Petualang cinta

16th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1366 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Petualang cinta


Anggap saja namaku Rini. Tahun ini aku
berusia 25 tahun. Pertualangan cintaku cukup banyak, setidaknya
menurutku. Kebanyakan cowok-cowok yang pernah bercinta denganku kukenal
dari internet. Salah satunya bernama Francis, dia berumur 30 tahun,
orang Singapore yang datang ke Jakarta untuk bisnis. Aku mengenalnya
cukup lama via internet sebelum bertemu dengannya. Saat itu aku sedang
kesulitan keuangan (sekarang pun sebenarnya masih) dan dia menawarkan
bantuan. Maka dari itu aku tidak keberatan ketika dia minta bertemu di
kamar hotelnya setelah ia selesai meeting dengan partnernya. Saat itu
umurku sekkitar 23 tahun.

Setelah kutunggu-tunggu akhirnya
teleponku berdering menjelang tengah malam. Ternyata dari Francis.
Sebetulnya dia kurang setuju aku ke hotelnya sendirian pada tengah
malam begitu. Tapi kuyakinkan dia bahwa aku telah terbiasa keluar malam
dan taksi yang kugunakan adalah taksi yang terkenal amannya, Blue Bird.

Menjelang
jam satu subuh aku tiba di hotel tempat dia menginap. Hotelnya terletak
daerah Slipi. Tidak terbayangkan olehku kalau Francis orangnya cukup
tampan, tinggi dan putih bersih. Senyumnya yang khas sempat membuatku
simpatik padanya. Kami pun ngobrol di dalam kamarnya yang lumayan luas.
Pertama dia sibuk dengan note book-nya mengerjakan perkerjaannya,
sedangkan aku duduk di atas ranjang asyik dengan acara TV yang 24 jam.
Setelah dia selesai dengan pekerjaannya, dia pun menfokuskan
perhatiannya kepada ceritaku. Bagaimana aku bisa kesulitan uang dan
berhutang hingga berpuluh juta. Aku bercerita sampai aku menangis. Dia
pun memelukku menenangkan diriku.

Tidak lama kemudian, dia
permisi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Sebelumnya dia
mengenakan jeans dan kaos oblong. Dia hanya mengganti celana jeans-nya
dengan celana pendek. Dengan santai ia membaringkan dirinya di atas
ranjang sembari memelukku. Lalu aku mulai bercerita tentang masa laluku
yang cukup kelam. Bagaimana aku merasa canggung orang memperlakukanku
karena aku mempunyai payudara yang cukup besar (36C).

“Sebesar itukah payudara kamu?”, tanyanya setelah aku menjawab pertanyaannya mengenai ukuran BH-ku.

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Boleh aku melihatnya?”

Kutarik leher kaos oblongku hingga ia dapat mengintipnya sedikit.

“Wow, emang besar!”, decaknya, akupun tertawa.

“Ada orang punya yang lebih besar dariku dan lebih indah!”, tanyaku penasaran.

“Setidaknya
payudaramu yang terbesar yang pernah kulihat!”, gelaknya, lalu mulai
lancang meremas payudara kiriku dengan tangan kanannya. Aku tidak
menepis tangannya malahan merapatkan diri. Reaksiku membuat dia tambah
berani. Dia mencium bibirku dan lidahnya dengan lincahnya masuk
mempermainkan lidahku. Kusambut ciumannya tidak kalah hotnya. Kunikmati
sentuhan yang ia berikan pada payudaraku. Jarinya mulai meremas
putingku.

“Ohmm” aku mulai merintih nikmat. Kurasakan celana
dalam yang kukenakan di balik celana jeans-ku mulai basah. Dengan
bantuannya aku melepaskan kaos oblongku dan dia pun demikian. Aku
merasakan hangatnya kulitnya ketika kulit kami bersentuhan. Ditariknya
salah satu tali BH-ku ke bawah sehingga salah satu putingku menyembul
keluar menantang di matanya. Langsung saja dia melahap putingku dengan
mulutnya. Putingku dihisapnya dan dimain-mainkan dengan lidahnya. Aku
pun merintih lagi dan meremas rambutnya. “Ohh.. Francisss.. nikmat
sekali.. oohh.”

Putingku yang satunya tidak lolos dari remasan
tangannya. Aku mulai meronta kegelian dan kenikmatan. Tanganku pun
turun menelusuri punggungnya sebelum akhirnya menyentuh tonjolan
panjang di balik celana pendeknya. Kuremas batangan itu dengan gemas
sehingga membuat ia mulai mengeluh nikmat. Ditepisnya tanganku dan
untuk sesaat ia menatapku sambil terus mengulum dan mengisap putingku.
Tangannya melepaskan kaitan BH-ku, lalu bebaslah payudaraku dari BH.
Dengan ganas ia terus menjilat, mengulum dan mengisap putingku
bergantian. Bahkan dengan kedua tangannya dia menyatukan kedua putingku
dan dihisapnya bersamaan.

“Ohhmm ooohh.. ” aku pun merintih lagi dan lagi. Kurasakan selangkanganku makin basah dan geli saja.

“Buka celana jeans kamu!”, perintahnya setelah berhenti ‘menyiksa’ putingku.

Nafasku
memburu dan segera saja kuturuti perintahnya. Selagi aku membuka celana
jeans-ku dia pun menarik turun celana pendeknya disertai celana
dalamnya. Terpampang di hadapanku batang kemaluannya yang sudah
mengacung panjang. Walau sedikit kurus, batang kenikmatannya lumayan
panjang. Entah berapa centi.

Tanpa berkata apa-apa dia
menyodorkan batang kenikmatannya ke wajahku. Mengetahui apa yang di
inginkannya.. kujulurkan lidahku dan mulai menjilat kepala kemaluannya.
Dia mulai merintih keenakan setelah lidahku dengan lincahnya menjilat
sekitar lubang kencingnya. Kudorong ujung lidahku ke lubang kencingnya
sambil jari-jariku menggelitik daerah pantat dan pahanya sehingga
membuat dia gelinjang geli nikmat.

Ketika dia menikmati
jilatanku. Tiba-tiba saja kuhisap batang kenikmatannya masuk ke dalam
mulutku dengan kencang. Dia mengerang”, Oohh… Riniii.. eeenak
sekaliii…” Aku tersenyum dan menarik batang kemaluannya keluar dari
mulutku sambil masih mengisapnya. Lalu kuhisap masuk lagi ke dalam
mulutku. Kugerakkan kepalaku maju mundur sehingga batang kenikmatannya
masuk keluar, masuk, keluar.. masuk .. keluar dari mulutku. Aku
menikmati kemaluannya karena baunya bersih dan menyenangkan. Rambutku
diremasnya sambil mengerang nikmat. Karena selain mulutku mengisap dan
mengulum batang kenikmatannya. Tanganku sibuk meremas buah pelirnya dan
tanganku yang satunya sibuk meraba-raba, menggelitik sekitar lubang
pantatnya.

“Ohh Riniii..” mendengar rintihannya membuatku
bertambah semangat saja. Lidah kudorong masuk ke dalam lubang
kencingnya selagi kuhisap batang kemaluannya.

“Ayo dong kita langsung mulai!”, serunya menghentikan kegiatanku.

Dia menindih tubuhku. Di hisapnya lagi putingku sambil tangannya meraba celana dalamku.

“Oooh
Rini.. kamu basah sekali.” bisiknya sambil menyelusup jari-jarinya ke
dalam celana dalamku menyentuh liang kewanitaanku yang memang sudah
basah sejak tadi. Jari tengahnya mulai memainkan klitorisku.

“Ohh..
Uhhmm..” Aku mulai merintih keenakan. Entah kapan tiba-tiba saja celana
dalamku sudah dibukanya. Batang kemaluannya diarahkan ke liang
kewanitaanku yang sudah mekar dan berdenyut minta dimasukin batang
kemaluannya.

“Ohh… yah.. setubuhi aku.., cepat! ” pintaku.

Dengan sekali dorong batang kenikmatannya sudah masuk ke dalam liang kewanitaanku.

“Oohh!”,
aku seperti merasakan terkena strum saja ketika batang kemaluannya
masuk ke liang kewanitaanku. Francis mulai memompa batang kemaluannya,
masuk.. keluar.. masuk.. keluar liang kewanitaanku. Aku pun merintih
semakin jadi, “Arrh… arrrgh.. arrrhh.. oooh yesss.. uhmm arrh arrh..
arh.. arh.. arhhggghh… arrgghh.”

Payudaraku bergoyang seiring Francis memompa liang kewanitaanku dengan batang kemaluannya.

“Yesss..
ohh yes.. Riniii.. ugghh.. uuggghh. ugghh… lubangmu memang nikmat
bangett. uugh.. uughh.. uuggghh.” Francis tidak kalah diam. Mulutnya
terus saja melenguh keenakan. Lima belas menit kemudian dia mempercepat
genjotannya. Kutahu dia sudah akan keluar.

“Busyet!.. akuu sudaah mau keluar.. uugh.. ughh.. yesss.. oohh yes!”

Aku
merasakan tubuhnya menegang dan batang kemaluannya menembakkan air mani
ke dalam liang kewanitaanku. Batang kenikmatannya seolah bergetar di
dalam liang kewanitaanku. Tidak lama kemudian tubuhnya pun jatuh
lunglai di atas tubuhku. Kujepit batang kemaluannya dengan liang
kewanitaanku sehingga membuat dia gemetaran untuk beberapa detik.

“Maaf… aku tidak dapat memuaskanmu”, katanya setelah menggulingkan tubuhnya ke sampingku.

Aku
tersenyum padanya, “Tidak apa-apa kok!”, bisikku penuh pengertian, toh
dia bukan laki-laki pertama yang tidak dapat memuaskanku.

“Ohh Rinii.. kamu terlalu pengertian!”, ujarnya lalu memelukku setelah akhirnya kami berdua jatuh tertidur.

Permainan
tidak hanya sampai di situ. Sekitar jam 4 subuh tiba-tiba aku merasa
tangannya meraba dan meremas payudaraku lagi. Aku pura-pura tidur
pulas. Lidahnya mulai menjilat dan mengulum kedua puting susuku secara
bergantian. Mau tidak mau aku mulai merintih keenakan tapi mataku masih
tertutup rapat. Tiba-tiba saja dia langsung memasukkan batang
kemaluannya ke liang kewanitaanku yang belum cukup basah. Aku mengerang
antara kesakitan dan nikmat. Francis tidak peduli, sepertinya dia
terangsang sekali menyetubuhiku selagi aku tidur. Gerakannya sungguh
tidak beraturan kadang cepat kadang lambat, membuatku kelimpungan
nikmat. Batang kemaluannya seperti sedang mempermainkan liang
kewanitaanku. Lama-kelamaan liang kewanitaanku bertambah basah.
Genjotan Francis begitu keras dan semakin cepat. Tangannya meremas
payudaraku sambil terus menggenjot liang kewanitaanku dengan batang
kemaluannya. Nafasnya semakin memburu dan memburu. Tiba-tiba tubuhnya
menegang dan spermanya pun menyemprot keluar dalam liang kewanitaanku.
Mau tidak mau aku menjerit karena ketika dia keluar, payudaraku
diremasnya dengan kuat sekali. Kurasakan lagi tubuhnya gemetaran
sebelum akhirnya jatuh menimpa tubuhku.

