Pelajaran Dari Tante soffie

18th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1683 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Pelajaran Dari Tante soffie

“Tante nggak nyangka kamu bisa sekuat ini, Di..”.

“Hmm…”.

“Betul ini baru yang pertama kali kamu lakukan?”.

“Iya tante..”.

“Nggak pernah sama pacar kamu?”.

“Nggak punya tante…”.

“Yang bener aja ah”.

“Iya bener, nggak bohong kok, tante…, tante nggak kapok kan ngajarin saya yang beginian?”.

“Ya
ampuuun..” Ia mencubit genit, “masa sih tante mau ngelepasin kamu yang
hebat gini, tahu nggak Di, suami tante nggak ada apa-apanya dibanding
kamu..”.

“Maksud tante?”.

“Om Totomu itu kalau main paling lama
tiga menit…, lha kamu? Tante sudah keluar beberapa kali kamu belum
juga, apa nggak hebat namanya”.

“Ngaak tahu deh tante, mungkin karena baru pertama ini sih…”.

“Tapi
menurut tante kamu emang punya bakat alam, lho? Buktinya baru pertama
begini saja kamu sudah sekuat itu, apalagi kalau sudah pengalaman
nanti…, pasti tante kamu bikin KO…, lebih dari yang tadi”.

“Terima kasih tante..”.

“Untuk?”.

“Untuk yang tadi..”.

“Tante yang terima kasih sama kamu…, kamu yang pertama membuat tante merasa seperti ini”.

“Saya nggak ngerti…”.

“Di..,
dua puluh tahun lebih sudah usia perkawinan tante dengan Om Toto. Tak
pernah sedetikpun tante menikmati hubungan badan yang sehebat ini.
Suami tante adalah tipe lelaki egois yang menyenangkan dirinya saja.
Tante benar-benar telah dilecehkannya. Belakangan tante berusaha
memberontak, rupanya dia sudah mulai bosan dengan tubuh tante dan
seperti rekannya yang lain sesama pejabat, ia menyimpan beberapa wanita
untuk melampiaskan nafsu seksnya. Tante tahu semua itu dan tante nggak
perlu cerita lebih panjang lebar karena pasti kamu sudah sering
mendengar pertengkaran tante”, Suaranya mendadak serius, tanganku
memeluk tubuhnya yang masih telanjang. Ada sebersit rasa simpati
mendengar ceritanya yang polos itu, betapa bodohnya lelaki bernama Om
Toto. Perempuan secantik dan senikmat ini di biarkan merana.

“Kriiing…, kriiing…, kriiing”, aku terhenyak kaget.

“Celaka..! Pasti…, mmungkin?, tante…, gimana nih?”.

“pssstt..”
Ia menempelkan telunjukknya di bibirku lalu tangan tante Sofi
mengangkat gagang telfon yang berada di samping tempat tidur. Ia
terduduk, masih tanpa busana, pemandangan asyik untukku yang ada tepat
di belakangnya.

“Celaka, jangan-jangan…, Om Toto tahu.., Ah nggak munkin mereka sudah sampai di LA..”, batinku merasa khawatir.

“Halooo…, eh Son?”, aku tambah khawatir.

“Udah nyampe kalian..?”.

“ooo…, mereka sudah di…”, hatiku agak lega mendengarnya.

“Lia
sama adik kamu gimana?”, ternyata Sonny menelfon dari Amerika. Hanya
memberitahu mamanya kalau mereka sudah sampai. Tampak sekali hubungan
Om Toto dan istrinya sedang renggang, tak kudengar mereka berbicara.
Hanya Sonny dan Julia.

“Kamu nanti kalau balik ke sini bawa
oleh-oleh lho?”, tanganku iseng meraba punggungnya yang halus mulus.
Tante Sofi melirik nakal sambil terus berbicara. “Apa aja yang penting
ada buat Mama…, eh!” ia merasa geli saat aku mencium pinggangnya, aku
memeluknya dari arah belakang, tanganku meraba permukaan buah dada itu
dan sedikit memijit.

