Wow Tiga Kali Sehari!!

9th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 1883 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Wow Tiga Kali Sehari!!

Ada saat-saat di mana Bari bukan main
perkasanya. Entah apa sebabnya. Bukan bulan purnama, bukan bulan mati.
Bukan bulan muda, bukan bulan tua. Tidak pula karena ia makan sate
kambing, atau minum obat kuat. Bukan karena sedang cuti, bukan karena
mendapat bonus. Pokoknya, tidak ada penyebab khusus. Surti pernah
memikirkannya, mencari penyebabnya, karena ia tentu saja ingin Bari
sering-sering begitu! Tetapi akhirnya ia menyerah, karena “fenomena
bergairah” itu tidak pernah teratur. Tidak ada polanya!

Misalnya
hari ini, hari Selasa di pertengahan bulan yang kebetulan sedang
kemarau. Pagi-pagi sekali, sebelum mandi dan sarapan, Bari sudah
menelusup ke leher istrinya, mencium dan menggigit-gigit kecil untuk
membangunkan Surti. Sebetulnya Surti sendiri sudah terbangun sejak
tadi, cuma masih malas membuka mata. Ia memeluk erat-erat suaminya,
menggelinjang sambil tertawa kecil.

“Kamu tidur dengan pakaian lengkap, seperti mau upacara bendera!”, protes Bari sambil meremas-remas bagian belakang tubuh Surti.

“Ya, ampun” keluh Surti, “Masak seperti ini disebut pakaian lengkap?”.

“Lha, iya!” sergah Bari lagi, “Masak tidur memakai beha dan celana dalam segala”.

Surti tergelak, dia selalu memakai keduanya. Kenapa baru sekarang dipersoalkan? Pasti ada maunya.

“‘Makan’,
yuk!”, bisik Bari sambil menelusupkan kepalanya lebih ke bawah lagi, ke
antara dua bukit di dada istrinya. Hmm.., lelaki itu selalu suka
menghirup keharuman lembut dari sana.

“Aku belum pingin..” goda
Surti, tetapi sambil meraih ke belakang dan melepaskan kait BH-nya.
Sekejap kemudian ia menarik lolos BH itu dari balik dasternya.
Payudaranya segera terbebas.

“Memang aku yang mau makan kamu..”, kata Bari sambil menarik turun daster istrinya.

Segera
dada Surti yang subur sekal segar itu terpampang. Cepat-cepat Bari
menelusuri bulatan sintal yang menggairahkan itu dengan hidung dan
mulutnya. Hmm…, tambah harum jika dicium tanpa penghalang seperti ini.

“Pelan-pelan, yaa…” bisik Surti sambil menggelinjang, “Nanti kamu tersedak”.

Bari
menjulurkan lidahnya, menelusuri lembah di antara dua payudara
istrinya. Hmm…, agak asin karena ada sedikit bekas keringat di sana.
Tapi tambah asyik. Bari naik ke bagian atas, melingkari wilayah bulat
coklat hitam di pangkal puting Surti. Hmm.., di sini tidak begitu asin.

“Aah…, geli, Yang..”, desah Surti, tetapi sama sekali tidak bermaksud memprotes.

Bari
berputar-putar lagi di tempat yang sama, dengan takjub melihat puting
yang tadinya tergolek lemah kini perlahan menegak tegang. Setelah tegak
sepenuhnya, tak tahan lagi, Bari memasukkan puting itu ke mulutnya.
Pelan-pelan disedotnya daging kenyal hangat itu.

“Aah…, geli sekali, Yaang..” erang Surti, sama sekali tidak memprotes, melainkan justru bermaksud menambah semangat suaminya.

Dalam
sekejap puting kiri Surti sudah basah dan berdenyut hangat. Warnanya
tidak lagi coklat semata, tetapi juga bertambah gelap dan agak merona
merah. Apalagi Bari juga kadang-kadang memainkan lidahnya di dalam
mulut, menekan-nekan puting itu ke kiri dan ke kanan.

“Yang satu lagi ngiri, Yaang..” desah Surti gelisah, sambil meremas sendiri payudaranya yang sebelah kanan.

Bari
melepaskan mulutnya dari payudara kiri, berpindah cepat ke payudara
kanan. Surti mengerang keras, menggelinjang gelisah, karena Bari kini
meremas payudara kiri yang telah ditinggalkan mulutnya. Kini kedua
bukit gairah sensual itu terasa geli belaka. Sambil mendesis dan
mendecap seperti orang kepedasan, Surti memejamkan matanya, menikmati
sensasi luar biasa di pagi yang segar ini!

