Sebuah Cinta Di Kegelapan

17th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1327 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Sebuah Cinta Di Kegelapan

“Nggak
apa apa deh…, Tyas…, sudah biasa dan…, lagi pula biar Tyas bisa
tidur nyenyak”, sahutku sambil terus tiduran di sofa dan menarik bed
cover untuk menyelimuti badanku.

“Maas…, tidur di sini saja, kan
tempat tidurnya cukup lebar”, kata Tyas sambil tiduran dan masuk
kedalam selimut serta meletakkan salah satu bantal di tengah-tengah
tempat tidur.

“Sudahlah Tyas…, nggak apa-apa kok…, tidurlah”, kataku sambil terus memejamkan mata.

Tetapi
Tyas masih tetap saja memaksa agar aku tidur di tempat tidur, “Maas…,
ayooo…, dooong…, tidur di sini…, saya kan jadi nggak enak”, kata
Tyas lagi.

Karena dipaksa terus, lalu aku pindah ke tempat tidur dan
kumasukkan badanku ke dalam selimut sambil kulepas lilitan handuk yang
ada di tubuhku dan kudengar suara Tyas agak mengguman, “Tapi…, jangan
nakal yaa…, Maas”, sambil memiringkan badannya sehingga tidurnya
membelakangiku.

Dengan posisi tidur telentang dan tangan kananku
kutaruh di atas bantal yang diletakkan oleh Tyas di tengah kasur
sebagai pemisah, kupejamkan mataku agar cepat bisa tertidur. Beberapa
lama kemudian ketika aku sudah hampir lelap, tiba-tiba telapak tangan
kananku terasa ditimpa oleh tangannya sehingga tidurku agak terjaga dan
setelah kubuka mataku sedikit, kulihat Tyas telah tidur telentang juga.
Karena sudah ngantuk sekali, kubiarkan saja telapak tangan kirinya
bertumpu di telapak tangan kananku, karena kupikir Tyaspun sudah tidur
lelap. Tetapi beberapa saat kemudian, kurasakan jari-jari tangan Tyas
seperti mengelus telapak tanganku.

Pertama-tama kubiarkan saja
dan tidak kuacuhkan karena kuanggap kalau orang tidur, kadang-kadang
tangannya suka bergerak-gerak, tetapi setelah kucermati beberapa saat,
ternyata jari-jari tangan Tyas sekarang sudah memijat jari tanganku
walaupun tidak terlalu keras. Merasakan pijatan-pijatan halus di
tanganku itu membuat kantukku mendadak menjadi hilang, tetapi aku masih
tetap pura-pura sudah tertidur dan membiarkan jari-jari Tyas meremasi
jari tanganku. Makin lama remasan jari Tyas semakin agak keras,
sehingga aku menjadi semakin yakin kalau Tyas masih belum tidur.

Sambil
tetap kupejamkan mataku dan kutarik nafas sedikit agak panjang, aku
menggerakkan dan memiringkan posisi tidurku menghadap ke arah Tyas dan
tangan kiriku kujatuhkan di atas bantal pemisah tapi telapak tanganku
kujatuhkan pelan tepat di atas payudara Tyas yang tertutup selimut.
Kuatur nafasku seolah aku sudah tidur nyenyak, tapi aku tidak bisa
mengontrol penisku yang mulai berdiri. Tyas kelihatannya mendiamkan
saja dengan posisi tanganku ini dan tidak berusaha untuk menggeser
telapak tanganku yang berada di atas payudaranya dan tetap saja
melanjutkan remasan-remasan jarinya ke jari-jariku karena mungkin masih
menyangka kalau aku sudah tidur nyenyak. Sesekali kutekankan telapak
tangan kiriku pelan-pelan ke payudaranya, tetapi masih saja Tyas tidak
bereaksi sehingga membuatku bertambah berani dan tekanan jari tanganku
kuubah menjadi remasan-remasan yang halus pada payudaranya.

“Maas…,
tiba-tiba terdengar suara lemah Tyas seraya memelukku setelah membuang
bantal pemisah di lantai dan ini tidak kusia-siakan dan lalu kupeluk
juga tubuh Tyas serta kucium bibirnya. Tyas begitu menggebu-gebu
melumat bibirku disertai menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku dan
nafasnya terdengar cepat serta tidak beraturan. Setelah beberapa saat
kami berciuman, tiba-tiba Tyas menggerakkan dan menggeser badannya
sehingga sekarang sudah berada di atas badanku.

Tyas semakin
ganas saja dalam berciuman dan kadang-kadang diselingi dengan menciumi
seluruh wajahku dan kugunakan kesempatan yang ada untuk melepas selimut
dan handuk yang menutupi tubuhku dan Tyas, sehingga tidak ada lagi
bagian badan yang tertutup. Dengan posisi Tyas masih tetap di atas
badanku, kupeluk badan Tyas yang kecil mungil itu rapat-rapat sambil
kuciumi seluruh wajahnya, demikian juga Tyas melakukan ciuman yang sama
sambil sesekali kudengar suaranya, “aahh…, aahh…, oooh…, Maasss”.