“Ah nggak…, ada nyamuk di kaki Mama…, hmm,
trus pacar kamu gimana, kirain jadi ngajak doi ke situ”, kepalaku kini
bersandar di atas pahanya, mataku lagi-lagi melirik buah dada itu,
tangankupun, “ahh…, aduh nyamuknya banyak sekarang yah, ooo Mama kan
belum tutup jendela…, hmm..” mata Tante Sofi terpejam begitu tanganku
menyentuh permukaan buah dadanya, merayap perlahan menyusuri kelembutan
bukit indah itu menuju puncak dan, ” mm a..” aku memintir putingnya
yang coklat kemerahan itu. “Mama lagi baca ini lho artikel masakan khas
Amerika latin kayaknya nikmat ya?” telapak tanganku mulai lagi,
meremasnya satu persatu, “Hmm”, Tante Sofi rupanya pintar juga membuat
alasan pada anaknya. Sambil terus berbicara di telepon dengan sebelah
tangannya ia meraih penisku yang mulai tegang lagi. Aku hampir saja
lupa kalau ia sedang on line, hampir saja aku mendesah. Untung Tante
Sofi cepat menyumbat mulutku dengan tangannya. Nyaris saja.

“Eh,
kakakmu gimana prestasinya”, jari telunjuk Tante Sofi mengurut tepat di
leher bawah kepala penisku, semakin tegang saja, shitt…, aku nggak
bisa bersuara. Aku tak tahan dan beranjak turun dari tempat tidur itu
dan langsung berjongkok tepat di depan pahanya di pinggiran spring bed,
menguak sepasang paha montok dan putih itu ke arah berlawanan.

“mmhh…,
aahh…, oh nggak, Mama cuma sedikit kedinginan…, uuuhh” lidahku
langsung mendarat di permukaan segitiga terlarang itu.

“ssshh yaa…,enakkk..”, Tante Sofi sedikit keceplosan.

“Ini…, nih, Mama tadi dibawain fried chicken sama tante Maurin” ia beralasan lagi.

Lidahku kian mengganas, kelentit sebesar biji kacang itu sengaja kusentuh.

“mm fuuuhh…, Mama ngantuk nih…, mau bobo dulu, capek dari kerja tadi, yah?

“Udahan
dulu ya sayang…, besok Mama yang telfon kalian…, daah”,
diletakkannya gagang telepon itu lalu Tante Sofi mematikan sistem
sambungannya.

“Lho kok dimatiin teleponnya tante?”.

“Tante nggak
mau diganggu siapapun malam ini, malam ini tante punya kamu, sayang.
Tante akan layani kamu sampai kita berdua nggak kuat lagi. Kamu boleh
lakukan apa saja. Puaskan diri kamu sayang aahh”, aku tak mempedulikan
kata-katanya, lidahku sibuk di daerah selangkangannya.

Malam itu
benar-benar surga bagi kami, permainan demi permainan dengan segala
macam gaya kami lakukan. Di karpet, di bathtub, bahkan di ruang tengah
dan di meja kerja Om Toto sampai sekitar pukul tiga dini hari. Kami
sama-sama bernafsu, aku tak ingat lagi berapa kali kami melakukannya.
Seingatku disetiap akhir permainan, kami selalu berteriak panjang.
Benar-benar malam yang penuh kenikmatan.

Aku terbangun sekitar jam 11 siang, badanku masih terasa sedikit pegal. Tante Sofi sudah tidak ada di sampingku.

“Tante..?”
pangilku setengah berteriak, tak ada jawaban dari istri Om Toto yang
semalam suntuk kutiduri itu. Aku beranjak dari tempat tidur dan
memasang celana pendek, sprei dan bantal-bantal di atas tempat tidur
itu berantakan, di banyak tempat ada bercak-bercak bekas cairan kelamin
kami berdua. Aku keluar kamar dan menemukan secarik kertas berisi
tulisan tangan Tante Sofi, ternyata ia harus ke tempat kerjanya karena
ada kontrak yang harus dikerjakan.

“Hmm…, padahal kalau main baru bangun tidur pastilah nikmat sekali”, pikiranku ngeres lagi.

Aku
kembali ke kamar Tante Sofi yang berantakan oleh kami semalam, lalu
dengan cekatan aku melepas semua sprei dan selimut penuh bercak itu.
Kumasukkan ke mesin cuci. Tiga puluh menit kemudian kamar dan ruang
kerja Om Toto kubuat rapi kembali. Siap untuk kami pakai main lagi.

“Fuck..! Aku lupa sekolah…, ampuuun gimana nih”, Sejenak aku berpikir dan segera kutelepon Tante Sofi di kantornya.

“Halo PT. Chandra Asri International, Selamat pagi”, suara operator.

“Ya Pagi.., Bu Sofi ada?”.

“Dari siap, pak?”.

“Bilang dari Sonny, anaknya..”.

“Oh Mas sonny”.

“Huh dasar sok akrab”, umpatku dalam hati.