Bari sendiri sangat
terangsang kalau bermain-main di payudara istrinya. Ia suka sekali
menyedot…, mengulum…, meremas dan kadang menggigit pelan kedua
bukit lembut yang hangat dan harum itu. Rasanya seperti bermain-main di
suatu masa lampau, mungkin ketika ia masih kecil dulu, dalam buaian Ibu
yang memberinya susu penuh gizi. Mungkin semua lelaki begitu, suka
bermain-main di susu wanita karena terkenang masa hangat bahagia di
pelukan Wanita Mulia yang melahirkannya.

Surti menelentangkan
diri, membentangkan tangannya di atas kepala, sehingga dadanya lebih
bebas terbuka. Bari mengangkat badannya, naik menjelajah payudara yang
menjulang menantang itu dengan gairah yang semakin membara. Lalu satu
tangannya merayap turun sambil membawa serta daster istrinya. Sekali
tarik, daster itu lolos dari kedua kaki Surti, sehingga kini tinggal
celana dalam yang membungkus tubuhnya. Tidak sabar membuka celana dalam
itu, Bari menelusupkan tangannya ke bawah, meraih selangkangan istrinya
yang dengan otomatis membuka memberi jalan.

“Aah…!” Surti
mengerang keras ketika jari tengah Bari menerobos di antara dua bibir
di bawah sana. Rasanya seperti dibelah dua oleh kenikmatan!

Sambil
terus mengulum dan menyedot dan menggigit, Bari mengelus-elus lembut
lembah cinta istrinya yang mulai membasah. Sekali-sekali ujung jarinya
memutar-mutar di atas tombol cinta yang cepat sekali mengeras, terselip
di pojok atas bibir kewanitaannya. Surti mengerang-erang semakin keras
dan semakin gelisah.

“Buka dulu piyama kamu, Yang..” desah Surti
sambil mulai membukai kancing-kancingnya. Cukup susah melakukan hal itu
karena Bari tidak mau lepas dari dada dan selangkangan istrinya. Tetapi
bukan Surti namanya kalau tidak bisa membuka baju suaminya dalam 5
menit.

“Enam sembilan, Yang..” desah Surti gelisah, nafasnya memburu
ingin segera diciumi di bawah sana dan juga ingin menciumi suaminya.

Bari
tidak banyak membantah dan segera mengatur posisi sehingga kini mereka
bisa saling hisap, saling kulum, saling sedot, penuh gairah dan penuh
rasa kasih yang tak berbatas. Surti mengerang-erang dengan mulut
dipenuhi kejantanan suaminya. Bari mendesah-desah sambil menenggelamkan
mukanya di antara dua paha mulus istrinya. Decap dan desah saling
bersusulan ramai sekali. Erotik sekali.

Tidak lama kemudian,
keduanya tak tahan lagi. Seperti ada komando khusus, keduanya saling
memposisikan diri. Surti menelentang dan membuka kedua pahanya
lebar-lebar. Bari mengangkat tubuhnya dalam posisi push up di atas
tubuh istrinya. Lalu, sambil dituntun tangan Surti, lelaki itu menekan
dalam-dalam.

“Aah!” Surti menjerit sambil memejamkan matanya
erat-erat. Kejantanan suaminya yang kenyal itu menerobos masuk dengan
lancar, langsung membentur bagian yang paling dalam…, langsung memicu
orgasmenya. Cepat sekali!

Sambil bertumpu di kedua sikunya, Bari
menenggelamkan mukanya di leher Surti yang sudah dibasahi keringat.
Sambil mencium dan menggigit-gigit kecil, lelaki itu mulai menggenjot,
mengeluar masukkan kejantanannya penuh semangat. Surti mengangkat kedua
kakinya, memeluk pinggang suaminya erat-erat, mengunci tubuh yang juga
sudah berkeringat itu kuat-kuat. Perjalanan menuju puncak birahi.

“Ah…, yang keras, Yang!” desah Surti, merasakan orgasmenya sudah tiba, dan ia ingin digenjot sekeras-kerasnya!

Bari
menekan lebih keras lagi, sampai kadang-kadang ranjang seperti bergeser
diterjang tubuhnya. Pangkal kejantanannya membentur lingkar bibir
kewanitaan Surti yang sedang berdenyut-denyut mempersiapkan ledakan
pamungkas.

“Aah!” Surti menjerit merasakan ledakan pertama menyeruak dari dalam tubuhnya, “Ngga tahan, Yang…, aah!”

Bari
terus menekan dan menghunjam, ia sendiri juga sudah ingin meledak
rasanya. Seluruh perasaannya seperti ingin tumpah ruah sesegera
mungkin. Apalagi otot-otot kenyal di kewanitaan istrinya kini mencekal
erat, seperti meremas-remas dan mengurut-urut kejantanannya. Bari juga
tidak tahan lagi.

