Tangan Jahil

13th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1251 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Tangan Jahil

Nama saya Florence Kim, saya adalah warga
Indonesia keturunan Korea yang sekarang sedang berada di Italy untuk
tujuan bisnis dan saya sering sekali membaca situs ranjangpedas hingga saya
menjadi sangat basah. Saya mempunyai pacar bernama Erick, seorang warga
Roma, tapi sekarang saya tidak menceritakan pengalaman saya bersama
Erick.

Pagi itu, kami makan pagi berdua sambil ngobrol-ngobrol
ringan. Erick ada meeting dengan factory jam 11 pagi, jadi saya mungkin
menghabiskan waktu dengan jalan-jalan sendiri, tapi tidak masalah
soalnya saya sudah terbiasa kemana-mana sendiri. So, setelah cium
perpisahan dengan Erick, saya mulai berbenah diri.

Pagi itu
udara summer kebetulan sangat indah buat jalan-jalan. Saya memakai
skirt-dress katun pendek, sekitar 10 cm di atas lutut, motif floral,
dengan canvas-shoes di padukan dengan straw hat yang saya beli di
Yogyakarta. Sip deh, komentar saya setelah mengecek sekali lagi di
cermin. Baju ini bagus juga, leher bajunya yang berbentuk kotak, low
cut memperlihatkan dada saya yang putih dan berukuran 36B.

Waktu
saya turun dari kamar, melewati lobby yang crowded, saya sempat merasa
tatapan mata yang tertuju pada saya, apa karena saya manis atau jarang
kali ngeliat cewek Asia, tapi lumayanlah buat tambah PD.

Saya
berjalan-jalan menyusuri jalan kecil di samping hotel. Tidak lama
kemudian saya sudah berada di tengah toko-toko dan kafe-kafe kecil.
Mungkin daerah pasar kali, soalnya saya baru pertama kali berada di
Roma. Entah bagaimana melukiskan perasaan kalau kita berada di
tengah-tengah kota yang ramai tapi semuanya asing buat kita. Something
scary tapi agak menggoda karena banyak hal yang baru, seperti tampang
cowok-cowok Italy yang lagi cofee break dengan baju kantor yang rapi.
Kulit mereka yang kecoklatan, dagu yang keras dan mantap plus itu lho..
sisa cukuran yang masih kebiru-biruan bikin gemes pengen ngelus dech,
juga perasaan mau nyobain bagaimana rasanya bercinta dengan mereka.

So,
saya berjalan santai dengan pikiran yang bercampur aduk. Akhirnya saya
berhenti di depan bus station, kemudian setelah saya pelajari rute di
map saya, saya mau pergi ke Via Condotti. yah, buat window shopping.

Waktu
saya naik ke bus tersebut, bus-nya lumayan padat, tapi tidak seperti di
Jakarta sampai bergelantungan di pintu. Paling lorong bus itu penuh
orang berdiri sambil berpegangan di pipa besi. Saya juga tidak
menemukan tempat duduk jadi saya pilih tempat yang kelihatan agak
kosong sambil berpegangan di pipa juga. Kemudian bus-nya melaju.

Saat
menit-menit pertama, saya melihat-lihat sekeliling sambil bus itu
melaju. Saya merasakan angin bertiup menerpa wajah dan bermain dengan
rambut saya yang lurus sebahu. Waktu bus itu berbelok, saya merasa ada
sentuhan ringan di paha saya.. kaget, saya melihat sekeliling tapi
tidak ada yang ganjil. Saya melihat orang-orang sedang bercakap-cakap
dan tidak ada yang mencurigakan. Saya mulai merasa ganjil karena
keasingan saya di tengah-tengah bahasa mereka.

