Tukar Pasangan

18th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 2177 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Tukar Pasangan

Nama saya Dikky, saya berumur 28 tahun,
baru 3 (tiga) bulan bekerja di suatu perusahaan asing di Jakarta,
atasan saya Mr. Richard Handerson, berasal dari Amerika, kira-kira
berumur 40 tahun. Dalam waktu singkat Rich demikian teman-teman di
kantor suka memanggilnya, telah sangat akrab dengan saya, karena
kebetulan kami mempunyai hobi yang sama yaitu bermain golf. Perusahaan
tempat kami bekerja adalah suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang
advertising. Menurut cerita-cerita teman-teman istri Richard, yang
berasal dari Amerika juga, sangat cantik dan badannya sangat seksi,
seperti bintang film Hollywood. Aku sendiri belum pernah bertemu secara
langsung dengan istri Richard, hanya melihat fotonya yang terletak di
meja kerja Richard. Suatu hari saya memasang foto saya berdua denga
Nina istri saya, yang berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di
meja kerja saya. Pada waktu Richard melihat foto itu, secara spontan
dia memuji kecantikan Nina dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau
Richard sering melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke
ruang kerja saya.


Suatu hari Richard mengundang saya untuk makan
malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk
lebih mengenal istri masing-masing.

“Dik, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nina juga, sekalian makan malam”.

“Lho, ada acara apa boss?”, kataku sok akrab.

“Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.

“Okelah!”, kataku.

Sesampainya
di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Nina. Pada mulanya Nina agak
segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk
berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah
kuyakinkan bahwa Richard dan Istrinya sangat lancar berbahasa
Indonesia, akhirnya Nina mau juga pergi.

“Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.

“Tau, katanya sih, ada proyek apa…., yang mau didiskusikan”.

“Oooo…,
gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit
pipinya dengan gemas. Kalau melihat Nina, selalu gairahku timbul,
soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu
senam so…, punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat
kencang.

Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Richard yang
terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik,
sementara Nina memakai stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya
dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Sesampai di Apertemen no.1009,
aku segera menekan bel yang berada di depan pintu. Begitu pintu
terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yang
sangat cantik, dengan tinggi sedang dan berbadan langsing, yang dengan
suara medok menegur kami.

“Oh Dikky dan Nina yah?,silakan…, masuk…, silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Richard”.

Ternyata
Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan
lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Richard. Dengan
agak tergagap, aku menyapanya.

“Hallo Mam…, kenalin, ini Nina istriku”.

Setelah
Nina berkenalan dengan Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk
menyiapkan makan malam, sementara Richard mengajakku ke teras balkon
apartemennya.

“Gini lho Dik…, bulan depan akan ada proyek untuk
mengerjakan iklan.., ini…, ini…, dsb. Berani nggak kamu ngerjakan
iklan itu”.

“Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap,
tim kerja di kantor semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup.
Berani!”.

Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.

Senyum Richard segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.

“Eh Dik…, gimana Lillian menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.

“Ya…, amat cantik, seperti bintang film”, kataku dengan polos.

“Seksi nggak?”.

“Lha…, ya…, jelas dong”.

“Umpama…, ini umpama saja loooo…, kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Lillian untuk kamu gimana?”.

Mendenger
permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung,
perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu.
Sambil masih tersenyum-senyum, Richard melanjutkan, “Nggak ada paksaan
kok, aku jamin Nina dan Lillian pasti suka, soalnya nanti…, udah deh
pokoknya kalau kau setuju…, selanjutnya serahkan pada saya…, aman
kok!”.

Membayangkan tampang dan badan Lillian aku menjadi
terangsang juga. Pikirku kapan lagi aku bisa menunggangi kuda putih?
Paling-paling selama ini hanya bisa membayangkan saja pada saat
menonton blue film. Tapi dilain pihak kalau membayangkan Nina dikerjain
si bule ini, yang pasti punya senjata yang besar, rasanya kok tidak
tega juga. Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Richard telah
melanjutkan dengan pertanyaan lagi, “Ngomong-ngomong Nina sukanya kalo
making love style-nya gimana sih?”.

Tanpa aku sempat berpikir lagi,
mulutku sudah ngomong duluan, “Dia tidak suka style yang aneh-aneh,
maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau vaginanya dijilatin,
maka dia akan sangat terangsang!”.

