Nafsu Tante Vivi

7th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 2580 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Nafsu Tante Vivi


Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke
rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya
lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku
ragu-ragu untuk berangkat.

9.15 malam: Aku masih ragu-ragu…, berangkat…, tidak…, berangkat…, tidak.

9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.

“Lho…, Ar…, kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?..”, tanyanya kendengaran agak kecewa.

“Mm…, gimana ya Tante…, agak gerimis nih di sini…”, sahutku beralasan.

“Masa iya Ar…, yaah…, kalo gitu Tante jemput aja yaa…”, balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.

“Waah…,
tidak usah deh Tante…, okelah saya ke sana sekarang Tante…, mm
Selva saya ajak ya Tante…”, sahutku kemudian. Aku pikir ke sana
malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva
kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam.
Tapi…

“iih…, jangan Ar…, Selva jangan diajak…, mm pokoknya
ke sini aja dulu Ar…, yaa…, Tante tunggu…, Klik”, sekali lagi
seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan
pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada
waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita
kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek…, kaya pakar wae…,
sekarang baru kena getahnya.

Akhirnya dengan perasaan malas,
malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena
rintik air gerimis malam yang dingin

.Sekitar pukul 10.00 malam:
Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu
sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci
dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.

Belum sempat aku mengetuk
pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku.
Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.

“aahh…, akhirnya dateng juga kamu Ar…”, katanya ramah dari balik pintu depan.

“Iya…, Tante…”, sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.

“Agak gerimis ya Ar…”, tanyanya seolah tak mau tau.

“Hsii…”, Tanpa sadar aku terbersin.

“Eehh…, kamu Flu Ar…”, tanyanya kemudian.

Aku
mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis.
Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu.
“Klik…”, sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya
karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang.
Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan
sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap
pipi kananku.

“Pipimu dingin sekali Ar…, kamu pasti masuk
angin yaa…, Tante bikinin susu jahe anget yaa…”, sahutnya lembut.
Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku.
“Duh…, cantiknya”. Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang
hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang
tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang
menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy
sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.

“Kamu duduk dulu Ar…, Tante ke belakang dulu…”, sahutnya pelan.

Tanpa
menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan bergegas berjalan
melintasi ruang tengah menuju ke belakang. Tubuhnya yang tingginya
mungkin sekitar 160 cm kelihatan begitu seksi ramping dan padat. Sempat
kulihat langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu kuingat
jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta memakai baju kemeja
halus berwarna merah muda dan dibiarkan berada di luar celana. Baju
yang dikenakannya seperti umumnya baju kemeja sekarang yang relatif
panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup sampai ke atas
paha. Namun karena sifatnya yang lemas, membuat bajunya itu seolah
menempel ketat pada bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi dan
montok. Pinggulnya yang bulat padat bergoyang indah kekiri dan kanan.
Begitu gemulai bagai penari Jaipong.

Kuhempaskan pantatku dengan
perasaan lelah di atas sofa empuk ruang tamunya. Aku memandang ke
sekeliling ruangan tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan
alam bergaya naturalis tergantung di atas tembok persis di belakang
tempat dudukku. Selebihnya berupa lukisan-lukisan naturalis sederhana
yang berbingkai kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali.
Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak sampai
mengamati lama-lama.

Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul
dengan segelas besar susu jahe yang masih kelihatan panas, karena
asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan senyum manis
bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku jadi ikutan senang.

“Waah…, asiik nih kelihatannya…, wangi lagi baunya…, mm..”, kataku spontan.

“Pelan-pelan
Ar…, masih panas…”, sahutnya pendek, sambil memberikan minuman jahe
itu kepadaku. Lalu tanpa risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi
deg-degan juga.

“Gimana kuliah Selva Ar…, kapan nih rencana mau majunya…”, tanya Tante Vivi kemudian.

“Entah
Tante…, setahu saya sih bulan depan ini dia harus menyelesaikan
seluruh asistensi skripsinya. Soal maju ujian skripsi saya kurang tau
Tante..”, sahutku polos.

“iih.., kamu ini gimana sih Ar…, pacarnya
sendiri kok tidak tahu, asyiik pacaran aja yaa rupanya…”, ujar Tante
Vivi setengah bercanda.

“aah…, Tau aja Tante…, tidak salah…”, sahutku sambil ketawa nyaring.

“Kamu menyukai dia Ar…”, tanya Tante Vivi kemudian, seolah setengah malas menanggapi candaku.


Waah…, Tante ini gimana sih…, ya jelas dong Tante…, lagipula
sekarang kami sudah sangat serius menjalin hubungan ini…, saya
mencintainya Tante…”, sahutku sedikit serius.

Tante Vivi
tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih terawat kelihatan indah,
serasi dengan bentuk bibirnya yang tak terlalu lebar.

“Tidak Ar…, Tante khan cuman nanya…, soalnya Tante lihat Selva sayang sekali sama kamu…”, ujarnya kemudian.

“Jangan
kuatir deh Tante…”, sahutku pelan sambil mulutku mulai menyeruput
wedang susu jahe bikinannya itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun
hangat manis di lidah dan kerongkonganku.

“Komputernya di taruh mana Tante…”, tanyaku tanpa memandangnya sambil terus seteguk demi seteguk menghabiskan minumanku.

“Tuh…,
di kamar kerja Tante…”,sahutnya pendek. Sejenak aku meletakkan
minuman dan memandang Tante Vivi yang berada di sebelahku.

“Lalu tunggu apalagi nih…”, ujarku setengah bercanda.

“Apanya…?”, tanya Tante Vivi seakan tak mengerti. Pandangan matanya kelihatan sedikit bingung.

“Lhoh…,
katanya pengen diker…, eeh diajarin…”, lanjutku. Hampir aja aku
kelepasan ngomong ngeres, jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug
tidak karuan. Untung tidak kebablasan ngomomg.

“ooh…, iya.., aduuh
Tante sampai kaget…, Yuk ke kamar Ar…”, sahutnya sambil mencolek
lenganku. Kami berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia
maksud. Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang dan mewah.
Kulihat sebuah meja pendek tempat dudukan pesawat Televisi ukuran besar
mungkin sekitar 51 inchi lengkap dengan satu set sound systemnya
sekaligus berada di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke
sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah setengah terbuka.
Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan.

“Masuk Ar…, sorry
ruangannya agak berantakan…”, ujarnya sambil memberi jalan. Aku masuk
dulu kedalam ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup
besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi walau masih
ada sedikit acak-cakan karena di atas lantai persis di depan tempatku
berdiri yang terhampar sebuah karpet berukuran sedang tampak berserakan
beberapa majalah wanita yang halamannya masih terbuka disana-sini. Di
depannya ada sebuah meja kerja yang cukup besar, dan di atas meja
terdapat beberapa buah buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat
2 kardus besar dan beberapa kardus kecil yang aku sudah hapal bentuk
dan cirinya, apalagi pada kardus besar yang berbentuk kotak itu
terdapat tulisan besar GoldStar Monitor. Ketika aku menengok ke sebelah
kiri, waah…, ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran
sedang. Kasurnya jelas Spring Bed yang terlihat dari ukurannya yang
tebal, tertutup dengan sprei berwarna merah jambu. Bantalnya bertumpuk
rapi di sisi kiri dan kanan tempat tidur. Di sebelah kiri tempat tidur
terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo.

