Wanita Penjaga Toko

13th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1457 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Wanita Penjaga Toko

Cerita ini berawal dari keisengan saya
untuk selalu mencoba hal-hal yang baru dan pengalaman baru. Suatu
ketika seorang teman bernama Herry, datang ke tempat kost dan bercerita
mengenai petualangannya mencari wanita penjaga toko. Karena saya
merupakan tipe orang yang tidak mudah percaya dengan omongan teman saya
tersebut, maka saya mengajak teman saya membuktikan omongannya. Jam
8.30 malam tepat, teman saya mengajak pergi ke pertokoan di alun-alun
Bandung. Karena perjalanan dari tempat kami dari Buah Batu memerlukan
waktu sekitar 30 menit, maka jam 9.00 tepat kami sudah sampai di
pertokoan tersebut.

Sesampainya di sana toko-toko sudah mau
tutup, dan kami memasuki salah satu toko serba ada di sana. Langsung
saja saya menuju counter pakaian, sambil berkeliling pura-pura mau
membeli pakaian. Kebetulan toko sudah sepi karena mau tutup, dan
pengunjungnya hanya beberapa orang. “Mau cari baju apa Mas?” tanyanya.
Waktu saya lihat ke arah suara tadi, ternyata wanita penjaga counter
yang mirip dengan bintang sinetron CT. “Ini Mbak, mau cari jeans ini
yang nomor 32 ada nggak ya?” tanyaku. Si Mbak pun mencarikan jeans yang
saya maksud. Karena letaknya di bagian bawah, maka si Mbak mencari
dengan membungkukkan badan. Karena rok yang di pakai 10 cm di atas
lutut, maka paha mulusnya pun terpampang di depan saya. “Wah gile bener
nih.. mulus banget.” Pikiran saya jadi ngeres nggak karuan lihat
pemandangan di depan saya.

“Yang ini Mas?”, tanyanya.

“Oh.. ya..”, jawabku.

Lalu si Mbak pun menuliskan bon untuk dikasihkan ke kasir.

“Mmm… Mbak… boleh tahu namanya?” tanyaku mengawali pembicaraan.

“Sheilla”, katanya.

“Denny”, kataku sambil mengulurkan tanganku.

“Ini Mas bonnya”, katanya.

“Makasih, mmh.. Mbak pulang jam berapa?” tanyaku.

“Ntar jam 9.30”, jawabnya.

“Ada yang nganter?” tanyaku lagi.

“Mas mau nganter?” tanya dia menantang.

“Wah, kalau situ mau ya bolehlah”, jawabku mantap.

Tak
lama kemudian ada pengumuman bahwa toko mau tutup, dan saya pun
membayar barang belanjaan, dan menunggu bersama teman saya di luar di
depan pintu tempat karyawan toko keluar. Tak lama kemudian terlihatlah
Sheilla menuju ke arahku.

“Kelamaan nunggunya ya Den?” tanyanya.

“Wah, kalau nunggu wanita secakep Sheilla sih rasanya sangat lama”, kataku.

“Ah bisa aja kamu…” kata Sheilla sambil nyubit pinggangku.

Kami bertiga pun meninggalkan toko tersebut.

“Emang Sheilla rumahnya di mana?” tanyaku.

“Saya di Jalan S”, katanya.

“Oohh, okelah!” jawabku.

Kami pun menuju tempat parkir dan saya starter Katana tahun 90-an yang sudah menemani saya selama 5 tahun ini.

“Denn,
saya turunin di sini Den…” kata Herry saat mobil melewati panti pijat
di Jalan S. Dan mobil pun kuhentikan, Herry turun langsung masuk ke
panti pijat. Wah ini anak memang gila beneran.

“Itu sudah deket kok Den, tempat kost Sheilla”, katanya.

“Yah kiri, di situ.” katanya lagi.

Kami
pun turun, saat di tempat kos penghuninya sudah tidur semua, tapi
karena Sheilla memiliki kunci sendiri, kami pun tak ada kesulitan untuk
masuk.

“silakan duduk dulu Den!” katanya.

