Tubuh Mungil Amelia

16th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1541 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Tubuh Mungil Amelia

Saya punya kenalan anak **** (edited)
fakultas sastra, namanya Susan. Anaknya mungil, kulitnya putih bersih
dan mulus, maklum anak keturunan negeri seberang. Sedang saya sendiri
kuliah di fakultas kedokteran, **** (edited by Yuri) juga.

Suatu
waktu, saya jemput Susan dari kuliahnya untuk pulang. Sesampainya di
rumah Susan di bilangan Cempaka Putih, dia mengajak saya masuk karena
katanya rumahnya kosong sampai besok siang. Sayapun masuk dan duduk di
sofa ruang tamunya. Setelah menutup pintu depan, dia masuk ke dalam
kamarnya untuk mandi dan ganti baju.

Tidak lama kemudian dia
datang dengan baju kaos dan rok pendek sambil membawa dua minuman dan
duduk di samping saya. Busyet, saya bisa mencium harum tubuhnya dengan
jelas. Dan terus terang tiba-tiba saya terangsang dan mulai
membayangkan keindahan tubuh Susan bila tanpa busana. Secara tidak
sadar, saya menatap tubuh segarnya dan membuat Susan bingung.

“Kenapa sih Ben?”, tanyanya. Saya cepat-cepat sadar dari lamunan erotis saya.

“Ngga…, lu kelihatan laen dari biasanya”.

“Lain apanya Ben…?”, sambil menumpangkan salah satu kakinya ke kaki satunya.

Busyet,
pahanya putih sekali. Birahi sayapun tambah terangkat. Pikiran erotis
saya mulai bergelora lagi, menghayalkan seandainya saya bisa
meraba-raba kemulusan pahanya.

“Heh..!”, katanya sambil tertawa dan menepuk bahu saya, “Ngeliat apaan hayo, ngeres deh lo!”.

Saya cuma bisa tersenyum, “San, panas ya di sini?”, sambil saya mengambil saputangan di kantong celana.

“Iya yah, lo udah mulai keringetan begini”.

Tiba-tiba saja dia mengelap keringat di dahi saya memakai tisunya.

Dalam
keadaan berdekatan seperti ini, saya punya inisiatif untuk memeluk dan
menciumnya. Dan benar deh, Susan sudah berada dalam pelukan saya, dan
bibirnya sudah dalam lumatan bibir saya. Dia sama sekali tidak berontak
dan mulai memejamkan matanya menikmati percumbuan ini. Tangannya
perlahan berganti posisi memeluk leher saya. Tangan saya yang tadi
memegang pinggulnya, turun perlahan ke pangkal pahanya dan akhirnya
saya berhasil merasakan betapa mulus dan lembutnya paha Susan. Saya
meraba naik turun sambil sedikit meremasnya. Rasanya agak bangga juga
saya mulai bisa menyentuh bagian tubuhnya yang agak sensitif. Sedang
bibir kami masih saling berpagutan mesra dalam keadaan mata masih
terpejam. Lama-lama saya merasa kurang lengkap kalau hanya meraba
bagian pahanya saja.

Tangan saya mulai naik lagi. Sekarang saya
ingin sekali untuk menikmati buah dadanya. Pikiran saya sudah melayang
jauh. Pelan tapi pasti saya mengangkat baju kaosnya untuk saya buka.
Dia tidak menolak, dan setelah saya buka bajunya, kelihatanlah buah
dadanya yang masih terbungkus rapi oleh BH-nya. Saya lumat lagi
bibirnya sambil saya bawa tangan saya ke belakang tubuhnya. Memeluk…,
dan akhirnya saya mencari kancing pengait BH-nya untuk saya lepas.
Tidak berapa lama kemudian terlepaslah BH pembungkus buah dadanya. Dan
mulailah tersembul keindahan buah dadanya yang putih dengan puting
kecoklatan di atasnya. Akh, benar-benar merupakan tempat untuk
berwisata yang paling indah dengan pemandangan yang menakjubkan di
seantero jagat. Saya tambah gregetan melihat indahnya buah dada Susan
yang terawat rapi selama ini.