“Waduuh…,
ini tempat kerja apa kamar Tante…?”, tanyaku heran dan kagum. Bagiku
ruangan selapang ini terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri
yang berukuran 3×4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi sebesar ini.

“Dua-duanya
Ar…, ya kamar kerja ya…, tempat tidur…, mm…, Tante khan cuman
sendirian di rumah ini Ar…”, sahut Tante Vivi yang berada di sebelah
kananku.

“Sendirian…, maksud Tante?”, tanyaku kepadanya tak mengerti.

“Lhoh…,
apa Selva tidak pernah bilang sama kamu…, Tante khan…, sudah
bercerai Ar…”, sahutnya kemudian. Kedengaran sekali kalimat terakhir
yang diucapkannya sedikit terpatah-patah.

Astaga…, seruku
dalam hati. Pantas, seolah baru menyadari. Selama ini aku tak pernah
ingat apalagi menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini
Tante Vivi itu seorang Janda. Ya ampuun…, kenapa aku tak menyadari
sejak semula. Semenjak pertama kali aku datang ke sini bersama Selva,
memang aku tak melihat orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu
itu kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku datang tadi
hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku. Jadii…, hatiku jadi
setengah grogi juga. Aku jadi teringat tentang beberapa kisah nyata di
majalah yang pernah kubaca tentang kehidupan seorang janda muda,
terutama sekali mengenai soal seks. Pada umumnya katanya mereka sangat
mudah dirayu dan tak jarang juga pintar merayu. Jangan-jangan…,
pikirku mulai ngeres lagi.

“ooh…, maaf Tante saya baru tahu sekarang…”, ujarku lirih sejenak kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.


Udahlah Ar…, itu masa lalu…, tidak usah diungkit lagi…”, ujarnya
setengah menghindar. Terlihat ada setetes air menggenang di pelupuk
kedua matanya yang indah.

Sedetik kemudian ia sengaja
memalingkan mukanya dari tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih
di depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah berjongkok
memunguti semua majalah yang masih berserakan di atas karpet, spontan
aku segera menyusul hendak membantunya.

“Sini Ari bantu Tante…”,
kataku pendek. Tanpa menoleh ke arahnya aku langsung nimbrung
mengumpulkan majalah yang masih tersisa.

“iih sudah Ar…, tidak
usah…, kok kamu ikutan repot…”,sahutnya. Kali ini wajahnya kulihat
sudah cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka
menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku sempat terpana
selama 2 detik.

” Tante tidak menikah lagi…?”, tanyaku padanya
tanpa sadar. Sedikit kaget juga aku dengan pertanyaanku, jangan-janga
ia marah atau sedih kembali. Namun ternyata tidak, sambil tetap
tersenyum ia balik bertanya.

“Siapa yang mau sama aku Ar…?”

“aah…, Ari kira banyak Tante…”

“Siapaa…?”

“Ari
juga mau Tante…”, kataku cuek, karena maksudku memang bercanda. Ia
mendelik lalu sambil setengah ketawa tangannya mencubit lenganku
sekaligus mendorongku ke samping.

“Hik…, hik…, kamu ini ada-ada
aja Ar…, jangan nyindir gitu dong Ar, memangnya gampang cari
laki-laki jaman sekarang…”, ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk diam
seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli melihatnya melamun sambil
memegangi majalah.

“Kenapa Tante… “, tanyaku padanya. Tante Vivi
sedikit kaget mendengar pertanyaanku. Namun sambil tersenyum kecut ia
hanya menjawab pendek.

“Sudahlah Ar…, jangan bicara masalah
itu…”. Akupun tak mengubernya walau sebenarnya masih penasaran apa
yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.

Singkat
cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk
merakit komputer barunya. Untung saja Tante Vivi membeli komputer jenis
Build Up sehingga aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa
tegangan input, tinggal sambung kabel ke monitor dan CPU, pasang
external modem, pasang speaker aktifnya ke output soundcard, sambung ke
stavolt…, sudah beres.

“Sudah beres Tante…, mm…, mau
sambung ke internet…?”, tanyaku puas. Agak keringetan juga rasanya
mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.

“aah masa…?,
secepat itu Ar…?”, tanya Tante Vivi yang sejak tadi juga tak pernah
beranjak dari sebelah kananku, asyik melihatku bekerja.

“Lha…, iya…, gampang khan…”, sahutku pendek. Kupandangi wajah cantiknya yang setengah melongo seolah tak yakin.

“Makanya dicoba dulu dong Tante…, biar tidak nanya-nanya lagi…, mana nih stop kontaknya”, tanyaku kemudian.

“iih…,
hik…, hik…, gitu aja sewot…, jahat kamu Ar…, hik…, hik…,
ehem…, itu ada di belakang meja sebelah bawah Ar…”, jawabnya sambil
setengah tertawa kecil.

Aku melongok ke bawah meja…, astaga di bawah situ berarti mestinya aku harus merangkak di situ…, sejenak aku melongo.

“Kenapa Ar…?”

“Ooh tidak Papa Tante..”.

Akhirnya
mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk ke bawah meja kerjanya
yang cukup besar itu sambil tangan kananku menarik kabel power CPU-nya
ke bawah. Pengap juga di bawah situ karena memang agak remang, maklum
penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan sebuah lampu bohlam
sekitar 100 Watt, sinarnya kurang kuat di bawah sini. Sedang lampu meja
kerja terpaksa dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke
stop kontak, sambil setengah merangkak mundur aku langsung membalikkan
tubuh dan astaga…, aku terhenyak kaget karena melihat Tante Vivi ikut
juga melongok membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku
menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah.

Woow,
Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat baju kemejanya yang
sedikit gombrong dan karena jenis kainnya yang sangat lemas membuatnya
jadi melorot ke bawah pas dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang
sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yang sangat besar dan
berwarna putih terlihat menggantung bak buah semangka, diantara
keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah
kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang.
Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan.
“Yaa aammpuunn…”, bisikku lirih tanpa sadar, “Ia tidak pake Behaa…”

Tante
Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa yang sedang
kupelototi, 5 detik saja…, bagiku itu sudah cukup lama, Tante Vivi
seolah baru menyadari ia menjerit lirih.

“iih…”, serunya lirih.
Masih dalam posisi membungkuk, tangan kanannya reflek menarik bajunya
sampai ke atas leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan
mundur 1 langkah. Sudah telanjur, percuma kalau malu, akhirnya dengan
cuek aku merangkak ke luar dan berdiri di hadapannya, sambil
senyam-senyum seolah tidak salah, akhirnya aku minta maaf juga
kepadanya.

“Maaf Tante…, sa…, Ari tidak sengaja…”, ujarku
cuek. Tante Vivi masih dengan sedikit pucat, akhirnya hanya bisa
tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.

“Sudahlah…, Ar…”, sahutnya pendek. Dalam hati aku berbisik, lumayan dapat tontonan susu gede gratiss.

Selama 30 menit kedepan, bak seorang
instruktur kawakan aku mengajari Tante Vivi tentang penggunaan program
aplikasi Windows dan Internet. Aku berusaha menjelaskan sesingkat dan
seefisien mungkin agar tidak terlalu membuang banyak waktu,
bagaimanapun aku jadi tidak enak juga karena hari sudah semakin malam.
Kulirik arlojiku sudah hampir setengah 12 malam.

