Sahabat Pena

24th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1263 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Sahabat Pena

Amelia, sahabat penaku itu, waktu itu
bekerja sebagai asisten apoteker di kota Cikampek. Ia memang lahir di
situ, ayahnya mempunyai penggilingan beras. Seperti lazimnya pengusaha
di kota kecil, ayahnya keturunan Cina. Ia sulung dari 6 bersaudara dan
akhirnya aku juga akrab dengan keluarganya akibat sering main ke sana
kalau liburan. Ia lebih tua 1 tahun dariku. Waktu itu aku sendiri punya
pacar di fakultas dan Lia beberapa mempunyai “teman dekat”, seperti
diceritakannya kepadaku lewat surat-suratnya.

Tiga tahun setelah
kami akrab, ia pindah ke Jakarta dan diserahi pekerjaan mengelola
apotik di daerah Jakarta Barat. Waktu itu aku sendiri sudah selesai
kuliah dan mulai mencari pekerjaan di ibukota. Hubunganku dengannya
sudah cukup akrab. Beberapa kali aku menginap di rumah kostnya. Ia kos
bersama adik laki-laki tertuanya, yang kuliah di salah satu fakultas
kedokteran. Waktu itu ia sedang pacaran dengan seorang bule, John,
karyawan suatu perusahaan Belgia. Aku, John, Lia dan Erik (adiknya),
sering berjalan bersama. Waktu itu aku sendiri juga bekerja di daerah
Jakarta Barat dan kos di dekat camer (calon mertua). Pacarku sendiri
sedang kuliah di Gajah Mada, Yogya.

Sampai akhirnya si John
meninggal dunia, karena kecelakaan pesawat ketika sedang pulang ke
Belgia. Ayah Lia waktu itu sedang masuk RS dan aku setiap malam
menunggui, bergantian berdua dengan Erik atau dengan Lia, sampai juga
meninggal setelah 10 hari dirawat. Kesedihan karena ditinggal si John
dan ayahnya, membuat Lia memintaku banyak mendampinginya. Kalau selesai
bekerja, kalau Erik sibuk kuliah, Lia memintaku menjemput ke apotik.
Kalau ia dinas malam, aku biasa menungguinya sebelum ia selesai
bekerja. Sering aku dan Erik (kalau sudah pulang kuliah), menunggui
berdua lalu pulang bertiga. Semua teman kerja dan induk semang kosnya
sudah mengenalku semua. Dan di antara kami semuanya berjalan biasa
saja. Amelia ini tinggi badannya lumayan, ada 5 cm di atas tinggi
badanku. Jadi orang pasti tidak mengira kalau kami sedang pacaran. Lia
tahu mengenai pacarku di Yogya.

Walaupun demikian, kedekatan
kami lama-lama membuat adanya “rasa lain”. Kami biasa menonton berdua
kalau Lia pulang sore. Dia juga biasa jalan bergayut di lenganku,
itupun kalau bertiga dengan Erik. Sore itu, hari Sabtu, ia pulang jam 2
dari apotik. Erik sedang pulang ke Cikampek dan ia kelihatannya sedang
sedih (“Aku ingat John”, katanya), maka tangannya tak mau lepas dari
lenganku. Kesedihan itu dibawanya masuk gedung, selama film ia
menyandarkan kepalanya di bahuku. Spontan, kalau ia terdengar mengeluh
sedikit, aku mengelus-elus kepalanya.

Setelah beberapa saat,
tiba-tiba saja, aku sudah menciumi pipinya. Ia mengeluh lirih dan
merangkulku sambil mulutnya bergeser mencari bibirku. Kami berpagutan
bibir cukup lama, ia seakan sedang menumpahkan semua beban pikirannya
kepada pagutan bibir-bibir kami. Aku betul-betul terhanyut, tetapi
masih dapat “menjaga kesopanan” dengan hanya memegangi pipinya saja. Di
taksi pulang ia diam saja. Hanya pegangan di lenganku semakin bertambah
erat.

Sampai di kosnya, ia memintaku masuk kamarnya. Tante kos
sudah kenal baik denganku dan aku memang biasa masuk kamar mereka.
Hanya saja kali ini ia langsung memelukku dan mengulangi kembali
pagutan di bibirku. Aku sedikit bingung, sebelum kemudian memutuskan
untuk mengikuti keinginannya.