Tyas
sekarang menciumi leherku dan terus turun ke arah dadaku dan karena
terasa geli dan nikmat, tidak terasa aku berdesis, “ssshh…, ssshh…,
Tyaass…, ssshh”.

Tyas meneruskan ciumannya sambil terus menuruni
badanku dan ketika sampai di sekitar pusarku, dia menciuminya dengan
penuh semangat dan disertai menjilatinya sehingga terasa nikmat sekali
dan penisku kian menegang di bawah badan Tyas.

“ssshh…, Tyaas…,
adduuuhh…, aahh”, dan Tyas secara perlahan-lahan terus turun dan
ketika sampai di sekitar penisku, Tyas tidak segera memasukkan penisku
ke dalam mulutnya, tetapi menciumi dan menghisap daerah sekelilingnya
termasuk biji penisku sehingga rasa enaknya terasa sampai ke ubun-ubun

“ssshh…, aahh…, aahh…, Tyaas…, ooohh”, sambil tangan kanannya memegang batang penisku dan mengocoknya pelan-pelan.

Tiba-tiba,
“hhuuubbb”, penisku hilang masuk di mulutnya dan karena kaget dan
keenakan tak terasa aku jadi sedikit berteriak, “aahh”. Tyas segera
menaik-turunkan mulutnya pelan-pelan dan sesekali kurasakan penisku
seperti terhisap-hisap karena sedotan kuat mulutnya, “Aaduuuhh…,
Tyaas…, enaakkk…, aahh”.

“Ayooo…, dooong…, Tyaas…, siniii.., Maass juga kepingin”, kataku sambil sedikit bangun dari tidurku dan menarik badannya.

Tyas
sepertinya mengerti kemauanku dan badannya diputar mengikuti tarikan
tanganku tanpa melepas penisku yang masih menyumpal mulutnya. Posisinya
sekarang 69 dan Tyas berada di atas badanku dan tercium aroma vagina
yang khas itu. Vagina Tyas hanya ditumbuhi bulu-bulu hitam yang sangat
tipis, sehingga bentuk vaginanya yang belahannya masih rapat itu
terlihat jelas. Pelan-pelan kujilati bibir vagina Tyas yang sudah
sangat basah itu dan badan Tyas menggelinjang setiap kali bibir
vaginanya kuhisap-hisap dan dari mulutnya yang masih tersumpal penisku
itu terdengar suara, “hhmm…, hhmm…, hhmm”.

Dengan kedua
tanganku, segera kubuka belahan vagina Tyas pelan-pelan dan terlihat
bagian dalamnya yang berwarna merah muda dan segera kujulurkan lidahku
serta kujilati dan kuhisap-hisap seluruh bagian dalam vagina Tyas dan
kembali kudengar erangan Tyas yang sekarang sudah melepas penisku dari
mulutnya, “aahh…, ooohh…, ssshh…, Maas…, ooohh”, sambil
berusaha menggerak-gerakkan pantatnya naik turun sehingga sepertinya
mulut dan hidungku masuk semuanya ke dalam vaginanya serta wajahku
terasa basah semuanya oleh cairan yang keluar dari vagina Tyas.

“oooh…,
Maas…, aahh…, ssshh…, ooohh…, teruuuss…, Maas…, aah”.
Apalagi ketika clit-nya kuhisap, gerakan pantat Tyas yang naik turun
itu terasa semakin dipercepat dan kembali terdengar erangannya yang
cukup keras, “oooh… Maas…, teeruuuss…, aahh”, dan ketika beberapa
kali clit-nya kuhisap-hisap dan sesekali lidahku kujulurkan masuk ke
dalam lubang vaginanya, geraka pantat Tyas semakin menggila dan cepat,
semakin cepat dan, “aahh…, Maas…, aadduuuhh…, akuuu…, aahh…,
keluaarr..”, sambil menekan pantatnya kuat sekali ke wajahku sehingga
aku sedikit kelabakan karena sulit bernafas dan terdengar nafas Tyas
terengah-engah. Setelah tekanan pantatnya di mukaku terasa berkurang,
perlahan-lahan kuputar badanku ke samping sehingga Tyas tergeletak di
tempat tidur tapi masih dalam posisi 69. Dengan masih terengah-engah
kudengar Tyas memanggil pelan, “Maass…, ke sini…, Maas”, dan segera
saja aku bangun serta berputar posisi lalu kupeluk badannya serta
kucium bibirnya dengan mulutku yang masih basah oleh cairan vaginanya.

“Maas”, katanya di dekat telingaku dan nafasnya sudah mulai agak teratur.

“Apaa sayaang…”, sahutku sambil kucium pipinya.

“Maas…,
sejak kawin aku belum pernah mencapai orgasme seperti ini…, entah
kenapa…, atau mungkin karena suamiku selalu langsung-langsung saja
dan kadang-kadang aku merasa sakit”.

