Pulau Berminyak

10th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1291 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Pulau Berminyak

Siang itu kelelahan benar-benar
menyapaku. Masih ada dua rute lagi harus kami jalani untuk sampai ke
pulau Tarakan. Sementara Captain Frank (instruktur terbangku yang funky
dan hobby tidur saat pesawat telah level di puncak ketinggian) masih
terdengar dengkurnya yang nyaring. Sari, pramugari angkatan 24
meleburkan lamunanku.

“Teh, kopi apa susu Mas?”.

“Heh bukan gitu nanyanya”, kataku.

“Trus?”.

“Teh ama kopinya bener…”

“Susunya?”

“Heh.., heh..”, sahutku nakal.

“Dasar !”, katanya sambil senyum manis.

“Oke, kopi instant tanpa gula”, akhirnya aku menjawabnya.

“Captain?”.

“Ssst, beliau baru ibadah !”, kataku.

Sari mengangguk geli sambil ngeloyor membuat kopi.

Begitulah,
sedikit bahasa kami saat di udara sana. Dan setelah menyelesaikan dua
landing terakhir hari ini, sampai juga kita di Tarakan. Sebuah pantai
penghasil minyak yang cukup mungil namun tampak jelas di ujung kanan
atas pulau Kalimantan. Capt. Frank tampak lebih segar setelah istirahat
di cockpit siang tadi. Maklum Tarakan adalah kampung halaman istrinya.
Sedangkan Sari dan Noni tampak kelelahan duduk di belakang mobil yang
mengantarkan kami ke hotel tempat kami biasa beristirahat.

Sebenarnya
Sari dan Noni cukup cantik untuk menjadi teman apa dan ke mana saja.
Sari bermuka antara Padang dan Menado, matanya sipit, rambutnya ikal
seksi, tubuhnya khas pramugari dengan kaki dan punggung indah ditambah
kebiasaannya fitness dua hari seminggu sehingga mukanya tampak selalu
memerah segar. Sedangkan Noni bertubuh sintal dan wajah manis khas
Semarang. Keduanya tampak indah selama perjalanan kerja lima hari ini.
Namun keduanya tak begitu menarik kelelakianku untuk menjelajah cukup
jauh. Bagiku Pramugari is just pramugari. Terlalu riskan untuk
didekati, apalagi pramugari baru seperti mereka.

Kebanyakan
mereka bersih. Namun karena informasi yang dijejalkan oleh para senior
mereka sangat padat, akhirnya banyak juga yang bertumbangan karena
tergoda ingin mencoba lebih “menyelami” pekerjaan mereka sebagai
pramugari. Telah beberapa orang sebelum angkatan mereka masuk telah
kutelusuri pola kehidupannya. Rata-rata mereka tercebur ke dunia
pengajian (pengasah bijian -> sorry bahasa ‘penerbangan’) diawali
dengan latihan pacaran dengan beberapa Co-pilot, Captain, pramugara,
atau penumpang yang kebetulan satu hotel. Mereka melepas keperawanan
mereka hanya untuk melapangkan dunia seks mereka yang seluas rute yang
mereka jelajahi. Sorry buat yang merasa jadi pramugari baik-baik. But
it’s true. Skandal pilot-pramugari memang benar ada. Makanya para pilot
senior mukanya selalu cerah kalau ada penerimaan pramugari baru apalagi
kalau sudah mulai boleh terbang, wah bakalan pada rebutan deh jadwal
terbangnya. Bagi yang hobby hunting, just try it !.

Buatku yang
hidup di lapangan yang sama, bertualang dengan pramugari hanya akan
mengurangi naluri jelajahku. Nah kisahku kali ini bukan pengalaman
me”reyen” para pramugari itu, karena peristiwa di Tarakan ini cukup
unik, makanya sekarang terpampang di sini.