“Sudah malem
Tante…, besok-besok khan masih bisa belajar Tante…, mm sekarang
saya pulang dulu ya Tante…”, kataku sambil setengah berjalan hendak
keluar kamar.

“Iya deh…, waah…, makasih ya Ar…, kamu pinter
sekali mm…, Tante gimana harus ngucapin terima kasih sama kamu Ar…,
hik…, hik..”, tanyanya sambil tertawa kecil.

“aah…, Tante ini
ada-ada aja…, sudah deh…, sudah malem Tante…”, jawabku sambil
berjalan keluar, Tante Vivi mengikuti di belakangku. Kami terdiam
sejenak. Sambil berjalan aku tersenyum, “Gilaa…”, Tante Vivi begitu
baik dan sopan, ternyata tak seperti yang aku duga dasar otak ngeres,
bisikku dalam hati.

Dipintu depan, sekali lagi Tante Vivi
mengucapkan banyak terima kasih, aku menyalaminya tangannya yang halus
erat-erat. Aku sudah hendak membuka pintu depan, ketika tiba-tiba
seekor laba-laba hitam yang cukup besar dengan kaki-kakinya yang
panjang langsung meloncat ke lantai begitu tanganku memegang handle
pintu, refleks tanganku kutarik ke belakang sambil meloncat mundur, aku
tidak tahu dan tidak sengaja ketika diriku menabrak tubuh Tante Vivi,
sontak ia terhuyung dan menjerit hendak jatuh. Namun dengan sigap
walaupun tubuhku masih setengah merinding, aku langsung memegang lengan
kanannya dan kutarik tubuhnya ke arahku. Dalam sedetik tubuhnya telah
berada dalam pelukanku. Sweear…, saya memang tidak sengaja memeluk
tubuhnya.

“Aduuh…, Ar…, ada apa sih kamu..”, pekiknya.

“Anuu
Tante…, laba-laba gedhe…”, sahutku sambil memandang ke sekeliling
ruangan, aku bener-benar senewen sekali rasanya. Sialaan, laba-laba
sialaan ngagetin orang aja” bisikku dalam hati. Saat itu aku masih
belum sadar kalau kedua tanganku masih memeluk tubuh Tante Vivi, maklum
aku sendiri masih terasa merinding.

“Ar…”, bisik Tante Vivi di
telingaku. Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun, wajah cantiknya itu
begitu dekat sekali dengan mukaku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai
begitu terasa menerpa daguku. Wajahnya kelihatan sedikit berkeringat,
sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam
pandanganku, hidungnya yang putih mbangir mendengus pelan, dan bibirnya
yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka…, duh cantiknya.
Sejenak aku terpana dengan kecantikan wajahnya yang alami. Ada banyak
kesamaan lekuk wajahnya yang cantik dengan wajah kekasihku Selva.
Seolah teringat kemesraan dan kebersamaanku bersama Selva, seolah tanpa
sadar dan tanpa dapat aku mencegahnya…, kudekatkan mukaku kepadanya.
Kesemuanya seolah terjadi begitu saja tanpa aku mengerti sama sekali.
Seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingku di luar kesadaran…,
dan dalam 2 detik bibirku telah mengecup lembut bibir Tante Vivi yang
setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua
mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya…, terasa manis.

Selama
kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan
dan kelembutannya. Dan ketika aku menyadari bahwa Tante Vivi bukanlah
Selva, maka…

” ooh…”, bisikku kaget, sesaat setelah kecupan itu
berakhir. Dengan perasaan kaget bercampur malu aku melepaskan
pelukanku. Aku memandang Tante Vivi dengan sejuta rasa bersalah, namun
seolah tak yakin aku juga baru menyadari kalau Tante Vivi sama sekali
tak memberontak ketika aku menciumnya. Kini yang aku lihat betapa
wajahnya yang cantik kelihatan semakin cantik. Kedua pipinya yang putih
bersih bersemu merah bak boneka barbie, kedua matanya yang sipit
memandang redup kepadaku, sementara kedua belah bibirnya masih setengah
terbuka dan merekah basah menawan hati.

“Tan.., te…, apa yang kulakukan…”, bisikku masih setengah tak percaya atas sikapku barusan kepadanya.

Tante
Vivi sama sekali tak menjawab. Tidak ada rona kemarahan di wajahnya
yang cantik. Ia hanya tersenyum setengah malu-malu dan menundukkan
muka. Sejenak kami berdua terdiam…, hening dalam pikiran
masing-masing.

Kali ini aku benar-benar malu pada diriku
sendiri, terlalu gampang mengumbar perasaan kepada setiap orang…,
aahh tetapi…, kenapa ada sesuatu yang lain pada tubuhku…, sesuatu
yang aku begitu sangat mengenalnya…, astaga…, aku merasa batang
penisku telah berdiri tegak…, tuing…, tuiing…, gilaa begitu
cepatnya batang penisku mengeras dan mendesak celana dalamku seolah
ingin berontak keluar.

“Sudahlah Ar… “, bisik Tante Vivi lirih, memecah keheningan itu. Aku tersadar pula.

“Maafkan Ari Tante…, sa…, saya…, teringat Selva Tante…”, sahutku setengah gugup.

Tante Vivi tersenyum semakin manis. Bibir ranumnya yang barusan kukecup semakin indah menawan membentuk senyuman mesra.

“Kamu
rindu Ar…, sama dia…”, tanyanya seolah melupakan peristiwa yang
barusan. Aku sedikit bernapas lega karena ia kelihatan sama sekali
tidak marah. Aku tidak tahu apa alasannya namun yang penting aku bisa
meredam rasa maluku.

“Eehh…, iya Tante…”, sahutku beralasan.

“Ya
sudahlah…, tidak pa-pa Ar…”, sahutnya enteng. Mau tak mau aku jadi
bingung juga melihat sikapnya. Semudah itukah. Mencium seseorang yang
bukan apa-apanya secara disengaja, itu tidak apa-apa?

“Tante tidak marah…?”, tanyaku balik. Entah kenapa aku seolah diatas angin melihat sikapnya dan seolah timbul keberanianku.

“Tidak
Ar…”, jawabnya sambil tetap tersenyum manis. Kedua matanya
memandangku dengan sejuta arti. Dalam pandanganku wajahnya kelihatan
semakin bertambah cantik dan cantik. Sebagai seorang laki-laki dan
sebagai seorang terpelajar seperti aku yang sudah kenyang dengan cerita
pengalaman orang lain plus pengalamanku sendiri, apalagi soal perilaku
seks. Sikap Tante Vivi seperti itu seolah sebagai tantangan dan ajakan.
Otakku berpikir cepat, menimbang…, dan memutuskan. Sampai disitu
jalan pikiranku menjadi buntu…, yang ada hanyalah…, nafsu.

Seolah
ada yang memberiku kekuatan dan keberanian, kuraih tubuh Tante Vivi
yang masih berada di hadapanku dan kubawa kembali ke dalam pelukanku.
Benar saja…, ia sama sekali tak melawan atau memberontak. Seolah
lemas saja tubuhnya yang seksi montok itu berada dalam dekapanku.
Wajahnya yang cantik bak bidadari kahyangan memandangku pasrah dan
tetap dengan senyum manis bibirnya yang kian menggoda. Kedua pipinya
kelihatan semakin memerah pula menambah kecantikannya. Aku semakin
terpana.

“Apa yang ingin kau lakukan Ar…”, bisiknya lirih setengah kelihatan malu.

