Penakluk Wanita

7th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1178 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Penakluk Wanita

“Jadilah diri sendiri, sudah hilang masa
dimana manusia hidup dalam ketakutan akan pandangan orang lain. Bagiku
orang seperti itu adalah kera, sedang aku sudah berevolusi menjadi
manusia yang sebenarnya. Tidak ada manusia yang selalu benar di muka
bumi ini, maka kenapa takut berbuat salah. Yang penting memang itulah
aku apa adanya.”

Itu mottoku selama ini. Tak ada yang salah
dengan motto itu, karena aku dapat apa yang aku ingin dan aku bahagia.
Jika ada yang tidak suka, tuntut saja aku! Aku tidak takut! Bakat..!
Aku yakin semua orang memilikinya. Hanya saja ada mereka yang tidak
mengetahui atau lingkungan tidak menerima bakat itu sehingga kini
mereka harus menjalani hidup yang membosankan. Hari demi hari dilalui
begitu saja tanpa peningkatan dan kegembiraan saat mereka menjalaninya.

Sedangkan
mereka yang lain lebih beruntung, karena kemampuan terbaik mereka
tersalurkan. Ronaldo dengan sepakbolanya, Michael Jordan dengan
basketnya, Jendral Arthur dengan taktik perangnya, Bon Jovi dengan
suaranya, Leonardo Da Vinci dengan lukisannya, Einstien dengan
penelitiannya, Al Capone dengan perampokan bank dan gank mafianya, Jack
De Riper dengan pembunuhan berantainya, Hitler dengan NAZI-nya, Madam
Omiko dengan rumah bordilnya, bahkan Dorce mampu mengasuh 1500 anak
yatim piatu setelah menjadi wanita, serta masih banyak lagi nama-nama
yang menjalani hidup bahagia sesuai dengan kata hatinya.

Resiko
dalam hidup adalah hal yang pasti, jika kita memilih jadi pengecut maka
jadilah pengecut sampai kita mati. Aku sempat merasakan hal itu, sampai
mataku terbuka dan kini aku hidup bahagia dari hari ke hari.

Tiap
orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan. Tulisan ini akan
menceritakan 26 tahun kisah hidupku yang membuatku sadar bahwa aku
harus menjadi diriku sendiri dan mengembangkan bakatku yang dilahirkan
sebagai penakluk kemaluan wanita sejati.

Aku anak satu-satunya,
di tengah keluarga berada. Ayahku seorang pengusaha dan ibuku manager
sebuah perusahaan. Sampai SMP kelas 3 semua yang aku alami biasa saja.
Ya, makan, minum, belajar, bimbel, les musik, dan rekreasi bersama
keluarga tiap liburan, hal-hal yang sebenarnya membosankan. Tapi waktu
itu aku tidak menyadari bahwa itu membosankan karena aku tidak berpikir
sejauh itu.

Semua itu berubah ketika aku sakit di sekolah dan
pulang lebih dulu. Sampai di rumah kulihat di garasi ada mobil ibuku,
ternyata dia sudah pulang. Aku ingin segera menemuinya untuk melaporkan
sakitku. Tapi ketika aku akan mencapai pintu kamarnya yang sedikit
terbuka aku dengar erangan ibuku merintih kesakitan. Kulihat dari sela
pintu yang terbuka seorang lelaki berada di atas ibuku. Dia
memaju-mundurkan pantatnya. Aku segera bersembunyi takut ketahuan. Oh
Tuhan! Itu adik ayahku. Dia dan ibuku sedang bersetubuh. Dorongan yang
ada dalam hati adalah melihat persetubuhan mereka.

Aku menahan
keinginan untuk mengintip, tapi dorongan untuk kembali melihat lebih
besar. Akhirnya kuintip mereka dari sela-sela pintu. Sebenarnya tidak
ada yang bisa dilihat. Yang kulihat hanya mata ibuku terpejam dan
digelengkan ke kiri dan kanan, serta pantat om-ku yang naik-turun, itu
saja. Sampai suatu ketika om-ku berteriak keras dan menekan pantatnya
lama ke bawah.