Setelah sampai di
hotel, kami berempat check in. Petugas hotelnya kebetulan 2 orang
wanita. Karena sudah beberapa kali menginap di hotel yang sama,
keakraban pun telah ada antara kami dengan para petugas hotel (beberapa
office boy malah sudah hapal dengan pilot-pilot yang selalu menanyakan
foto ‘artis’ baru di hotel itu)

Sementara ketiga ‘rekan’ kerjaku
sudah menuju kamar masing-masing, aku kembali ke mobil sebentar
mengambil tasku yang tertinggal. Dan kalau mau percaya, hal itu
kulakukan karena aku sering melihat melalui ujung mataku, seorang dari
kedua petugas check in itu selalu berusaha mencuri perhatianku. Dari
arah pintu masuk aku berjalan perlahan dengan pandangan mata hampir tak
berkedip ke arah receptionist itu. Dan dugaanku memang tak meleset.
Dasar memang kisah nyata ini harus terjadi. Dia memberi kode pada teman
satunya untuk sedikit ‘menyingkir’ dari kami.

Sampai di mejanya,
dengan senyum yang tak pernah kubuat-buat kami akhirnya saling
berkenalan. Wajahnya memang manis, Noni masih kalah karena yang ini
lebih dewasa face-nya. Tubuhnya biasa, tingginya biasa, hanya saat kami
bertemu pandang ada sedikit aliran darah yang ‘salah’ masuk urat
rasanya.

“Ini kuncinya Mas”

“Lho kok Mas?”

“Ini sekalian ID-nya Mas, saya juga orang jawa kok..”

“Jawa?”

“Iya saya dari Solo, Mas pasti orang jawa, omongnya kan medok”, katanya.

“Heh.., he.., iya ya.., eh ada juga putri solo di sini..”, kataku datar.

“Kamar 201 Mas”, katanya sambil menyorongkan kunci kamar.

“Makasih, sibuk ya?”

“Belum”

“Banyak tamu?”

“Biasa Mas”

“Nanti ngobrol yuk”

“Ini juga ngobrol”, katanya

“Temen kamu mana ?”

“Ke pantry”, mukanya memerah.

“Ooo…”

“Ya udah, nanti aku yang telpon kamu.., Oke?”

“Iya Ias”

“Namamu siapa ?”, tanyaku sambil melirik kartu nama di dada kirinya.

“Ana.., kalo Mas?”

“Nanti di telepon aja, dinding-dinding sini bertelinga”, kataku sok gentle.

Kuterima
kunci kamar yang ia sorongkan, tak luput aku pegang tanganya yang
menjulurkan kunci. Matanya melirik tajam penuh arti, meskipun bukan
pandangan nakal. OK enough, ini yang aku cari.

“Jam enam aja Mas
telponnya”, bisiknya cepat. Aku mengangguk lalu menaiki tangga menuju
kamar. Sampai di kamar, jam masih menunjuk pukul setengah lima. “Ah
untung masih sempat istirahat”, pikirku.

Aku buka dasi, ID,
wing, bolpoint lalu kuletakkan di atas meja dengan rapi beserta topi
petnya. Kulepas sepatu, kumasukkan seluruh pakaiannku termasuk dalaman
dan kaus kaki ke dalam tas plastik tempat cucian, lalu kutaruh di luar
pintu kamar agar besok pagi siap untuk another flight. Kunyalakan air
di bath up. setelah air hangat penuh aku berendam selama seperempat jam
untuk ‘merebus’ otot-otot sekaligus mengendorkannya.

Jam enam
kurang satu menit, masih dengan tubuh basah aku keluar dari kamar mandi
karena telepon berbunyi. Rupanya dari para pramugari.

“Mas mau makan di mana ?”, kudengan suara Sari yang sekamar dengan Noni.

“Aduh, kayaknya captain ke rokum mertokatnya tuh..”

“Berarti ?”

“Yah, kalian pesen aja dari kamar, kan kita baru hari pertama di sini…”

“Iya Mas mana cape lagi”, katanya.

“Ya udah, istirahat aja dulu, besok baru kita jalan-jalan cari ma’em di luar?”

“Mas gak pa-pa?”

“Udah santai aja kalo ama ogut, aku gak sama koq ama co-pil laen yang harus makan barenglah, inilah.., itulah.., capek !”

“Iya deh Mas makasih ya..”

“Yup!”

Kututup telepon.., eeehh bunyi lagi.. Kuangkat, terdengar suara si Ana di ujung sana.