“Wow…, aku justru pengin sekali
mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau khas wanita terpancar dari
situ…, itu membuat saya sangat terangsang!”, kata Richard.

“Kalau Lillian sangat suka main di atas, doggy style dan yang jelas suka blow-job” lanjutnya.

Mendengar
itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian
bawahku membayangkan senjataku diisap mulut mungil Lillian itu.

Kemudian
lanjut Richard meyakinkanku, “Oke deh…, enjoy aja nanti, biar aku
yang atur. Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu
orangnya selalu terbuka dalam soal seks…, jadi setuju aja”.

“Nanti
minuman Nina aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih
berani…, Oke…, yaa!”, saya agak terkejut juga, apakah Richard akan
memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau begitu tidak
rela aku. Aku setuju asal Rina mendapat kepuasan juga. Melihat mimik
mukaku yang ragu-ragu itu, Richard cepat-cepat menambahkan, “Bukan obat
bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, kemudian dia
menjelaskan selanjutnya, “Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya,
Nina di sampingku”.

Selanjutnya acara makan malam berjalan
lancar. Juga rencana Richard. Setelah makan malam selesai kelihatannya
bubuk itu mulai bereaksi. Rina kelihatan agak gelisah, pada dahinya
timbul keringat halus, duduknya kelihatan tidak tenang, soalnya kalau
nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan keringatnya lebih banyak
keluar. Melihat tanda-tanda itu, Richard mengedipkan matanya pada saya
dan berkata pada Nina, “Nin…, mari duduk di depan TV saja, lebih
dingin di sana!”, dan tampa menunggu jawaban Nina, Richard segera
berdiri, menarik kursi Nina dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi
yang terletak di ruang tengah. Aku ingin mengikuti mereka tapi Lillian
segera memegang tanganku. “Dik, diliat aja dulu dari sini, ntar kita
juga akan bergabung dengan mereka kok”. Memang dari ruang makan kami
dapat dengan jelas menyaksikan tangan Richard mulai bergerilya di
pundak dan punggung Nina, memijit-mijit dan mengusap-usap halus.
Sementara Nina kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat sedikit
menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali tangan
Richard yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya.

Lillian
kemudian menarikku ke kursi panjang yang terletak di ruang makan. Dari
kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yang
terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi panjang tersebut.
Terlihat tindakan Richard semakin berani, dari belakang tangannya
dengan trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Nina hingga
kancing terakhir. BH Nina segera menyembul, menyembunyikan dua bukit
mungil kebanggaanku dibalik balutannya. Kelihatan mata Nina terpejam,
badannya terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga, “Apakah Nina telah
diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Richard?, atau apakah Nina
pingsan atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Richard?”. Nina
tampaknya pasrah seakan-akan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Timbul
juga perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Nina
seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Richard dikulitnya dan
ciuman nafsu Richardpun disambutnya dengan gairah.

Melihat apa
yang tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa
kepalang tanggung, aku juga tidak mau rugi, segera kualihkan
perhatianku pada istri Richard yang sedang duduk di sampingku. Niat
untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera
menyelusup ke dalam rok Lillian, terasa bukit kemaluannya sudah basah,
mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang mengerjai
wanita mungil. Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk
ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan
clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Lillian yang mungil itu,
“aahh…, aaghh…, aagghh”, tubuhnya mengejang, sementara tangannya
meremas-remas payudaranya sendiri.

Sementara itu di ruang
sebelah, Richard telah meningkatkan aksinya terhadap Nina, terlihat
Nina telah dibuat polos oleh Richard dan terbaring lunglai di sofa.
Badan Nina yang ramping mulus dengan buah dadanya tidak terlalu besar,
tetapi padat berisi, perutnya yang rata dan kedua bongkahan pantatnya
yang terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yang membukit
yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang terletak diantara kedua
paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan siap menerima
serangan-serangan selanjutnya dari Richard. Kemudian Richard menarik
Nina berdiri, dengan Richard tetap di belakangnya, kedua tangan Richard
menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat melihat
ekspresi wajah Nina, yang dengan matanya yang setengah terpejam dan
dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian yang
melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yang mungil setengah terbuka,
menunjukan Nina menikmati benar permainan dari Richard terhadap
badannya itu, apalagi ketika jemari Richard berada di semak-semak
kewanitaannya, sementara tangan lain Richard meremas-remas puting
susunya, terlihat seluruh badan Nina yang bersandar lemas pada badan
Richard, bergetar dengan hebat.