Jam 7 pagi aku pun
kembali ke rumah (aku tinggal sendirian). Sejak itu, tidak ada berita
darinya. Bantuannya tidak pernah datang. Sepertinya aku dikibulin lagi.
Aku merasa jijik pada diriku sendiri. Hutang yang melilitku benar-benar
telah mengubah jalan hidupku.

Lanjut

Kali ini teman internetku yang lain,
namanya Wong. Dia adalah teman internetku dari Malaysia, JB. Aku
mengenalnya pada awal tahun 1998 dan bertemu dengannya setahun kemudian.

Ayahnya
seorang yang cukup berada, makanya aku mengharapkan dapat meminjam uang
darinya. Karena hutang yang melilitku benar-benar membuatku menemui
jalan buntu. Sementara itu aku belum juga mendapat pekerjaan.

Wong
usianya setahun lebih tua dariku. Sebelumnya aku sempat menjadi
cybergf-nya. Tapi kemudian memutuskanku setelah 4 bulan kami bersama
secara cyber. Terus terang saja, dia sering menelponku dari Malaysia ke
Jakarta hanya untuk telepon seks denganku.

Di pertengahan tahun 2017, dia datang ke Jakarta menemani tamu ayahnya, entah dalam rangka
apa. Dia menginap di salah satu hotel terkenal di Jakarta. Seperti
layaknya aku menemui Francis dulu, tengah malam aku menunggunya di lobi
hotel. Kami bertemu di lobi hotel tempat dia menginap. Kulitnya sedikit
gelap untuk keturunan Chinese, well, aku pun demikian. Badannya tegap
namun sedikit gemuk. Wajahnya tidaklah terlalu tampan.

Setelah
menyalamiku, dia pun mengajakku ke kamar hotelnya. Kutahu apa yang akan
terjadi dan aku bersedia menerima resikonya. Yang penting bagiku adalah
mendapatkan sedikit pinjaman darinya. Gayanya yang begitu sombong tidak
kupedulikan.

Di kamarnya kami nonton TV sambil ngobrol di atas
sofa. Kamar yang di tempatinya cukup luas. Suasana begitu kaku sampai
akhirnya dia menyuruhku melepaskan jaket kulitku (saat itu aku
mengenakan jaket kulit, t-shirt dan jeans warna hitam). Aku pun
melepaskan jaketku. Kutangkap matanya menatap buah dadaku yang
ukurannya memang lumayan besar tapi kucuekin saja.

Dia mulai
menanggalkan celana panjangnya yang berwarna coklat. Tinggallah celana
pendek. Kemudian dia duduk lagi di sampingku. Kami kembali membicarakan
tentang hutangku. Dia bilang akan mempertimbangkan akan membantuku atau
tidak. Aku cuma bisa tersenyum kecut. Ingin rasanya aku menangis tapi
kutahan.

Wong mengeluh merasa letih. Ditariknya tanganku
mengikutinya ke atas ranjang. Dia minta aku memijitnya. Kuikuti
keinginannya. Tubuhnya menelungkup di atas ranjang kemudian kedua
tanganku mulai memijitnya.

Sekitar 15 menit aku memijat
punggung, leher dan kakinya sampai akhirnya dia bilang cukup. Aku
hendak beranjak kembali ke sofa, tapi tangannya menarikku kembali ke
ranjang hingga tubuhku jatuh ke sampingnya. Akhirnya kubiarkan diriku
berbaring di sampingnya sambil mataku menatap TV yang masih menyala.
Aku pura-pura menikmati film yang sedang ditayangkan. Kurasakan dia
mulai mendekapku selayaknya aku ini guling. Tangannya meraba buah
dadaku. Jari-jarinya berkeliling di sekitar buah dadaku mencari
putingku dan dia menemukannya. Karena putingku bereaksi dengan remasan
tangannya atas buah dadaku.

Mataku tetap kutumpukan pada TV. Ia
mulai mengesek-gesekkan batang kemaluannya ke pahaku. Nafasnya mulai
memburu dan lidahnya mulai dimainkanya ke telingaku. Tanpa kuinginkan
aku merasa cairan hangat keluar dari liang kewanitaanku menembus celana
dalamku. Sepertinya aku mulai terangsang, apalagi jari-jarinya mulai
meremas dan memilin putingku yang mengeras. Sepertinya dia tahu aku
mulai terangsang. Tiba-tiba dia menciumku dengan mulutnya yang bau
rokok. Lidahnya dijulurkannya sehingga mau tidak mau aku pun mengisap
lidahnya. Wong melenguh, batang kemaluannya terus digeseknya ke pahaku.
Aku merasakan batang kemaluannya sudah mengeras dan makin besar saja.
Aku merasa tubuhku gemetaran karena terangsang. Dia menindihku dan
menyingkap t-shirt-ku menutupi wajahku.

Tiba-tiba aku merasakan
Wong menggigit putingku. Aku mengerang pelan kesakitan. Wong menarik
‘piring’ BH-ku ke bawah lalu yang kurasakan kemudian lidahnya dengan
lincah menjilat-jilat putingku. Nafasku jadi semakin berat dan memburu.
Rangsangan yang kudapat sungguh tidak terhingga enaknya. Lidahnya
begitu kuat menjilat putingku bergantian. Dia mulai mengisap putingku,
ditariknya putingku sembari terus mengisap. Aku mengerang nikmat,
“Ohmm… uggghhm…..”

Tidak lama kemudian dia berhenti mengisap
putingku. Yang kutahu kemudian dia melepas celananya dan celana
jeans-ku. Kami berdua telanjang bulat di atas ranjang yang empuk.
Diremasnya buah dadaku dengan ganas sebelum mulutnya kembali melahap
putingku bergantian. Dipeluknya diriku dan membalikkan badan sehingga
kami berubah posisi.

Kini giliran tubuhku yang menindih
tubuhnya. Instingku memberitahukan aku harus melayaninya. Kutarik
putingku keluar dari mulutnya meskipun ia masih asyik mengisapnya. Aku
mencium lehernya, putingku menyentuh puting kecilnya. Wong segera
mendekapku. Kudorong tubuhnya setelah kuberikan cupang dekat bahunya.
Lidahku berpindah memainkan putingnya. Kutekan lidahku ke puting
susunya yang kecil mungil itu dan kujilat.. jilat.. jilat .. jilat dan
isap.. isap.. isap. Kugigit putingnya pelan sambil jari kukuku sibuk
menggaruk puting satunya. Kudengar dia mendesah keenakkan. Batang
kemaluannya yang menyentuh perutku terasa makin tegang saja. Kucuekin
batang kemaluannya untuk sementara selagi aku asyik mempermainkan
putingnya.

“Hisap dong batang kemaluanku! ooohh”, terdengar
desahannya memintaku mengisap batang kemaluannya. Lidahku pun berpindah
menjilat kepala kemaluannya. Baunya khas. Kujilat kepala batang
kemaluannya. Kuisap kepala kemaluannya ke dalam mulutku. Lalu kudorong
lidahku ke lubang spermanya. Tanganku meremas buah pelirnya pelan
seakan-akan memijit. Aku tidak ingin bermain terlalu lama dalam oral
seks kali ini. Aku segera merangkak ke atas tubuhnya, setengah berlutut
di atas badannya. Kuarahkan batang kemaluannya mendekati liang
kewanitaanku yang sudah basah sejak tadi. Tidak langsung kumasukkan,
kugunakan kepala kemaluannya menggaruk-garuk bibir kewanitaanku dulu
sehingga membuat Wong tambah terangsang dan merem-melek dibuatnya.

“Rin…
Kita mulai yuk!” serunya, tiba-tiba mengangkat pantatnya sehingga
batang kemaluan menerobos masuk ke dalam liang kewanitaanku. Bersamaan
kami menjerit nikmat. Kudiamkan sebentar batang kemaluannya di liang
kewanitaanku, lalu aku mulai mengangkat pantat sehingga batang
kemaluannya mulai meninggalkan liang kewanitaanku dan kuturunkan
pantatku lagi hingga batang kemaluannya masuk lagi menerobos masuk ke
liang kewanitaanku yang hangat.

Aku mulai mengerakkan pantatku
naik turun, buah dadaku yang besar juga naik turun, naik turun
mengikuti gerakanku. Batang kemaluannya terus masuk.. keluar.. masuk..
keluar.. masuk.. keluar liang kewanitaanku. Gerakanku sengaja
kulambat-lambati tapi kemudian akupun mempercepat gerakanku. Tangannya
meremas pantatku sambil menolongku mempercepat genjotanku.

“Arrhh..
ooh.. oooh… ooohh.. yah.. ooohh… goyangin..
oooh..Riniii…kuperkosa kamu sekarang .. .arrrgghh… uugughh..
arrrgh!”

Wong terus mengerang keenakkan. Salah satunya meremas buat
dadaku dan mencubit putingku. Ketika sedang asyik-asyiknya aku
merasakan batang kemaluannya di dalam liang senggamaku, tiba-tiba Wong
mengangkat pantatku, dilemparkannya tubuhku ke samping. Segera ia
mengocok batang kenikmatannya dan spermanya keluar menembak ke arah
perutku. Kulihat tubuh Wong mengejang. “Ooohhrrrh!”, rupanya dia tidak
mau aku hamil karena waktu itu kami tidak memakai kondom. Segera dia
bangkit langsung ke kamar mandi membersihkan badannya. Setelah itu aku
pun ikut membersihkan tubuhku. Di kamar mandi aku menangis tanpa suara,
kugosok sabun berkali-kali membersihkan tubuhku. Betapa aku merasa hina
dan kotor.

Setelah aku kembali berpakaian, Wong langsung
menanyakan jam berapa aku akan pergi. Aku merasa tersinggung sekali
hampir saja aku kembali menangis tapi berhasil kutahan. Aku bilang aku
akan pergi menjelang pagi. Wong berjanji dia akan menghubungiku sebelum
kembali ke Malaysia. Kuiyakan dengan anggukan kepala.

Wong
memang meneleponku sebelum dia kembali ke Malaysia, JB. Katanya, dia
baru akan membantuku kalau aku benar-benar sudah kepepet sampai ke
pengadilan. Kembali lagi, aku cuman bisa tersenyum kecut.

Belum Usai

Rini namaku (Bukan nama sebenarnya). Aku
berasal dari Kalimantan Barat dari sekarang ini sudah pindah ke Jakarta
bersama keluargaku. Aku kehilangan kegadisanku saat berusia 15 tahun
(Well, dengan cowok pertamaku tentunya, alasannya klise, demi cinta).
Aku ingat benar tiap cowok yang pernah berhubungan seks denganku.
Setelah dua tahun meninggalkan cowokku yang pertama (dia cowok
brengsek!), aku baru berhubungan seks lagi dengan cowok lain. Cowok
kedua yang pernah menikmati tubuhku, adalah saudara sepupuku sendiri
yang usianya 5 tahun lebih muda dariku. Dua tahun kemudian baru aku
berhubungan kembali dengan cowok yang lain.

