Si Penjual Nasi Kuning. bag 1

16th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1702 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Si Penjual Nasi Kuning. bag 1

Halo para pembaca ranjangpedas.blogspot.com yang lagi
tegang nih! Aku akan menceritakan pengalaman sex-ku yang penuh dengan
kenikmatan yang tiada tara! Sebelumnya aku perkenalkan diri, namaku
Asep (samaran), 21 tahun, tinggi 171 cm, berat yang ideal. Aku
tergolong cowok yang cakep dan banyak sekali yang naksir aku, tapi
yah… gimana ya! aku punya batang kemaluan yang cukup besar untuk bisa
membuat cewek lemas dan tidak tahan untuk beberapa kali orgasme. Kepala
batang kemaluan yang besar dan ditumbuhi rambut yang cukup rapi, rata
dan tidak gondrong karena nanti bisa mengganggu cewek untuk “karaoke”.
Aku mempunyai daya sex yang besar sekali. Aku bisa melakukan onani
sampai 3 – 4 kali. Hobiku nonton BF, sehingga aku cukup mahir dalam
gaya-gaya yang bisa buat cewek kelaparan sex. Setelah nonton BF aku
tidak lupa untuk onani.

Cerita sex ini berawal dari membeli nasi
kuning di pagi hari. Seperti biasa tiap pagi hari perut tidak bisa
diajak kompromi untuk berunding tentang masalah makan, langsung saja
setelah merapikan diri (belum mandi nih) langsung mencari makanan untuk
mengganjal perut yang “ngomel” ini. Setelah beberapa lama putar-putar
dengan motor, aku ketemu dengan seorang cewek yang menjual nasi kuning
yang laris sekali. Setelah kuparkir di samping tempat jualannya itu,
lalu aku ngantri untuk mendapat giliran nasi kuning. Aku kagum sekali
dengan yang jual nasi kuning ini. Kuketahui namanya Naning, kira-kira
umurnya 25 tahun dan dia memiliki wajah yang natural sekali dan cantik,
apalagi dia kelihatan baru mandi kelihatan dari rambut yang belum
kering penuh. Dia tingginya 165 cm dan berat yang ideal (langsing dan
seksi) dengan rambut yang pendek sebahu. Dia memiliki susu yang cukupan
(34), cukup bisa untuk dikulum dan dijilat kok!

Waktu itu Naning memakai kaos oblong yang agak longgar dan celana batik komprang.
Aku mengambil posisi di sampingnya, tepatnya di tempat pengambilan
bungkus nasi kuning yang letaknya agak ke bawah. Dari posisi itu aku
dengan leluasa melihat bentuk susu Naning yang dibungkus kaos dan BH,
walaupun tidak begitu besar aku suka sekali dengan susunya yang masih
tegak dan padat berisi. Sesekali aku membayangkan kalau memegang susu
Naning dari belakang dan meremas-remas serta sesekali memelintir-lintir
puting susunya dengan erangan nafsu yang binal, woow, asik tenan dan
ee… batang kemaluanku kok jadi tegang! Saat Naning mengambil
bungkusan nasi kuning di depanku, aku bisa melihat dengan jelas susu
Naning yang terbungkus BH, putih, mulus dan tegak, nek! Aku semakin
menegakkan posisi berdiriku untuk lebih bisa leluasa melihat susu
Naning yang mulus itu. Weoe.. ini baru susu perawan yang kucari, padet
dan putih serta masih tegak lagi… Ya.. andaikan…! kata hati
berharap besar untuk mencoba vagina dan susu untuk dijilati, pasti dia
suka dan menggeliat deh.