Karena tidak
menemukan sesuatu yang aneh, saya pikir itu mungkin ketidaksengajaan,
lalu saya kembali memandang lurus ke depan. Tapi tidak lama kemudian,
tangan itu kembali lagi dan kali ini mengelus pantat saya dengan pelan.
Saya menoleh mencari siapa tapi lagi-lagi tidak ada yang saya dapati.
Lalu bus berhenti, masuk lagi segerombolan orang sehingga saya makin
terhimpit. Saya pikir kalau sudah begini tidak mungkin lagi orang itu
berani pegang-pegang, tapi dugaan saya salah karena tidak lama kemudian
saya mulai merasakan tangannya di belakang lutut saya, bergerak naik ke
atas paha saya. Terus terang saya terangsang sekali karena bagian
tengah agak ke belakang dari lutut ke paha itu salah satu daerah
sensitif saya.

Antara perasaan gundah, mungkin sungkan siapa
tahu ada yang memperhatikan, tapi juga mulai terangsang jadi saya
diamkan saja. Karena tidak ada yang bisa saya lakukan di tengah
kepadatan bus dan pikir saya, toh dia cuma bisa pegang-pegang, lagi
pula saya melihat di sekitar saya itu banyak cowok-cowok berpakaian
rapi yang mungkin mau makan siang. So, insting iseng dan cuek plus
pengen tahu saya lebih kuat daripada perasaan malu. Saya ingin tahu
sejauh mana tangan orang tersebut bereaksi dan juga ngapain malu, nggak
ada yang kenal saya ini, lagian cowok-cowok yang dekat saya cakep-cakep.

Mungkin
karena saya diam saja, tangan itu mulai berani bergerak perlahan terus
ke bagian atas paha tengah saya. Saya semakin grogi. Sambil menahan
rasa nikmat yang mulai menjalar dari paha, saya gigit bibir saya,
karena takut saya nanti bersuara (karena kebiasaan saya suka berisik).
Saya mencoba untuk menyatukan kaki saya supaya tangannya tidak bisa
menggerayang ke atas lagi tapi tidak bisa, karena bus itu
bergoyang-goyang, yang membuat badan saya jadi limbung sehingga kaki
saya harus agak direnggangkan supaya bisa berdiri dengan stabil.

Diantara
perasaan nikmat plus tegang, tangan itu semakin berani kali ini dia
maju ke atas, menuju ke celana dalam saya. Tangannya mulai membuat
lingkaran-lingkaran kecil tepat di daerah sekitar lekukan pantat saya
sebelah bawah dan di atas vagina saya yang tertutup celana dalam. Wow,
makin terangsang plus grogi deh. Kali ini saya agak melenguh sedikit
tapi tidak mengundang perhatian penumpang sebelah saya, mungkin mereka
pikir saya kecapekan berdiri kali. Tapi si pemilik tangan ini makin
berani setelah mendengar desahan saya. Dia mulai menyisipkan jemarinya
ke dalam celana dalam saya yang mini itu. Tidak sulit karena mini, dia
bisa merasakan daerah itu mulai basah karena ulahnya. Sungguh sulit
untuk melukiskan perasaan saya saat itu.. mungkin pembaca bisa coba
untuk membayangkan posisi saya di daerah yang asing dan baru.

Karena
dapat angin merasakan kebasahan saya, dia mulai berani membuka bibir
kemaluan saya dan memainkan jemarinya di antara kedua bibir itu sambil
sesekali melingkar-lingkar di clitoris saya. Aduh, pembaca sungguh
nikmat rasanya. Saking tidak kuat menahannya saya rapatkan lagi paha
saya. Lalu dengan tiba-tiba saya mencoba untuk menjebak tangannya di
antara paha saya, tapi refleksnya sangat bagus sehingga dia sempat
lolos waktu itu. Lumayanlah pikir saya untuk catch my breath again.
Jantung saya berdegup sangat kencang sampai-sampai saya takut
kedengaran sama yang lain. Kaki saya yang mulai lemas sehingga saya
sedikit bersandar di kursi yang terdekat.