Cowok yang ketiga
adalah teman internetku. Namanya Wayne. Orang Vietnam keturunan Chinese
dan usianya setahun lebih tua dariku. Dia adalah teman internet pertama
yang pernah menikmati tubuhku. Saat itu aku berusia 22 tahun, berada di
Melbourne untuk kuliah. Aku suka sekali chatting dengan Wayne yang
berada di Brisbane. Awalnya kami cuman ber-cyberseks-ria. Dia adalah
‘pelanggan’ tetapku. Setelah beberapa kali cyber seks, kami pun mulai
berphone seks ria.

Setelah hampir dua bulan perkenalan kami,
tiba-tiba saja dia mengirimkan tiket pesawat dan uang saku untukku.
Katanya dia ingin sekali bertemu denganku. Kamipun sepakat bertemu di
Gold Coast karena dekat dengan Brisbane. Beberapa hari menjelang
keberangkatanku ke Gold Coast, kami bersepakat tidak akan ber-phone sex
atau pun masturbasi biar pas ketemunya kami tambah hot.

Aku
sedikit tegang untuk bertemu dengannya. Kami sama sekali tidak pernah
saling mengirim photo. Hari itu, di Gold Coast, aku menunggunya di
kamar motel di mana aku menginap. Lewat handphone, aku menelepon ke
rumahnya dan ternyata dia belum pulang kuliah. Lalu sekitar setengah
jam kemudian, handphone berdering. Terdengar suaranya ketika kuangkat,
katanya dalam satu jam dia akan tiba di tempatku setelah kukatakan nama
motel dan nomor kamarku.

Deg-degan rasanya menunggu detik demi
detik, menit demi menit. Aku berusaha membayangkan dia itu jelek sekali
sehingga aku tidak akan terlalu kecewa bila bertemu dengannya. Satu jam
sudah berlalu tapi dia tidak kunjung datang. Di kamar motelku ada dua
ranjang. Satu single bed dan satunya lagi double bed. Sepertinya kamar
yang kutempati adalah untuk keluarga. Karena semalam aku tidak tidur
sama sekali, akupun jatuh tertidur di atas single bed yang nyaman serta
empuk.

Sekitar hampir setengah jam, tiba-tiba terdengar suara
memanggil namaku. Kutahu dia setengah mengantuk, kusuruh ia masuk
karena pintu kamar sengaja tidak kukunci. Belum sadar penuh,
samar-samar aku melihat seorang lelaki masuk, melempar tasnya begitu
saja langsung berjalan ke arahku. Yang kuingat kemudian, orang itu
memelukku, erat sekali. Kubuka mataku lebar-lebar menatap wajahnya
ketika dia selesai memelukku. Wajahnya ternyata cute dan alisnya tebal.

“Wayne?”.

“Yah,.. Saya Wayne, kamu manis sekali Rin?”

Mendengar
pujiannya aku cuman bisa tersenyum. Lalu ia pun pergi menutup pintu
kamarku yang lupa ia tutup tadi. Sambil tersenyum simpatik dia
menghampiri diriku lagi. Tiba-tiba saja dia mencium bibirku, diisapnya
bibirku sehingga aku mendorong lidahku keluar, langsung saja dia
mengisap lidahku begitu pula sebaliknya, aku memancing lidahnya masuk
ke dalam mulutku sehingga dapat kuisap ke dalam mulutku. Lidahku suka
sekali menjelajahi dalam mulutnya seakan-akan mengoda lidahnya untuk
bereaksi dengan lidahku.

Wayne menghentikan ciuman kami dan
ditatapnya buah dadaku. Kedua tangannya terangkat dan meremas kedua
belah buah dadaku. Hatiku berdesir seakan disengat listrik ketika
merasakan remasan tangannya. Dua tahun aku tidak disentuh oleh
laki-laki, ini benar-benar bagaikan pertama kali saja. “Rin, payudaramu
sungguh lembut dan besar!” pujinya membuatku terasa melayang apalagi
jarinya menemukan putingku yang bereaksi dengan remasan tangannya.
Nafasku mulai memburu begitu pula nafasnya.

Lidah Wayne
menjelajahi leherku sambil tangannya masih meremas-remas buah dadaku.
Tanganku tidak tinggal diam. Tangan kiriku meraba-raba dadanya lalu ke
bawah, ke selangkangannya. Kuremas gundukan yang menonjol keluar dari
celana jeans-nya. Wayne memutuskan untuk membuka kancing kemeja biru
yang kukenakan. “Silakan, kalau kamu mau memandang langsung
payudaraku!” bisiknya. Kubantu ia membuka kancing kemejaku. Aku memakai
BH hitam waktu itu. Buah dadaku yang lumayan besar sepertinya akan
mencuat keluar. Wayne membuka t-shirt dan celana jeans-nya dan hanya
mengenakan kolor yang berwarna coklat. Ditarik tanganku dan didorongnya
tubuhku ke atas ranjang yang lebih besar. Baru disadarinya kalau aku
dari tadi ternyata hanya mengenakan pakaian dalam dan kemeja. Kini
dengan pasrah aku berbaring di atas ranjang dengan pakaian dalamku saja
yang berwarna hitam.

Dengan gemas dia menindihku dan menciumi
belahan dadaku yang dalam. Tangannya meremas-remas pantatku. Dengan
giginya dia melepaskan salah satu tali BH-ku. Putingku yang berwarna
coklat muda pun mencuat keluar akhirnya. Seperti bayi saja dia langsung
saja mengisap putingku dan digigitnya sehingga aku mengerang antara
sakit dan nikmat. “Aakkkhh… hmm… Wayneee”

Tangan kanannya
berpindah ke selangkanganku. Celana dalamku sudah basah karena cairan
kewanitaanku. Tiga jarinya ditekan-tekan dan di gosok-gosok di antara
selangkanganku. Benar-benar membuatku terangsang sekali. Sedangkan
tangan kirinya meremas-remas buah dadaku yang sebelah kanan. Buah
dadaku yang sebelah kiri masih diisapnya dengan rakus. Setelah beberapa
detik kemudian, dia melepaskan celana dalamku dan celana dalamnya juga.
Tanganku segera meraih batang kemaluannya yang tidak begitu besar tapi
tegak sempurna. Kugenggam erat batang kemaluannya dalam tanganku dan
kuremas-remas. Kali ini aku mendengar dia mengerang nikmat, “Ooohh…
Nikmat sekali”

Setelah itu dia pun membuka BH-ku. Membebaskan
buah dadaku dari himpitan BH. Dibenamkan wajahnya di antara buah dadaku
sambil lidahnya menjilat jilat. “Waynneee… hmm… oohh”, kugigit
bibirku menahan nikmat ketika jarinya menggelitik bibir liang
kewanitaanku dan mulutnya sibuk menjilat dan mengisap putingku
bergantian.

Melihat aku sudah begitu terangsang. Wayne segera
saja memakai kondom, dibuka lebar-lebar kakiku dan ditusuknya batang
kemaluan ke dalam liang kewanitaanku yang telah basah sekali. Pertama
kali merasakan tusukan batang kemaluannya, aku benar-benar merasakan
bagai disengat listrik. Baru kusadari, setelah dua tahun, aku
benar-benar merindukan tusukan batang kemaluan dari seorang laki-laki
di liang senggamaku. Aku dan dia sama-sama mengerang nikmat saat itu.
Lalu yang kuingat, Wayne mulai menggerakkan badannya naik.. turun,
naik.. turun. Setiap gerakannya benar-benar membawa nikmat bagiku. Lalu
diangkat kakiku sehingga membebani kedua pundaknya. “Oooohh…
uugghhmm”, benar-benar nikmat sekali. Terasa sekali batang kemaluannya
menusuk liang kewanitaanku dalam sekali.

“Ohh Rini… indahnya hidup ini.., kalau aku bisa bersetubuh denganmu terus! Ooohh… ini lebih indah dari telepon seks!”

Wayne terus saja mengenjotku dengan batang kemaluannya. Matanya merem-melek menikmati batang kemaluannya.

“Genjot terus..”

“Uggh.. uuuggghh… Ooouuuggh.. ugh.. uggh”

Gerakannya
semakin cepat dan keras. Terdengar suara-suara ‘basah’ setiap buah
pelirnya bertemu dengan lubang pantatku. Keringat kami mengucur deras.
Buah dadaku bergerak naik.. turun, naik.. turun dalam himpitan pahaku
disetiap genjotan Wayne.

“Riniii… oooh.. terus.., aku hampir
sampai oouuuggh” Wayne segera menurunkan kakiku dari pundaknya.
Tangannya meremas buah dadaku dengan keras sehingga aku menjerit
kesakitan dalam nikmat. “Aarrrgghh.. waynee!”

Tubuh Wayne
mengejang sebelum akhirnya jatuh lunglai di atas tubuhku. Kurasakan
keringatnya dan keringatku bercampur aduk. Diciuminnya pipiku dan
membiarkan batang kemaluannya mengecil di dalam liang kewanitaanku.
Dengan sendirinya batang kenikmatannya pun permisi keluar dari liang
senggamaku yang masih berdenyut-denyut minta ditusuk lagi. Malamnya
kami kembali berseks ria lagi dan lagi.

Keesokkan siangnya,
Wayne tampak tidak bersemangat melayani nafsuku. Katanya kepala batang
kemaluannya rasanya sakit sekali. Aku tidak kehabisan akal. Aku ingat
ketika aku sakit gigi, aku suka sekali memakai es batu untuk mengusir
rasa sakit walaupun cuma sebentar. Kuambil es batu dari lemari es dan
kutaruh semuanya di atas mangkuk.

Wayne sudah bugil saat itu
dengan batang kemaluannya yang sudah tegang. Kumasukkan salah satu es
batu dan kugigit-gigit sehingga hancur di dalam mulutku. Lalu lidahku
yang dingin pun menjilat batang kemaluannya. Kulihat Wayne gemetar
dibuatnya. “Dingin!. ooohh… apa yang kamu lakukan!” tanyanya. Aku
tidak menjawab. Hanya tersenyum dan meneteskan air es ke atas kepala
kemaluannya lagi. Lalu kujilat, jilat, jilat dan jilat dengan lidahku
yang mulai hangat lagi. Kumasukkan bongkahan kecil es batu ke dalam
mulutku, lalu tiba-tiba saja kuisap batang kemaluannya ke dalam
mulutku. Wayne merintih nikmat. “Oohh Rinnn that.. really so uuuggh..
niceee”

Aku terus saja mengisap dan menjilat batang kemaluan
Wayne dengan es batu di dalam mulutku. Wayne terus saja merintih dan
mengerang nikmat tiada hentinya. Jariku yang dingin bekas air es
menyentuh pelirnya dan meremas lembut. Wayne mengerang tambah gila
saja. Tangannya meremas kuat sekali pada bantal dan sprei. Kakinya
mengejang terus-menerus menahan nikmat yang kuberikan dari mulutku yang
dingin.

“Feeling better?” tanyaku iseng sebelum memasukkan es
batu yang lain ke dalam mulutku. Wayne hampir saja tidak dapat
menjawab, “Eeehh yes” jawabnya susah payah karena aku kembali mengisap
batang kemaluannya dengan batu es yang masih utuh di dalam mulutku.
Gerakan kepalaku kali ini kupercepat naik turun. Tanganku terus saja
memijit-mijit pelirnya. Nafas wayne semakin berat dan memburu. Aku tahu
dia sudah mau keluar. Kuperlambat isapanku lalu kupercepat lagi.
Mempermainkan batang kemaluannya seperti itu benar-benar membuatku
tambah gemas dan terangsang saja.