Setelah beberapa menit kemudian,
pembeli sudah tidak ada lagi tinggal aku sebagai pembeli yang terakhir.
“Mau beli nasi kuning, Mas?” sapanya mengambil bungkus nasi di depanku,
aku tidak langsung jawab karena asik sekali melihat susu Naning
menggelantung itu. “E… Mas jadi beli nggak sih…” Sapa Naning agak
ketus. “Oh.. ya Mbak, satu saja ya.. sambel tambah deh…” sambil
gelagapan kubalas sapaan Naning. Aku yakin tadi si Naning mengetahui
tingkah lakuku yang memandangi terus dadanya yang aduhai itu, oleh
karena itu aku sengaja tanya-tanya apa saja yang bisa buat dia lupa
dengan kejadian yang tadi. Dari hasil pembicaraan itu kami saling
mengenal satu sama yang lain walaupun sebatas nama dan sekitarnya.
Naning ini anak kedua dari tiga bersaudara, dia tidak kuliah lagi
karena tuntutan orangtuanya untuk membantu berjualan nasi kuning saja.
Aku berniat untuk membantu Naning untuk beres-beres dagangannya, karena
aku tahu bahwa aku adalah pembeli terakhir dan nasi kuning sudah habis
terjual.

“E.. boleh nggak kalau Asep bantuin beres-beres barangnya?” rayuku.

“Jangan! ngerepoten saja,” sambil malu-malu Naning berkata.

“Nggak kok, boleh ya..” rayuku.

Sampai
beberapa menit aku merayu agar bisa membantu Naning untuk beres-beres
dagangannya, akhirnya aku bisa juga. Memang sih, barang-barang untuk
jualan nasi kuning tidak begitu banyak, jadi hanya perlu satu kali
jalan saja. Aku membawa barang yang berat dan Naning yang ringan.
Setelah sesampai di rumahnya, “Mas, diletakkan di atas meja saja,
sebentar ya… aku ke kamar mandi sebentar, kalau mau makan nasi
kuningnya ambil sendok di dapur sendiri ya…” kata Naning dengan
melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Setelah beberapa menit aku
duduk-duduk dan mengamati rumahnya, aku terasa lapar sekali dan berniat
untuk mengambil sendok di dapur yang letaknya tidak begitu jauh dari
kamar mandi Naning. Sesampainya di dapur, terdengar Naning suara pintu
dari kamar mandi, eh ternyata Naning barusan saja masuk ke kamar mandi
dan kesempatan ini aku tidak sia-siakan saja.

Aku berjalan
pelan-pelan ke depan pintu kamar mandi itu dan jongkok di depan lubang
pintu kamar mandi sehingga bisa melihat apa yang ada di dalam sana
walaupun memang agak sempit sih. Wow… wow… aku melihat Naning yang
masih berpakaian lengkap dan mulai dia meletakkan handuknya di tempat
samping pintu kamar mandi, lalu pelan-pelan dia melepas kaos longgarnya
dan terlihatlah susunya yang putih bersih tanpa cacat yang masih
terbungkus dengan BH. Dan perlahan-lahan dia melepaskan tali pengikat
celana batik yang dipakainya dan menurunkan pelan-pelan dan ah…
terlihat pinggul yang oke sekali putih, dan paha dan betis yang ideal
tenan dengan memakai CD yang tengah bawahnya menggelembung seperti
bakpaw. Itu pasti vaginanya. Ah… ayo cepetan buka dong, hati yang
tidak sabaran ingin tau sekali isi CD itu. Dan akhirnya dia melepaskan
ikatan BH dan… berbandullah susu Naning yang merangsang batang
kemaluanku untuk tegang (puting yang coklat kemerahan yang cukup besar
untuk dipelintir deh.. ah) dan sialnya, Naning meletakkan BH-nya pas di
lubang pintu sehingga pandanganku terhalang dengan BH Naning. Ya…
asem tenan, masak susunya udah ditutup, aku kecewa sekali dan aku
kembali duduk di teras sambil makan nasi kuning sambil menutup pintu
depan rumah Naning.

Dan beberapa menit kemudian, Naning keluar
dari kamar mandi, Ee.. dia pakai handuk yang dililitkan ke badannya.
Handuk yang amat-amat mini sekali deh, panjangnya di dekat pangkal
paha, oh… indah sekali. Dia hanya pakai BH dan CD di dalam handuk,
karena terlihat di pantatnya yang padat itu terawah CD-nya dan tali BH
yang ada di bahunya.

“Ee… Mas Asep kenapa kok bengong?”

“Oo.. e.. o.. tidak.. kok ini pedas,” sambil melanjutkan makannya.

“Ya…
ambil saja minum di belakang, aku mau ganti dulu,” saut Naning sambil
melangkah ke kamarnya yang letaknya di sampingku dan dia menutupnya
tidak penuh.