“Uuuh!” pria itu menggeram sambil menggenjot keras-keras lima kali.

“Ah.., ah.., ah.., ah..!” Surti mengerang setiap kali enjotan mahadahsyat itu menerjang tubuhnya.

“Aah!”
Bari mengerang keras, menancapkan dalam-dalam kejantanannya dan
bertahan di sana ketika lecutan-lecutan ejakulasi melanda seluruh
tubuhnya.

“Oooh!”, Surti mendesah panjang merasakan cairah panas
tumpah ruah di dalam kewanitaannya dan seperti memberi penyedap utama
bagi geli orgasmenya.

Permainan cinta pertama ini cepat sekali.
Tidak lebih dari 15 menit. Tetapi dilakukan dengan sangat bergairah,
sehingga setelah mencapai puncak, Bari rubuh menubruk istrinya. Surti
tersengal menahan tubuh suaminya, dan menelentang tak berdaya dengan
sendi-sendi yang seperti copot!

Diperlukan cukup banyak ekstra
energi ketika akhirnya Bari bangkit meninggalkan ranjang untuk mandi
dan bersiap ke kantor. Surti tinggal di tempat tidur beberapa lama
lagi, memejamkan mata, merasakan dan membiarkan cairan cinta mereka
perlahan-lahan merayap turun membasahi sprei. Biarlah! sergahnya dalam
hati, sudah waktunya sprei itu diganti.

Baru setelah Bari
terdengar selesai mandi, wanita itu bangkit dan mengelap tubuhnya
sebelum ikut masuk ke kamar mandi. Kemudian keduanya sarapan pagi yang
sesungguhnya, sambil tersenyum-senyum mengingat kegilaan mereka pagi
ini.

“Makan apa, sih, kamu tadi malam?”, sergah Surti sambil menyuap nasi gorengnya.

“Nggak
makan apa-apa. Biasa saja, steak dan kentang goreng” sahut Bari,
teringat bahwa tadi malam ia memang makan malam bersama relasi kantor.
Tetapi tak ada yang istimewa di makanan itu. Bahkan sebetulnya ia tak
makan banyak karena masih merasa kenyang.

“Sering-sering, deh, begitu..”, kata Surti sambil melirik nakal.

“Nanti kamu kewalahan, lho!” kata Bari sambil mencubit hidung istrinya.

“Hey…, siapa bilang!” sergah Surti, “Jangan-jangan kamu yang kewalahan”.

Bari tersenyum sambil meneguk kopinya, “Nanti kita buktikan saja, lah!” katanya.

Dan
siang itu Bari menelepon mengatakan akan makan siang di rumah. Surti
masih sibuk di studio fotonya ketika Bari tiba dengan dua bungkus mie
goreng dan sebotol besar minuman ringan kesukaan mereka. Tahu-tahu
suaminya sudah ada di belakang, memeluk dan mencium tengkuknya.

“Sebentar,
ya, Yang…” kata Surti sambil membereskan kamera dan film-filmnya,
“Kamu duluan, deh. Nanti aku susul ke meja makan!”

“Ngga mau”, kata Bari tetap memeluk dan menciumi kuduk Surti.

“Eh,
bandel, ya!” sergah Surti sambil terus bekerja membereskan mejanya,
sambil menggelinjang kegelian pula karena diciumi di daerah sensitifnya.

“Biar
bandel, asal ganteng!” kata Bari terus mencium, dan sekarang bahkan
memegang-megang dada istrinya yang cuma terbungkus kaos. Surti tertawa.
Siapa bilang suamiku jelek? katanya dalam hati, dia paling ganteng
betapa pun nakal dan bandel dan keras kepalanya!

“Di sini saja, yuk!” bisik Bari sambil menggigit cuping istrinya, membuat wanita itu menjerit kegelian.

“Aduuuh,
nanti ngga selesai-selesai, nih!”, keluh Surti sambil sibuk menurunkan
tangan Bari dari dadanya. Tetapi begitu diturunkan, begitu cepat naik
lagi. Bahkan yang satu sudah masuk menelusup ke balik kaos, dan sudah
mengusap-usap. Celakanya lagi, dada yang diusap itu bereaksi positif!

“Nanti saja beres-beresnya”, kata Bari lagi sambil menarik istrinya ke sebuah kursi panjang di dekat tembok.

“Eh,
apa-apaan…, Koq di sini makannya? Nanti studioku banyak semut!”
protes Surti ketika Bari tidak sabar lagi dan membopong istrinya menuju
kursi yang selama ini dipakai untuk tiduran kalau Surti ingin
beristirahat di tengah kerjanya.