Saat itu juga tangan Lillian
telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan
terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku
berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku sendiri. Setelah
Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow…,
kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang,
dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah mengeras, yang
terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang. Aku menyadari, kalau
diadu besarnya senjataku dengan Richard, tentu aku kalah jauh dan kalau
aku langsung main tusuk saja, tentu Lillian tidak akan merasa puas,
jadi cara permainanku harus memakai teknik yang lain dari lain. Maka
sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata
hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai
menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.

Kududukkan
Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku.
Sasaranku adalah vaginanya yang telah basah. Lidahku segera menari-nari
di permukaan dan di dalam lubang vaginanya. Menjilati clitorisnya dan
mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak
keenakan dengan suara keras, ” Oooohh…, oooooohh…, ssssssshh…,
ssssssssshh”. Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan
tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan
meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat bersamaan suara Nina
terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah, “Oooh…, aaggghh!”,
diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak. Tak tahu apa yang
diperbuat Richard pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu.
Nina sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya
terjulur ke lantai dan Richard sedang berjongkok diantara kedua paha
Nina yang sudah terpentang dengan lebar, kepalanya terbenam diantara
kedua paha Nina yang mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Richard
sedang mengaduk-aduk kemaluan Nina yang mungil itu. Terlihat badan Nina
menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Richard
dengan kuat.

Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Lillian
yang badannya terus menggerinjal-gerinjal keenakan dan dari mulutnya
terdengar erangan, “Ahh…, yaa…, yaa…, jilatin…, Ummhh”.
Desahan-desahan nafsu yang semakin menegangkan otot-otot penisku.
“Aahh…, Dik…, akuuu…, aakkuu…, ooooohh…, hh!”, dengan sekali
hentakan keras pinggul Lillian menekan ke mukaku, kedua pahanya
menjepit kepalaku dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang
dengan hebat dan diikuti dengan cairan hangat yang merembes di dinding
vaginanya pun semakin deras, saat ia mencapai organsme. Tubuhnya yang
telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa.
Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yang juga penuh keringat, dengan
tatapan yang sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh.

Ketika
aku menengok ke arah Richard dan istriku, rupanya mereka telah berganti
posisi. Nina kini telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat
menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa, punggung Nina
bersandar pada sandaran sofa, sehingga dia bisa melihat dengan jelas
bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran tembak Richard.
Richard mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nina
yang telah terpentang lebar. Aku merasa sangat terkejut juga melihat
senjata Richard yang terletak diantara kedua pahanya yang berbulu
pirang itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20
cm dengan lingkaran yang kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala
penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.

Terlihat Richard memegang penis
raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Nina
yang sudah sedikit terbuka, terlihat Nina dengan mata yang terbelalak
melihat ke arah senjata Richard yang dahsyat itu, sedang menempel pada
bibir vaginanya. Kedua tangan Nina kelihatan mencoba menahan badan
Richard dan badan Nina terlihat agak melengkung, pantatnya dicoba
ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Richard pada
bibir vaginanya, akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan
pantat Nina dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap
berada pada bibir kemaluan Nina, sambil mencium telinga kiri Nina,
terdengar Richard berkata perlahan, “Niiinnn…, maaf yaa…, saya mau
masukkan sekarang…, boleh?”, terlihat kepala Nini hanya
menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang mau dikatakannya,
dengan pandangannya yang sayu menatap ke arah kemaluannya yang sedang
didesak oleh penis raksasa Richard itu dan mulutnya terkatup rapat
seakan-akan menahan kengiluan.