“Halo Son, sorry Mama nggak nelpon kamu pagi ini…, Mama telat bangunnya” aku diam saja.

“Halo…, halo…, Son.., Sonny”.

“Saya, Tante. Didi bukan Mas Sonny…”.

“Eh kamu sayang…, gimana? mau lagi? Sabar ya, tungguin tante..”.

“Bukan begitu tante.., tapi saya jadi telat bangun…, nggak bisa masuk sekolah”.

“Oooh gampang.., ntar tante yang telepon Pak Yogi, kepala sekolah kamu itu…, tante bilang kamu sakit yah?”.

“Nggak ah tante, ntar jadi sakit beneran..”.

“Tapi emang benar kan kamu sakit…, sakit.., sakit anu! Nah lo!”.

“aah, tante…, tapi bener nih tante tolong sekolah saya di telepon yah?”.

“Iya…, iya.., eh Di.., kamu kepingin lagi nggak..”.

“Tante genit”.

“Nggak mau? Awas lho Tante cari orang lain..”.

“Ah Tante, ya mau dong…, semalam nikmat yah, tante..”.

“Kamu hebat!”.

“Tante juga…., nanti pulang jam berapa?”.

“Tunggu aja…, sudah makan kamu?”.

“Belum, tante sudah?”.

“Sudah…, mm, kalau gitu kamu tunggu aja di rumah, tante pesan catering untuk kamu…, biar nanti kamu kuat lagi”.

“Tante bisa aja…, makasih tante..”.

“Sama-sama, sayang…, sampai nanti ya, daahh”.

“Daah, tante”.

Tak sampai sepuluh menit seorang delivery service datang membawa makanan.

“Ini dari, Bu Sofi, Mas talong ditandatangan. Payment-nya sudah sama Bu Sofi”.

“Makasih, mang..”.

“Sama-sama, permisi..”.

Aku
langsung membawanya ke dalam dan menyantapnya di depan pesawat TV,
sambil melanjutkan nonton film porno, untuk menambah pengalaman.
Makanan kiriman Tante Sofi memang semua berprotein tinggi. Aku tahu
benar maksudnya. Belum lagi minuman energi yang juga dipesannya
untukku. Rupanya istri Om Toto itu benar-benar menikmati permainan seks
kami semalam, eh aku juga lho…, kan baru pertama. Sambil terus makan
dan menyaksikan film itu aku membayangkan tubuh dan wajah Tante Sofi
bermain bersamaku. Penisku terasa pegal-pegal dibuatnya. Huh…,aku
mematikan TV dan menuju kamarku.

“Lebih baik tidur dan menyiapkan
tenaga…”, aku bergumam sendiri dalam kamar.Sambil membaca buku
pelajaran favorit, aku mencoba melupakan pikiran-pikiran tadi.
Lama-kelamaan akupun tertidur. Jam menunjukkan pukul 12.45.

Sore harinya aku terbangun oleh kecupan bibir Tante Sofi yang ternyata sudah ada di sampingku.

“Huuuaah…, jam berapa sekarang tante?”.

“Hmm..,
jam lima, tante dari tadi juga sudah tidur di sini, sayang kamu tidur
terlalu lelap. Tante sempat tidur kurang lebih dua jam sejak tante
pulang tadi, gimana, kamu sudah pulih..”.

“Sudah dong tante, empat
jam lebih tidur masa sih nggak seger..”, kami saling berciuman mesra,
“crup…, crup”, lidah kami bermain di mulutnya.

“Eh…, tante mau
jajan dulu ah…, sambil minum teh, yuuk di taman. Tadi tante pesan di
Dunkin…, ada donat kesukaan kamu”, ia bangun dan ngeloyor keluar
kamar.

“Uh.., Tante Sofi..”, gumamku pelan melihat bahenolnya tubuh
kini terbungkus terusan sutra transparan tanpa lengan. Bayangan CD dan
BH-nya tampak jelas.

Aku masih senang bermalas-malasan di tempat
tidur itu, pikiranku rasanya tak pernah bisa lepas dari bayangan
tubuhnya. Beberapa saat saja penisku sudah tampak tegang dan berdiri,
dasar pemula! Sejak sering tegang melihat tubuh Tante Sofi sebulan
belakangan ini, aku memang jarang memakai celana dalam ketika di rumah
agar penisku bisa lebih leluasa kalau berdiri seperti ini.

“Hmm,
tante Sofi…, aahh” desahku sambil menggenggam sendiri penisku,
aneh…, aku membayangkan orang yang sudah jelas bisa kutiduri saat itu
juga, tak tahulah…, rasanya aku gila!