“Mas sorry aku yang nelpon, abis ruang operator baru sepi nih..”

“Eh, aku dong yang sorry.., terlambat tiga menit nelpon kamu…”

“Ya Mas aku tahu, kan di ruang operator, emang baru ngobrol penting ya tadi sama pramugari di kamar 204?”

“Ah enggak, mereka cuman mau nanya mau makan di mana kok…”

“Ooo”, sahutnya

“Eh Mbak Ana pulang jam berapa?”

“Lho kok pake Mbak?”

“Abis umurku baru dua dua dan mbak kayaknya udah lama kerja di sini..”, jelasku.

“Panggil aja Ana jangan pake Mbak, o iya coba tebak umurku berapa..”

“Engng.., dua lima”, kataku.

“Salah”

“Dua lapan !”

“Lho koq tahu ?”

“Kan nebak…”

“Iya dua lapan tua ya?”

“Enggak juga, malah aku kira dua lima tadi”, aku yakin hatinya agak meremang di ujung sana.

“Mau makan di mana?”

“Mau nemenin?”, tanyaku

“Mmm.., besok kali ya..”

“Sekarang aja deh…”

“Eh, kalo sekarang ngobrol dulu”, katanya ngajarin, (kan lebih tua).

“Uh kelamaan ngobrol kapan akrabnya!”

“Kan nggak enak ngobrol di telepon…”

“Ke sini dong”

“Eh, ke kamar?”

“Iya”

“Waduh…”

“Kenapa.., takut?”

“Enggak.., gak enak aja kalo ketemu temen di lantai dua”

Aku diam sebentar, aku yakin Ana baru berpikir keras. Dalam hati aku bertanya, kok tumben ngobrolnya lancar gini.

“Ya
udah, kamu buka sedikit deh kamarnya, aku naik ke lantai dua, kalo sepi
aku langsung masuk kamar deh…”, katanya tak kuduga.

“Iya deh, aku tunggu..”, kataku.

Kututup
telepon dan buru-buru kupakai kaos dan celana pendekku. Belum tiga
menit pintu terbuka dengan cepat, Ana masuk lalu menutup pintu dengan
cepat pula. Aku hanya melongo melihat kenekatannya. Ana tersenyum,
jelas terlihat nafasnya yang ngos-ngosan karena deg-degan, matanya tak
lepas memandangku. Kuhampiri, kupeluk dia agar agak cepat ketegangannya
menurun.

“Hampir..”, katanya.

Aku hanya tersenyum.

“Baru sekali ini aku masuk ke kamar tamu hotel, habis..”

“Kenapa ?”

“Nov, namamu Nova kan? kamu mirip sama almarhum mantanku yang di Solo..”

Aku
bengong… Ternyata, caraku berjalan, berbicara dan bercanda sangat
mirip dengan pacarnya yang telah tiada yang menyebabkan dia depresi
lalu dibawa ke Tarakan oleh ayahnya dan dikawinkan dengan orang
Tarakan. Ana bercerita panjang lebar kepadaku di tempat tidur sambil
kupeluk.

Setelah selesai dan capek bercerita, kucium bibirnya.

“suamimu?”, tanyaku.

“Di rumah, aku gak pernah cerita sama dia”

“Kamu lima tahun lebih muda menurut mataku..”

Ana
menggelayut manja, tak tampak lagi kepiluan di matanya, mungkin dia
sudah tidak peduli, baginya aku adalah pacarnya yang masih hidup.
Kerinduannya bergejolak berpadu dengan sugesti dan fantasinya yang
terpendam.

Kubelai kepalanya sambil kucium bibirnya.

“Ih, mesra juga”, katanya.

Busyet
kataku dalam hati, sengaja kuhanyutkan diriku ke dalam imaginasinya.
Aneh, seperti disirep, kucium pipinya, mulutnya…, berhenti lama di
situ… mulut kami berpagut seperti memecah ribuan rindu. Lidah kami
bermain di sana. Sungguh, pengalaman kali ini seperti dongeng.
Kuturunkan lidahku ke arah lehernya.., menggelinjang.., matanya
terpejam, tangannya bergidik seperti menahan gelombang perasaannya
sendiri.