Richard, tanpa menunggu lebih
lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Nina yang
telah basah itu, biarpun kedua tangan Nina tetap mencoba menahan
tekanan badan Richard. Mungkin, entah karena tusukan penis Richard yang
terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over size,
langsung saja Nina berteriak kecil, “Aduuuuuh…, pelan-pelan…, sakit
nih”, terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yang agak meringis,
mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Nina yang mengangkang itu
terlihat menggelinjang. Kepala penis Richard yang besar itu telah
terbenam sebagian di dalam kemaluan Nina, kedua bibir kemaluannya
menjepit dengan erat kepala penis Richard, sehingga belahan kemaluan
Nina terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Richard itu.
Kedua bibir kemaluan Nina tertekan masuk begitu juga clitoris Nina
turut tertarik ke dalam akibat besarnya kemaluan Richard.

Richard
menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman, “Maaf…,
Nin…, saya sudah menyakitimu…, maaf yaa…, Niin!”.

“aagghh…,
jangan teeeerrlalu diiipaksakan…, yaahh…, saayaa meerasa…,
aakan…, terbelah…, niiiih…, sakiiiitttt…, jangan…,
diiiterusiinn”.

Nina mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Richard.

“Niiiinn…,
saya mau masukkan lagi…, yaa…, dan tolong katakan yaa…, kalau
Nina masih merasa sakit”, sahut Richard dan tanpa menunggu jawaban
Nina, segera saja Richard melanjutkan penyelaman penisnya ke dalam
lubang vagina Nina yang tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya
dengan lebih pelan pelan.

Ketika kepala penisnya telah terbenam
seluruhnya di dalam lubang kemaluan Nina, terlihat muka Nina meringis,
tetapi sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua
bibirnya terkatup erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.

Terdengar
Richard bertanya lagi, “Niiiinnn…, sakit…, yaa?”, Nina hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu
Richard dan Richard segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk
ke dalam lubang kemaluan Nina.

Secara pelahan-lahan tapi pasti,
penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya.
Ketika penis Richard telah terbenam hampir setengah di dalam lubang
vagina Nina, terlihat Nina telah pasrah saja dan sekarang kedua
tangannya tidak lagi menolak badan Richard, akan tetapi sekarang kedua
tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa. Richard menekan
lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Nina meringis menahan sakit
dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar, tetapi karena Nina
tidak mengeluh maka Richard meneruskan saja tusukan penisnya dan
tiba-tiba saja, “Bleeees”, Richard menekan seluruh berat badannya dan
pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Nina
rapat-rapat pada sofa.

Pada saat yang bersamaan terdengar
keluhan panjang dari mulut Nina, “Aduuuuh”, sambil kedua tangannya
mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan
serta kedua kakinya terangkat ke atas menahan tekanan penis Richard di
dalam kemaluannya. Richard mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang
vagina Nina sejenak, agar tidak menambah sakit Nina sambil bertanya
lagi, “Niinnn…, sakit…, yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan
terasa nikmat!”, Nina dengan mata terpejam hanya menggelengkan
kepalanya sedikit seraya mendesah panjang, “aaggggghh…, kit!”, lalu
Richard mencium wajah Nina dan melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat
pantat Richard bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya
mendekap tubuh mungil Nina dalam pelukannya.

Tak selang lama
kemudian terlihat badan Nina bergetar dengan hebat dari mulutnya
terdengar keluhan panjang, “Aaduuuuh…, oooohh…, sssssssshh…,
ssssshh”, kedua kaki Nina bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat
pada pantat Richard, Nina mengalami orgasme yang hebat dan
berkepanjangan. Selang sesaat badan Nina terkulai lemas dengan kedua
kakinya tetap melingkar pada pantat Richard yang masih tetap
berayun-ayun itu.

aah, suatu pemandangan yang sangat erotis
sekali, suatu pertarungan yang diam-diam yang diikuti oleh penaklukan
disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.

“Dik…, ayo aku mau
kamu”, suara Lillian penuh gairah di telingaku. Kuletakkan kaki Lillian
sama dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yang akan masuk ke
vaginanya. Duh, rasanya kemaluan Lillian masih rapet saja, aku
merasakan adanya jepitan dari dinding vagina Lillian pada saat rudalku
hendak menerobos masuk.

“Lill…, kok masih rapet yahh”. Maka dengan
sedikit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos liang vaginanya.
“Aaggghh”, mata Lillian terpejam, sementara bibirnya digigit. Tapi
ekspresi yang terpancar adalah ekspresi kepuasan. Aku mulai
mendorong-dorongkan penisku dengan gerakan keluar masuk di liang
vaginanya. Diiringi erangan dan desahan Lillian setiap aku menyodokkan
penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin kupercepat
gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa liang kemaluannya semakin licin oleh
pelumas vaginanya.