“Siapa yang mau makan di studio?”,
tanya Bari sambil dengan hati-hati menurunkan Surti di atas kursi yang
dilengkapi dengan bantal-bantal itu.

“Habis, kita mau ngapain?” Surti mengernyitkan keningnya, melihat suaminya membuka dasi.

“Mau bikin film matinee!” sergah Bari sambil duduk dan menciumi leher Surti.

Astaga!
Surti baru sadar apa yang dimaksud suaminya. Gila! Padahal tadi pagi ia
sudah mengajak bercumbu. Sekarang, belum lagi pukul 1 siang, dia sudah
bergairah lagi. Benar-benar surprise.

Surti menjerit kegelian ketika
Bari tiba-tiba menyingkap kaos, dan menenggelamkan mukanya di antara
kedua payudara yang memang tak tertutup BH itu. Wanita itu tak bisa
banyak bergerak karena di desak sampai ke tembok, dan karena suaminya
menindih tubuhnya dengan bergairah. Tetapi tentu saja ia sebetulnya
juga tidak mau banyak berontak! Ia suka diperlakukan dengan penuh
gairah seperti ini.

“Baju kamu nanti lecek, Yang!” sergah Surti
melihat suaminya seperti kesetanan. Biarpun ia sedang kegelian, wanita
itu masih sempat memikirkan baju pria kesayangannya! Begitulah mulianya
hati seorang istri.

“Nanti ganti saja…”, desah Bari tak peduli. Lelaki memang maunya praktis saja.

“Sabar,
Yaang…” bisik Surti sambil menahan tawa karena melihat Bari seperti
bayi kehausan mencari-cari puting susunya. “Masih ada waktu, kan?”.

Bari
tak menyahut. Ia sibuk menelusup dan menelusur dada istrinya. Lalu
sibuk mengulum dan menyedot, membuat si empunya dada mengerang dan
menggelinjang.

“aah..” Surti mendesah, mendorong dadanya ke depan
sambil merengkuh leher suaminya. Tadi ia bilang “sabar”, sekarang
justru dia yang tidak sabar!

Siang ini Surti bekerja dengan kaos
t-shirt dan celana pendek longgar. Kaos sudah disingkap sampai ke
leher. Maka, sambil menggeliat-geliat merasakan mulut suaminya yang
sangat aktif itu, Surti membuka celananya sendiri, memelorotkan
sekaligus bersama celana dalamnya. Nah, sekarang ia sudah telanjang
dari dada ke bawah. Sudah bebas diperlakukan apa saja oleh suaminya.

Bari
memposisikan tubuhnya di sisi kursi panjang tempat mereka bercinta.
Lalu ia membuka ikat pinggang dan celananya sendiri. Keduanya seperti
sudah sepakat untuk saling membuka pakaian tanpa ada aba-aba
sebelumnya. Maklumlah, suami istri ini memang sangat kompak!

Tidak
lama kemudian keduanya sudah telanjang, walau Bari masih memakai baju
dan Surti masih memakai kaos di atas dadanya. Sambil terus mengulum dan
menciumi payudaranya, Bari menempelkan tubuhnya lekat-lekat ke tubuh
mulus Surti. Hmm…, di siang yang gerah seperti ini, nyaman sekali
rasanya bersentuhan kulit dengan orang yang terkasih. Walaupun
sebetulnya mereka berdua sudah mulai berkeringat, tetapi tetap saja
nikmat rasanya menempel seperti perangko dan amplopnya.

“Nggg…” Surti mengerang sambil merenggangkan pahanya, “Jangan dimasukkan dulu, Yang…”.

Bari
tak menyahut, tetapi ia mengerti maksud istrinya. Biar bagaimanapun,
istrinya tentu belum siap menerima percumbuan tanpa rencana ini. Harus
ada sedikit upaya untuk membuatnya siap. Sedikit saja, tetapi harus!

“mm…”
Surti mendesah merasakan ujung kejantanan suaminya menelusur celah
sempit di antara kedua pahanya, menimbulkan rasa nikmat yang
perlahan-lahan menyeruak ke seluruh tubuh.

Dengan satu tangannya, Bari menuntun
kejantanannya naik turun di sepanjang celah yang mulai membasah itu.
Oh, geli sekali rasanya ujung kejantanannya menyentuh lembah halus dan
licin yang seperti kelopak bunga terkuak perlahan. Sekali-sekali ia
memutar-mutar ujung tumpul itu di permukaan liang senggama istrinya,
merasakan liang itu semakin lama semakin lebar membuka, menyatakan
kesediaan untuk di eskplorasi. Sekali-kali ia naikkan kejantanannya,
menggosok-gosok lembut bagian yang tersempil menonjol di lipatan atas
bibir kewanitaan istrinya. Itu bagian paling sensitif yang dengan cepat
membuat Surti mengerang dan semakin merenggangkan pahanya.