“Rinn.. cepat hisap..” mohon
Wayne akhirnya aku mempercepat isapan batang kemaluannya. Kutarik
keluar batang kemaluannya dari mulutku dan kuisap masuk lagi. Kubiarkan
mulutku kehabisan es batu. Kuberanikan diri menelan cairan es batu yang
bercampur dengan cairan batang kemaluannya yang asin. Sungguh, baru
pertama kali ini aku menikmati melakukan oral seks. Terhadap mantanku,
aku tidak pernah menyukainya.

“Uuuhhgg.. ooohh yesss.. uugghh..
ooohh.. oooh.. arrghh.. arrgh”, rintihan Wayne semakin tidak beraturan
saja, tapi aku terus saja mengisap batang kemaluannya dengan mulutku
yang mulai hangat, “Oooh.. hisap sekarang!”

Kaki Wayne mengejang
tegang dan batang kemaluannya yang berada di dalam mulutku bergetar.
Aku mengambil inisiatif terus mengisapnya. Air maninya menyemprot
keluar dalam mulutku. Kuputuskan untuk menelannya. Ah, ternyata rasanya
nikmat juga, seperti air kelapa saja cuma agak asin. Kuisap habis air
maninya tidak setetes pun yang lolos dari jilatanku.

Kupanjat
tubuh Wayne dan tersenyum puas padanya. Aku puas dapat memuaskannya.
Diciumnya bibirku. Lima belas menit kemudian, batang kemaluannya tegang
lagi dan kali ini batang kemaluannya ditusukkannya ke dalam liang
kenikmatanku dari belakang. Empat hari dengan Wayne, tiada hari tanpa
seks. Aku sering memberikannya blow job dan dia pun sering menyiksa
nikmat liang kewanitaanku dengan jari dan batang kemaluannya. Memang
setelah berkali-kali kami bercinta, cuma sekali aku mencapai puncak.
Saat itu posisinya aku yang di atas menaiki tubuhnya. Tapi bercinta
dengan Wayne adalah salah satu petualanganku yang murni karena aku
berseks ria dengan rela dan sepenuh hati. Bukan lantaran kepingin
ditolong untuk melunasi hutangku (pada saat itu aku belum punya
hutang). I really enjoy it. Wayne sekarang sudah menikah dan tinggal di
Sydney.

Masih Ada Lagi

Rini namaku (Bukan nama sebenarnya). Aku
berasal dari Kalimantan Barat dari sekarang ini sudah pindah ke Jakarta
bersama keluargaku. Aku kehilangan kegadisanku saat berusia 15 tahun
(Well, dengan cowok pertamaku tentunya, alasannya klise, demi cinta).
Aku ingat benar tiap cowok yang pernah berhubungan seks denganku.
Setelah dua tahun meninggalkan cowokku yang pertama (dia cowok
brengsek!), aku baru berhubungan seks lagi dengan cowok lain. Cowok
kedua yang pernah menikmati tubuhku, adalah saudara sepupuku sendiri
yang usianya 5 tahun lebih muda dariku. Dua tahun kemudian baru aku
berhubungan kembali dengan cowok yang lain.

Cowok yang ketiga
adalah teman internetku. Namanya Wayne. Orang Vietnam keturunan Chinese
dan usianya setahun lebih tua dariku. Dia adalah teman internet pertama
yang pernah menikmati tubuhku. Saat itu aku berusia 22 tahun, berada di
Melbourne untuk kuliah. Aku suka sekali chatting dengan Wayne yang
berada di Brisbane. Awalnya kami cuman ber-cyberseks-ria. Dia adalah
‘pelanggan’ tetapku. Setelah beberapa kali cyber seks, kami pun mulai
berphone seks ria.

Setelah hampir dua bulan perkenalan kami,
tiba-tiba saja dia mengirimkan tiket pesawat dan uang saku untukku.
Katanya dia ingin sekali bertemu denganku. Kamipun sepakat bertemu di
Gold Coast karena dekat dengan Brisbane. Beberapa hari menjelang
keberangkatanku ke Gold Coast, kami bersepakat tidak akan ber-phone sex
atau pun masturbasi biar pas ketemunya kami tambah hot.

Aku
sedikit tegang untuk bertemu dengannya. Kami sama sekali tidak pernah
saling mengirim photo. Hari itu, di Gold Coast, aku menunggunya di
kamar motel di mana aku menginap. Lewat handphone, aku menelepon ke
rumahnya dan ternyata dia belum pulang kuliah. Lalu sekitar setengah
jam kemudian, handphone berdering. Terdengar suaranya ketika kuangkat,
katanya dalam satu jam dia akan tiba di tempatku setelah kukatakan nama
motel dan nomor kamarku.

Deg-degan rasanya menunggu detik demi
detik, menit demi menit. Aku berusaha membayangkan dia itu jelek sekali
sehingga aku tidak akan terlalu kecewa bila bertemu dengannya. Satu jam
sudah berlalu tapi dia tidak kunjung datang. Di kamar motelku ada dua
ranjang. Satu single bed dan satunya lagi double bed. Sepertinya kamar
yang kutempati adalah untuk keluarga. Karena semalam aku tidak tidur
sama sekali, akupun jatuh tertidur di atas single bed yang nyaman serta
empuk.

Sekitar hampir setengah jam, tiba-tiba terdengar suara
memanggil namaku. Kutahu dia setengah mengantuk, kusuruh ia masuk
karena pintu kamar sengaja tidak kukunci. Belum sadar penuh,
samar-samar aku melihat seorang lelaki masuk, melempar tasnya begitu
saja langsung berjalan ke arahku. Yang kuingat kemudian, orang itu
memelukku, erat sekali. Kubuka mataku lebar-lebar menatap wajahnya
ketika dia selesai memelukku. Wajahnya ternyata cute dan alisnya tebal.

“Wayne?”.

“Yah,.. Saya Wayne, kamu manis sekali Rin?”

Mendengar
pujiannya aku cuman bisa tersenyum. Lalu ia pun pergi menutup pintu
kamarku yang lupa ia tutup tadi. Sambil tersenyum simpatik dia
menghampiri diriku lagi. Tiba-tiba saja dia mencium bibirku, diisapnya
bibirku sehingga aku mendorong lidahku keluar, langsung saja dia
mengisap lidahku begitu pula sebaliknya, aku memancing lidahnya masuk
ke dalam mulutku sehingga dapat kuisap ke dalam mulutku. Lidahku suka
sekali menjelajahi dalam mulutnya seakan-akan mengoda lidahnya untuk
bereaksi dengan lidahku.

Wayne menghentikan ciuman kami dan
ditatapnya buah dadaku. Kedua tangannya terangkat dan meremas kedua
belah buah dadaku. Hatiku berdesir seakan disengat listrik ketika
merasakan remasan tangannya. Dua tahun aku tidak disentuh oleh
laki-laki, ini benar-benar bagaikan pertama kali saja. “Rin, payudaramu
sungguh lembut dan besar!” pujinya membuatku terasa melayang apalagi
jarinya menemukan putingku yang bereaksi dengan remasan tangannya.
Nafasku mulai memburu begitu pula nafasnya.

Lidah Wayne
menjelajahi leherku sambil tangannya masih meremas-remas buah dadaku.
Tanganku tidak tinggal diam. Tangan kiriku meraba-raba dadanya lalu ke
bawah, ke selangkangannya. Kuremas gundukan yang menonjol keluar dari
celana jeans-nya. Wayne memutuskan untuk membuka kancing kemeja biru
yang kukenakan. “Silakan, kalau kamu mau memandang langsung
payudaraku!” bisiknya. Kubantu ia membuka kancing kemejaku. Aku memakai
BH hitam waktu itu. Buah dadaku yang lumayan besar sepertinya akan
mencuat keluar. Wayne membuka t-shirt dan celana jeans-nya dan hanya
mengenakan kolor yang berwarna coklat. Ditarik tanganku dan didorongnya
tubuhku ke atas ranjang yang lebih besar. Baru disadarinya kalau aku
dari tadi ternyata hanya mengenakan pakaian dalam dan kemeja. Kini
dengan pasrah aku berbaring di atas ranjang dengan pakaian dalamku saja
yang berwarna hitam.

Dengan gemas dia menindihku dan menciumi
belahan dadaku yang dalam. Tangannya meremas-remas pantatku. Dengan
giginya dia melepaskan salah satu tali BH-ku. Putingku yang berwarna
coklat muda pun mencuat keluar akhirnya. Seperti bayi saja dia langsung
saja mengisap putingku dan digigitnya sehingga aku mengerang antara
sakit dan nikmat. “Aakkkhh… hmm… Wayneee”

Tangan kanannya
berpindah ke selangkanganku. Celana dalamku sudah basah karena cairan
kewanitaanku. Tiga jarinya ditekan-tekan dan di gosok-gosok di antara
selangkanganku. Benar-benar membuatku terangsang sekali. Sedangkan
tangan kirinya meremas-remas buah dadaku yang sebelah kanan. Buah
dadaku yang sebelah kiri masih diisapnya dengan rakus. Setelah beberapa
detik kemudian, dia melepaskan celana dalamku dan celana dalamnya juga.
Tanganku segera meraih batang kemaluannya yang tidak begitu besar tapi
tegak sempurna. Kugenggam erat batang kemaluannya dalam tanganku dan
kuremas-remas. Kali ini aku mendengar dia mengerang nikmat, “Ooohh…
Nikmat sekali”

Setelah itu dia pun membuka BH-ku. Membebaskan
buah dadaku dari himpitan BH. Dibenamkan wajahnya di antara buah dadaku
sambil lidahnya menjilat jilat. “Waynneee… hmm… oohh”, kugigit
bibirku menahan nikmat ketika jarinya menggelitik bibir liang
kewanitaanku dan mulutnya sibuk menjilat dan mengisap putingku
bergantian.

Melihat aku sudah begitu terangsang. Wayne segera
saja memakai kondom, dibuka lebar-lebar kakiku dan ditusuknya batang
kemaluan ke dalam liang kewanitaanku yang telah basah sekali. Pertama
kali merasakan tusukan batang kemaluannya, aku benar-benar merasakan
bagai disengat listrik. Baru kusadari, setelah dua tahun, aku
benar-benar merindukan tusukan batang kemaluan dari seorang laki-laki
di liang senggamaku. Aku dan dia sama-sama mengerang nikmat saat itu.
Lalu yang kuingat, Wayne mulai menggerakkan badannya naik.. turun,
naik.. turun. Setiap gerakannya benar-benar membawa nikmat bagiku. Lalu
diangkat kakiku sehingga membebani kedua pundaknya. “Oooohh…
uugghhmm”, benar-benar nikmat sekali. Terasa sekali batang kemaluannya
menusuk liang kewanitaanku dalam sekali.

“Ohh Rini… indahnya hidup ini.., kalau aku bisa bersetubuh denganmu terus! Ooohh… ini lebih indah dari telepon seks!”

Wayne terus saja mengenjotku dengan batang kemaluannya. Matanya merem-melek menikmati batang kemaluannya.