Dengan gigi, kubuka satu persatu kancing bajunya dari
atas, aku sendiri heran, biasanya tak sesabar ini. Setelah terbuka
bajunya, tampaklah sepasang dada yang indah. Kupandangi…, sengaja tak
kucium, aku tahu Ana menunggunya. Tanpa Ana sadari, dari pinggang,
tanganku langsung masuk ke spannya.

“Hekhh..”, Ana melotot saat terasa kedua tanganku langsung meremas kedua pantatnya.

“Heh.., heh.., jangan sembarangan ya Mbak..”, kataku dalam hati.

Buah dadanya masih menantang tepat di depan kedua mataku.

“Nov…”

Matanya
terbuka menantangku melakukan yang lebih. Tangan kiriku masih menopang
pantatnya, tangan kananku dengan cepat dan sedikit kasar merangsek ke
vaginanya. Sekarang matanya malah melotot, sekali-sekali kelopaknya
bergetar menatap mataku. Kusambut tatapannya dengan dingin.

“Mmmffh..,
mmhhh…”, tampak Ana menahan sensasinya. Matanya semakin memberi
tenaga pada sang penis di belahan pahaku. Sekarang giliran jari tengah
kiriku menyodok lubang duburnya. Tampaknya Ana tidak menyangka itu akan
kulakukan, “Slettt..”, dua ruas jari tengah sukses menyetubuhi
pantatnya yang kuning mulus itu. “Hmm.., eeehh..”, nafasnya mulai
memburu. Kulanjutkan jari tengah kananku dan.., “slet..!”, langsung
tiga ruas masuk ke sana, jempolku menekan clitorisnya.

“Haah..,
Nov.., hmmm..”. Ular dipelukanku yang tadi diam dengan tabah kini
berkelenjotan dengan panik tapi yang meyebabkanku makin sayang padanya
adalah matanya. Seolah-olah Ana ingin menyaksikan dunia nakal di balik
mataku. Tangannya menggapai-gapai meskipun ada tubuhku di depannya. Ana
masih belum menyerah, dia masih terbang dengan kerinduannya, jauuuh..,
tinggi.., tak tahu sampai di mana. Selagi Ana meliuk-liukkan tubuhnya
dengan ganas, kulepas dengan tiba-tiba kedua jariku dari kedua
lobangnya. Kubanting tubuhnya ke ranjang, kuarahkan penisku ke wajahnya
dan di sambut kuluman mesra pada penisku, kuikuti french kiss pada
vaginanya.

“Mmmhh.., ssshh.., mmmhh.., ahkkk..”, dan sepanjang
waktu 20 menit berikutnya kita berkutat dalam posisi terbalik dengan
posisi 69. Clitorisnya semerah daging babi yang baru direbus, vaginanya
banjir bandang, baunya wangi seperti arak cina bercampur wijen.

“Akh..,
ahhhkk.., iikhh.., Nov.., Nov.., ahhh..”, erangan Ana diikuti gerakan
mengejan eksotis di pinggulnya. Striptease di Fort-street selandia sana
masih kalah jauh dengan yang satu ini. Desah dan erangan Ana tiba-tiba
berhenti. “Sreppp.., srreepp..”, mulutnya berhenti di penisku, rupanya
Ana tak terima berkali-kali orgy sendirian, dia betot penisku dan
dimasukkan penuh ke dalam mulutnya sementara salah satu jarinya entah
yang mana mulai membalas dendam perlakuanku pada awal permainan tadi.
Ya, jarinya ia masukkan ke duburku bersamaan dengan energy memuncaknya
Ana menyedot dan mengocok jarinya yang tenggelam dengan tak teratur.

Pembaca,
bukan main yang kami alami saat itu. Dalam satu kesempatan yang tak
terhitung lagi, meledaklah kedua puncak birahi kita secara bersamaan,
berisiknya sudah tak terkira lalu hening. Kubalik posisi hingga kini
Ana berada di atasku. Sambil megap-megap Ana memasukkan penisku ke
liang vaginanya. Tak tahu bagaimana caranya penis yang mulai lemas itu
akhirnya terpendam di dalam vagina Ana yang berkedut-kedut, sementara
antara sadar dan enggan berdiri, sang penis secara perlahan mulai sadar
kembali hingga tak sempat lemas lunglai. Rupanya Ana secara naluri tahu
cara membooster penis agar cepat ereksi.