“Terima kasih…, sayaang…,
dan sekarang…, boleh akuuu..”, sahutku dan sebelum aku menyelesaikan
kata-kataku, kurasakan Tyas merenggangkan kedua kakinya, jadi aku tidak
meneruskan kata-kataku itu. Aku mengambil ancang-ancang dengan memegang
penisku serta kuarahkan pada belahan vaginanya yang kurasakan sedikit
terbuka, lalu kulepaskan pegangan tanganku setelah kurasakan kepala
penisku berada di belahan vagina Tyas.

“Maas…, jangan kasar kasar…, yaa…, aku takut sakit”, kata Tyas sambil memelukkan kedua tangannya di punggungku.

“Tidaak,
sayaang…, aku akan masukkan sepelan mungkin dan kalau Tyas sakit
tolong beritahu aku”, sahutku dan segera kukulum bibir Tyas sambil
kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan Tyas menghisap dan
mempermainkan lidahku, sementara itu aku mulai menekan pantatku
pelan-pelan sehinggga kepala penisku mulai memasuki lubang vaginanya
dan, “Bleeesss”, penisku sudah masuk setengahnya ke dalam vaginanya dan
Tyas berteriak pelan, “Aahh…, Maass”, sambil kedua tangannya
mencengkeram kuat di punggungku.

Karena teriakan Tyas ini,
kutahan tusukan penisku untuk masih lebih dalam dan kutanya, “Sakit…,
Yaang?”, Tyas hanya menggelengkan kepalanya sedikit dan, “Maas…,
nakaal…, yaa”, sambil mencubit punggungku dan kedua kakinya segera
diangkat lalu dilingkarkan ke punggungku, sehingga akibat jepitan
kakinya ini menjadikan penisku sekarang masuk seluruhnya ke dalam
vagina Tyas.

Aku belum menggerakkan penisku karena Tyas
sepertinya sedang mempermainkan otot-otot vaginanya sehingga penisku
terasa seperti terhisap-hisap dengan agak kuat.

“Yaang…,
teruuus…, yaang…, enaakkk sekaliii…, yaang”, kukatakan
kenikmatanku di dekat telinganya, dan karena keenakan ini dengan tanpa
sadar aku mulai menggerakkan penisku naik turun secara pelan dan
teratur, sedangkan Tyas secara perlahan mulai memutar-mutar pinggulnya.
Setiap kali penisku kutekan masuk ke dalam vaginanya, kudengar
suaranya, “aahh…, ssshh…, Maass…, aaccrrhh”, mungkin karena
penisku menyentuh bagian vaginanya yang paling dalam.

Karena
seringnya mendengar suara ini, aku semakin terangsang dan gerakan
penisku keluar masuk vagina Tyas semakin cepat dan suara, “aahh…,
ssshh…, aahh…, ooohh…, aahh” dari Tyas semakin sering dan keras
terdengar serta gerakan pinggulnya semakin cepat sehingga penisku
terasa semakin nikmat dan nyaman.

Aku semakin mempercepat
gerakan penisku keluar masuk vaginanya dan tiba-tiba Tyas melepaskan
jepitan kakinya di pinggangku dan mengangkatnya lebar-lebar, dan posisi
ini mempermudah gerakan penisku keluar masuk vaginanya dan terasa
penisku dapat masuk lebih dalam lagi. Tidak lama kemudian kurasakan
pelukan Tyas semakin kencang di punggungku dan, “aahh…, ooohh…,
ayoo Maass…, aahh…, akuuu…, mauuu…, keluaar…, aahh…, maas”.

“Tungguuu…, yaang…, aahh…, kitaa…, samaa…, samaa”, sahutku sambil mempercepat lagi gerakan penisku.

“Adduuhh…,
Maas…, akuuu…, nggaak…, tahaan…, Maas…, ayooo…,
se..karaang…, aarrcch”, sambil kembali kedua kakinya dilingkarkan dan
dijepitkan di punggungku kuat-kuat.

“Yaang…, akuuu…, jugaa..”,
dan terasa, “Creeet…, creeet…, crrreeett”, air maniku keluar dari
penisku dan tumpah di dalam vagina Tyas sambil kutekan kuat-kuat
penisku ke vaginanya.

Dengan nafas yang terengah-engah dan
badannya penuh dengan keringat, didorongnya aku dari atas badannya
sehingga aku jatuh terkapar di sampingnya tetapi penisku masih tetap
ada di dalam lubang vaginanya.

Setelah nafasku agak teratur,
kukatakan di dekat telinganya, “Yaang…, terima kasih…, yaang”,
sambil kukecup telinganya dan Tyas tidak menjawab atau berkata apapun
dan hanya menciumi wajahku.

Setelah diam beberapa lama lalu
kuajak Tyas membersihkan badan di kamar mandi dan terus tidur sambil
berpelukan. Paginya kuantar dia di dekat rumahnya.

Hari-hari
selanjutnya Tyas dan ke 3 orang lainnya masih tetap ikut mobilku dan
kami tetap bersikap biasa seolah tidak terjadi apapun.

Yang pasti
hubungan gelap ini masih berlanjut dan minimal seminggu sekali di
sebuah motel di bilangan Jl.Gatot Subroto, tetapi tidak sampai menginap.

Sebuah Cinta Di Kegelapan