Dan Sheilla pun pergi
ke dapur membuat minuman. Kamar Sheilla ukurannya 3 X 4 meter, di
dalamnya hanya ada televisi, VCD, sama kursi. Meja dan tempat tidur.
Tempat tidurnya diletakkan di bawah di atas karpet. Kubuka 2 koleksi
VCD-nya, wah ini ada VCD xxx-nya. Pas saya lihat 2 VCD, dia pun masuk
dengan membawakan segelas STMJ dan memakai kaos street dan celana
pendek.

“Wah, semakin kelihatan seksi nih anak”, pikirku.

“Nih diminum Den, biar anget”, katanya.

“Shell… kamu suka ya lihat film-film macem ginian?” tanyaku.

“Ah nggak juga, cuma buat nonton kalau lagi butuh.” katanya.

“Butuh apaan?” tanyaku berlagak bodoh.

“Yah, butuh itu tuh…” katanya sambil tertawa.

“Eh, saya mau nonton yah…” kataku.

“Yah silakan, asal nggak terpengaruh loh ya! resiko ditanggung sendiri”, katanya sambil tersenyum genit.

Aku
pun mulai menyalakan VCD dan menontonnya. Disitu diperlihatkan seorang
wanita yang diikat tangan kakinya di ranjang dan ditutup matanya,
disetubuhi oleh lelaki dengan nafsunya. “Ahh… no… no… uhshhhh…”
jerit wanita tersebut sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. “Eh Den,
kalau yang itu saya juga belum liat tuh”, kata Sheilla. Kemudian
Sheilla pun duduk di samping saya. Terlihat lagi kemudian ikatan tali
itu dilepas, dan si wanita menungging, dan si lelaki berdiri di
belakangnya, dan mulai menyetubuhinya dengan gaya anjing. “Ohh…
yess… ahhh…. ahhh…. yesss… yesss…” jerit wanita tersebut.

Sheilla
duduk semakin mendekat ke tubuhku saat menonton adegan tersebut, dan
dadanya malah digesekkan ke lenganku. “Wah, kayaknya dia terangsang
nih”, pikir saya. Kemudian adegan pun semakin seru, si wanita
menggoyang maju mundurkan pantatnya mengimbangi laju kemaluan laki-laki
tersebut ke dalam ke kemaluannya. “Oohh baby, yess… ahhk”, jerit
wanita tersebut dan Sheilla pun semakin menggesekkan dadanya ke
lenganku dan akhirnya saya beranikan diri untuk memegang dadanya, dan
ternyata Sheilla diam saja sambil terus memperhatikan gambar. Saya
semakin berani dengan mencium bibirnya, yang dibalas dengan ciuman pula
oleh Sheilla.

Akhirnya saya dan Sheilla pun terlibat dalam acara
pagut memagut yang sangat seru. Lidah kami saling melilit satu sama
lain. Kemudian Sheilla melepaskan kaos streetnya. Saat kaos sampai di
kepalanya dan matanya masih tertutup kaos tersebut, saya menciumi
bibirnya dengan ganas, “Mmmm”, dan dibalas dengan ganas pula oleh
Sheilla. Akhirnya saya turun ke bawah menciumi lehernya yang panjang
dan agak melengkung ke depan berbentuk seperti kuda. Kata orang sih
wanita dengan bentuk leher seperti ini nafsunya besar.

Kemudian
Sheila pun mendesah, “Oohhh… shhh… shhhh”, dan kemudian saya buka
kaitan branya dengan gigi saya dan terpampang di depan mata saya
gundukan gunung kembar berbentuk kerucut dengan puncaknya berwarna
merah muda. Langsung saya jilati dari lembah gunung kembar tersebut
terus menuju ke puncaknya. “Aakhhh… okhhh… Dennn… shhh…
jangannn… jangan Den… jangan… jangan hentikan Den…” hanya kata
itu yang keluar dari bibir Sheilla. Wah gila juga nih cewek, masih
sempat bercanda dalam kenikmatan. Tak lama kemudian ujung gunung kembar
itupun berubah menjadi keras seperti penghapus pensil dan semakin keras
saja. Selanjutnya habis mengerjakan tugas di puncak gunung, saya turun
sedikit menuju lembah dan tepat di atas pusar saya jilati lagi. Terus
saya berhenti.