Kedua
tanganku yang memeluk pinggangnya erat terasa sedikit gemetar memendam
sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada di
atas pantatnya yang bulat. Mekal dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra
sambil berbisik.

“Tante pasti tahu apa yang akan Ari lakukan…”,
bisikku pelan. Jiwaku telah terlanda nafsu. Telah kulupakan bayangan
Dina dan juga Selva. Aku lupa diri, setan-setan burik telah menyapu
habis pikiranku tentang mereka.

“Kau yakin Ar…”, tanya Tante Vivi
lirih. Ooh…, desakan kedua buah payudaranya yang besar pada dadaku
membuat batang penisku semakin tegang tak terkira.

“Yaa…,
Tante…”, sahutku tanpa mengerti maksud pertanyaannya. Dengan cepat
aku sudah membayangkan keindahan tubuhnya yang telanjang bulat,
kemontokan payudaranya yang besar dan kencang, kemulusan kulit tubuhnya
dan…, aahh bukit kemaluannya yang besar…, wooww…

Tanpa
terasa batang penisku kurasakan memuntahkan cairan beningnya, aku
merasa seolah telah memasuki liang vaginanya. Tanpa dapat kucegah,
kuremas gemas kedua belah pantatnya yang terasa kenyal padat dari balik
celana jeans ketatnya.

“Oouuhh… “, Tante Vivi mengeluh lirih.

Bagaimanapun
juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tidak bersikap
over atau kasar terhadapnya, walau nafsu seks-ku saat itu terasa sudah
diubun-ubun namun aku ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan
kepadanya. Hanya setan-setan burik sialan itu yang menyuruhku agar
segera melucuti pakaian Tante Vivi dan memperkosa sepuasnya.

“aah…, ki.. Kita ke kamar Tante…”, bisikku semakin bernafsu.

Lalu
dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot dan kukulum bibir
hangatnya secara bergantian dengan mesra atas dan bawah.
Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah, seindah cumbuanku pada
bibir Tante Vivi. Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari
sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat padat dan
kenyal. Aku masih menahan diri untuk tak bergerak terlalu jauh, walau
sebenarnya hatiku begitu ingin sekali meraba selangkangan atau meremas
payudaranya. Entah kenapa aku ingin bersikap lembut dan romantis.
Bahkan kecupan bibirku padanya kulakukan selembut dan semesra mungkin,
aku kira Tante Vivi sangat menyukainya. Bibirnya yang terasa hangat dan
lunak berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya
dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. ooh…, terasa begitu
nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku dan
berulang kali pula hidungnya yang kecil mbangir beradu mesra dengan
hidungku. Kurasakan kedua lengan Tante Vivi telah melingkari leherku
dan jemari tangannya kurasakan mengusap mesra rambut kepalaku.

Batang
kejantananku terasa semakin besar dan mendesak liar di dalam CD-ku.
Teng…, teng…, teng…, aku mulai merasakan kesakitan apalagi karena
posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat batang penisku
yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di
perut Tante Vivi yang empuk.

Sampai disitu aku tak mampu menahan
diri lagi, birahiku telah mengalahkan segala-galanya. Keyakinan dan
akal sehatku seakan telah tertutup oleh lingkaran nafsu. Kenikmatan
seks yang pernah kurasakan bersama Dina telah membuatku semakin lupa
diri. Seolah menemukan daging segar yang baru, sejenak kemudian
kulepaskan pagutan bibirku pada bibir Tante Vivi.

aah…, wajah
cantiknya itu kelihatan semakin berkeringat, dan bibirnya yang basah
oleh liurku merekah indah. Begitu ranum bak bibir gadis remaja. Kedua
bola matanya sedikit redup dan memandangku pasrah. Aku melihat ada
sejuta keinginan terpendam dalam sorot matanya itu. Aku bisa menduga
Tante Vivi pasti tak tahan hidup menjanda, bagaimanapun aku tahu ia
pasti jelas sudah tak perawan lagi,… aku hanya bisa menduga-duga
dengan apa Tante Vivi melampiaskan kebutuhan batinnya selama ini.

“Aku
menginginkanmu, Tante…”, bisikku padanya terus terang. Pikiranku
sudah tertutup oleh nafsu, namun bagaimanapun aku tak ingin grusa-grusu
seenak sendiri. Dengan sikapku ini otomatis aku melatih diri untuk
mengontrol keinginan seks-ku yang cenderung vulgar.

“oouh…, Ar…, Tante juga ingin…, oouhh..”.

Belum
habis ucapannya yang sangat merangsang itu, badanku membungkuk dan
meraih tubuh montok Tante vivi dalam pondonganku. Ia agak sedikit kaget
melihat tindakanku, namun sejenak kemudian ia tertawa genit dan manja
ketika aku mulai membopong tubuh seksinya itu masuk kembali melintasi
ruang tengah menuju ke dalam kamar. Lengan kanannya merangkul leherku
sementara jemari tangan kirinya mengusap mesra kedua pipi dan wajahku.
Tante vivi kelihatan setengah malu-malu kubopong seperti ini.

“Kamu ganteng Ar…”, bisiknya padaku mesra sambil tersenyum manis.

“Kamu juga cantik Tante…”, balasku tak kalah mesra. Kami berdua sempat tertawa kecil karena kekanakan ini.

“Ar…, panggil aku Vivi saja yaa…”, ujar Tante Vivi padaku. Aku mengangguk senang.

Di
dalam kamarnya, kuturunkan tubuh Tante Vivi dari boponganku di sisi
kiri tempat tidurnya. Kami berdua saling berpandangan mesra dalam jarak
sekitar 1 meter. Aah…, kunikmati seluruh keindahan bidadari di
depanku ini, mulai dari wajahnya yang cantik menawan, lekak-lekuk
tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah
payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang lancip,
perutnya yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja,
pahanya yang seksi dan aah…, kubayangkan betapa indah bukit
kemaluannya yang kelihatan begitu menonjol dari balik celana
jeansnya…, mm…, betapa nikmatnya nanti saat batang penisku memasuki
liang vaginanya yang sempit dan hangat…, mm akan kutumpahkan sebanyak
mungkin air maniku ke dalam liang vaginanya sebagai bukti
kejantananku…, “Oohh.., Vivi…”, bisikku dalam hati. Akan kulumat
dirimu dengan kenikmatan.

“Ar…, kamu duluan sayang…”, bisik Tante Vivi, membuyarkan fantasi seks-ku padanya.

Wajahnya
yang cantik tersenyum manis, seolah ia mengetahui apa yang ada dalam
pikiranku kedua jemari tangannya kini berada di atas kedua belah
payudaranya sendiri. Tante Vivi mulai mengusap perlahan kedua bulatan
payudaranyanya yang besar dari balik baju kemejanya. Seolah merangsang
dan menggodaku. Aku tak tahan melihat tingkahnya, andai saja Tante Vivi
tahu betapa sakitnya batang penisku yang terjepit di dalam CD-ku seolah
memberontak ingin keluar. aah…, dengan cuek aku mulai membuka kancing
kemejaku satu persatu dengan cepat…, srrt…, kulemparkan bajuku
sekenanya ke samping, pandangan kedua mataku seolah tak lepas dari
tubuh Tante Vivi yang semakin menggoda…, srrt…, kutarik kaos
singletku keatas sampai lepas dan kulempar sekenanya pula. Tak puas
sampai di situ, dengan jemari gemetar menahan nafsu aku mulai membuka
sabuk celana dan menarik turun ritsluiting celana panjangku dan
sruut…, langsung turun ke bawah (kebetulan aku mengenakan celana
baggy dari katun).