“Ahh…, ahh”, Lillian makin keras teriakannya.

“Ayo Dik…, terus”.

“Enakkk…, eeemm…, mm!”.

Tubuhnya
sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, “Uuhh…hh…..”
“Lill…, boleh di dalam…, yaah”, aku perlu bertanya pada dia,
mengingat aku bisa saja sewaktu-waktu keluar.

“mm…”.

Kaki
Lillian kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku semakin
mempercepat gerakan sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya.
Lillian juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya.

“Nih…, Lill…, terima yaa”.

Dengan
satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua
tanganku memeluk badan Lillian dengan erat dan penisku terbenam
seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan maniku
menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Lillian. Badanku
tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Lillian,
sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga vagina
Lillian, tiba-tiba badan Lillian bergetar dengan hebat dan kedua
pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang
keluar dari mulutnya, “…aagghh…, hhm!”, saat bersamaan Lillian juga
mengalami orgasme dengan dahsyat.

Setelah melewati suatu fase
kenikmatan yang hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih
berpelukan erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat
suatu perasaan nikmat dan puas akan apa yang baru kami alami. Aku
kemudian mencabut senjataku yang masih berlepotan dan mendekatkannya ke
muka Lillian. Dengan isyarat agar ia menjilati senjataku hingga bersih.
Ia pun menurut. Lidahnya yang hangat menjilati penisku hingga bersih.
“Ahh..”. Dengan kepuasan yang tiada taranya aku merebahkan diri di
samping Lillian.

Kini kami menyaksikan bagaimana Richard sedang
mempermainkan Nina, yang terlihat tubuh mungilnya telah lemas tak
berdaya dikerjain Richard, yang terlihat masih tetap perkasa saja.
Gerakan Richard terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut
yang pernah dia perlihatkan. Mulai saat ini Richard mengerjai Nina
dengan sangat brutal dan kasar. Nina benar-benar dipergunakan sebagai
objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Richard menyakiti Nina,
tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan Nina ternyata tidak
terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Nina atas apa yang dilakukan
oleh Richard terhadapnya.

Richard mencabut penisnya, kemudian
dia duduk di sofa dan menarik Nina berjongkok diantara kedua kakinya,
kepala Nina ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan penisnya ke
dalam mulut Nina sambil memegang belakang kepala Nina, dia membantu
kepala Nina bergerak ke depan ke belakang, sehingga penisnya terkocok
di dalam mulut Nina. Kelihatan Nina telah lemas dan pasrah, sehingga
hanya bisa menuruti apa yang diingini oleh Richard, hal ini dilakukan
Richard kurang lebih 5 menit lamanya.

Richard kemudian berdiri
dan mengangkat Nina, sambil berdiri Richard memeluk badan Nina
erat-erat. Kelihatan tubuh Nina terkulai lemas dalam pelukan Richard
yang ketat itu. Tubuh Nina digendong sambil kedua kaki Nina melingkar
pada perut Richard dan langsung Richard memasukkan penisnya ke dalam
kemaluan Nina. Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Nina terlihat
tersentak ke atas ketika penis raksasa Richard menerobos masuk ke dalam
lubang kemaluannya dari mulutnya terdengar keluhan, “aagghh!”, Nina
terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Richard. Kaki Nina terlihat
merangkul pinggang Richard, sedangkan berat badannya disanggah oleh
penis Richard. Richard berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus
mencium Nina. Pantat Nina terlihat merekah dan tiba-tiba Richard
memasukkan jarinya ke lubang pantat Nina. “Ooooohh!”. Mendapat serangan
yang demikian serunya dari Richard, badan Nina terlihat
menggeliat-geliat dalam gendongan Richard. Suatu pemandangan yang
sangat seksi.