Dua menit kemudian,

“Mas Asep bisa bantuin Naning ambilin bedak di kamar mandi, nggak?”

“Ya… sebentar!” aku langsung menuju ke kamar mandi dan mengambil bedak yang dia maksudkan.

“Ini bedaknya,” aku masih di luar pintu kamar Naning.

“Masuk saja Mas tidak dikunci kok,” saut Naning.

Setelah
aku membuka pintu dan masuk ke kamar Naning, terlihat Naning sedang di
depan seperti sambil duduk dan dia tetap pakai handuk yang dia pakai
tadi sambil menyisir rambut basahnya itu, sambil mendekat.

“Ini Mbak bedaknya,” sambil menyodorkan bedak ke arah Naning.

“E… bisa minta bantuan nggak!” sambil membalikkan muka ke arahku.

“Apa tuh..”

“Bantuin
aku untuk meratakan bedak di punggungku dong, aku kan tidak bisa
meratakan sendiri,” kata Naning menerangkan permintaannya.

“Apa? meratakan ke tubuh Mbak, apa tidak…” basa basiku.

Sebelum kata itu berakhir,

“Takut ketahuan ortuku ya.. atau orang lain, ortu lagi pergi dan kalau malu ya tutup saja pintu itu,” kata Naning.

Aku
melangkah ke arah pintu kamar Naning dan menutup pintu itu dan tidak
lupa aku menguncinya, setelah itu aku balik ke arah Mbak Naning dan
woow… wowo… wow… woow.. dia sudah terkurap di atas ranjang dengan
handuk yang tidak dililitkan lagi, hanya sebagai penutup bagian tubuh
belakang saja. Dan aku menuju pinggir ranjang di samping Naning. “Udah,
mulai meratakan saja, e.. yang rata lho…!” sambil menoleh ke belakang
dan mengangkat kepalanya ke atas bantal. Aku mulai dari punggung atas
mulus Naning, aku taburkan dulu bedak di sekeliling punggung atas
Naning dan meratakan dengan tanganku. Ayyy.. mulus sekali ini punggung,
batang kemaluanku mulai tegang tapi aku tahan jangan sampai ketahuan
deh. Meratakan dari atas punggung, ke samping kiri dan kanan, aku
sengaja sambil mengelus-elus lembut, punggung Naning dan terdengar
sayup-sayup nafas Naning yang panjang. Aku mulai menurunkan tanganku
untuk meratakan ke bagian punggung bagian tengah yang masih tertutup
oleh handuk. “Mas Asep, kalau handuknya menghalangi ya.. di lepas
saja,” kata Naning sambil metutup matanya. “Ya… boleh,” hati berdebar
ingin tahu apa yang ada di dalam sana.

Aku mulai menyingkap
handuk dan ah… wowowo terlihatlah punggung Naning dan pantat yang
tegak putih terlihat bebas, batang kemaluanku tambah tegang saja
melihat pemandangan yang begitu indahnya, kulit Naning memang sangat
mulus tanpa cacat sama sekali. Aku mulai menaburkan bedak di atas
punggung Naning sampai di atas pantat Naning yang masih tertutup oleh
CD, setelah menaburkan bedak aku mulai meratakan dengan kedua tanganku
ini. Ah… aku juga bisa menikmati tubuh Naning yang belakang dengan
meraba-raba dan mengelus-elus dengan lembut, aku sengaja tidak membuka
kaitan BH-nya ya… biar dia yang minta saja dibukakan. Sambil
menyenggol-nyenggol kaitan BH Naning agar Naning merasa aku kehalangan
dengan kaitan BH-nya itu dan… “Mas, kaitan BH-nya dicopot saja biar
bisa meratakan bedak dengan leluasa,” kata Naning yang masih menutupkan
matanya, mungkin agar bisa menikmati rabaan dan elusan tanganku ini.