“Aahhh… shhh… loh… sshh kok berhenti? ssshhh”, tanya Sheila.

“Shell kamu punya susu kental manis nggak?” tanya saya.

“Loh kan udah ada susu kenyal nikmat”, katanya.

“Beneran nih Shell”, kata saya.

“Tuh di atas meja”, katanya sambil menunjuk ke meja.

Langsung saja saya ambil dan saya bawa menuju ke Sheilla.

“Wah mau diapain Den?” tanyanya.

“Biar lebih manis”, kata saya sambil mengoleskan susu kental tersebut ke daerah di sekitar pusar Sheilla, dan menjilatinya.

“Wah tubuhmu memang lezat pakai susu ini Sheilla, mmh… slurppp”, kata saya sambil menjilat dan menghisap-hisap tubuhnya.

“Ahh… shhh… ukhhh… ssss…” desah Sheila.

Kemudian
saya mulai membuka celana pendek Sheilla dan membuka celana dalam warna
kremnya. Dan setelah seluruh susu kental di tubuh Sheilla habis, saya
langsung turun ke daerah selangkangan Sheilla. Posisi Sheilla sekarang
tidur di sofa dengan kaki mengangkang membentuk huruf M dan saya duduk
di bawah dan menjilati pangkal pahanya. “Mmm… mmmm… slurppp…
mmmh… saya jilati seluruh permukaan rambut di daerah segitiga
terlarang tersebut di situ tumbuh dengan lebatnya rambut-rambut halus
bagaikan hutan tropis Kalimantan sebelum kebakaran. Kujilati hingga
rambut di situ basah semua, dan kemudian saya menuju ke bibir-bibir
kemaluan Sheilla. Kujilati bibir-bibir indah tersebut dengan ganasnya,
“Okhh… akkhh… yesss…. Dennn… ahh…” desah Sheilla sambil
mengangkat pinggulnya.

Kemudian kusingkap kedua bibir untuk
mengetahui rahasia di dalam kemaluannya. Terlihat dengan jelas tonjolan
daging yang ada di dalamnya dan kujilati dengan lidahku. “Ohh… di
situu terus Den… akhh… oukhh… akkk”, jerit Sheilla saat saya
jilati daging, yang biasa disebut klitoris.

Setelah menjilati
daging tersebut, kumasukkan tanganku ke dalamnya terasa ada yang
menyedot jariku. dan kugesek-gesekkan jari-jariku ke dalam kemaluan
Sheilla dan terasa daging yang bergelombang-gelombang di dalamnya.
Mungkin ini yang disebut G-spot pikir saya. Langsung saja saya
korek-korek daerah situ. Sheilla pun semakin tak terkendali, “Aahh…
ssshh… ohkkk… uhhh… yesss, Dennyy… terusss… ahkkkh…”
jeritnya semakin nggak jelas. Saya semakin memperbesar frekuensi
mengobrak-abrik daerah tersebut, yang makin lama terasa semakin basah
dan semakin menyedot-nyedot jariku. Tak lama kemudian, “Ohh…
Dennyy… shhh… akkhhh…” jerit Sheilla mengejang tanda mencapai
klimaks, dan jariku di dalamnya pun semakin basah oleh semburan air
dari dalam kemaluannya. Kemudian saya keluarkan tangan saya dari
cengkeraman kemaluannya dan menciumi Sheilla. “Sudah puas sayang?”
tanya saya. Dia pun tersenyum genit.