“Ooh…”, Tante Vivi memekik kecil saat
melihat tubuhku yang setengah polos. Kulihat kedua jemari tangannya
meremas kuat payudaranya sendiri yang besar, mulutnya yang manis
sedikit melongo dan kedua bola matanya yang hitam seakan setengah
melotot pula memandang ke tubuhku bagian bawah. Sekilas aku melirik ke
bawah dan tersenyum geli sendiri. Bagaimana tidak ternyata batang
penisku yang sudah tegak itu mendesak hebat ke atas sampai kepala
penisku tanpa terasa melongok keluar dari dalam celana dalamku. Begitu
besar dan tebal mendongak ke atas persis di bawah pusarku. Kepala
penisku kelihatan bengkak memerah karena tegang yang tak terkira.
Batang penisku tidak terlalu panjang memang hanya sekitar 14 centi,
namun ukuran diameternya cukup besar dan yang paling membuatku bangga
adalah bentuknya yang mirip sekali dengan milik bintang film porno
“Rocco Siffredi”…, montok dan berurat.

Kuusap pelan batang
penisku yang sedang berdiri nakal itu dari balik celana dalam. mm…,
terasa begitu nikmat. Kurasakan ada sedikit cairan bening yang keluar
dan menempel pada jemari tanganku. mm…, bagaimanapun juga batang
penisku ini pernah merobek dan merenggut keperawanan Dina. Tass…,
Sekelebat bayangan wajah Dina seolah berada di depan pelupuk mataku.
Aku seolah tersadar kembali.

Astaga…, aah…, apa yang aku
lakukan ini?, nuraniku seakan menjerit. Sejenak pikiranku berkecamuk.
Dan ketika bayangan wajah kekasihku Selva muncul, batinku semakin
menjerit. aah…, apa yang aku lakukan Selva..? Terjadi perang
berkecamuk di dalam batinku. Nuraniku mengatakan agar aku sadar
mengingat resiko buruk yang mungkin terjadi dengan perbuatan bejatku,
namun dilain pihak pikiranku mengatakan sangat ingin mencumbu dan
melampiaskan nafsu seks-ku kepada Tante Vivi. Sikap Tante Vivi bagiku
merupakan kejutan besar yang menggairahkan hati. Aku tak ingin
melewatkan kesempatan indah yang tak mungkin dilain waktu akan terulang
lagi. Batinku menjerit namun pikiranku yang dipenuhi nafsu seolah lebih
kuat. Entah berapa lama aku memejamkan mata menanti perang di batinku
akan berakhir. Aku merasa imanku terlalu lemah sedangkan darah mudaku
yang penuh dengan gejolak birahi terlalu begitu perkasa.

Ketika
aku membuka kedua mataku kembali kulihat Tante Vivi sudah tak berada di
hadapanku lagi. Semula aku sedikit heran, lalu instingku menoleh ke
samping kiri dan…, Astagaa…, mataku terbeliak kaget menyaksikan
pemandangan indah yang begitu luar biasa…, begitu mempesona…,
begitu menggairahkan…, begitu aahh…

Kedua mataku melotot
sampai ingin keluar menyaksikan tubuh Tante Vivi yang kini ternyata
telah berada di atas pembaringan tanpa tertutup sehelai benang. Betapa
begitu putih mulus tubuh moleknya yang bugil telanjang bulat, jauh
lebih putih dari tubuh Dina…, memamerkan semua keindahan, kemulusan
dan kemontokan lekak-lekuk tubuhnya yang bak gadis usia remaja.

Tante Vivi sambil tersenyum manis ke
arahku rebah telentang dengan posisi setengah mengangkang
mempertontonkan seluruh anggota tubuhnya yang paling terlarang. Kedua
buah dadanya yang ternyata memang sangat besar terlihat masih begitu
kencang, sama sekali tidak kendor, membentuk bulatan indah bak buah
semangka. Kedua puting payudaranya yang kecil berwarna coklat kemerahan
mengacung ke atas seolah menantangku untuk segera kujamah. Begitu pula
perutnya masih terlihat ramping dan seksi tanpa lipatan lemak,
menandakan Tante Vivi belum pernah melahirkan seorang anak. Aku menelan
ludah melihat bagian bawah tubuhnya yang kini ternyata tak memiliki
sehelai rambutpun. Rupanya Tante Vivi telah mencukur habis bulu
kemaluannya yang kemarin sempat kulihat begitu sangar dan vulgar.

oohh…,
tanpa terasa mulutku mendesah takjub menyaksikan keindahan bukit
kemaluannya yang besar. Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan alat
kemaluan wanita dari keturunan Tionghoa. Belahan bibir kemaluannya yang
sangat putih mulus walau sedikit kecoklatan terlihat sangat tebal
membentuk sebuah bukit kecil mulai sekitar 6-8 centi di bawah pusar
yang terbelah di bagian tengahnya sampai ke selangkangan bagian bawah
di atas lubang duburnya yang hitaman kecoklatan. Labia Mayoranya yang
sangat merangsang itu terlihat masih saling menutup rapat satu sama
lain meskipun Tante Vivi sudah setengah mengangkangkan kedua pahanya,
seolah menyembunyikan liang vaginanya yang memang sangat terlarang. Ini
berarti liang vaginanya pasti masih sangat sempit walaupun ia sudah tak
perawan lagi. Dari lekukan sempit dan panjang yang terbentuk dari kedua
belah labia mayoranya itu aku sedikit dapat melihat dan menduga betapa
merahnya liang kenikmatan miliknya.

Batang penisku yang semula
agak lemas kini langsung kembali perkasa. Dengan cepat kurasakan kepala
penisku kembali mendesak ke atas melongok keluar dari celana dalam
seolah ingin mengintip apa yang sedang terjadi dihadapanku dan
membuatku takjub.

oohh…, Vivi..”, bisikku lemah. Batinku seolah
menyerah kalah., “Maafkan aku Selva…, aku sangat mencintaimu…, tapi
ini hanyalah seks…, bukan cinta…”

Lalu kreekk…, Dengan
gemas kurobek celana dalamku yang terasa kecil bagi alat kelelakianku.
Aku sudah tak peduli lagi dengan segala sesuatunya. Batang penisku yang
tegang itu langsung mengacung keluar setengah mengarah ke atas sambil
manggut-manggut naik turun menyetujui pikiranku yang ngeres. Aku
sedikit heran juga menyaksikan batang penisku yang kelihatan sedikit
lebih besar dari biasanya, begitu pula dengan kepala penisku yang
terlihat begitu nanar dan mekal berwarna kemerahan saking tegangnya.
Urat-urat diseluruh permukaan batang penisku sampai menonjol keluar
semua membentuk guratan-guratan kasar setengah melingkar.

Dengan
lutut setengah gemetar seakan tak percaya menyaksikan semua itu,
perlahan-lahan aku mulai naik ke atas pembaringan menyusul Tante Vivi
yang sudah menungguku sejak tadi. Dengan rambut setengah terurai di
pipi Tante Vivi tersenyum manis memamerkan keindahan bibir dan
gigi-giginya yang putih menawan. Matanya seolah meredup dan pasrah.
Namun nafasnya sedikit terdengar kurang teratur menandakan ia sedikit
tegang atau mungkin juga ia sedang dilanda nafsu birahinya.