Lalu dia merebahkan badannya di atas ibuku dan
mencium bibir ibuku dengan batang kemaluan masih di dalam kemaluan
ibuku. Tak lama lalu ibuku memegang batang kemaluan om-ku dan mencabut
dari lubang kemaluannya. Setelah itu dia merebahkan lagi badannya.
Om-ku pun berbaring di samping ibuku dan kembali mencium bibir ibuku.
Saat itulah bisa kulihat dengan jelas batang kemaluan om-ku yang masih
tegak berdiri, dan lubang kemaluan ibuku yang mengeluarkan cairan di
sela-sela bibirnya. Warnanya merah dan masih tebuka. Itu pertama kali
aku melihat kemaluan seorang wanita. Indah sekali…!

Sebelum
mereka bangun aku sembunyi lagi, secara perlahan-lahan meninggalkan
tempat itu dan pergi dari rumah. Aku tak mau mereka memergokiku. Aku
baru kembali tepat saat jam anak-anak sekolah pulang ke rumah.

Kejadian
itu selalu terbayang dalam benakku. Dorongan di hati untuk
mempraktekkan apa yang kulihat selalu tumbuh. Tapi aku tidak berani
melakukannya, selain itu mau sama siapa. Mau sama pelacur? dimana dan
kapan waktunya? Aku juga malu mendatangi tempat seperti itu. Aku sadar
aku masih anak-anak. Mau melakukan sama teman sekolah? Waduh kalau
ketahuan sama keluarga besar dan teman-teman sekolah aku jadi lebih
malu lagi. Rasa malulah yang membatasi terpenuhinya keinginanku
bersetubuh dengan wanita.

Akhirnya aku tahan terus perasaan itu
sampai pada suatu saat saudara sepupuku yang berusia sama dengan diriku
akan melanjutkan SMA-nya di kotaku. Namanya Rosa, waktu itu kami berdua
sudah lulus SMP. Dia anak tanteku dari Malang, dan akan tinggal bersama
kami selama SMA. Dia SMA di sini agar bisa ikut bimbel dan lebih mudah
masuk ke Unpad. Wajahnya cantik dan tubuhnya langsing sama seperti
semua wanita dalam keluarga ibuku.

Tiap melihat wajahnya aku
selalu teringat adegan pesetubuhan ibuku dan ingin sekali memasukkan
batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan adik sepupuku itu. Aku
sering membayangkan wajahnya berkeringat dan merintih-rintih kenikmatan
saat berada di atasku sambil pantatnya naik-turun di atas batang
kemaluanku. Hal ini tidak pernah aku katakan padanya karena aku takut
dia akan marah, dan melaporkanku ke keluarga besar. Tentu saja aku akan
malu setengah mati.

Aku tetap saja hidup dalam rasa takut untuk
memenuhi keinginanku, hal itu sangat menyiksaku. Hingga pada suatu sore
saat aku dan sepupuku belajar bersama di kamarku. Kami baru saja mandi
dan sama-sama memakai piyama. Perbedaan piyama kami adalah celanaku
panjang sedangkan dia pendek. Ketika kami mulai belajar, tiba-tiba dia
berkata,

“Wa, kamu katanya pacaran ya? Kok enggak dikenalin?” candanya sesaat setelah kami mulai membuka buku.

“Yeee.. Isu tuh?” jawabku.

Aku bilang itu karena aku memang belum punya pacar.

“Gimana
mau punya pacar. Bokap nyokap aja udah wanti-wanti untuk nggak pacaran
sampai aku lulus SMA,” tambahku sambil terus belajar.

“Alaaahh..! Kamu kan pacaran sama Yenni,” candanya lagi.

Yeni
adalah cewek terjelek di kelasku. Badannya gemuk, hitam, dan giginya
tonggos. Tapi walaupun begitu gayanya tetap sok gaul. Rambut di bikin
punk dan ngomongnya dimesra-mesrain. Wiihh..! Siapa yang bakal mau sama
dia.

“Enaakkk aja lo!” jawabku dengan tawa berderai.

Dia pun ikut tertawa.

“Alah ngaku aja Wa, jangan malu!” katanya tetap menggodaku sambil tertawa terbahak-bahak.

“Lu tega amat sih? Suer kagak. Busyeett deh! Kayak nggak ada cewek lain aja.”

Mungkin
dia lagi ingin becanda, dia tetap menggodaku pacaran dengan Yeni. Aku
pun tetap saja mengelaknya. Sampai akhirnya dia bilang,

“Atau kamu pacaran sama Reka?” tawanya berderai saat bilang Reka.

Reka sama parahnya dengan Yeni.

“Eh Sa..! Kamu kalau godain lagi dicium nih!” kataku sambil menunjukkan mimik serius.

“Siapa yang takut..! Weekkss,” katanya sambil menjulurkan lidahnya.