Akhirnya saya mulai meraba dan
meremas-remas salah satu buah dadanya dan kembali saya lumat bibir
mungilnya. Terdengar nafas Susan mulai tidak teratur. Kadang Susan
menghembuskan nafas dari hidungnya cepat hingga terdengar seperti orang
sedang mendesah. Susan membiarkan saya menikmati tubuhnya. Birahinya
sudah hampir tidak tertahankan.

Saat saya rebahkan tubuhnya di
sofa dan mulut saya siap melumat puting susunya, Susan menolak saya
sambil mengatakan, “Ben, jangan di sini…, di kamar saya aja!”,
ajaknya dan kemudian bangun, mengambil baju kaos dan BH-nya di lantai
dan berjalan menuju kamar tidurnya. Saya mengikutinya dari belakang
sambil membuka baju saya sendiri dan melepas kancing celana saya.

Begitu
pintu ditutup dan dikunci, saya langsung memeluk Susan yang sudah
telnjang dada dan kembali melumat bibir mungilnya lalu meraba-raba
tubuhnya sambil bersandar di tembok kamarnya. Lama-lama cumbuan saya
mulai beralih ke lehernya yang jenjang dan menggelitik belakang
telinganya. Susan mulai mendesah pertanda birahinya semakin
menjadi-jadi. Saking gemesnya saya sama tubuh Susan, tidak lama tangan
saya turun dan mulai meraba dan meremas bongkahan pantatnya yang begitu
montoknya. Susan mulai mengerang geli. Terlebih ketika saya lebih
menurunkan cumbuan saya ke daerah dadanya, dan menuju puncak bukit
kembar yang menggelantung di dada Susan.

Dalam posisi agak
jongkok dan tangan saya memegang pinggulnya, saya mulai menggerogoti
puting susu Susan satu persatu yang membuat Susan kadang menggelinjang
geli, dan sesekali melenguh geli. Saya jilat, gigit, kulum dan saya
hisap puting susu Susan, hingga Susan mulai lemas. Tangannya yang
bertumpu pada dinding kamar mulai mengendor.

Perlahan tangan
saya meraba kedua pahanya lagi dan rabaan mulai naik menuju pangkal
pahanya. Dan saya mengaitkan beberapa jari saya di celana dalamnya dan,
“Srreet!”, Lepas sudah celana dalam Susan. Saya raba pantatnya, begitu
mulus dan kenyal, sekenyal buah dadanya. Dan saat rabaan saya yang
berikutnya hampir mencapai daerah selangkangannya…, tiba-tiba, “Ben,
di tempat tidur aja yuk..! saya capek berdiri nih”. Sebelum membalikkan
badannya, Susan memelorotkan rok mininya di hadapan saya dan tersenyum
manis memandang ke arah saya. Wow, senyum itu…, membuat saya kepingin
cepat-cepat menggumulinya. Apalagi Susan tersenyum dalam keadaan tanpa
busana.

Susan mendekati saya, dan tangannya dengan lincah
melepas celana panjang dan celana dalam saya hingga kini bukan hanya
dia saja yang bugil di kamarnya. Batang kemaluan saya yang tegang
mengeras menandakan bahwa saya sudah siap tempur kapan saja. Tinggal
menunggu lampu hijau menyala.

Lalu Susan mengambil tangan saya,
menggandeng dan menarik saya ke ranjangnya. Sesampainya di pinggir
ranjang, Susan berbalik dan mengisyaratkan agar saya tetap berdiri dan
kemudian Susan duduk di sisi ranjangnya. Oh, Susan mengulum batang
kemaluan saya dengan rakusnya. Gila, lalu dia dengan ganasnya pula
menggigit halus, menjilat dan mengisap batang kemaluan saya tanpa ada
jeda sedikitpun. Kepalanya maju mundur mengisapi kemaluan saya hingga
terlihat jelas betapa kempot pipinya. Saya berusaha mati-matian menahan
ejakulasi yang saya rasakan agar saya bisa mengimbangi permainannya.
Kadang saya meringis nikmat saat Susan mengeluarkan beberapa jurus
pamungkasnya dalam mencumbui kemaluan saya. Wow, betapa nikmatnya
hingga menyentuh sumsum.