Tanganku mengocok-ngocok
sendiri hingga kini penis besar dan panjang itu benar-benar tegak dan
tampak perkasa sekali. Aku terus membayangkan bagaimana semalam kepala
penis ini menembus dan melesak keluar masuk vagina Tante Sofi. Kutengok
ke sana ke mari.

“Tante..”, panggilku.

“Di dapur, sayang”,
sahutnya setengah berteriak, aku bergegas ke situ, kulihat ia sedang
menghangatkan donat di microwave. Dan…, uuuhh, tubuh yang semalam
kunikmati itu, dari arah belakang…, bayangan BH dan celana dalam
putih di balik gaun sutranya yang tipis membuatku berkali-kali menelan
ludah.

“uuuhh tante…, sayang”, tak sanggup lagi rasanya aku
menahan birahiku, kupeluk ia dari belakang, sendok yang ada di
tangannya terjatuh, penisku yang sudah tegang kutempelkan erat di
belahan pantatnya.

“Aduuuhh…, Didi nakal kamu ah..” ia
melirikku dengan pandangan menggoda. Aku semakin berani, tangan kananku
meraih buah dada Tante Sofi dari celah gaun di bawah ketiaknya. Lalu
tangan kiriku merayap dari arah bawah, paha yang halus putih mulus itu
terus ke arah gundukan kemaluannya yang masih berlapis celana dalam.
Telunjuk dan jari tengahku langsung menekan, mengusap-usap dan mencubit
kecil bibir kemaluannya.

“Ehhmm…, nnggg…, aahh…, nakaal, Didi”.

“Tante…,
tante, saya nggak tahan ngeliat tante…, saya bayangin tubuh tante
terus dari tadi pagi” Tangan kiriku menarik ujung celana dalam itu
turun, ia mengangkat kakinya satu persatu dan terlepaslah celana
dalamnya yang putih. Kutarik cup BH-nya ke atas hingga tangan kananku
kini bebas mengelus dan meremas buah dadanya. Dengan gerak cepat
kulorotkan pula celana dalam yang kupakai lalu bergegas tangan kiriku
menyingkap gaun sutranya ke atas. Kudorong tubuh Tante Sofi sampai ia
menunduk dan terlihaylah dengan jelas celah vaginanya yang masih tampak
tertutup rapat. Aku berjongkok tepat di belakangnya.

“Idiiihh,
Didi. Tante mau diapain nih..”, katanya genit. Lidahku menjulur ke arah
vaginanya. Aroma daerah kemaluan itu merebak ke hidungku, semakin
membuatku tak sabar dan…, “huuuhh…, srup.., srup.., srup”, sekali
terkam bibir vagina sebelah bawah itu sudah tersedot habis dalam
mulutku.

“aahh.., Didi…, enaakkk..”, jerit perempuan setengah baya itu, tangannya berpegang di pinggiran meja dapur.

“aawwww…,
geliii”, kugigit pantatnya. Uuh, bongkahan pantat inilah yang paling
mengundang birahiku saat melihatnya untuk pertama kali. Mulus dan
putih, besar menggelembung dan montok.

Lima menit kemudian aku
berdiri lagi setelah puas membasahi bibir vaginanya dengan lidahku.
Kedua tanganku menahan gerakan pinggulnya dari belakang, gaun itu masih
tersingkap ke atas, tertahan jari-jari tanganku yang mencengkeram
pinggulnya. Dan hmm, kuhunjamkan penis besar dan tegang itu tepat dari
arah belakang, “Sreeep…, Bleeesss”, langsung menggenjot keluar masuk
vagina Tante Sofi.

“aahh…, Didi…, enaak…, huuuhh tante senang yang ini ooohh..”

“Enak kan tante…, hmm…, ooohh…, agak tegak tante biar susunya…, yaakkk oooh enaakk”.

“Yaahh…,
tusuk yang keras…, hmm…, tante nggak pernah gini sebelumnya…,
ooohh enaakk pintarnya kamu sayaang…, ooohh enaak…, terus…, terus
yah tarik dorong keeeraass…, aahh…, kamu yang pertama giniin tante,
Di…, ooohh…, ssshh..”, hanya sekitar tiga menit ia bertahan dan,
“Hooohh…, tante…, mauuu…, keluar…, sekarang…, ooh hh…,
sekarang Di, aahh…”. Vaginanya menjepit keras, badannya tegang dengan
kepala yang bergoyang keras ke kiri dan ke kanan.