Langsung
kucium pipinya sekilas dan aku kembali lagi ke tempatku. Oh Tuhan apa
yang aku lakukan! Bagaimana kalau dia melaporkan ke orangtuanya. Aku
terdiam, dia pun terdiam sambil mata kami saling bertatapan. Kami terus
diam sampai sekitar semenit.

Tiba-tiba dia bilang, “Cantik mana
Wa, Reka atau Yeni? Hihihihihiihi..!” dia berkata sambil
terkekeh-kekeh. Ternyata dia menggodaku lagi. Aku langsung meloncat ke
arahnya. Aku gelitik pinggangnya dan kami berguling-guling di atas
tempat tidurku. Aku terus menggelitiknya, dia pun menggeliat-geliat
menahan gelinya. Kami terus tertawa terbahak-bahak sampai tiba-tiba
kami terdiam dengan nafas terengah-engah. Ketika kami sadari, badanku
ternyata sedang menindih badannya. Pahanya terbuka dan pinggulku berada
di antara selangkangannya. Tangan kananku masih memegang pinggangnya,
sedang tangan kiriku bertumpu pada kasur. Kami terdiam ketika menyadari
posisi kami. Nafas dia yang lembut terasa di wajahku.

Kuberanikan
diri memajukan wajahku dan kukecup sekali. Kulihat dia memejamkan
matanya. Lalu kucium lagi kali ini disertai dengan lumatan pada
bibirnya. Dia awalnya diam saja, tak lama dia membalas lumatan bibirku.
Kami berpagutan cukup lama. Rasanya nikmat sekali. Kucoba menurunkan
tangan kananku untuk meraba susunya. Terasa kenyal di telapak tangan.
Kuremas-remas dan kuputar. Dia mendesah sambil terus mencium bibirku.
Lalu tangannya dilingkarkan ke leherku. Sambil masih terus berciuman
tangan kananku kuturunkan lagi untuk membuka ikat celana piyamaku.
Celana piyamaku turun sampai sepaha. Tentu saja mudah melakukannya,
tapi untuk melepaskan celana dalam, aku tak mau karena berarti aku
harus melepaskan posisi kami sekarang. Rasanya terlalu indah untuk
dihentikan. Akhirnya kukeluarkan kemaluanku melalui bagian pinggir
celana dalamku. Kutarik-tarik sedikit agar lebih longgar.

Kami
terus berpagutan, bibir kami tetap saling melumat. Tangan kananku
kuusapkan ke pahanya, kunaikkan celana piyamanya ke atas, terus ke atas
hingga kurasan tanganku menyentuh gundukan di antara selangkangannya.
Oh Tuhan! Itu pasti kemaluannya. Terasa tebal dan basah. Dia melenguh
lagi. Lalu kusingkapkan sisi celana dalamnya. Kutarik paksa ke sisi
yang lain, hal ini agar bibir kemaluannya terbuka dan tidak terhalang.
Setelah pasti tidak akan terhalang lagi dengan celana dalamnya, aku
memegang pangkal batang kemaluanku. Kudekatkan batang kemaluanku ke
arah lubang kemaluannya. Saat melakukan itu semua kami masih berciuman.

Kugesek-gesekkan
kepala kemaluanku ke bibir kemaluannya. Rasanya nikmat sekali. Badan
Rosa agak naik ketika aku melakukannya. Saat itu kami masih terus
berciuman. Ciuman kami makin ganas. Lidah kami saling bertemu. Karena
tidak tahan untuk bersetubuh, kuletakkan kepala kemaluanku di tengah
bibir kemaluannya. Kutekan sedikit pantatku ke depan. Merasa batang
kemaluanku akan masuk ke lubang kemaluannya, Rosa berkata pelan seperti
berguman, “Wa..! Jangan Wa..!” katanya sangat pelan sambil terus
berciuman. Sepertinya dia tidak sungguh-sungguh menyuruhku berhenti.

Aku
pura-pura tak mendengarnya. Kutekan pantatku ke depan. Susah sekali
memasukkan batang kemaluan ini, kugeser letak kemaluanku agak ke bawah
bibir kemaluannya. Pelan-pelan kutekan lagi pantatku, kali ini
tiba-tiba terasa ada sesuatu yang mengulum kepala kemaluanku. Oh Tuhan!
Rasanya luar biasa nikmat. Batang kemaluanku seperti diremas-remas.
Dada Rosa terangkat ke atas dan kepalanya didongakkan ke atas. Hal ini
membuat kami berhenti berciuman. Maka kuarahkan bibirku pada lehernya.
Kucium lehernya yang putih dan harum.