Sudah 15 menit Susan mengisapi batang
kemaluan saya, lalu dia melepas mulutnya dari batang kemaluan saya dan
merebahkan tubuhnya telentang di atas ranjang. Saya mengerti maksud
Susan ini. Dia minta gantian saya yang aktif. Segera saya tindih
tubuhnya dan mulai berciuman lagi untuk beberapa lamanya, dan saya
mulai mengalihkan cumbuan ke buah dadanya lagi, kemudian saya turun
lagi mencari sesuatu yang baru di daerah selangkangannya. Susan
mengerti maksud saya. Dia segera membuka dan mengangkangkan kedua
pahanya lebar-lebar, membiarkan saya membenamkan muka saya di sekitar
bibir vaginanya. Kedua tangan saya lingkarkan di kedua pahanya dan
membuka bibir vaginanya yang sudah memerah dan basah itu. Oh, rupanya
sewaktu dia mandi sudah dibersihkan dan disabun dengan baik sehingga
bau vaginanya harum. Ditambah menurut pengakuannya, bahwa dia tadi
meminum ramuan pengharum vagina. Tanpa buang waktu lagi, saya
menjulurkan lidah untuk menjilati bibir vaginanya dan clitorisnya yang
tegang menonjol.

Wow, Susan menggelinjang hebat. Tubuhnya
bergetar hebat. Desahannya mulai seru. Matanya terpejam merasakan geli
dan nikmatnya tarian lidah saya di liang sanggamanya. Kadang pula Susan
melenguh, merintih, bahkan berteriak kecil menikmati gelitik lidah
saya. Terlebih ketika saya julurkan lidah saya lebih dalam masuk ke
liang vaginanya sambil menggeser-geser ke clitorisnya. Dan bibir saya
melumat bibir vaginanya seperti orang sedang berciuman. Vaginanya mulai
berdenyut hebat, hidungnya mulai kembang kempis,dan akhirnya…

“Ben…,
ohh…, Ben…, udahh…, entot saya Ben!”, Susan mulai memohon kepada
saya untuk segera menyetubuhinya. Saya bangun dari daerah
selangkangannya dan mulai mengatur posisi di atas tubuhnya dan
menindihnya sambil memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lorong
vaginanya perlahan. Dan akhirnya saya genjot vagina Susan yang masih
perawan itu secara perlahan dan jantan. Masih sempit, tapi remasan
liangnya membuat saya makin penasaran dan ketagihan.

Akhirnya
saya sampai pada posisi paling dalam, lalu perlahan saya tarik lagi.
Pelan, dan lama-kelamaan saya percepat gerakan tersebut. Kemudian
posisi demi posisi saya coba dengan dukungan Susan.

Saya sudah
tidak sadar berada di mana. Yang saya tahu semuanya sangat indah.
Rasanya saya seperti melayang terbang tinggi bersama Susan. Yang saya
tahu, terakhir kali tubuh saya dan tubuh Susan mengejang hebat.
Keringat membasahi tubuh saya dan tubuhnya. Nafas kami sudah saling
memburu. Saya merasakan ada sesuatu yang muncrat banyak sekali dari
batang kemaluan saya sewaktu barang saya masih di dalam kehangatan
liang sanggama Susan. Setelah itu saya tidak tahu apa lagi.

Sebelum
saya tertidur saya sempat melihat jam. Alamak!, dua setengah jam. Waktu
saya sadar besoknya, Susan masih tertidur pulas di samping saya, masih
tanpa busana dengan tubuh masih seindah sebelum saya bersenggama
dengannya. Sambil memandanginya, dalam hati saya berkata, “Akhirnya
saya bisa juga ngelampiasin nafsu yang saya pendam selama ini”.

Thank’s
banget San…, kalo nggak ada lo, saya kagak tau deh ke mana saya bawa
nafsu saya ini”, saya kecup keningnya,lalu saya segera berpakaian dan
siap pergi dari rumah Susan setelah saya lihat jam di mejanya,
mengingatkan saya bahwa sebentar lagi keluarganya segera datang. Saya
kagak mau konyol kepergok lagi bugil berduaan bersama dengannya.
Apalagi masih ada noda darah perawan di sprei tempat tidurnya. Saya
bangunkan dia dan berkata bahwa lain kali sebaiknya kita main di villa
saya, di Bogor, dengan alasan lebih aman dan bebas.

TAMAT

Tubuh Mungil Amelia