“Genjot terus..”

“Uggh.. uuuggghh… Ooouuuggh.. ugh.. uggh”

Gerakannya
semakin cepat dan keras. Terdengar suara-suara ‘basah’ setiap buah
pelirnya bertemu dengan lubang pantatku. Keringat kami mengucur deras.
Buah dadaku bergerak naik.. turun, naik.. turun dalam himpitan pahaku
disetiap genjotan Wayne.

“Riniii… oooh.. terus.., aku hampir
sampai oouuuggh” Wayne segera menurunkan kakiku dari pundaknya.
Tangannya meremas buah dadaku dengan keras sehingga aku menjerit
kesakitan dalam nikmat. “Aarrrgghh.. waynee!”

Tubuh Wayne
mengejang sebelum akhirnya jatuh lunglai di atas tubuhku. Kurasakan
keringatnya dan keringatku bercampur aduk. Diciuminnya pipiku dan
membiarkan batang kemaluannya mengecil di dalam liang kewanitaanku.
Dengan sendirinya batang kenikmatannya pun permisi keluar dari liang
senggamaku yang masih berdenyut-denyut minta ditusuk lagi. Malamnya
kami kembali berseks ria lagi dan lagi.

Keesokkan siangnya,
Wayne tampak tidak bersemangat melayani nafsuku. Katanya kepala batang
kemaluannya rasanya sakit sekali. Aku tidak kehabisan akal. Aku ingat
ketika aku sakit gigi, aku suka sekali memakai es batu untuk mengusir
rasa sakit walaupun cuma sebentar. Kuambil es batu dari lemari es dan
kutaruh semuanya di atas mangkuk.

Wayne sudah bugil saat itu
dengan batang kemaluannya yang sudah tegang. Kumasukkan salah satu es
batu dan kugigit-gigit sehingga hancur di dalam mulutku. Lalu lidahku
yang dingin pun menjilat batang kemaluannya. Kulihat Wayne gemetar
dibuatnya. “Dingin!. ooohh… apa yang kamu lakukan!” tanyanya. Aku
tidak menjawab. Hanya tersenyum dan meneteskan air es ke atas kepala
kemaluannya lagi. Lalu kujilat, jilat, jilat dan jilat dengan lidahku
yang mulai hangat lagi. Kumasukkan bongkahan kecil es batu ke dalam
mulutku, lalu tiba-tiba saja kuisap batang kemaluannya ke dalam
mulutku. Wayne merintih nikmat. “Oohh Rinnn that.. really so uuuggh..
niceee”

Aku terus saja mengisap dan menjilat batang kemaluan
Wayne dengan es batu di dalam mulutku. Wayne terus saja merintih dan
mengerang nikmat tiada hentinya. Jariku yang dingin bekas air es
menyentuh pelirnya dan meremas lembut. Wayne mengerang tambah gila
saja. Tangannya meremas kuat sekali pada bantal dan sprei. Kakinya
mengejang terus-menerus menahan nikmat yang kuberikan dari mulutku yang
dingin.

“Feeling better?” tanyaku iseng sebelum memasukkan es
batu yang lain ke dalam mulutku. Wayne hampir saja tidak dapat
menjawab, “Eeehh yes” jawabnya susah payah karena aku kembali mengisap
batang kemaluannya dengan batu es yang masih utuh di dalam mulutku.
Gerakan kepalaku kali ini kupercepat naik turun. Tanganku terus saja
memijit-mijit pelirnya. Nafas wayne semakin berat dan memburu. Aku tahu
dia sudah mau keluar. Kuperlambat isapanku lalu kupercepat lagi.
Mempermainkan batang kemaluannya seperti itu benar-benar membuatku
tambah gemas dan terangsang saja.

“Rinn.. cepat hisap..” mohon
Wayne akhirnya aku mempercepat isapan batang kemaluannya. Kutarik
keluar batang kemaluannya dari mulutku dan kuisap masuk lagi. Kubiarkan
mulutku kehabisan es batu. Kuberanikan diri menelan cairan es batu yang
bercampur dengan cairan batang kemaluannya yang asin. Sungguh, baru
pertama kali ini aku menikmati melakukan oral seks. Terhadap mantanku,
aku tidak pernah menyukainya.

“Uuuhhgg.. ooohh yesss.. uugghh..
ooohh.. oooh.. arrghh.. arrgh”, rintihan Wayne semakin tidak beraturan
saja, tapi aku terus saja mengisap batang kemaluannya dengan mulutku
yang mulai hangat, “Oooh.. hisap sekarang!”

Kaki Wayne mengejang
tegang dan batang kemaluannya yang berada di dalam mulutku bergetar.
Aku mengambil inisiatif terus mengisapnya. Air maninya menyemprot
keluar dalam mulutku. Kuputuskan untuk menelannya. Ah, ternyata rasanya
nikmat juga, seperti air kelapa saja cuma agak asin. Kuisap habis air
maninya tidak setetes pun yang lolos dari jilatanku.

Kupanjat
tubuh Wayne dan tersenyum puas padanya. Aku puas dapat memuaskannya.
Diciumnya bibirku. Lima belas menit kemudian, batang kemaluannya tegang
lagi dan kali ini batang kemaluannya ditusukkannya ke dalam liang
kenikmatanku dari belakang. Empat hari dengan Wayne, tiada hari tanpa
seks. Aku sering memberikannya blow job dan dia pun sering menyiksa
nikmat liang kewanitaanku dengan jari dan batang kemaluannya. Memang
setelah berkali-kali kami bercinta, cuma sekali aku mencapai puncak.
Saat itu posisinya aku yang di atas menaiki tubuhnya. Tapi bercinta
dengan Wayne adalah salah satu petualanganku yang murni karena aku
berseks ria dengan rela dan sepenuh hati. Bukan lantaran kepingin
ditolong untuk melunasi hutangku (pada saat itu aku belum punya
hutang). I really enjoy it. Wayne sekarang sudah menikah dan tinggal di
Sydney.

Belum Selesai

Aku, Rini. pernah punya teman internet yang berusia setengah abad dan berakhir dengan bermain cinta. Malam itu aku di cyber café dan chatting. Dia yang duluan menyapaku. Ternyata dia orang Taiwan yang sedang business trip
di Jakarta. Kami chatting sebentar. Pada saat itu aku sedang stres
berat karena masalah hutangku. Seperti biasa layaknya cowok-cowok yang
lain, lelaki setengah baya ini menawarkan bantuan. Dan seperti biasanya
pula aku selalu percaya. Well, orang stres dan depresi selalu berharap
walaupun sangat kecil kesempatannya. Kupikir, kalau dia mau berhubungan
seks, yah kuberikan saja toh dia bukan orang yang pertama. Siapa tahu
aku bisa dapat sedikit uang darinya. Ironis sekali pemikiranku saat itu.

Aku
lupa namanya. Benar-benar lupa. Satu jam setelah chatting dengannya,
aku pun berangkat ke hotelnya. Hotelnya dekat Mall Taman Anggrek.
Seperti biasa, langgananku taxi Blue Bird yang sudah kuhafal mati nomor
teleponnya.

Anggap saja namanya Tony. Pertama kali melihatnya,
kesan yang kudapat adalah perutnya gendut sekali. Pasti berat menahan
bebannya di atas tubuhku. Wajahnya terlihat keras dan tangannya besar
serta kasar ketika dia menyambut tanganku untuk bersalaman. Langsung
saja aku mengikutinya ke kamar hotelnya.

Sementara dia kembali
sibuk mencari cewek-cewek Jakarta di internet, akupun nonton TV. Segera
saja aku bosan karena dia sama sekali tidak mengajakku bicara. Sialan,
aku dicuekin. Emang nikmat! Aku pun mengeluh ingin pulang saja. Segera
dia matikan note book-nya dan duduk di sampingku, di bibir ranjang.
Sambil berbicara mengenai dirinya sendiri yang sudah cerai dengan
istrinya dan anaknya yang berusia belasan tahun sedang kuliah di luar
negeri, tangannya yang kasar langsung saja meremas buah dadaku. Aku
berusaha menghindarinya. Tak ingin rasanya aku disentuh olehnya.

Ketika
aku hendak berdiri dan pergi meninggalkannya. Tiba-tiba dia menarik
tanganku dengan kasar dan kuat. Dihempaskannya aku ke atas ranjang,
segera dia menindihku dengan tubuhnya yang lumayan berat. Kedua tangan
meremas buah dadaku dengan keras sekali, aku sampai merintih kesakitan.
Tiada aku merasa nikmat sama sekali.

“You hurting me..”
rintihku. Dia cuma tertawa. Aku berusaha mendorong tubuhnya tapi kedua
tanganku segera dikuncinya dengan salah satu tangannya naik di atas
kepalaku sedangkan tangannya yang satunya dengan kasar meremas buah
dadaku sambil bibirnya berusaha menciumku. Aku meronta tapi tiada arti.
Dia malah tambah menyakitiku dengan remasan atas buah dadaku.

“Payudaramu sangat besar dan lembut.. You like it right?” bisiknya sambil tangannya terus meremas buah dadaku bergantian.

“You like the way I squeeezing it… right? uuugghh”

Aku
diam saja tidak berkutik. Kututup mataku, tak ingin kulihat wajahnya.
Muak sekali rasanya pada diriku sendiri. Kumaki terus dia dan diriku
yang bodoh ini. Kutahu aku tidak bisa lolos lagi darinya. Setengah
berbisik kuminta dia mematikan lampu dan menutup gorden. Pertama dia
tidak mau, katanya dia mau melihat dengan jelas tubuh bugilku. Tapi
setelah kuminta lagi dan lagi, dia pun mau melakukannya. Dia hanya
menyisakan lampu kecil dari meja kecil di samping tempat tidur.

Kubiarkan
dia menelanjangiku, well setidaknya bagian bawahku. Bagian atas dia
cuma membuka kancing kemejaku dan menarik BH-ku ke atas. Kubiarkan dia
merajalela di atas tubuhku. Dicubitnya putingku dan diremas remasnya
buah dadaku dengan tangan kasarnya. Sambil meremas buah dadaku,
lidahnya menjilat-jilat lincah di atas putingku. Tubuhku
mengkhianatiku, liang kewanitaanku mulai basah apalagi ketika dia
memasukkan salah satu jari yang lumayan besar dan gendut ke dalam liang
kewanitaanku. Digigitnya putingku gemas sambil jarinya menusuk-nusuk
liang kewanitaanku. Mau tidak mau aku menjerit kesakitan diantara
nikmat, “Aakkhh..”

“Ohh yesss, you like it… don’t you… huh?” tanyanya.

Aku
diam saja. Kubenci sekali dengan tubuhku yang mulai terangsang dengan
sentuhannya. Kututup mataku dan kugigit bibirku agar tidak keluar
suara. Cuma nafasku yang mulai terasa berat. Ketika kubuka mataku,
ternyata dia sudah bugil dan batang kemaluannya yang lumayan besar
sudah diacungkannya dekat liang senggamaku.

“Tunggu… pakai kondom
dulu dong”, mohonku tapi dia tidak peduli. Belum sempat aku menghindar
dia sudah mendorong pantatnya dan batang kemaluannya itu sudah masuk ke
dalam liang kewanitaanku yang sudah basah sekali.