Kupeluk erat-erat ia yang sedang
duduk di pinggir tempat tidur. Aku duduk di sampingnya sambil memegangi
kedua pipinya. Otomatis, saking serunya ciuman kami, Lia akhirnya
terdorong ke belakang dan posisinya menjadi tertidur. Tiba-tiba saja
tanganku sudah pindah ke dadanya dan dari luar (ia masih memakai
bajunya) mengelus payudara sebelah kanannya. Lia melenguh (bukan hanya
mengeluh!) dan tangan kirinya menaikkan posisi kaos yang dipakainya.

Lalu
aku sudah menggenggam payudara kanannya tanpa halangan apa-apa. Wow…,
tak begitu besar, tetapi putihnya mulus. Aku mengelus payudaranya
sambil sekali-kali memijit bundaran di bawah ujung putingnya. Lia
seakan kesetanan, ia langsung melepas kaos yang dipakainya. Dadanya
telanjang dan…..

Aku tak dapat lagi menahan diri. Sejenak
kuteliti wanita di hadapanku ini. Lehernya putih, anak-anak rambut yang
menggerai di sekeliling lehernya membuat penisku mengejang. Bahunya
yang pualam menyangga mulutnya yang sedikit menganga dan mengeluarkan
desis lirih yang memburu. Matanya terpejam. Rok bawahnya masih terikat,
tetapi pantatnya sudah membuat gerak memutar-mutar sedikit.

Lalu
kutelusuri lehernya. Tanganku turun ke arah payudara kanannya. Ia
menempelkan badan erat-erat ke badanku. Kuputar telapakku di payudara
kanannya. Ia mengelinjang. Ketika tanganku pindah ke payudara sebelah
kiri, gelinjangannya bertambah dan tangannya langsung ke bawah badanku,
mencari sela-sela pahaku. Ketika aku mulai menjilati puting susunya,
tangannya menerobos ritsleting celanaku dan…, aku sedikit
menggelinjang ketika ia mulai menggenggam penisku.

Kedua
tangannya berusaha menurunkan celana dalamku, tetapi masih sulit karena
celana panjangku masih bertengger di sana. Sementara itu mulutku mulai
mengulum puting susunya bergantian. Dilepaskannya penisku dan, karena
kegelian dan merasa nikmat, ia merengkuh kepalaku, ditariknya ke arah
puting susunya. Lalu tiba-tiba didorongnya badanku, sambil nafasnya
terburu, dilepaskannya rok yang masih dipakainya. Lalu tanganku
diraihnya, dimasukkannya ke dalam CD-nya. Pelan-pelan kuelus bulu
vaginanya. Wah, lebat betul. Dari sekian wanita yang pernah
“kutelanjangi”, baru kali itu aku melihat pubis (rambut vagina) yang
demikian lebat. Lebat, panjang, ketat. Hitam bukan main.

Kuelus-elus
bulu vaginanya, kugelitik-gelitik rambut-rambutnya mencari lubang
vaginanya. Tidak mudah ketemu, tetapi sudah basah karena air nikmatnya
sudah keluar. Lia sendiri membantuku dengan menekan-nekan tanganku yang
di permukaan vaginanya.

“Euuuhh…, eeuuuhh..”, gelinjangnya. Lalu, tak sabar, diturunkannya CD-nya yang sudah di pahanya. Telanjang bulatlah ia.

Gila,
putihnya! Pantatnya yang bulat, yang biasanya kupegangi (dari luar)
kalau ia lagi bergelayut di lenganku, betul-betul indah. Pinggulnya
apalagi. Penisku langsung berdiri menegang melihat itu semua dan
mengantisipasi “tugas lanjutannya”. Kugosok-gosokkan ujung hidungku ke
pinggul itu, pelan-pelan kujilati memutar menuju ke pantatnya yang
indah. Kuremas-remas bulatan pantatnya, sambil kugesek-gesekkan ujung
hidungku terus. Harum baunya, harum sekali. Penisku yang tegang
bergerak-gerak terus.