“Aah…, nikmat itu, Yang…” Surti berbisik mendesah dengan mata terpejam, “Oooh… lagi, Yang!”

Bari
mengulang lagi. Dengan sabar ia terus menggosok-gosokkan kejantanannya,
menggunakannya sebagai alat pemicu birahi istrinya. Perlahan-lahan ia
mulai merasakan celah sempit di bawah itu mulai membuka dan basah.
Kalau ia membawa ujung kejantanannya ke liang kewanitaan Surti, terasa
liang itu seperti mau menangkap dan menarik kejantanannya masuk.
Sekali-sekali Bari memang menenggelamkan seluruh kepala kejantanannya
ke dalam. Surtipun mengerang setiap kali suaminya melakukan itu.”mm…”
Surti mengerang penuh nikmat, “Dikit lagi, Yang… oooh”, bisiknya.

Bari
mendorong masuk sedikit, sehingga seperempat kejantanannya melesak
masuk. Wow…, liang yang dimasuki itu masih agak sempit dan
berdenyut-denyut.

“Uuuh…” Surti mendesah sambil menggeliat, “Di situ aja dulu, Yang…”.

Bari tertawa kecil sambil bergumam, “Kamu banyak maunya!”.

Surti ikut tertawa, dan memprotes manja, “Jangan becanda, dong. Aku kan lagi serius, nih!”

Bari
menahan tawanya, sambil menciumi leher istrinya yang sedang terpejam
dan megap-megap merasakan nikmat. “Ada-ada saja istriku, masak bercumbu
saja pake serius-seriusan segala!”, Tetapi Bari memang pernah juga
membaca, bahwa wanita memang lebih memerlukan keseriusan dalam
bercumbu. Wanita mudah terangsang kalau seluruh pikirannya tercurah
untuk percumbuan. Sedikit saja pikirannya terganggu, seorang wanita
bisa kehilangan gairah. Walaupun begitu, rasanya dengan Surti teori itu
tidak selalu berlaku.

“Aah…” terdengar Surti mulai mendesah
lagi, dan pinggulnya berputar-putar gelisah, “Dikit lagi Yang…, tapi
jangan semuanya…”

Oke boss! ucap Bari, tetapi dalam hati.
Pelan-pelan ia mendorong masuk kejantanannya, menerobos liang yang
semakin membuka tetapi juga semakin berdenyut seperti mulut kecil yang
sedang sibuk mengulum permen kesukaan. Surti menggeliat dan menggerang
lagi. Bari mendorong sedikit lagi, sehingga kini tiga perempat
kejantanannya terhenyak sudah.

“Oooh…” Surti mengerang sambil
memutar-mutar pinggulnya. Bari bertumpu pada sikunya, berusaha menjaga
agar kejantanannya tidak seluruhnya masuk. Dengan gerakan-gerakan
Surti, rasanya kejantanan itu seperti sedang mengaduk-aduk sebuah
wahana lentur dan kenyal yang basah dan licin. Bari melihat ke bawah,
terpesona memandang kejantanannya yang tampak sedikit di atas cekalan
bibir kewanitaan istrinya yang berputar-putar penuh gairah.

Surti
memejamkan mata dengan nafas memburu, merasakan betapa nikmatnya
memutar-mutar pinggul dengan batang kenyal dan padat tertanam sedikit
di gerbang kewanitaannya. Gerakan memutar itu menyebabkan seluruh
lingkar luar liang senggamanya seperti diurut-urut, menimbulkan rasa
geli dan gatal yang menggairahkan. Inilah salah satu pemanasan…,
permainan awal…, yang disukainya. Dengan begini, ia akan segera siap
menuju langkah berikutnya.

“aah..” Surti mengerang keras, menggeliat gelisah, “Ayo masukin semua, Yang…”

Oke,
boss! ucap Bari dalam hati lagi. Pelan-pelan ia menurunkan tubuh bagian
bawahnya, dan pelan-pelan kejantanannya melesak masuk sampai ke
pangkalnya. Begitu terhenyak 100%, Surti mengerang keras dan
menghentikan gerakan pinggulnya. Wow! Bari merasakan dirinya tenggelam
dalam lubang dalam yang panas dan basah dan berdenyut. Merasakan ujung
kejantanannya membentur dinding halus nan licin bagai sutra dilapisi
cairan khusus. Sejenak pria itu diam saja menikmati sensasi luar biasa
di sepanjang kejantanannya.