“Oookkh…
yesss!” kudengar rintihannya yang kemudian ia mulai mengenjotku dengan
kemaluan tuanya yang masih cukup ‘gagah’. Tenaganya lumayan besar
karena dia mampu mengangkat pantatku sambil memasukkan batang
kemaluannya ke liang kewanitaanku. Kugigit bibirku agar tidak merintih
nikmat. Tak ingin aku dia tahu kalau aku mulai menikmati persetubuhan
ini. .

“Uugghh… uugh.. ugh.. ugh.. uuugh.. uughh.. uuugghh..
uuuggh.., kamu suka kan!”, Terus saja dia menggenjot batang kemaluannya
menghunjam liang kewanitaanku. Tidak sampai lima menit kemudian
tiba-tiba saja tubuhnya itu mengejang, “Aarrggghh!” Segera dikeluarkan
batang kemaluannya dan dikocoknya beberapa kali sampai akhirnya air
maninya menyemprot keluar di atas perutku. Kurasakan hangatnya air
maninya di atas perutku. Setelah itu dia pun berjalan ke kamar mandi
membersihkan tubuhnya, setelah itu giliranku.

Kutatap wajahku
yang terpantul di cermin kamar mandi. Kumaki diriku sendiri. Aku mandi
dan menggosokkan sabun sebanyak-banyaknya di selangkanganku hingga
terasa perih, begitu pula perut, puting dan leherku. Tapi rasa jijik
dan kotor tidak juga hilang. Setelah itu akupun meninggalkan hotelnya
langsung tanpa banyak bicara lagi. Aku tahu dia tidak mungkin
membantuku dalam menyelesaikan hutangku. Sungguh, inilah salah satu
kesalahanku yang paling bodoh.

Tambuah Cieek

Dalam petualanganku mencari
bantuan dana untuk melunasi hutangku dengan teman internet bukan hanya
dengan orang-orang dari manca negara. Orang lokal juga pernah. Aku
ingat, namanya Rudy. Pertama kami hanya chatting biasa. Lalu dia mulai
meneleponku di tengah malam. Kami bercinta via telepon. Suaraku yang
katanya seksi sangat merangsangnya sehingga membuat dia ingin sekali
bertemu denganku. Tapi aku menolak, karena dia sudah beristri. Saat itu
istrinya baru habis melahirkan dan sedang isitrahat di rumah orang
tuanya bersama bayi perempuannya. Tinggal dia sendiri di rumah.

Aku
punya prinsip tidak akan mau menganggu cowok yang sudah berkeluarga
ataupun sudah punya pacar. Pantang lah! Dia menawarkan bantuan yang
tidak sedikit padaku jika aku mau bertemu dengannya dan membiarkannya
melakukan anal, tentu saja aku menolak.

Saat itu, aku baru saja
patah hati dengan salah satu teman internetku yang dari Singapore. Aku
pernah bertemu dengannya dan sebenarnya dia mencintaiku tapi dia tidak
dapat menerima kenyataan kalau aku pernah berhubungan seks dengan
sepupuku sehingga dia memutuskanku. Setidaknya cowok ini tidak pernah menyentuh
tubuhku walaupun dia ada kesempatan untuk itu. Kami hanya berphone
seks, itupun setelah dia kembali ke Singapore. Dan setidaknya, dia
pernah mengirimkan uang untuk membantuku melunasi hutangku. Ah, aku
kangen deh dengannya. Entah bagaimana keadaannya sekarang.

Oke,
kembali ke Rudy. Rudy ini bebal sekali tidak pernah sekalipun menyerah
walaupun sebenarnya dia sendiri ragu-ragu. Dia pernah mengirimkan
photonya padaku lewat email-ku yang di hotmail. Usianya 32 tahun dan
putih bersih kulitnya. Rudy bahkan sudah menemukan motel terdekat di
daerah dekat tempat tinggalku. Aku pun terus menolak tawarannya. Saat
itu aku masih mengharapkan cowok Singapore-ku kembali padaku. Aku
berharap pada hari Ulang Tahunku dia akan sudi mengirim short email
untukku.

Tapi yang kudapatkan hanyalah kekecewaan. Dia tidak
pernah kembali dan Rudy mengambil kesempatan pada saat aku sedang
sedih. Sehari setelah hari Ulang Tahunku yang ke 24, Rudy datang ke
tempatku dan menjemputku untuk ke motel. Ini adalah pertama kali aku ke
motel di Jakarta.

Motel memang tidak terlalu bagus, tapi
lumayanlah. Rudy dan aku cuman ngobrol-ngobrol dulu di atas ranjang
sementara TV menayangkan daftar nama nama menteri baru di kabinet
pemerintahan reformasi. Aku berbaring membelakangi Rudy.

“Kok
diam sih? katanya pengen dipeluk!” bisik Rudy sambil memelukku dari
belakang. Memang yang kudambakan adalah pelukan dari seseorang pada
saat itu. Aku selalu suka dipeluk, karena aku merasa aman karenanya.
Kubiarkan Rudy memelukku dari belakang sambil tangannya meremas-remas
buah dadaku.

“Ternyata loe tidak bohong.. tetek loe emang gede..
tangan gue aja tidak cukup menutupinya”, bisiknya lagi sambil meremas
buah dadaku sedangkan batang kemaluannya digesek-gesek di belahan
pantatku sehingga dapat kurasakan batang kemaluannya yang sudah tegang
dan keras.

Tangan Rudy turun menyentuh selangkanganku, saat itu
kami berdua memang sudah melepaskan celana jeans masing-masing. Rudy
menemukan aku belum basah benar, akhirnya dia memutuskan untuk kembali
meremas buah dadaku. Setelah meremas, dengan posisi badan setengah
bangun, Rudy mencium dan menjilat telingaku. Kurasakan hembusan
nafasnya di telingaku, mau tidak mau aku mengigil geli.

“Rinii..
mana putingmu? hmmm”, bisiknya sambil jari tangannya terus meraba-raba
mencari putingku dari balik BH dan kaosku. Gerakan jarinya benar-benar
merangsangku. Aku mulai menikmati permainan tangannya. “Hmm.. eehh”
rintihku lemah.

Rudy menemukan putingku yang tegang menegang
karena sentuhannya. “Ini dia.. he.. he.. he…” langsung saja Rudy
menggaruk keras putingku. Kali ini dia memusatkan perhatiannya pada
putingku. Kali ini badanku sudah bergerak menghadapnya. Kedua putingku
dipelintirnya pelan dengan jari-jarinya sehingga aku tambah merintih
keenakan serta geli. Kurasakan cairan hangat keluar dari liang
kewanitaanku sedikit demi sedikit. Rudy mencium celana dalamku dan di
jilatnya.

Tanpa membuka kaosku, Rudy membuka tali BH-ku dan
kemudian dengan lahapnya dia mengulum salah satu putingku sehingga
merem-melek aku dibuatnya. Putingku yang satunya digaruk-garuk dengan
jarinya serta tangannya yang lain sibuk menggaruk-garuk liang
kewanitaanku yang masih mengenakan celana dalam.

“Ooohh.. eehh..
hmm” terasa tenggorokanku kering. Aku menelan ludah membasahi
tenggorokanku. Rintihanku semakin jadi. Rudy segera meloloskan celana
dalamku serta miliknya juga. Dipasangnya kondom sebelum dihunjamkannya
ke dalam liang kewanitaanku yang sudah basah sekali. Rudy terus saja
menjilat dan mengulum putingku bergantian ketika batang kemaluannya
asyik memasuki liang senggamaku. Aku benar-benar merasa nikmat sekali
apalagi tangan Rudy memijit-mijit bagian atas liang sorgaku. Gila, aku
pun merintih semakin kuat dan nafasku seakan-akan habis dibuatnya. Aku
pun akhirnya merasakan akan mencapai puncak dan Rudy tahu itu.
Dipercepat gerakan dan pijitannya, bibirnya asyik saja mengulumku.

“Aakkhh…”
aku merintih lemah. Kugigit bibirku kuat sekali. Tubuhku menegang dan
aku mencapai puncak kenikmatan yang menyenangkan sekali. Tidak lama
kemudian tubuhku pun melemas. Rudy masih saja belum klimaks,
dibalikkannya tubuhku dan pantatku diremasnya. Aku tahu apa yang akan
dilakukannya. Kurasakan batang kemaluannya menyentuh lubang pantatku
yang masih belum pernah dimasuki batang kemaluan. Aku pasrah saja,
badanku lemas sekali setelah aku klimaks tadi.

Setengah memaksa
Rudy menusuk batang kemaluannya ke dalam lubang pantatku yang masih
sempit sekali. Aku menjerit kesakitan. Benar-benar sakit sekali. Aku
menangis dibuatnya.

“Ooouukkkh.. gilaa.. nikmat banget lubang pantat
loe.. sempit sekali”, Rudy terus saja menusuk batang kemaluannya lebih
dalam lagi dan membiarkannya sebentar. Kugigit bibirku sampai terasa
perih menahan sakit. Lalu Rudy pun mulai menarik keluar batang
kemaluannya dan menusuknya lagi ke dalam lubang pantatku. “Aduuuh..
nikmat sekali say.. uggh.. uugh. uggh.. heehh.. uugh”, kudengar
rintihan nikmat Rudy di telingaku. Nafasnya berat dan tambah berat
saja. Untunglah tidak berlangsung lama, karena tidak lama kemudian Rudy
mencapai klimaks dan menyemprotkan spermanya di dalam lubang pantatku.

Ternyata
dia sudah melepaskan kondomnya saat dia akan menusuk lubang pantatku.
Dibiarkan batang kemaluannya mengecil di dalam lubang pantatku setelah
itu ditariknya keluar. Sejak hari itu, aku tidak pernah bertemu dengan
Rudy dan dia pun tidak pernah meneleponku lagi. Janjinya padaku untuk
transfer uang kerekeningku tidak pernah dipenuhinya. Janji tinggal
janji. Aku tidak pernah menyalahkan mereka. Yang kusalahkan adalah
diriku sendiri. Begitu bodoh dan lugu. Akhirnya aku cuma bisa menangis
dan menangis. Aku benar-benar membenci diriku!

Hajar Sis

Aku pernah bercinta dengan orang India.
Namanya Ricky. Aku kenal dia dari net tentunya. Orangnya ramah dan
tampan. Tidak seperti orang India pada umumnya, kulitnya bahkan lebih
putih dari kulitku sendiri. Tapi seperti orang India pada umumnya, dia
tinggi besar.

Ricky sama sajalah dengan cowok yang lain. Memberi
harapan kalau dia akan membantuku, yang tentunya tidak pernah dia
penuhi. Aku yang memang sudah putus asa, tetap saja tergoda dangan harapan palsu itu.

Pertama,
kami hanya minum-minum di Pub tempat dia menginap. Hotel mewah daerah
Senin. Ribut sekali suasananya sehingga aku dan dia harus saling
berteriak kalau ngomong. Dia pesan Whisky dan aku memesan Whisky cola.
Sepertinya Whisky-nya kebanyakan daripada colanya. Aku merasa wajahku
merah karena panasnya Whisky itu. Kamipun memutuskan berbicara di
kamarnya saja, walau aku merasa kepalaku berdenyut, tapi aku masih bisa
berjalan tegap mengikuti langkah Ricky masuk ke kamarnya.