“Vivii…”,
bisikku penuh nafsu. Setengah dag-dig-dug kubaringkan tubuhku persis di
sebelah kanan tubuhnya yang bugil. Kupandangi wajahnya yang cantik
mempesona, lalu dengan jemari gemetar kuelus mesra kedua belah pipinya
yang halus. Tante Vivi tersenyum manja padaku.

“Ar…, beri aku
kenikmatan…”, bisiknya tanpa malu-malu. Sorot matanya terlihat lemah
seolah memohon. Aku tersenyum penuh gairah.

“Aahh Vivi…, aku akan
memberimu kepuasan…, aahh…, kau lihat penisku Vi…, dia yang akan
memberimu kenikmatan…”, bisikku nakal. Tante Vivi mau tak mau melirik
ke bawah menyaksikan alat vitalku yang besar dan keras saking kuat
ereksinya.

“Iihh…, hik…, hik…, kau nakal Ar…, oohh…,
sshh…, lakukanlah sekarang Ar…”, tiba-tiba ia berbisik sedikit
keras. Aku terkaget heran.

“Sekarang Tante…?”, tanyaku heran, sedikit kurang sambung.

“Yaa…,
sekarang Ar…, naiki aku…, masuki tubuhku sekarang…, sshh…”,
bisiknya semakin keras. Sembari jemari tangan kirinya memegang lenganku
mengajak untuk…

Astagaa…, Tante Vivi begitu bernafsunya
sampai tanpa sungkan-sungkan lagi memintaku untuk segera
menyetubuhinya. Namun sebenarnya aku masih ingin mencumbunya terlebih
dulu, menikmati kehalusan kulit tubuhnya, meremas-remas dan menghisap
kedua puting susunya sampai puas dan yang paling aku gemari adalah
pasti mencumbu alat kelaminnya sampai ia orgasme seperti yang sering
aku lakukan terhadap Dina. Terus terang aku sudah tergila-gila pada
alat kelamin wanita. Setiap akan bersenggama dengan Dina tak pernah
sekalipun aku mengawali persetubuhan tanpa terlebih dahulu aku mencumbu
alat kewanitaannya sampai Dina orgasme berulang-ulang. Baru setelah
Dina lemas kehabisan tenaga setelah melepas kenikmatan, aku baru
memasukkan batang penisku ke dalam liang vaginanya yang sempit dan
licin terkena muntahan cairan orgasmenya, mengocoknya di dalam situ
sampai air maniku muncrat ejakulasi.

“Kita bercumbu dulu
Tante…”, bisikku merasa diatas angin. Aku bisa menduga mungkin Tante
Vivi terlalu lama menahan keinginan seksualnya sampai begitu kesempatan
untuk itu ada ia sudah tak mampu menahan gejolak birahinya yang sekian
lama tertahan.

“aahh…, kita lakukan sekarang saja Ar…”, bisiknya
seolah setengah memaksa. Tanpa rasa malu sedikitpun. Kuperhatikan
jemari tangan kirinya kini telah berada di atas selangkangan
mengusap-usap bukit kemaluannya yang montok merangsang.

Astaga…,
rupanya Tante Vivi sudah tak tahan lagi. Aku tersenyum penuh gairah,
aku tahu liang vaginanya pasti sudah gatal karena sekian lama tidak
dipakai. Beruntung sekali suami Tante Vivi dulu yang pertama kali
mencicipi dan menikmati keperawanannya…, pasti luar biasa nikmat saat
pertama kali menembus liang vaginanya yang sempit. mm…, aku jadi tak
tahan karena teringat saat pertama kali batang penisku memasuki liang
vagina Dina dan merobek selaput keperawanannya. Adalah saat terindah
bagi seorang laki-laki ketika memuntahkan air maninya dengan sepenuh
rasa nikmat ke dalam liang vagina seorang wanita yang masih perawan.
Saya telah mengalami hal itu dan memang luar biasa nikmat. Dan kini
mungkin saatnya bagi saya untuk menikmati liang vagina seorang
janda…, mm…, pikirku ngeres.

“Kau yakin Vi…, kita tidak bercumbu dulu sayang…”, bisikku gemas.

“Ar…,
kamu nakal…”, sahut Tante Vivi padaku, wajah cantiknya kelihatan
memelas. Aku jadi geli baru pertama kali ini aku melihat seorang wanita
dengan nafsu seks sebesar Tante Vivi, sampai memelas-melas seperti ini.
Tapi aku maklum karena mungkin Tante Vivi telah ngempet tidak
berhubungan seks bertahun-tahun. Tapi bagaimanapun aku berpantangan
untuk tidak langsung menyetubuhinya. Tante Vivi bukanlah ayam betina
yang langsung saja bisa digagahi. Aku ingin memberinya terlebih dahulu
sensasi-sensasi seks terindah pada seluruh sekujur tubuhnya sampai ia
benar-benar merasakan puncak sekaligus akhir dari pendakian indah
sebelum memasuki tahap persetubuhan untuk mencapai kenikmatan
sesungguhnya. Walaupun sebenarnya aku mau saja langsung menggagahinya
dan memuasinya dengan cepat, tapi bagiku itu tiada berkesan selain
merasakan kenikmatan sesaat. Dan seolah bagai mimpi saja ketika
akhirnya dengan sigap aku telah berada diatas tubuh Tante Vivi yang
telanjang bulat dan menindihnya gemas.

Kami berdua secara
bersamaan melenguh nikmat saat kulit tubuh kami saling bersentuhan dan
akhirnya merapat dalam kemesraan. Aku tak pernah menyangka bisa
meniduri bidadari secantik Tante Vivi. Batang penisku yang berdiri
tegak seakan kena setrum saat menyentuh bukit kemaluan Tante Vivi yang
halus dan sangat empuk. Maklum bukit kemaluannya memang relatif sangat
besar dan montok. Jauh lebih montok dibanding milik Dina.

Dengan
nakal kepala penisku menyelip diantara bibir kemaluannya yang rapat.
mm…, terasa begitu nikmat saat kulit kepala penisku menggesek daging
celah labia mayoranya dan menyelip ke dalam. Tante Vivi mungkin mengira
batang penisku ingin memasuki liang vaginanya, karena begitu kepala
penisku menyelip di antara labia mayoranya kurasakan ia membuka kedua
pahanya lebar-lebar. Aku merasa betapa begitu halus kulit kedua belah
pahanya yang langsung mengapit pinggangku lembut. Sengaja aku tidak
menekan pinggulku terlalu ke bawah untuk berjaga-jaga agar jangan
sampai kepala penisku sampai terdorong kebawah memasuki liang
vaginanya, walau aku sebenarnya juga bisa menduga pasti tidak mudah
bagiku nanti memasukkan alat kejantananku ke dalam liang vaginanya.
Kalau benar Tante Vivi sudah lama tidak berhubungan seks…, mm…,
liang vaginanya pasti sempit luar biasa.