Ketika Richard merasa capai, Nina diturunkan dan
Richard duduk pada sofa. Nina diangkat dan didudukan pada pangkuannya
dengan kedua kaki Nina terkangkang di samping paha Richard dan Richard
memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Nina dari bawah. Dari
ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Richard memaksa masuk ke
dalam lubang kemaluan Nina yang kecil dan ketat itu. Vaginanya menjadi
sangat lebar dan penis Richard menyentuh paha Nina. Kedua tangan
Richard memegang pinggang Nina dan membantu Nina memompa penis Richard
secara teratur, setiap kali penis Richard masuk, terlihat vaginanya
ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir
vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan
menjepit penis Richard. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.

Kemudian
Richard mendorong Nina tertelungkup pada sofa dengan pantat Nina agak
menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Richard akan
bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yang paling
disukai oleh Nina. Dari belakang pantat Nina, Richard menempatkan
penisnya diantara belahan pantat Nina dan mendorong penisnya masuk ke
dalam lubang vagina Nina dari belakang dengan sangat keras dan dalam,
semua penisnya amblas ke dalam vagina Nina. Jari jempol tangan kiri
Richard dimasukkan ke dalam lubang pantat. Nina setengah berteriak,
“aagghh!”, badannya meliuk-liuk mendapat serangan Richard yang dahsyat
itu. Badan Nina dicoba ditarik ke depan, tapi Richard tidak mau
melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan Nina dan
mengikuti arah badan Nina bergerak.

Nina benar-benar dalam
keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan
erangan sudah berubah menjadi teriakan, “Ooooooohhmm…, aaduhh!”.
Richard mencapai payudara Nina dan mulai meremas-remasnya. Tak lama
kemudian badan Nina bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan
kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar, “Aahh…, aahh…, ssssshh…,
sssssshh!”. Nina mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Richard
mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada
bongkahan pantat Nina, penisnya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan
Nina dari belakang. Sementara badan Nina bergetar-getar dalam
orgasmenya, Richard sambil tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam
lubang kemaluan Nina, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar
sehingga penisnya yang berada di dalam lubang vagina Nina ikut
berputar-putar mengebor liang vagina Nina sampai ke sudut-sudutnya.

Setelah
badan Nina agak tenang, Richard mencabut penisnya dan menjilat vagina
Nina dari belakang. Vagina Nina dibersihkan oleh lidah Richard.
Kemudian badan Nina dibalikkannya dan direbahkan di sofa. Richard
memasukkan penisnya dari atas, sekarang tangan Nina ikut aktif membantu
memasukkan penis Richard ke vaginanya. Kaki Nina diangkat dan
dilingkarkan ke pinggang Richard. Richard terus menerus memompa vagina
Nina. Badan Nina yang langsing tenggelam ditutupi oleh badan Richard,
yang terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yang sudah diisi
oleh penis Richard. Kadang-kadang terlihat tangan Nina meraba dan
meremas pantat Richard, sekali-kali jarinya di masukkan ke dalam lubang
pantat Richard. Gerakan pantat Richard bertambah cepat dan ganas
memompa dan terlihat penisnya yang besar itu dengan cepat keluar masuk
di dalam lubang vagina Nina, tiba-tiba, “Oooooohh…, ooooooohh!”,
dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang
terlonjak-lonjak, Richard menekan habis pantatnya dalam-dalam,
mememetin pinggul Nina ke sofa, sehingga penisnya terbenam habis ke
dalam lubang kemaluan Nina, pantat Richard terkedut-kedut sementara
penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Nina, sambil kedua
tangannya mendekap badan Nina erat-erat. Dari mulut Nina terdengar
suara keluhan, “Ssssssh…, sssssshh…, hhmm…., hhmm!”, menyambut
semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya.

Setelah
berpelukan dengan erat selama 5 menit, Richard kemudian merebahkan diri
di atas badan Nina yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya
dari vagina Nina. Nina melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yang
satu ini sangat nikmat. Aku tidak bisa melihat ekspresi Richard karena
terhalang olah tubuh Nina. Yang jelas dari sela-sela selangkangan Nina
mengalir cairan mani. Kemudian Ninapun seperti kebiasaan kami
membersihkan penis Richard dengan mulutnya, itu membuat Richard
mengelinjang keenakan. Malam itu kami pulang menjelang subuh, dengan
perasaan yang tidak terlupakan. Kami masih sempat bermain 2 ronde lagi
dengan pasangan itu.

TAMAT


Tukar Pasangan

cerita tukar pasangan sahabat menikmati vagina