Surti mengerang, mendesah dan
merengkuh tubuh suaminya erat-erat. Kedua kakinya membentang seluas
mungkin lalu naik memeluk pinggang Bari, mengunci tubuh mereka dalam
sebuah persatuan yang menggairahkan. Sejenak mereka diam saja, saling
memeluk dan berciuman mesra, merasakan persetubuhan di siang bolong
yang terik ini. Keduanya sudah agak berkeringat, dan kedua payudara
Surti yang sintal sudah terhenyak rapat di bawah dada suaminya yang
masih memakai kemeja. Tak rela berpelukan dengan baju, wanita itu
cepat-cepat membuka kancing-kancing suaminya. Sekejap kemudian keduanya
mengerang karena akhirnya tak ada lapisan yang membatasi pertemuan
tubuh mereka. Kedua puting susu Surti terasa nikmat di tekan dan di
tindih oleh dada suaminya yang bidang dan kukuh itu. Baripun merasa
nikmat tertelungkup di atas hamparan lembut kenyal dada istrinya.

“Begini
aja, yuk!” desah Surti sambil menciumi muka suaminya penuh kemesraan.
Ia senang sekali tertancap menjadi satu seperti ini.

“Cuma diam begini?” tanya Bari dengan nada lucu sambil membalas ciuman istrinya.

Surti tertawa kecil di tengah nafasnya yang memburu, “Boleh gerak, dikiiit…” bisiknya manja.

“Seperti ini?”, tanya Bari sambil mulai menggerakkan pinggulnya memutar-mutar perlahan.

“Mmhh…” Surti menjawab dengan erangan. Aduh ini, sih, terlalu sedikit, pikirnya menyesal mengatakan “dikit” tadi.

“Atau
begini?”, tanya Bari sambil menaik turunkan pinggulnya, pelan-pelan
saja.”Aah…” Surti mendesah dengan nafas semakin memburu, “Dua-duanya,
Yang…, Oooh…, Aku suka dua-duanya, Yang!”

Bari tersenyum dan
dengan gemas mencium mulut istrinya, membungkam si ceriwis yang
menggairahkan itu. Segera pula ia mengerjakan “dua-dua”nya, yakni
menaik turunkan pinggulnya sambil memutar-mutar. Tetap dengan gerak
lambat namun mantap. Kejantanannya dengan perkasa menyeruak masuk ke
liang cinta istrinya yang kini sudah terbuka pasrah dan basah. Lancar
sekali otot pejalnya itu menerobos, menimbulkan suara-suara seksi
berkecipak ramai.

“Aah…, Nggg..”, Surti mengerang tidak karuan
sambil megap-megap dan memejamkan matanya, berkonsentrasi menikmati
hunjaman suaminya yang perkasa. Bari melepaskan ciumannya, karena Surti
seperti ingin bicara. Lalu terdengar wanita itu mendesah penuh
permohonan yang manja, “Boleh lebih cepat…, oooh…, Yang…, aku
mau, Yang…, aah!”

Pura-pura tidak mau, tahu-tahu paling mau!
sergah Bari dalam hati sambil menahan tawanya. Ia mempercepat hunjaman
dan tikaman kejantanannya. Kursi panjang tempat mereka bercumbu
berderit-derit ramai, karena sebetulnya itu bukan tempat bercumbu.
Surti mengerang-erang sambil mencengkram pinggang suaminya, ikut
membantu menaikturunkan tubuh Bari. Padahal lelaki itu tak perlu
bantuan, tetapi mungkin dengan berpegangan ke pinggang seperti itu,
Surti bisa memastikan bahwa suaminya tidak akan berhenti!

Setelah
kira-kira selusin kali menggenjot, Bari merasakan liang kewanitaan
istrinya menyempit dan mencekal erat. Itu pertanda awal orgasmenya.
Surtipun sudah mengerang-erang semakin keras dan menggeliat-geliat
seperti cacing kepanasan. Bari mengerti tanda-tanda ini sepenuhnya.
Maka ia mempercepat dan memperkeras gerakannya. Bahkan kadang-kadang ia
menghentak dan menghunjam dengan gerakan kasar, membuat kursi panjang
bergetar dan bergeser sedikit. Tetapi justru itu membuat Surti tambah
keenakan, dan setelah tiga empat kali “dikasari” seperti itu, wanita
ini mencapai puncak birahinya.

“mm…” ia mengerang panjang, lalu berteriak pendek-pendek, “Ah… ah… ah…!”

Bari menghunjam dalam-dalam, lalu memutar dan menekannya dengan sekuat tenaga.