Sambil mengusap mesra
rambut Tante Vivi yang panjang, mulutku dengan gemas kembali mengecup
dan mengulum bibir Tante Vivi yang basah dan hangat. mm…, cupp…,
cupp…, mulutku secara bergantian mengulum bibirnya yang atas dan yang
bawah. Dengan tak kalah mesra Tante Vivi membalas cumbuanku pada
bibirnya. Sesekali lidahnya dijulurkan keluar untuk dengan segera
kuhisap dan kukulum mesra. Terasa begitu gurih manis lidah dan
bibirnya. Sementara bibir kami bercumbu, kurasakan dua sensasi indah di
dua tempat yang paling terlarang pada tubuh Tante Vivi. Pertama di
selangkangannya, kedua di bagian dadanya.

mm…, kedua
payudaranya yang luar biasa besar itu terasa begitu kenyal dan padat
menekan nikmat dadaku, kedua puting payudaranya yang lancip seakan
menggelitik kulit dadaku. Kedua jemari tangan Tante Vivi yang halus
mengusap-usap gemas daging bokongku, berulang kali ia mencoba untuk
menekan pantatku ke bawah agar batang penisku segera memasuki liang
vaginanya, namun aku bertahan agar pinggulku tetap setengah terangkat,
hanya kepala penisku saja yang sedikit terjepit diantara labia
mayoranya. Butuh suatu kesabaran agar rasa nikmat pada kepala penisku
yang sudah setengah terjepit di bibir kemaluannya itu tidak membuatku
berbuat lebih jauh lagi menuruti keinginan Tante Vivi yang sudah ngebet.

Sesekali
Tante Vivi dengan tak sabar menyelipkan jemari tangan kanannya diantara
selangkangan kami, lalu dengan gemas ia meremas batang penisku dan
mengarahkan kepala penisku yang sudah setengah terjepit di situ ke
mulut liang vaginanya yang terasa licin dan buntu, menandakan liang
vaginanya itu sangat jarang dipakai. Mungkin hanya mantan suaminya saja
dulu. Aku segera menarik pinggulku agak ke atas karena terasa geli-geli
nikmat pada batang penisku yang diremasnya. Aku melepaskan ciumanku
pada bibir Tante Vivi.

“Aaoohh…, Tante geli ahh…”, erangku setengah keenakan.

“Uuhh…,
kamu nakal Ar…”, bisik Tante Vivi lirih. Bibirnya yang ranum
kemerahan sangat basah penuh air liurku. Kulihat wajah cantiknya tampak
berkeringat basah. Kelihatan ia sudah sangat ngebet kepingin senggama.
Kedua matanya yang semakin sipit memandangku lemah seolah memelas. Aku
kasihan juga melihatnya.

“Tante sudah kepingin sekali yaachh…”, bisikku gemas melihatnya.

Tante Vivi tidak menjawab namun jemari tangannya mencubit pinggangku keras-keras. Aku memekik kesakitan. “Aaooww…”.

Lalu
dengan gemas, mulutku kembali melumat bibir ranumnya yang basah…,
hanya lima detik mulutku melepas bibirnya dan bergerak ke atas dan,
“Oouuhh…”, Tante Vivi merintih manja saat bibir dan lidahku dengan
gemas mulai menggelitiki telinga kirinya. Sesekali gigiku setengah
menggigit membuat Tante Vivi menggelinjang geli keenakan.

“Nngghh…, eenngghh…, Ar…”, pekiknya lirih. Ia sangat terangsang sekali dengan ulahku.

30
detik kemudian dengan cepat aku menggeser tubuh ke bawah. Kini saatnya
bagiku untuk bermain-main dengan kedua buah payudaranya sepuas mungkin.
Kali kurebahkan perutku merapat ke tubuh Tante Vivi, dan mm…, perutku
terasa menekan nikmat bukit kemaluannya yang besar…, sedikit
kurasakan kalau bukit kemaluannya itu sedikit agak kasar, seperti bekas
kalo ada rambut yang dicukur.

Dari dekat aku dapat menyaksikan
betapa luar biasa besarnya payudara Tante Vivi, warnanya begitu putih
bersih dan mulus. Kedua puting payudaranya yang kecil lucu seakan tidak
sebanding dengan besar susunya, berwarna coklat kemerahan. Baru kali
ini aku melihat seorang wanita memiliki susu yang sangat besar, selama
ini aku hanya melihatnya di dalam film BF, itupun milik cewek bule.
Bahkan jemari tanganku yang kubuka selebar mungkin masih belum bisa
melingkari bulatan kedua buah dada Tante Vivi yang extra large. Dalam
hati…, susu sebesar ini berapa ukuran BH-nya yaah…, aku jadi makin
tegang sendiri memikirkannya. Dengan gemas kedua jemari tanganku yang
sudah melingkari kedua buah dadanya bergerak meremas-remas pelan…,
wooww…, begitu kenyal, kencang dan hangat.

“Nngnngghh…,
oouuhh”, Tante Vivi memejamkan kedua matanya dan mulutnya yang basah
mengerang keenakan. Aku tersenyum. “Kuperkosa habis-habisan kau nanti
Tante…” bisikku dalam hati penuh nafsu. Aku menunduk dan mulutku
mulai menghisap nikmat susunya yang sebelah kiri secara perlahan.
Lidahku dengan gemas menyentil putingnya dan menggigit pelan.

“Aaww…,
nngghh…”, Tante Vivi merintih semakin keras. Aku jadi ikutan
terangsang. Mulutku mulai menghisap putingnya sedikit lebih keras dan
semakin keras. Kubuka mulutku selebar mungkin, seolah ingin menelan
susunya. Kuhisap sekuatnya susu kirinya sampai pipiku terasa kempot,
lidahku dengan ganas memilin-milin putingnya dengan perasaan geregetan.

mm…,
nikmatnya…, Pop…, pop…, berulang kali aku menghisap dan
melepaskan hisapanku dengan kuat sampai berbunyi nyaring. Puas dengan
hisapan, lidahku yang basah kujalarkan menjilati seluruh permukaan
payudaranya sampai penuh dan basah oleh air liur.

Tante Vivi bergerak semakin liar. Mulutnya berulang kali memekik dan mengerang keenakan menikmati sedotan mulutku pada susunya.

“Aaww…,
ngghh…, aww…”. Jemari tangannya tak tahan mengerumasi rambut
kepalaku dengan gemas. Mulutku kini berpindah untuk menghisap, mengulum
dan menjilati susunya yang sebelah kanan, sementara susunya yang kiri
gantian kuremas-remas dengan lembut. Seperti juga yang kiri, aku
mengenyot-ngenyot payudara kanannya membuat Tante Vivi semakin
menggeliat hebat keenakan.

“aaww…, Ar…, hu.., hu…, sudah
Ar…, ngghh…, sudah sayang…”, erangnya tak kuat menahan rasa
nikmat. Aku semakin bersemangat. Kuhisap, kukulum, kupilin, kukenyot
dan kujilati payudaranya yang kanan berulang-ulang kali tanpa ampun,
membuat Tante Vivi berulangkali pula memintaku untuk segera menyudahi.

“aaww…,
sudah sayang…, aduuh…, hu.., huu.., ngghh…, k…, kau nakal
Ar…”, erang Tante Vivi sambil tetap mengerumasi rambut kepalaku. Aku
tak peduli, cukup lama sekali aku mengenyot dan menyusu kedua belah
payudaranya yang besar. Mungkin sekitar 10 menitan lebih.

Setelah
puas barulah aku dapat melihat kedua buah dadanya yang tadinya begitu
putih mulus dan bersih itu kini sampai basah penuh liur, dan di sana
sini tampak kemerahan bekas hisapan mulutku. Terutama disekitar kedua
putingnya yang kini tampak semakin merah saja, kulihat ada sedikit
guratan merah di situ mungkin bekas gigitanku tadi…, gemass sih.