Tapi
sesampai di kamarnya, aku merasa tidak tahan lagi dan akhirnya ambruk
di atas tempat tidurnya. Ricky membantuku melepaskan sepatu hak
tinggiku dan membetulkan posisi tubuhku di atas ranjang. Aku hanya
berbaring sebentar kemudian nonton TV bersamanya. Kami berdua tidur
berdampingan, nonton TV sambil ngobrol.

Entah karena suasana
atau apa, Ricky tiba-tiba menindihku dan bertanya, “Boleh kan aku
menciummu?” aku tidak menjawab, bingung melihat aku lama tidak
bereaksi, Ricky langsung saja mendaratkan bibirnya ke atas bibirku.
Lembut sekali bibirnya, tidak seperti yang lain. Benar-benar lama
sekali dia mencium dan menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku. Aku
sampai kehabisan nafas.

Dengan bangganya dia mengatakan,
cewek-cewek yang pernah diciumnya dulu selalu berkata kalau dia itu the
best kisser, aku cuma tersenyum. Sebenarnya, buatku, sehebat apapun
kiss-nya dia.. as long i don’t have any feeling to him, aku tidak akan
menikmatinya. Bahkan terus terang, aku merasa jijik pada diriku sendiri
begitu gampangnya menyerahkan diriku pada sebuah harapan tipis yang
ternyata kosong.

Akhirnya yang kuingat dia menelanjangi diriku
setelah dia menelanjangi dirinya sendiri. Bibir dan lidahnya begitu
asyik memainkan putingku yang besar. Dijilat dan dikulumnya… begitu
lama dia bermain di atas putingku, mempermainkan putingku dengan
lidahnya dan bibirnya di sela-sela giginya yang rata. Akhirnya aku
mulai terangsang apalagi jarinya menyentuh bibir kemaluanku dan
mengocok-ngocok di sana. Akhirnya aku basah dan bertambah basah.

Seluruh
tubuhku seakan dilumuri oleh ludahnya karena dia mencium hampir setiap
inci tubuhku. Dia bahkan menjilat pusar perutku. Ketika dia hendak
menjilat liang kewanitaanku, aku menolak.. entah kenapa, mungkin aku
sedang tidak mood.

Aku tertawa geli dan nikmat ketika dia
menjilat ketiakku yang bersih dan licin tanpa bulu. Tidak pernah
seorang pun yang pernah menjilat ketiakku sebelumnya. Diremasnya buah
dadaku, dijilat jilat lagi putingku sehingga aku merasakan liang
kewanitaanku tambah basah saja dan berdenyut-denyut.

Meskipun
sejak tadi dia sudah telanjang, tidak sekali pun aku memperhatikan
batang kemaluannya sampai akhirnya dia meminta blow job dariku. Kali
ini aku yang menindih tubuhnya. Dadanya penuh dengan bulu membuatku
sedikit sukar untuk menjilati putingnya. Terus terang, aku suka sekali
memainkan puting cowok yang kecil mungil kalau gemas, sering aku
isap-isap lalu kugigit.

Aku cuma menjilat putingnya dan
mengisapnya sebentar sampai akhirnya aku merangkak turun ke batang
kemaluannya. Siapa sih yang bilang kalau orang India barangnya
selalu besar, setidaknya punya Ricky tidaklah besar, bahkan cenderung
lebih kecil daripada punya Francis, salah satu temanku yang dari
Singapore.

Kubuka kulit batang kemaluannya. Aku melihat lubang
kemaluannya sudah mengeluarkan lendir. Kukeluarkan lidahku dan kujilat,
rasanya asin, baunya sama seperti umumnya. Kudengar dia mulai mendesah.
Kujilati kepala batang kemaluannya dengan lidahku.. jilat naik.. jilat
turun. Pertama jilatanku pelan saja sampai akhirnya aku mulai
mempercepat jilatanku.

Ricky mendesah sampai akhirnya merintih,
kemudian aku mengisap masuk batang kemaluannya ke dalam mulutku.
Kusedot sampai hidungku bertemu dengan bulu kemaluannya, kukeluarkan
batang kemaluannya dan kusedot masuk lagi. Aku mulai mengoyangkan
kepalaku maju mundur. Setiap gerakan kepalaku yang menyebabkan batang
kemaluan keluar masuk.. keluar masuk mulutku, menyebabkan Ricky tambah
gemetaran saja.

“Ooohh… Riniii… that really nicee…
uuggghh… hmmphh… Ooohh”, erang Ricky sambil meremas rambutku yang
panjangnya cuma sampai sebahu. Kulepaskan kepala batang kemaluannya
dari mulutku, kujilat pelirnya sambil kukocok batang kemaluannya dengan
tanganku.

Tiba-tiba dia menyodorkan kondom padaku, langsung saja
kusobek bungkusan kondom itu lalu kukeluarkan kondomnya dan berusaha
memasangnya pada batang kemaluannya yang sudah merah ujungnya karena
kuisap tadi. Aku emang tidak pandai memasangkan kondom pada siapapun
dan terus terang, aku tidak suka kondom. Ricky akhirnya turun tangan
memasangkan kondom pada batang kemaluannya.

Dia mengangkat
tubuhku dan menghempaskannya ke samping. Segera dia menindihku dengan
tubuhnya yang lumayan berat itu, diacungkan batang kemaluannya
mendekati liang senggamaku tanpa basa basi. Batang kemaluannya ia
hentakkan masuk ke dalam liang kewanitaanku yang sudah mulai kering.
Aku mengerang sakit sedangkan dia mengerang nikmat.

“Rinii.. nikmat
sekali liang kewanitaanmu..!” rintihnya kemudian mengenjotku dengan
batang kemaluan yang telah terlapisi kondom. Melihat buah dadaku yang
besar ikut bergerak disetiap tusukan batang kemaluannya ke liang
kewanitaanku, Ricky merasa gemas dan langsung saja meremas buah dadaku
lalu digigitnya putingku. Baru kali itu aku bersuara, “Akkkhh…
oohh..” sakit rasanya tapi Ricky mengira aku mengerang nikmat, dia
terus saja mengisap putingku dengan giginya menancap di sana. Terpaksa
aku mendekapnya sehingga dia kehabisan nafas dan akhirnya dia
melepaskan putingku. Dia pun mulai konsentrasi menusuk dan mengenjotku
dengan batang kemaluannya.

Kubiarkan Ricky menggenjot liang
sorgaku yang pelan-pelan mulai basah lagi. Hatiku sebenarnya menjerit
kenapa aku bisa jadi begini. Aku benar-benar jijik dan malu pada diriku
sendiri. Tiba-tiba aku merasa aku ini tidak ada bedanya dengan pelacur
gratisan. Hatiku pedih setiap kurasakan hentakan batang kemaluannya di
dalam liang senggamaku.

Sementara aku menahan air mataku, Ricky
pun mencapai klimaks dan akhirnya ambruk di atas tubuhku.
Sempat-sempatnya dia menjilat putingku sebelum dia membalikkan tubuhnya
dan berbaring di sampingku.

Kulihat dia melepaskan kondomnya dan
segera mengantikan dengan yang baru. Ya ampun, dia masih mau lagi,
ternyata batang kemaluannya masih saja tegang. Ricky mengaku sudah
lebih dari setahun dia hanya mansturbasi dan tidak merasakan hangatnya
liang kenikmatan seorang wanita.

Dia memintaku yang berada di
posisi atas. Aku segera saja merangkak di atas tubuhnya. Ricky meremas
pantatku ketika aku membimbing batang kemaluannya menuju ke liang
kewanitaanku, lalu dengan tidak sabar Ricky segera saja menarik
pantatku ke bawah sehingga batang kemaluannya masuk dalam sekali ke
liang senggamaku sepertinya aku merasakan kepala batang kemaluannya
mencapai perutku saja. Ricky melenguh nikmat, “Ohh..”

Aku tidak
mengangkat pantatku seperti layaknya pada umumnya diposisi begini. Aku
hanya mengoyangkan pantatku maju mundur dengan batang kemaluannya masih
di dalam liang kewanitaanku. Gerakan ini benar-benar ampuh membuat
Ricky merintih dan mengerang nikmat.

“Ooohh… Riniii, sempit sekali
milikmu!” aku tersenyum mendengarnya, tentu saja dia merasa liang
kewanitaanku memijit batang kemaluannya karena sambil mengerakkan
pantatku maju mundur dengan batang kemaluannya masih di dalam, akupun
mengerakkan liang kewanitaanku dengan gerakan hendak menahan pipis.
Cara ini sering kugunakan pada Wayne. Kuingat Wayne juga mengerang
minta ampun padaku saat itu.

Ricky meremas payudaraku sambil aku mempercepat gerakan pantatku maju mundur. Tidak sampai 10 menit Ricky klimaks lagi.

“Ooouuukkkhh..
saya mau keluar..!” Serunya lalu meremas kedua buah dadaku dengan keras
sekali sehingga aku menjerit, “Akkkhh..” Aku segera mengangkat pantatku
setelah beberapa detik kemudian setelah dia melonggarkan remasan pada
buah dadaku, kulihat batang kemaluannya mulai mengendor dan mengecil.

Segera
aku ke kamar mandi dan menutupnya, kubuka showernya, masa bodoh dengan
panasnya. Kubersihkan tubuhku sebersih-bersihnya seperti biasanya aku
tidak pernah merasa bersih meskipun sudah kusabuni beberapa kali.
Akhirnya akupun jatuh menangis mendekap diriku sendiri di dalam shower.

Aku
bertemu dengan Ricky lagi untuk kedua kalinya. Kami memang bercinta
lagi saat itu karena aku masih berharap dia mau mengerti keadaanku dan
membantuku. Sungguh pemikiran yang bodoh tapi yang jelas, ketika dia
minta yang ketiga kalinya aku bilang padanya, “Saya bukan pelacur
murahan!”. Terakhir yang kudengar adalah Ricky sudah bertunangan.

One More times

Kali ini Rini akan menceritakan tentang
si Bule satu-satunya yang pernah bercinta dengan Rini. Namanya Andrew,
orang Belanda berumur 34 tahun. Kebetulan dia datang untuk liburan.
Rini bertemu dengannya sebagai teman, tidak ada maksud apapun karena
Rini sudah tidak mau membodohi diri sendiri dengan harapan harapan
kosong yang pernah ada. Jadi, boleh dibilang Rini bercinta dengannya
berdasarkan suka sama suka (waktu itu Rini sedang goyah banget sih,
tidak peduli pada diri sendiri lagi.., dan memandang rendah diri
sendiri).

Andrew sangat tinggi, hampir mencapai 2 meter lebih.
Rini hanya mencapai di bawah dadanya saja. Matanya biru langit (tapi
Rini lebih suka mata biru laut yang kelam), warna rambutnya coklat muda
dan wajahnya biasa-biasa saja.

Malam itu aku menemani dia minum
di cafe hotel tempat di mana dia menginap di daerah Matraman. Hotel
baru yang cukup nyaman. Nama hotelnya aku sudah lupa tuh.., sepertinya
aku sedikit mabuk ketika mengikutinya ke kamar untuk mengambil
dompetnya yang ketinggalan, kami berencana ke HardRock cafe (aku belum
pernah ke sana).