Ia tak sabar, dipegangnya tanganku,
dibimbingnya untuk kembali menusuk-nusuk vaginanya. Ia sendiri seakan
kesetanan menunggu lubang vaginanya dimasuki jari-jariku. Tetapi aku
kembali berkonsentrasi pada puting susunya. Kujilat, kuelus memakai
lidah, kusedot pelan-pelan sambil ia melenguh-lenguh dan
menggelinjang-gelinjang. Akhirnya ia sudah tak sabar lagi. Tangannya
mulai menurunkan celana panjangku. CD-ku langsung dipelorotnya ke
bawah. Lalu tangannya menggenggam-genggam penisku.

Aku serasa
melayang. Sebagai laki-laki, selama ini kalau ia bergayut di lenganku
sambil berjalan-jalan, aku sering membayangkan tangannya yang putih
dengan jari-jarinya yang panjang mengelus-elus penisku. Atau kujilati
puting susunya yang sering membayang kalau ia memakai baju tipis.
Hanya, selama itu aku hanya berani membayangkan, karena aku
menghormatinya sebagai rekan akrab. Rupanya sore itu lain.

Ia
langsung membalik, mengarahkan mulutnya ke penisku. Lalu tanpa
basa-basi di kulum penisku. Aku sendiri langsung meneroboskan muka ke
arah vaginanya. Tanganku memisahkan rambut-rambut di situ dan kulihat
clitorisnya sudah kelihatan di luar. Kugosok-gosok perlahan permukaan
clitorisnya. Lia menggelinjang-gelinjang. Kujilati clitorisnya sambil
kuisap-isap.

“Ouww Wied…,. ouw Wwwiieedddd”, lenguhnya,
“Terusss.., teruuuss”, lenguhnya dalam. Isapannya di penisku melemah
akhirnya. Kupikir ia sudah selesai. Tiba-tiba, ia membalikkan badan
lagi dan langsung berbaring di atasku. Penisku dipegangnya dan dicoba
dimasukkannya ke dalam vaginanya yang sudah sangat basah. Rasanya oouw,
ketika kepala penisku mulai masuk. Aku yang kegelian hampir tak tahan.
Maklum, waktu itu penisku baru punya jam terbang yang dapat dihitung
dengan jari, dan karena masih muda, jarang memakai “pendahuluan” yang
cukup lama. Biasanya kalau keduanya sudah tegang (kalau main dengan
cewek lain), lalu langsung kumasukkan, ejakulasi sama-sama dan kucabut.
Ini lain. Dengan Lia permainan permulaannya sudah seru duluan! (Buatku
waktu itu, ketika aku “belum berpengalaman”!)

Betul, saking
gelinya, aku yang di bawah sampai mengangkat kepala tak tahan geli dan
mau bangkit. Pas saat itu, kepalaku dipegang Lia, dibawanya ke payudara
sebelah kiri. Melihat ada gumpalan daging kenyal putih menantang,
langsung kujilati dan kuisap-isap. Baru sebentar, Lia mengerang,
“Ohh…, Wied…, Lia nyampeee”.

Gile, baru sebentar ia sudah nyampe!

“Kamu belum apa-apa, ya?”, tanyanya sambil menciumi mulutku. Aku diam tak bisa menjawab karena mulutnya menyerang sana-sini.

“Gantian Lia di bawah, deh, biar kamu juga nyampe!”.

Ia
membalikkan badan. Melihat sekilas badannya yang indah dan putih itu,
penisku terasa nikmat-nikmat nyeri, rasanya ada yang akan mengalir
keluar dari ujung penisku. “Gile, aku udah mau keluar…”, pikirku.
Betul, ketika aku baru tiga kali memompa, spermaku keluar. Kupeluk
erat-erat badannya, ia juga memegangi pantatku erat-erat sambil
berbisik, “Masukkan semua, Wied…, masukkan semua..”. Kutekan
erat-erat penisku ke dalam vagina bidadariku ini, kumasukkan semua
benih hidupku ke dalam jaringan tubuhnya.

Ketika aku mau
berguling ke sebelah badannya, dilarangnya aku. Ia ingin aku tetap di
atas tubuhnya, dengan penisku masih di dalam vaginanya. Kunikmati saat
itu dengan mempermainkan dagunya, menjilati payudaranya dan
menggesek-gesekkan penisku ke dalam vaginanya. Ia tetap menciumiku.
Penisku sendiri tetap tegang di dalam vaginanya.