Kutekan lagi pantatku,
perlahan-lahan batang kemaluanku masuk semuanya. Aku hanya bisa
memejamkan mataku menahan pijatan rongga kemaluan Rosa di seluruh
batang kemaluanku. Lalu kumaju-mundurkan pantatku berulang-ulang.
Batang kemaluanku keluar-masuk melewati bibir kemaluan Rosa.
Kuperhatikan reaksi yang dilakukan Rosa dan Ibuku agak berbeda. Rosa
hanya mendongakkan kepalanya dan menggigit bibirnya sendiri dengan mata
terpejam. Sedangkan Ibuku menggeleng-gelengkan kepalanya kiri kanan,
dengan pantat ikut naik turun dan mulut yang tak henti merintih.

Setelah sekian menit, tiba-tiba Rosa
mencengkeram bahuku dan badannya terhentak-hentak ke depan, sedangkan
perutnya tertarik ke dalam. Rupanya dia mencapai orgasme. Terasa
jepitan di dalam lubang kemaluannya. Rongga kemaluannya terasa
menggigit lembut batang kemaluanku. Aku pun mempercepat kocokanku.
Ouughh! Nikmat terasa di seluruh syarafku. Tak lama, kenikmatan yang
kurasa dari tadi menjadi berlipat-lipat. Seiring gesekan batang
kemaluanku dengan lubang kemaluannnya, kurasa seperti ada sesuatu yang
tersumbat dalam batang kemaluanku yang ingin keluar.

“Ouughh!”
kataku ketika aku mencapai orgasme. Aku muntahkan spermaku dalam rongga
lubang kemaluannya. Badanku mengejang dan terhentak-hentak. Rasanya
seluruh batang kemaluanku seperti disedot-sedot. Badanku terasa lemas
dan aku lalu terkulai menindih badan Rosa. Karena merasa keberatan,
lalu Rosa mendorong bahu kananku sehingga kini kami saling berhadapan
dengan posisi menyamping. Batang kemaluanku masih berada dalam lubang
kemaluannya. Masih terasa kedut-kedut dan remasan yang membuat batang
kemaluanku tetap tegang. Dalam posisi ini kami lalu berciuman dan
berpagutan.

Setelah sekian lama berpagutan dengan batang
kemaluan masih berada di dalam, lalu Rosa memegang batang kemaluanku
dan mencabutnya keluar dari lubang kemaluannya. “Wa..! Kita buka baju
aja yuk..!” katanya. Demi hujan badai, aku terkejut. Ternyata wanita
jika sudah terangsang jadi lebih berani. Mereka tidak malu lagi untuk
memulai. Aku mengangguk. Dia lalu mencium bibirku, dan sambil berciuman
kami membuka pakaian pasangannya masing-masing. Setelah itu kami
melakukan seks sekali lagi dan kali ini terasa lebih nikmat karena kami
sudah bertelanjang bulat. Gesekan antara kulit kami dan gigitan pada
puting baik yang saya lakukan maupun yang dia lakukan menghasilkan
kenikmatan yang luar biasa.

Kami selesai melakukan seks untuk
yang kedua kali, tepat saat terdengar teriakan ayahku dari lantai bawah
yang menyuruh kami untuk turun makan malam. Pada waktu itu aku sedang
membasuh lubang kemaluannya di kamar mandiku. Dia duduk di dudukan
closet, badan di senderkan ke belakang dan kakinya di kakangkan.
Terlihat gundukan lubang kemaluannya dikelilingi bulu-bulu tipis.
Lubang kemaluannya sangat tebal dan bibir kemaluannya masih terbuka.
Permukaan rongga lubang kemaluannya masih berdenyut-denyut. Indah
sekali. Lalu kusiramkan air ke atasnya.

“Hiii dingin Wa..!”
katanya sambil merapatkan tangannya di dada. Lalu kuambil sabun dan
kugosok perlahan bibir lubang kemaluannya. Ketika tanganku menyentuh
bibir lubang kemaluannya kulihat dia memejamkan mata dan menggigit
bibirnya. Sangat sensual! Melihat itu batang kemaluanku menjadi tegang
lagi, saat itulah kudengar teriakan dari ayahku. Lalu buru-buru kubilas
lubang kemaluannya. Dia membantu menghapus sabun pada lubang
kemaluannya.