Tapi ketika sampai di dalam kamarnya, aku
langsung saja melepas sepatu hak tinggi yang menyiksaku. Kakiku terasa
nyaman sekali ketika menapak karpet hotel yang dingin. Langsung saja
aku menjatuhkan diri ke atas ranjang besar yang empuk sambil menyalakan
TV. Enggan sekali rasanya bepergian apalagi sebenarnya aku kurang
menyukai kehidupan malam, aku lebih suka menghabiskan waktu di kamar
hotel untuk ngobrol dan nonton TV (seperti yang aku lakukan pada
teman-teman chatting sebelum Andrew dan sesudah Ricky).

Andrew
mengelus punggungku (aku berbaring telungkup saat itu) dan mengajakku
pergi, kuulurkan waktu dengan mengatakan 15 menit lagi. Andrew terus
mengelus punggungku yang kemudian diteruskan dengan remasan pada
pantatku yang besar. Rasa ngantuk dan letih sudah merasukiku, mungkin
karena minuman yang kuminum di cafe tadi. Kubiarkan dia meneruskan
aksinya sementara aku terus menatap TV sambil berusaha untuk tetap
terjaga.

Kurasakan tangannya menyelusup ke bawah t-shirt biru
gelapku, telapak tangannya yang hangat menyentuh kulit punggungku yang
dingin, terasa kehangatan yang nyaman. Begitu pandainya dia mengelus
punggungku sambil memijit sampai akhirnya aku menikmatinya.

Andrew
melihat sikap pasrahku memutuskan untuk berbuat lebih jauh, dia
membalikkan tubuhku dan setengah menindihnya mulai mengelus perutku,
lalu pelan-pelan tangannya naik ke atas menyentuh payudaraku.

Mataku
tetap tertuju pada acara TV seolah tidak peduli dengan apa yang dia
lakukan. Terdengar suaranya membatalkan niat ke HardRock Cafe, lebih
baik tinggal di kamar hotel dan menikmati moment yang menyenangkan.

Kutahu
yang dia maksud, akupun hanya tersenyum tanpa mengalihkan perhatianku
dari TV. tangannya menyelusup lagi ke balik t-shirt-ku dan langsung
saja meremas buah dadaku yang masih berlindung di balik BH hitamku.

“Rini..,
payudaramu besar dan lembut..” Andrew menyadari putingku bereaksi
dengan sentuhan dan remasannya. “Juga sangat sensitif…” bisiknya lalu
meloloskan t-shirt-ku dari kepalaku. Setelah tubuhku lolos dari t-shirt
yang kupakai, kukembalikan pandangan mataku ke TV lagi, pasrah, itulah
yang kulakukan!

Ketika aku merasakan bibirnya menyentuh putingku
dengan BH yang masih melindungi, aku pun menutup mataku. Hatiku
bergetar entah karena nikmat atau karena ragu. Andrew benar-benar
pandai dalam merangsangku. Gerakan bibir dan giginya atas putingku
benar-benar membuat kemaluanku langsung basah. Dengan bantuanku, dia
meloloskan celana jeans-ku dan celana dalamku. Tinggallah diriku dengan
BH saja di atas ranjang. Tapi BH-ku tidak bertahan lama, setelah Andrew
puas menjilat pusar perutku sembari kedua tangannya meremas kedua buah
dadaku, tiba-tiba saja kedua tangannya menarik penutup dadaku dengan
cepat sehinnga BH-ku langsung saja lepas dari tubuhku.

Segera
Andrew beranjak naik ke payudaraku. Seperti bayi yang kehausan, Andrew
langsung saja mengisap putingku yang sudah ereksi sambil kedua
tangannya meremas-remas pantatku. Kedua putingku dihisap secara
bergantian oleh Andrew, bahkan kadang diremasnya dan berusaha disatukan
kedua putingku sehingga dia dapat menjilat bersamaan. Akupun mulai
benar-benar menikmati permainannya. TV tetap nyala tapi perhatianku
sudah terpecah.

Andrew tampaknya senang melihat reaksiku,
jilatannya turun ke bawah perutku lalu turun.., turun.., dan turun..
Andrew segera membuka kedua pahaku dan kemudian kurasakan hembusan
nafasnya di sela-sela bulu jumbutku yang setengah menutupi kemaluanku.
Tiba-tiba aku merinding karena geli.

Lidah Andrew segera menyapu
bibir kemaluanku. Dia menjilati klitorisku sehingga membuat nafasku
terasa berat dan memburu. Betapa berpengalamannya Andrew dalam hal
beginian. Kurasakan dia memasukkan jari tengahnya ke dalam lubang
kemaluanku yang sudah makin terasa basah.

“Ahh.., oouuh..”,
rintihku nikmat ketika Andrew mengisap liang kewanitaanku dan menelan
lendir yang keluar dari liang sorgaku. Setelah menghisap, dia menjilat
lagi dan lendirku pun tidak habis-habisnya terus keluar. Kubuka lebih
lebar lagi kakiku sehingga Andrew lebih mudah menjilat liang
kewanitaanku sambil menusuk-nusuk jarinya yang besar ke dalam liang
kewanitaanku.

“Oohh” Kugigit bibirku agar tidak merintih terlalu keras.

“Andrew.., ohh.., is sooo niceee…” rintihku sambil meremas rambutnya.

Andrew
bertambah semangat, dia memasukkan jari telunjuknya juga. Akupun
menjerit sedikit kaget. Gila, seperti batang kemaluan saja yang masuk,
apalagi ditambah jilatan dan isapannya yang memabukkan.

Ingin
rasanya aku segera menuntaskan permainan ini, tapi tidak dengan Andrew.
setelah jarinya terus-menerus dikeluar-masukkan dalam liang
kewanitaanku, langsung saja jari itu dimasukkan ke dalam mulutku
sedangkan jari tangannya yang satunya langsung menggantikan
menusuk-nusuk liang kewanitaanku.

Kuisap saja jari tangannya
yang beraroma lendirku sendiri. Andrew menarik jarinya dari mulutku dan
kembali menusukkannya ke dalam liang kenikmatanku lagi.

Akupun merintih semakin jadi, “Arrh…, arhrh…, arrhh…, oooh.., oooh.., Andreww”

Andrew
penasaran aku tidak klimaks. Segera saja dengan jarinya dia menggunakan
lendirku mengolesi lubang pantatku yang sebelumnya dia jilat dulu.
Seumur hidup belum ada yang pernah menjilat lubang pantatku, Hanya
Andrew yang melakukannya.

Setelah dia merasa lubang pantatku
cukup basah oleh lendirku. segera saja dia memasukkan jari tengah
tangan kanannya ke dalam lubang pantatku bersamaan jari tengah tangan
kirinya menusuk masuk ke dalam liang kewanitaanku. Aku menjerit,
“Akkkhh…, ouugghh..” antara sakit dan nikmat. Andrew langsung
menggerakkan tangannya maju mundur sehingga aku merasa kedua lubang
bagian bawahku ditusuk-tusuk, bukan tusukan pada lubang pantatku yang
nikmat, tapi tusukan pada liang kewanitaanku yang nikmat apalagi jari
jempolnya terkadang memijat klitorisku.

Andrew menghentikan
semua kegiatannya lalu segera menelanjangi dirinya sementara aku
tergeletak lemas di atas ranjang. Sempat kulihat batang kemaluannya
yang besar dan panjang. Andrew lah yang mempunyai batang kemaluan yang
terbesar dan terpanjang yang pernah kulihat. Andrew cepat sekali
memasang kondom pada batang kemaluannya yang sudah keras itu.

Tanpa
berkata apa-apa Andrew menjilat jari kakiku kemudian naik ke lututku
kembali menjilat liang kewanitaanku sehingga aku merintih nikmat lagi.
Tiba-tiba kedua tangannya mengenggam kedua pergelangan kakiku yang
kemudian dilebarkan dan diangkat, pantatku terangkat dan jatuh ke atas
pahanya, kurasakan kepala batang kemaluannya menyentuh bibir
kewanitaanku.

Dia meletakkan kedua kakiku pada kedua bahunya.
Dengan salah satu tangannya dia menuntun batang kemaluannya
mengaruk-garuk dan menekan-nekan bibir kewanitaanku.. Aku merintih
lagi, “Oooohh…, pleasee.., just do it…, hmmffh…”

Mendengar
aku memohonnya, Andrew langsung saja menghentakkan pantatnya ke depan.
Hentakan yang keras sekali sehingga langsung saja batang kemaluannya
amblas masuk ke dalam liang kewanitaanku, sakiiit tapi tidak ingin dia
berhenti di situ saja. Andrew membiarkan aku menarik nafas dulu, lalu
segera dia mengoyangkan pantatnya maju mundur. Kurasakan batang
kemaluannya yang besar dan keras itu ‘menyiksa’ liang kewanitaanku
dengan ganas dan cepat.

“Oooohh.., Rini.., liang kewanitaanmu
basah dan hangat.., uuggh.., ooohh.., yesss” Andrew mengerang tidak
kalah kerasnya dengan diriku. Kuremas bantal yang berada di sampingku.
Dinginnya AC dalam kamar tidak dapat mendinginkan nafsu Andrew dan
diriku.

Permainan berlangsung cukup lama, ketika aku ingin
klimaks, Andrew tiba-tiba melipat lututku sehingga pahaku menghimpit
buah dadaku yang dari tadi bergerak naik turun. Ditusuk kembali batang
kemaluannya ke dalam liang kewanitaanku yang terasa mekar dan panas.

“Ooouuccckh…,
arrfffhh”, Bersamaan kami mengerang dilanjutkan rintihan-rintihan,
diiringn desahan nafas yang memburu dan berat, lebih dari 10 menit
Andrew mengenjotku dengan posisi seperti itu sampai kemudian…

“Rini..,
may i come nowww?.., uuugh.., uuggh.., uugghh..” Andrew sudah mau
keluar sedangkan aku masih belum merasa akan klimaks, tapi tetap saja
aku menganggukkan kepala.

Andrew mempercepat gerakannya lalu tak
lama kemudian ia mengerang keras sekali. Kurasakan batang kemaluannya
gemetaran dalam liang kewanitaanku, sampai akhirnya Andrew ambruk.

Malam
itu, Andrew mengerjaiku sebanyak 3 kali dan tidak sekalipun aku
klimaks. Untuk membahagiakannya aku pura-pura klimaks dan terus terang
aku cukup terlatih dalam hal ini soalnya aku sering melakukannya pada
permainanku yang terdahulu.

Andrew pun kembali ke Singapore,
tempat di mana dia bekerja sebagai engineering. Akupun tidak pernah
berniat mengontaknya begitu pula sebaliknya, yang terasa bagiku setelah
itu adalah hambar. Tidak ada rasa kecewa ataupun sedih.

Finish Alias Tamat                   

Bagi yg finish ane ucapin selamat. biasanya 4 ronde aja dengkul udah kopos nah ini 7 ronde bos ckckck dasyat. bagi yg masih tegar silahkan lanjutkan lihat-lihat situs ranjangpedas kesayangan kita.

Petualang cinta