“Oooh!”
Surti menjerit keras, meregang dan melentingkan tubuhnya, lalu
terhempas kembali ke bawah sambil bergetar kuat seperti orang yang kena
hukuman di kursi listrik. Kursi berderit-derit ramai, dan Bari menekan
tubuh istrinya kuat-kuat agar mereka berdua tidak terlempar ke lantai.
Bagi Surti, orgasme itu sangat dahsyat. Seluruh tubuhnya ikut tersaput
ledakan-ledakan kenikmatan yang bermuara di kedua pangkal pahanya. Dari
lembah basah yang tersumpal batang liat dan pejal itulah datangnya
gelombang besar yang melanda seluruh tubuhnya. Surti seperti merasa
berenang terapung dan terombang-ambing dalam lautan nikmat yang merasuk
ke seluruh pori-pori tubuhnya. Beberapa menit kesadarannya seperti
hilang dan tubuhnya lepas dari kendali, bergerak-gerak liar ke segala
arah.

Setelah beberapa saat menggelepar dan meregang menikmati
orgasmenya, Surti berhasil menguasai diri, lalu mendesah dengan suara
letih, “Aduuuh…, gila kamu, Yang…, bikin aku ketagihan”

Bari tertawa kecil sambil menggigit dagu istrinya tercinta, “Ini mau protes atau mau bilang terima kasih?”, tanyanya.

Surti
tak menjawab, melainkan meraih leher suaminya, menciumi mulut pria yang
sangat dicintainya itu. Mereka saling mengulum dan menggigit gemas.
Surti menumpahkan seluruh perasaannya lewat ciuman itu. Ia ingin
berterima kasih…, ia ingin memuji…, ia ingin memuja…, ia ingin
menyatakan cinta. Tak ada pria lain yang ia cintai seperti pria yang
satu ini. Pria ini membuatnya lebih hidup dari sekedar hidup, lebih
bernafas daripada sekedar bernafas. Pria ini mengisi dunianya dengan
gairah baru setiap hari.

Lalu, di tengah ciuman yang bergelora
itu, mereka mulai bergerak lagi. Bari mulai menggenjot lagi, mulai
memicu kembali gairah Surti yang belum sepenuhnya reda. Tak berapa lama
kemudian mereka sudah tak sanggup lagi berkata-kata. Nafas keduanya
memburu dan saling bersusulan, disertai erangan dan desahan yang tidak
beraturan. Kursi panjang semakin bergeser dari kedudukannya semula.
Bantal-bantal berserakan tertendang atau terdorong oleh gerakan-gerakan
mereka yang semakin liar. Keringat mulai membanjiri tubuh mereka,
membuat kemeja Bari basah kuyup di bagian punggung. Tubuh bagian bawah,
terutama dari pinggang ke bawah, tampak paling basah, berkilat-kilat
seperti dilapisi lilin dan minyak.

Lalu Surti mencapai
orgasmenya yang kedua tanpa bisa ditahan lagi. Wanita itu menggelepar
dan mengerang-erang sambil memejamkan matanya erat-erat. Wajahnya
tampak berkonsentrasi dan merona merah mempesona. Mulutnya terbuka dan
nafasnya keluar dalam hempasan-hempasan pendek. Bari terus menggenjot
karena ia juga sudah mencapai tarap akhir pendakian asmara ini. Ia
tidak berhenti walau tampaknya Surti telah kewalahan menahan rasa geli
yang memuncak. Wanita itu berusaha memperlambat gerakan suaminya,
tetapi ia juga tak berdaya karena setengah dari tubuhnya ingin tetap
menikmati hunjaman-hunjaman Bari. Akhirnya ia menyerah saja,
menggeletak dan meregang-regang terus menikmati orgasmenya yang
sambung-menyambung.

Lalu Bari mencapai puncak birahinya. Pria
itu menggeram dan mengerang keras. Seluruh otot di tubuhnya meregang
seakan beramai-ramai mendorong keluar cairan cinta dari pinggangnya ke
kejantanannya. Lalu sejenak ia terdiam, menanamkan dalam-dalam
kejantanannya di liang cinta istrinya…, dalam sekali, sampai melesak
ke pangkalnya…, sampai menyentuh langit-langit terdalam kewanitaan
istrinya. Surti menguakkan kedua pahanya seluas mungkin, merasakan
kejantanan suaminya seperti membesar sepuluh kali lipat…, sebelum
akhirnya batang keras itu melonjak-lonjak liar dan menyemprotkan
cairan-cairan kental panas. oooh, kewanitaan Surti seperti sebuah
ladang kering yang tersiram hujan yang dinanti-nanti sejak lama!