Lima menit
kemudian nafsunya bangkit lagi. Ia mengerang pelan, sambil
menggoyang-goyangkan pantat. “Lia nafsu lagi, nihh”, erangnya. Penisku
sendiri yang tadi sempat sedikit mengecil menjadi besar kegelian
tergesek-gesek permukaan dalam vaginanya. Lalu…, “Uuuuuuhh..” Bibir
vaginanya seakan memijat penisku. Aku merasa penisku kegelian,
geli-geli nikmat sampai seakan-akan badanku meronta-ronta di atas badan
Lia. Lia sendiri terangsang dengan gerakanku, memelukku erat-erat
sambil keras menggoyangkan pantatnya memutar.

Dalam 20 menit
kemudian, 2 kali lagi ia mengalami orgasme. Gila, pikirku. Pijatan
vaginanya membuatku seakan melayang ke surga, tetapi aku sendiri baru
sempat orgasme sekali. Lalu ia mulai melemas seakan tak berdaya. Habis
itu lalu terjadi “perkosaan”. Aku tidak tahan lagi. Lia kugulingkan ke
sana ke mari menuruti nafsuku. Kadang kucabut penisku dari vaginanya,
kumasukkan ke dalam mulutnya, lalu kucabut dan kugesekkan di antara
lembah tetek-teteknya, lalu kumasukkan mulutnya lagi, lalu kumasukkan
ke dalam vaginanya. Aku orgasme 2 kali lagi. Sekali di mulutnya, sekali
di ujung vaginanya (dasar belum pengalaman, karena kegelian digesek
bulu vaginanya, begitu penisku sampai di ujung vaginanya langsung
keluar spermaku). Lia sendiri pasrah saja kuperlakukan seperti itu. Ia
seakan sudah tidak berdaya. Kugulingkan ikut saja, kusuruh mengulum
penisku yang basah mau saja, mengurut-urut kepala penis di dadanya juga
ikut, membantu memasukkan penisku ke vaginanya juga turut saja.

Ketika
kami berdua sudah tidak berdaya lagi, kulihat jam. Dua setengah jam
sudah berlalu sejak kami masuk ke kamar itu. Akhirnya kami tak kuat
lagi dan terkapar kepayahan. Mata terpejam rapat, kelihatannya ia lelah
sekali dan mengantuk berat.

Aku bangkit dan barulah tercium bau
sperma bercampur keringat di kamar itu. Lia sendiri sudah tidak berdaya
lagi. Ia sudah tergeletak begitu saja telanjang bulat. Kuselimuti
badannya dan aku mulai memunguti pakaianku yang terserak di sana-sini.
Kusemprotkan Bayfresh ke dinding-dinding kamar untuk mengurangi bau
“mesum” itu. Untung Erik sedang pulang ke Cikampek. Kucium dahi Lia,
kututup pintu kamar dan aku pamit ke tante kos.

Esoknya aku
datang lagi. Hari Minggu ini Lia mengaku sakit kepada tante kos dan
minta, “Si Wied ngerawat saya, ya tante”. Jadinya kami berdua berbulan
madu di kamarnya sepanjang hari. Dan terjadi perkosaan lagi, yang
ternyata disenanginya.

Dalam perjalanan pulang aku berpikir
bahwa hubungan kami sudah berubah. Kalau selama ini aku menganggap dia
sebagai kakak, karena lebih tua 1 tahun, lagi pula ia lebih tinggi
dibandingkan badanku, malam ini hal itu sudah berubah. Kakakku sayang
itu telah membuatku merindukannya sebagai orang lain (Kalau aku boleh
berterus-terang: aku akan merindukannya untuk merasakan vaginanya yang
sangat basah dibelah penisku, untuk kudekap ketika ia telanjang
bulat-bulat, untuk menggeser-geserkan ujung hidungku di permukaan
vaginanya yang hitam, lebat dan merangsang itu, untuk genggaman baik
tangan maupun mulutnya bagi penisku yang tegang)

TAMAT                   

Sahabat Pena