit berjongkok, dimasukkan lagi ke liang senggama istriku.

“Ooohhh…” terdengar istriku menikmatinya, “Wis… terasa mengenai dinding rahimku, Wis..!”

Wisne mulai bergerak maju mundur mengaduk-aduk kemaluan istriku lagi

“Ooohhh… nikmatnya memek Tante.., ooohhh enak sekali kalau begini Tante… semakin enak Tante..”

Istriku
menikmatinya, “Teruuusss… kocok teruusss Wis..! Aku merasakan
kontolmu semakin enak saja Wis..! Teruusss… Wis… terusss..!”

Semakin
Wisne mendapat angin segar, maka dikuatkan kocokkannya dan,
“Ploookkk… ploookkk… ploookkk… cleeeppp… cleeppp… ploookkk…
ooohhh… oohhh… nikmat Tante. Memek Tante semakin hangeeeetttt
Tante, ooohhh.., plokkk… plookkk… cleeeppp… plookkk…
cleeepppp… ooohhhh, Wisne mau keluar Tante… ooohhh… ooohhh…
Creeettt… creeettt… cruuuttt…”

Itulah kisah perselingkuhan istriku dengan keponakanku, Wisne. Dan bila ada pembaca yang ingin berkomentar, silahkan email saja.

TAMAT                   

Nafsu Buta