Tante
Vivi memandangku sayu, kedua matanya sedikit berair dan memerah,
bibirnya gemetar. Wajah cantiknya itu kelihatan sedikit geregetan.

“Kamu
benar-benar nakal sekali Ar…, Awas kamu yaa…”, bisiknya lirih
padaku seakan ingin membalas dendam. Aku tersenyum padanya, lalu
tiba-tiba kedua jemari tangannya tadi mendorong kepalaku ke bawah.

mm…,
rupanya Tante Vivi ingin aku mencumbu alat kemaluannya. Wooww…, ini
favoritku malah…, dengan sigap aku menggeser ke bawah…, mm terasa
enaak saat perutku menggesek bukit kemaluannya. Lidahku kujulurkan
menjilati permukaan perutnya yang halus dan sejenak sempat kugelitik
lubang pusarnya dengan lidah dan bibirku. Dan ketika mukaku sampai di
atas selangkangannya…, wooww…,ini dia ee…, alamak indahnya alat
kemaluan milik Tante Vivi ini. Begitu putih dan mulus sesuai dengan
warna kulit tubuhnya, disana-sini masih bisa terlihat secara samar
kehitaman bekas cukuran bulu jembut kemaluannya. Alat kemaluannya itu
kelihatan besar dan tebal, membentuk sebuah bukit kecil di atas
selangkangannya.

Kini dengan jelas aku dapat melihat dari jarak
kurang dari 15 centi bibir labia mayoranya yang tebal saling menutup
sangat rapat satu sama lain membentuk lekukan celah sempit memanjang
vertikal sampai diatas lubang duburnya yang kecil berwarna hitam
kecoklatan. Liang vaginanya seolah tertutup rapat tersembunyi oleh
ketebalan labia mayoranya itu. Aroma khas bau alat kemaluannya
benar-benar memabukkanku. Hidungku kembang-kempis menarik napas panjang
menghirup aroma nikmat bau alat kelaminnya.

Mm…, memang aku begitu
menyukai bau alat kelamin wanita. Baunya seharum milik Dina. Namun
berbeda dengan milik Dina yang sedikit lebih kecil bentuknya, alat
kemaluan Tante Vivi yang besar ini dapat kuduga memiliki liang senggama
yang lebih panjang dan dalam. mm…, pasti daya tampung air maninya
pasti banyak sekali. Seolah mengerti pikiranku, batang penisku yang
sudah ereksi bak pisang raja itu manggut-manggut pelan mengiyakan walau
sudah terjepit di atas kasur.

Tiba-tiba tanpa kuduga tangan
Tante Vivi menekan kepalaku ke bawah, sehingga tanpa dapat kucegah lagi
mukaku langsung nyosor terbenam ke dalam selangkangannya yang putih
merangsang. Hidungku sampai amblas masuk terjepit diantara labia
mayoranya yang tebal. Aku tidak bisa bernapas bebas, yang kurasakan
hidungku hanya bisa menghisap udara bercampur aroma khas bau alat
kewanitaannya yang menyengat dan memabokkan dari sela-sela bibir
kemaluannya. Sementara mulutku yang menekan bukit kemaluannya agak
sebelah bawah terasa pas berada dimulut liang vaginanya. Aku tak
menyia-nyiakan. Lidahku langsung kujulurkan ke bawah sepanjang mungkin
menyelip dan menembus bibir kemaluannya dan secara perlahan mulai
memasuki liang vaginanya yang terasa sempit dan licin. Aku kira cairan
lendir vaginanya mulai mengalir keluar cukup banyak, terbukti ketika
lidahku yang masuk sekitar 1 centi ke dalam, liang vaginanya terasa
penuh dengan cairan lendir yang sedikit amis namun nikmat dirasakan.
Mulutku sampai mengecap nikmat berulangkali menyedot cairan vaginanya
itu.

Tante Vivi menggeliat hebat dan mulutnya mengerang panjang
keenakan…, pinggulnya terkadang digoyangkan lembut kekiri-kanan dan
juga keatas menikmati cumbuanku.

“aagghghh…, nggnnhhfff…,
sshh…, aarr…”, pekiknya nikmat. Jemari tangannya semakin menekan
kepalaku ke bawah, membenamkan mukaku seluruhnya ke bukit kemaluannya.

Dalam
posisi seperti ini, mau tak mau membuat hidungku semakin tak bisa
bernafas, hidungku seolah tenggelam terjepit diantara bibir kemaluannya
yang tebal. Bau khas alat kemaluannya terasa makin menyengat. Meski
membuatku semakin terlena, namun aku bisa-bisa mati kehabisan napas
juga. Kususupkan kedua jemari tanganku menyusuri ke bawah ke balik
bulatan pantatnya yang kenyal dan padat, tanganku mulai meremas gemas
lalu dengan buas kugoyang-goyangkan mukaku mengusap ke seluruh
permukaan bukit kemaluan Tante Vivi yang hangat dan empuk. Hidungku
mengambil napas sebentar lalu dengan gairah tinggi kembali kuselipkan
diantara bibir kemaluannya menyentil-nyentil bulatan mungil clitorisnya
dengan ujung hidungku, sementara bibir dan lidahku yang kembali
kutelusupkan sekitar 1 centi memasuki liang vagina sempitnya,
menggelitik-gelitik lembut mulut liang vagina merahnya sembari terus
menyedot cairan lendir miliknya yang masih tersisa.

SEKIAN

Nafsu Tante Vivi

Ustadzah fifi cersexcerita dewasa istri eksibCerita ngentot ibu ibu sangecerita seks tidak sengajaCerita tante maniak sexcerita ngewe ibu jadi istrikuCrita sek hajahCerita tempik dan kontolCerita sex aku dapat perawan adikucerita seks terbaru 2021Cerita sex akhwat selingkuhCerita seks perawan sedarahcerita seks ibuku jdi istrikuCerita seks dewasa tante tanta 40 tahun yang suka ngentot anak SDCerita seks brutal tantekuCerita sex aku di perkosa di gubukCerita sex bersambung akhwatCERITA SEX BOCACerita sex ibuku selingkuhCerita sex ibu tiricerita sex gubukCerita sex gara gara ngintif celana dalam tanteCerita sex dipaksa tanteCerita sex di perkosa yg terhotcerita sex di perkosa anakuCerita sex di ajari ngentot sama tantecerita sex dengan kakekCerita seX bocah tanteCerita sek boca vs stwCerita sek besambung petualangan istri ustad forum semprotCerita hot ngintip mama selingkuhCerita dewasa perkosa tanteCerita dewasa ku di kentot sm anak ku sendiricerita dewasa istri eksibisionis terbaruCerita bokep ngentot saat mudikCerita bokep dewasa awal nya ibu ku di paksa dukun dan akhir di jadikan budak sek di keramainCerita bergambar jilat memek anak tiri lalu dientotceriita perawan sex sedarahCergam ngentotwww daftar cerita birahi bersambung comCerita kuentot istriku yang bohayCerita ngewek itil temanCerita ngentot temen krj memeknya tembemcerita ngentot tak sengajacerita ngentot perkosa ibu dengan analCerita ngentot hijab suami lumpuhcerita ngentot dipaksa tanteCerita ngentot di gubukCerita ngentot dengan dibawa umurCERITA NGENTOT CEWEK BERHIJAB SAMPAI HAMIL