Aku tak
mempedulikannya, memang sejenak kuberi ia waktu menarik nafas panjang.
Aku membiarkan penisku yang masih tegang itu menancap di dalam. Ia
masih menungging kelelahan.

“Balik tante..”, Pintaku sambil melepaskan gigitan di kemaluannya.”Apalagi, sayang…, ya ampun tante nggak kuat.., aahh”.

Aku
meraih sebuah kursi.ia mengira aku akan menyuruhnya duduk, “Eiih bukan
tante, sekarang tante nyender di dinding, Kaki kiri tante naik di kursi
ini..”.

“Ampuuun, Didi…, tante mau diapain sayang..”, ia menurut saja.

Wooow! Kudapatkan posisi itu, selangkangan itu siap dimasuki dari depan sambil berdiri, posisi ini yang membuatku bernafsu.

“Sekarang
tante…, yaahh..”, aku menusukkan penisku dari arah depannya, penisku
masuk dengan lancar. Tanganku meremas kedua susunya sedangkan mulut
kami saling mengecup.

“mmhh…, hhmm..”, ia berusaha menahan kenikmatan itu namun mulutnya tertutup erat oleh bibirku.

Hmm,
di samping kanan kami ada cermin seukuran tubuh. Tampak pantatku
menghantam keras ke arah selangkangannya. Penisku terlihat jelas keluar
masuk vaginanya. Payudaranya yang tergencet dada dan tanganku semakin
membuatku bernafsu.

“Cek.., cek.., cek”, gemercik suara kemaluan
kami yang bermain di bawah sana. Kulepaskan kecupanku setelah tampak
tanda-tanda ia menikmatinya.

“uuuhh hebaat…,, kamu sayang…,
aduuuh mati tante…, aahh enaak mati aku Di, ooohh…, ayo keluarin
sayang…, aahh tante capeeekkk…, sudah mau sampai lagi niiih aahh..”
wajahnya tampak tegang lagi, pipinya seperti biasa, merah, sebagai
tanda ia segera akan orgasme lagi.

Kupaksakan diriku meraih
klimaks itu bersamaan dengannya. Aku agaknya berhasil, perlahan tapi
pasti kami kemudian saling mendekap erat sambil saling berteriak keras.

“aahh…, tante keluaar..”.

“Saya
juga tante huuhh…, nikmat.., nikmat…, ooohh…, Tante Sofi…,
aahh”, dan penisku, “Crat.., crat.., crat.., seeer”, menyemprotkan
cairannya sekitar lima enam kali di dalam liang vagina Tante Sofi yang
juga tampak menikmati orgasmenya untuk kedua kali.

“Huuuhh…,
capeeekk…, sayang” ia melepaskan pelukannya dan penisku yang masih
menancap itu. Hmm, kulihat ada cairan yang mengalir di pahanya bagian
dalam, ada yang menetes di lantai.

“Mau di lap tante?”, aku menawarkan tissue.

“Nggak
sayang…, tante senang, kok. Tante bahagia…, yang mengalir itu
sperma kamu dan cairan kelamin tante sendiri. Tante ingin
menikmatinya..”, ia berkata begitu sambil memberiku sebuah ciuman.

“Hmm..,
Tante Sofi..”, Kuperbaiki letak BH dan rambutnya yang acak-acakan,
kemudian ia kembali menyiapkan jajanan yang sempat terhenti oleh ulah
nakalku.

Aku kembali ke kamar dan keluar lagi setelah mengenakan
baju kaos. Tante Sofi telah menunggu di taman belakang rumahnya yang
sangat luas, kira-kira sekitar 25 acre. Kami duduk santai berdua sambil
bercanda menikmati suasana di pinggiran sebuah danau buatan. Sesekali
kami berciuman mesra seperti pengantin baru yang lagi haus kemesraan.
Jadilah dua minggu kepergian keluarga Om Toto itu surga dunia bagiku
dan Tante Sofi. Kami melakukannya setiap hari, rata-rata empat sampai
lima kali sehari!

Menjelang sore, Tante Sofi mengajakku mandi
bersama. Bisa ditebak, kami melakukannya lagi di bathtub kamar mandi
mewah itu. Saling menyabuni dan…, hmm, bayangin sendiri deh. Itulah
pengalaman pribadiku saat pertama mengenal seks bersama guru seks-ku
yang sangat cantik, Tante Sofi.

TAMAT

Pelajaran Dari Tante soffie

cersekKumpulan cerita sex tante tante doyan colmek