Sekian puluh detik
berlalu, penisku siap bertempur di liang vaginanya. Ana pasti sudah
tahu itu tapi mbak yang satu ini rupanya memiliki “sesuatu” meski telah
kuyup badan kami berdua, meskipun napas tinggal satu-satu nampaknya
pertarungan sesungguhnya segera berlangsung.

Selanjutnya aku
sendiri bingung menceritakannya seingatku, badannya memelukku dengan
erat, tangannya memegang kedua pantatku. Kedua tanganku disuruhnya
memeluk erat punggungnya lalu ia menyuruhku memejamkan mata dan
kepalanya turun menempel di leher kiriku, mukanya tenggelam di bantal.
Kuturuti semua pesannya, “Nurut aku ya Nov, kamu diem aja, kalo gak
bisa nahan ikutin naluri aja, jangan mikirin apa-apa, jangan pake
teori… sekarang diem dan nikmatin aja…”. Begitulah kira-kira
instruksi singkat yang kudengar samar-samar di telingaku.

Tiba-tiba,
“Sutt.., srrruuutt..”, tak tahu apa yang dilakukan dengan pinggulnya,
yang jelas gerakannya membuat tulang-tulangku serasa lolos sampai
sunsumnya. Aku melotot tak mampu berteriak, dadaku sesak dan tenagaku
hanya terkumpul di tiga titik, dua telapak tangan dan penis. Sepertinya
penisku hampir meledak.

Gilaaa, kuremas apa yang bisa kuremas,
sementara aku tak bisa melihat muka Ana, dadanya masih menindih dadaku,
tangannya masih di pantatku tapi pantatnya seperti ombak melebur-lebur
dahsyat. Entah berapa menit Ana memacuku seperti itu, mataku
berkunang-kunang.

Tiba-tiba badannya tersentak ke belakang,
posisi Ana sekarang terduduk, sekilas aku sempat melihat Ana mengatur
nafasnya, “Hhhh.., sshhh.., mmmhhp..”, rupanya mukanya ia tempelkan di
kasur agar tak bernafas dan nampaknya serangan kedua telah siap ia
lakukan. Aku kini lebih siap, kutarik nafas dalam-dalam lalu
“Sssyyyuuutt..”, seperti ada angin di dalam tubuhku ke arah penisku
yang terasa kempot-kempot.

Gila !, apalagi nih.., dan aku tak
mampu bernapas, dadaku sesak, kandung kemihku serasa dibetot-betot..,
dan di puncak kenikmatan ini air maniku terasa bagaikan air bah dari
dam yang jebol. Ana menggigit kencang bantal di mukanya, kukunya
mencengkram kencang pantatku, vaginanya bagaikan vacuum cleaner super.
“Crottt.., crooott.., crott”. Kami tak mampu berteriak, kami ledakkan
sensasinya di dalam dada. Gila, baru sekali ini aku merasakan hal yang
luar biasa seperti ini. Dan hebatnya lagi, Ana langsung bangkit dari
dadaku.

“nova.., sudah malam.., aku pulang dulu..”

Aku cuma
melongo tapi tak mampu untuk bangkit apalagi mencegahnya, mataku
berkunang-kunang saat Ana selesai berpakaian, dan akupun tertidur
karena kecapaian.

Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul empat
pagi. Saat kulihat selembar kertas tertempel di kaca hias. Ana
meninggalkan pesan, “Nova sayang, kamu baik sama Ana, besok ngobrol
lagi”. Di balik kertas itu dia meninggalkan nomor telepon rumahnya.

Dan
lima hari tugas di Tarakan hampir setiap malam hal yang sama terjadi,
namun kami melakukannya di lain hotel di kamar nomor 13. Sekarang
kadang aku merindukan ketabahannya itu, bukan main.., bahkan hal itu
tak terulang lagi padahal aku sangat merindukan belaian serta pelayanan
dari Ana.

TAMAT

Pulau Berminyak