Tapi tidak lama tangan
itu kembali lagi kali ini saya merasa sesuatu yang dingin di celah paha
saya yang nantinya saya sadar mungkin itu gunting or what and how?
Karena berikutnya celana dalam saya sudah robek terbelah dua. Tangannya
semakin berani beroperasi di antara kedua bibir vagina saya
melingkar-lingkar dan mulai nenekan perlahan. Pelan namun mesra.
Kemudian saya mulai merasa jarinya membuka kedua bibir kemaluan saya
dan mulai memasukkan dua buah jarinya ke dalam vagina saya keluar masuk
sambil digesekkan ke daerah clitoris saya. Saya terpana karena tidak
menyangka dia seberani itu tapi tak kuasa untuk bertindak. Kaki saya
mulai lemas lagi mungkin karena kenikmatan yang dihasilkan oleh gerakan
jemarinya.

Saya terpaku oleh rasa itu, diam tak bergerak hanya
bisa menikmati sambil kuat-kuat menggigit bibir menahan nikmat itu.
Perasaan yang tak tertahankan itu membuat saya diam-diam berimajinasi
bagaimana rasanya kalau penis yang ada di dalam vagina saya. Dalam diam
saya sangat menikmati gerakan tangannya. Saya sudah sangat basah
sekarang. Saya kuatir nanti terdengar bunyi seperti clep.. clep.. Saya
berdiri setengah bersandar di situ antara perasaan grogi takut ketahuan
tapi saya berdiri diam di situ tidak bergerak sambil menikmati
permainan tangannya.

Tangan itu tidak berhenti juga mungkin dia
dapat merasakan gerakan dinding vagina saya yang makin intense. Saya
merasa saya hampir orgasme. Akhirnya tiba-tiba seperti gelombang saya
merasakan suatu perasaan yang sangat hebat, mungkin saya orgasme
seperti dalam sedetik itu saya berada di suatu tempat yang terang
sekali.. sendirian. Untung saya masih bisa menahan tidak menjerit walau
susah sekali dan bibir saya terasa sakit karena saya gigit keras
sekali. Rasanya berdarah sedikit karena ada rasa besi dalam mulut saya.

Setelah
itu, saya kembali bisa merasakan kehadiran orang-orang di sekitar dan
membuka mata memandang jalan. Sambil menarik nafas panjang saya berdiri
tegak. Saya rapatkan kaki saya, dan seperti semula, tangan itu sudah
tidak ada. Saya lihat sekeliling, ada beberapa mata yang memandang saya
dengan shock tetapi saya cuek saja. Saya berbalik memandang jalan
kembali dan melihat ke jam tangan saya. Well, semua itu terjadi hanya
dalam 10 menit.

Di depan saya melihat ada bus station. Saya
cepat melewati orang-orang menuju pintu lalu saya turun. Setelah saya
memijakkan kaki saya di tanah, saya pandangi lagi bus yang mulai
bergerak maju tapi ada suatu gerakan yang menarik perhatian saya.
Ternyata ada seorang cowok berkemeja biru, berambut coklat tua dan
berumur sekitar 30 tahun mengangkat tangan dan memberi salute kecil
pada saya seperti gaya militer di dekat kening itu lho. Dia tersenyum
(jujur saja, dia memang ganteng. Kalau dia mendekati saya di sebuah
café mungkin saya juga tertarik oleh tampang Italy-nya yang rough but
nice itu) Tak sadar, saya pun tersenyum balik.

Begitulah
pembaca. Saya mulai melihat sekeliling, ternyata saya sudah satu blok
di dekat Via Condotti. Saya mulai berjalan sambil masih tersenyum
simpul oleh pengalaman tadi. Pengalaman itu adalah salah satu starter
yang membuat saya mulai suka melakukan hal-hal tersebut di tempat umum
bahkan di Jakarta mungkin karena adrenalin yang berpacu sangat cepat
kalau kita tahu kita di tempat umum membuat saya selalu ketagihan.

Wow,
Masih begitu perasaan saya kalau mengingat kejadian itu, seperti saya
menulis sekarang ini, vagina saya sudah basah. Tinggal menunggu nanti
sore selesai jam kantor. Saya akan bertemu Erick, may be Erick can help
me now.

TAMAT

Tangan Jahil

Cerita jilat itil bahasa jawangelus paha pacar dalam mobil