“Wa..!! Kamu juga pengen lagi ya?” katanya saat sadar bahwa batang kemaluanku sedang tegang.

“Juga? Berarti kamu juga pengen dong?” aku tersenyum mendengar sepupuku keceplosan.

“Hihihihihi, iya ih Wa. Pengen lagi,” katanya sambil tersipu.

“Entar aja deh,” kataku.

Aku tidak ingin terlambat makan malam.

Lalu
aku membersihkan batang kemaluanku. Dia membantu membersihkan. Gosokan
tangannya sama persis seperti saat aku onani. Walah! Jadi pengen lagi.
Bisa tidak ikut makan malam nih, nanti mereka curiga lagi. Kalau sampai
ketahuan berabe. Malunya itu loh! Masih kecil sudah gituan, sama
saudara lagi. “Udah ah, udah bersih nih,” kataku menjauhkan tangannya.
Lalu kami pun mengambil piyama yang baru, dan memakainya.

“Wa, entar lagi ya!” katanya saat kami menuruni tangga.

“Huss, jangan kenceng-kenceng,” kataku sambil berusaha tidak mengingat-ingat persetubuhan kami.

Aku takut batang kemaluanku besar lagi.

Makan
malam waktu itu terasa lama sekali. Aku ingin cepat-cepat selesai. Tapi
sudah tradisi di keluarga kami, makan malam pasti diisi dengan obrolan.
Karena saat itulah seluruh anggota keluarga bisa berkumpul. Setelah
beberapa lama, tiba-tiba saudara sepupuku berbicara,

“Ayo Wa! Yang tadi belum selesai..!” katanya sambil tersenyum ke arahku.

Aku tentu saja membelalakkan mataku menyuruh dia diam.

“Wah, kalian rajin belajar ya!” kata ayahku mendengar ucapan Rosa.

“Pelajaran apa sih?” sambung ibuku.

Aku melihat ke arah Rosa, aku takut dia akan menceritakan persetubuhan kami.

“Pelajaran baru Tante, dia ini jagonya,” jawab Rosa menunjuk ke arahku.

Walaahh!
Mampus gua! Bokap nyokap curiga tidak ya? Aku benar-benar tegang takut
mereka curiga. “Oh ya! Kok bisa sih? Padahal kamu kan bego banget,”
canda ibuku melihat ke arahku. Tentu saja dia becanda, karena aku
memang tidak “bego”. Aku coba tersenyum, padahal di dalam hatiku
berdebar-debar takut salah jawab.

“Siapa dulu dong Ibunya..!” kataku senang menemukan jawaban yang cocok.

Berderai tawa orangtuaku, aku yakin tidak ada dari mereka yang mengerti maksud sebenarnya dari kata-kataku.

“Sudah
kalian belajar lagi aja. Lagian ini Papa minta dikerokin, katanya masuk
angin,” kata ibuku sambil berdiri dan melap bibirnya dengan serbet.

“Alaahhh pake bilang dikerokin segala,” kataku dalam hati.

Aku merasa sebenarnya mereka akan bersetubuh. Aku lalu berdiri dan melangkah menuju tangga.

Rosa
yang masih duduk sempat-sempatnya bicara, “Wa lanjutin yang tadi Wa!
Belajar sama elo emang enak Wa, nggak ada bosen-bosennya.” Gila ini
anak, kalau mereka tahu bagaimana. Buru-buru kutarik tangannya dan kami
berlari menuju kamarku. Sesampainya di kamar, kami segera mengunci
pintu dan melakukannya sekali lagi. Kami hanya bisa melakukan sekali,
karena ketika aku minta tambah, dia tidak mau. Dia bilang lubang
kemaluannya terasa ngilu.

Setelah kejadian itu, sampai kini,
kami jadi sering melakukannya, tiap belajar bersama (karena itulah kami
rajin belajar), kami melakukan seks sedikitnya sekali. Kami juga sering
mandi bersama. Saling menggosok kemaluan lalu dilanjutkan dengan main
seks. Kami juga mencoba berbagai macam gaya. Aku membeli sebuah buku
seks yang berisi gaya-gaya main seks, lalu kami mempraktekannya bersama.