Setelah
kaitan BH aku buka dan BHnya masih tidak terlepas dari kedua tangan
Naning (hanya kaitan BH yang lepas) terlihat olehku tonjolan susu
Naning dari pinggir badannya yang mulus itu. Aku pelan-pelan
melanjutkan meratan bedak lagi dan sedikit-sedikit turun ke samping
badan Naning yang dekat dengan tonjolan susu Naning itu, dengan
pelan-pelan aku meraba-raba dengan alasan meratakan bedak. Oh.. kental
dan empuk, man! Saat itu juga Naning menarik nafas panjang dan
“Sesstsst eh…” sambil menggigit bibir bawahnya. Aku tahu kalau ia
sudah terangsang dan aku teruskan untuk meraba dan meremas sedikit
tonjolan susu Naning yang ada di samping badannya itu walaupun puting
susunya belum kelihatan, nafas dan erangan lembut masih terdengar
walaupun Naning berusaha menyembunyikannya dariku. Aku tidak mau
cepat-cepat. Aku melanjutkan meratakan di pinggang Naning, saat aku
mengelus-elus di bagian kedua pinggangnya dia mengerang agak keras,
“Ssts seestt… ah… geli Mas jangan di situ ah.. geli yang lain
saja,” kata Naning sambil menutup mata dan menggigit bibir bawahnya
yang seksi itu.

Aku mulai menaburkan bedak ke kedua kaki Naning
sampai telapak kakinya juga aku beri bedak, selangkangan Naning masih
tertutup rapat otomatis aku tidak bisa melihat ke bagian tonjolan
vagina yang masih tertutup oleh CD itu. Aku harus bisa bagaimana cara
untuk membuka selangkangan ini biar tidak kelihatan, aku sengaja ingin
mencicipi vagina Naning, akalku terus berputar. Aku mulai meratakan
dari pangkal paha Naning, aku mengelus-elus dari atas dan ke bawah
berulang kali sambil sedikit-sedikit berusaha melebarkan selangkangan
Naning yang masih rapat itu dan lama-lama berhasil juga aku melebarkan
selangkangan Naning dan terlihatlah CD Naning yang sudah basah di
bagian vaginanya dan Naning sudah mulai terangsang berat, terlihat dari
erangan yang makin lama makin keras saja. Aku mulai mengelus-elus di
bagian paha atas yang dekat dengan pantat Naning masih terbungkus rapi
CD-nya. Pelan-pelan aku menyentuhkan ibu jariku di bagian yang basah di
CD Naning sambil pura-pura meratakan bedak di bagian dekat pangkal
paha. Tersentuh olehku bagian basah CD Naning dan… “Ah… sstt
sttt… ah… eh… sesttt…” Naning makin menggigit bibir bawah dan
mengangkat pantatnya sedikit ke atas tapi dia diam saja tidak
melarangku untuk melakukan itu semua.

Aku mulai memberanikan
diri dan sekarang aku tidak segan-segan dengan sengaja memegang CD yang
basah itu dengan ibu jariku. Aku terus memutar-mutarkan ibu jariku di
permukaan vagina Naning yang masih tertutup oleh CD-nya itu, aku tekan
dan putar dan gesek-gesek dan makin lama makin cepat gesekan dan
tekanan ibu jariku ini. “Ah.. oh ye.. ssttt ah.. terus… jang… an
berhenti Sep… oh… ye…” Naning mulai terangsang berat dan tidak
segan-segan mengeluarkan erangan yang keras. “Ya… tekan yang keras…
Sep… oh… ye… buka… CD-nya Sep.. please…” permintaan Naning
yang masih menutup matanya, sengaja aku tidak mau membuka CD-nya biar
dia tersiksa dengan rabaan dan elusan nikmat ibu jari di permukaan
vaginanya yang masih tertutup oleh CD-nya itu. “Ah.. Sep.. aku…
oh…” Naning menggeliat dan pantatnya naik-turun tidak beraturan ke
kanan dan ke kiri dan aku mengerti kalau ini tanda ia mau orgasme
pertama kalinya dan sengaja aku berhenti dan… “Mbak Naning sekarang
berbalik deh…” aku memotong orgasmenya dan dia berhenti menggeliat
dan orgasmenya tertunda dengan perkataanku tadi dan sekarang dia
berbalik, terlihat wajahnya mencerminkan kekecewaan yang sangat dalam
atas tertundanya kenikmatan orgasme yang pertama kali untuk dia.

bersambung kebagian 2..

Si Penjual Nasi Kuning. bag 1