Kemudian Sheilla saya
rebahkan di karpet dan saya ambil inisiatif 69 dan saya mulai menjilati
kemaluan Sheilla. “Den… masih ngilu… kamu aja yang saya jilatin
deh!” kata Sheilla. Saya langsung duduk di sofa, dan Sheilla mulai
menjilati kemaluan saya. Dia jilat kantung kemaluan saya dengan
nikmatnya sambil sekali-kali melirik ke arah saya. Kemudian dia
menjilati batangan saya yang 7 inchi menyusuri jejak urat-urat yang
menonjol di situ. Saya cuma bisa bilang, “Ahh… ohh… shhhh”, saat
dia menjilati batangan saya. Dia pun lalu mulai menjilati kepala
kemaluan saya yang seperti helm astronot sambil memainkan lubangnya
dengan lidah yang menari-nari di atasnya. kemaluan saya pun semakin
tegang saja, dan kemudian dia mulai memasukkan dan mengeluarkan
kemaluan saya di dalam mulutnya dengan frekuensi tinggi, sehingga
dengan gerak reflek saya maju mundurkan kemaluan saya sambil memegangi
rambutnya. Setelah hampir 6 menit berlalu sepertinya dia sudah capai
karena saya nggak keluar-keluar juga. Akhirnya dia pun menghentikan
aktifitasnya. “Denn… lama bener sih keluarnya, masukin ke kemaluan
aja ya biar cepet keluar!” katanya.

Kemudian Sheilla mengambil
sesuatu dari lemarinya. Ternyata dia mengambil kondom yang bentuknya
lucu seperti ikan lele, ada sungutnya. Dan memberikan ke saya. “Nih Den
pake, biar saya nikmat dan tahan lama”, katanya. Lalu saya memakaikan
kondom tersebut ke kemaluan saya, dan Sheilla sudah siap tempur dengan
tidur telentang dan kakinya membentuk huruf M. Langsung saya masukkan
kemaluan saya ke dalam kemaluan Sheilla. Wah, ternyata masih seret juga
nih lubangnya pikir saya. Dan dengan dorongan sedikit tenaga masuklah
batang saya ke dalam cengkraman kemaluannya. Saya dorong keluar masuk
kemaluan saya ke dalam kemaluannya. “Aahh… ooohhh… shhh… akhhh…
shh… terusss… Denn… ahhh…” desah Sheilla semakin tak beraturan.
Kemudian saya berhenti, kemaluan saya di dalam kemaluannya dan
memainkannya seperti orang sedang menahan air pipis. “Ih… kamu
nakal… Den…” dan Sheilla ganti membalasnya dengan perlakuan seperti
saya. Saat dia melakukan hal tersebut, kemaluannya terasa
menjepit-jepit seluruh batang kemaluan saya secara periodik, dan
membuat saya tak bisa mengendalikan diri.

Kemudian saya genjot
lagi kemaluan saya dan menggesekkan sungut-sungut pada kondom,
sepertinya membuat sensasi tersendiri pada kemaluannya, “Ahh..
ooohhh… Denny… sungut lelemu… ohksss… akkk… yes ahhh…
ohkk…” jerit Sheilla menikmati sungut lele dan dia pun menggoyangkan
pinggulnya semakin kuat dan berbunyi kecipak-cipak saat saya
memasuk-keluarkan kejantanan saya di dalam kewanitaan Sheilla yang
makin basah.

Setelah 15 menit kemudian Sheilla mendesah,
“Deny… ouchh…. akuu…. mmmaaauu…. akh, sampaiii.” Tak lama
kemudian terasa tumpahan cairan dari kemaluan Sheilla membuat batang
kemaluan saya panas dan terasa ada yang menghisap-hisap kemaluan saya
yang membuat saya tak bisa mengendalikan diri, dan keluarlah lahar
panas dari kemaluan saya pada kantong kondom di dalam kemaluan Sheilla.
Kami berdua pun lemas dalam kenikmatan. Saya biarkan kemaluan saya di
dalam kemaluan Sheilla sampai hilang hisapan-hisapan dari kemaluannya.
Kemudian kukeluarkan kemaluan saya dan saya lepas kondom dan saya
berikan ke Sheilla. “Nih, sumbangkan ke bank sperma”, kata saya. Dia
pun tersenyum genit, dan pergi ke kamar mandi untuk membuang kondom
tersebut. Kemudian kami pun tertidur dengan tubuh tanpa busana sampai
keesokan harinya.

TAMAT

Wanita Penjaga Toko

penjaga warung mendesah jorok