Dengan
Rosalah pengetahuanku tentang seks bertambah pesat. Bagian-bagian yang
disuka oleh wanita, bagaimana mengatur nafas, dan hal-hal lain. Aku
juga diberitahu kalau rata-rata wanita susah terangsang, ada malah yang
tidak merasakan apa-apa padahal sebuah batang kemaluan sedang
maju-mundur mengisi lubang kemaluannya. Tentu tidak semua wanita mau
disetubuhi seperti itu. Susah untuk membuat seorang wanita mau begitu
saja menyerahkan lubang kemaluannya. Kata Rosa itu semua tergantung
bagaimana keahlian pria membawa sang wanita. Tiap wanita keinginannya
berbeda, sang pria harus bisa melihatnya. Kalau hati sang wanita sudah
kena, mau disetubuhi tiap hari juga enggak apa-apa. Mereka malah senang
lubang kemaluannya dipermainkan oleh pria itu.

Tidak semua pria
diberi kemampuan seperti itu. Ada pria yang sudah sangat beruntung jika
ada seorang wanita yang mau dengan dia. Itu juga mungkin karena
wanitanya sangat jelek atau perawan tua. “Perlu bakat Wa, untuk bisa
mengentot banyak wanita,” kata Rosa. Rosa memang bicaranya vulgar dan
ceplas-ceplos. Aku sendiri lebih memilih kata menyetubuhi dibanding
“ngentot”.

“Percaya nggak Wa. Menurutku kamu punya bakat jadi
tukang entot lo Wa,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Aku tentu
saja tertawa mendengar perkataannya. Saat itu aku tidak percaya kalau
aku memang berbakat. Aku merasa hanya sedang beruntung bisa
melakukannya dengan saudara sepupuku itu. Aku juga tetap hanya merasa
beruntung ketika batang kemaluanku dikulum oleh teman sekelasku. Tapi
ketika aku bisa menyelipkan batang kemaluanku di lubang kemaluan
tanteku, guru SMA-ku, guru les privatku, Rani (saudara sepupuku satu
lagi), dan Tuti (wanita yang kukenal di pesawat). Aku mulai percaya aku
memang ditakdirkan sebagai “tukang entot”. Itu semua kulakukan selama
aku masih di SMA. Tidak ada di antara mereka yang kupaksa atau di bawah
pengaruh minuman keras. Semua memberikan lubang-lubang kemaluannya
untuk meremas batang kemaluanku dengan sukarela.

Jangan kira
mudah bagiku untuk menerima kelebihanku ini. Ada norma-norma di
masyarakat yang membuatku takut jika perbuatanku nanti terbongkar oleh
orang lain. Setiap kondisi ini datang aku selalu terbayang akan makian
dan cemoohan orang lain, tapi aku tak bisa menolaknya, aku pasti
meladeni mereka semua. Lama aku hidup dalam ketakutan yang sangat
menyiksa itu.

Kembali Rosa jugalah yang berjasa dalam hidupku.
Dia bilang rasa takut berlebihanlah yang membuat orang tidak bisa maju.
Semua orang terkenal yang ada pasti memiliki rasa takut. Tapi mereka
bisa mengatasinya. Jika memang dirimu seperti itu mengapa harus
merubahnya menjadi orang lain. Merubah diri menjadi orang yang disukai
oleh mereka, padahal orang itu bukan kamu yang sebenarnya.

Kini
setelah 10 tahun sejak aku pertama kali mengenal lubang kemaluan. Sudah
puluhan wanita yang merasakan desakan batang kemaluanku dalam rongga
lubang kemaluannya. Tidak semua wanita yang kukenal mau bermain seks
denganku. Ada yang menolak, ada yang setelah beberapa tahun baru
bersedia, ada yang beberapa bulan, dan ada juga yang baru seminggu
sudah mau.

Dan saat ini aku sangat bahagia mendapati diriku
seperti itu, menyetubuhi banyak wanita, merasakan remasan alat kemaluan
mereka dan menumpahkan spermaku di dalam rahim yang berbeda-beda.
Kurasa itulah intinya, “BAHAGIA!” Peduli dengan orang lain. Kalau
mereka tidak suka, mereka bisa menuntut kita.

Tulisan ini tidak
bermaksud membuat pembaca menjadi seperti aku karena seperti yang
kubilang aku percaya bakat tiap orang berbeda-beda. Kembangkan saja
bakat pembaca walaupun seluruh dunia mencacinya. Percayalah jika kita
mengikuti kata hati, merencanakan dengan matang dan sedikit
keberuntungan, kita akan bisa hidup bahagia. Begitu saja surat dariku.
Salam hangat dariku untuk pembaca semua!

TAMAT                   

Penakluk Wanita