Siang
itu, Bari makan sangat lahap. Nyaris ia habiskan kedua bungkus mie
goreng yang tadi dibawanya. Nyaris pula ia meneguk habis minuman ringan
dingin dalam botol ukuran 1 liter itu. Surti tak henti-hentinya
memperingatkan agar suaminya makan lebih lambat. Wanita itu kuatir Bari
tersedak atau terserang kram perut.

“Duuh…, pelan-pelan, Yang!” sergah Surti sambil menyingkirkan jauh-jauh botol minuman yang tinggal seperempatnya.

“Tadi, waktu aku pelan-pelan, kamu suruh cepat-cepat..” sahut Bari sambil menyuap satu sendok penuh mie goreng yang lezat itu.

Surti
tertawa, mengerti apa yang dimaksud suaminya, “Lho, tadi itu, kan
perkara lain. Lagipula pada awalnya, kan juga pelaan…, sekali!”
katanya manja.

“Ah, kamu memang suka ngatur…” protes Bari sambil terus menyuap, padahal mulutnya belum kosong sekali.

Surti mencubit lengan suaminya dengan gemas, “Alaah…, Kamu juga suka kan, diatur kalau lagi begitu!” katanya membela diri.

“Oke,
nanti malam kamu atur lagi, ya” kata Bari sambil meraih botol minuman
yang sudah disingkirkan jauh-jauh. Tanpa gelas, ia meneguk isinya
langsung.

Surti membelalakan matanya yang mempesona itu, “Nanti malam? Ya ampun. Belum cukup juga, Yang?”

Bari
tertawa, hampir saja tersedak. Surti menggeleng-gelengkan kepalanya.
Benar-benar mengherankan, apakah ia begitu karena sebentar lagi ulang
tahunnya yang ke 32? pikir Surti sambil menatap suaminya lekat-lekat.
Kalau sedang tertawa, suamiku makin muda saja tampangnya. Makin cute
dan makin menggemaskan. Nanti malam, harus kuapakan dia?

Bari
pulang kantor dengan bersiul-siul. Jam baru menunjukkan pukul 5 sore.
Walau tampak riang, jelas juga terlihat bahwa pria itu agak letih.
Surti menyambut pasangan hidup terkasihnya di depan pintu, menerima
tasnya, dan membiarkan tubuhnya yang segar karena baru habis mandi,
dipeluk oleh suaminya.

“Hmm…, harumnya istriku”, bisik Bari sambil menciumi leher Surti.

“Hmm…,
baunya suamiku”, sergah Surti menggoda. Sebetulnya, Bari tak pernah
punya persoalan bau badan. Tetapi agaknya suaminya tadi rapat di ruang
penuh asap rokok. Bau kretek menyengat dan mengganggu.

“Iya, deh. Aku mau langsung mandi!”, kata Bari sambil merengut merajuk dan melepaskan pelukannya.

Surti tertawa dan tidak mau melepaskan diri dari suaminya, ia merangkul leher pria kesayangannya dengan manja.

“Aku mandiin, yaa…” katanya sambil menciumi pipi Bari yang masih menyisakan sedikit harum after shave.

“Ngga
mau. Nanti ngga jadi mandi, malah tambah keringetan..” sergah Bari
sambil terus melangkah ke kamar tidur, menyeret serta istrinya yang
terus merangkul manja.

“Diganggu sedikit saja sudah ngambek!” sergah Surti sambil menggigit pelan cuping telinga suaminya.

Akhirnya
Surti melepaskan suaminya. Setelah berganti baju dan sejenak membaca
koran sore, Bari mandi sepuas-puasnya. Segar sekali mengguyur badan
yang penat dengan air dingin. Sementara Surti menyiapkan kopi dan
makanan kecil kegemaran suaminya. Tetapi rupanya Bari memang cukup
penat hari itu. Karenanya, pria itu tergolek tidur di kursi sebelum
menghabiskan kopinya. Surti terenyuh melihat suaminya terlena dengan
wajah damai. Sejenak ia berpikir untuk membatalkan semua rencananya
malam ini. Kasihan kalau ia memaksa diri, bisik wanita itu. Dengan
hati-hati diletakkannya bantal di bawah kepala suaminya. Lalu perlahan
ia mencium pipi lelaki itu. “Tidur nyenyak, sayang..”, bisiknya dalam
hati.

Rumah pasangan itu pun menjadi sepi, dan
Surti punya banyak waktu memilih-milih foto yang akan dipakai untuk
membuat brosur pesanan sebuah maskapai penerbangan dalam negeri. Entah
berapa lama Bari tertidur lelap. Surtipun semakin asyik bekerja di
studionya, lupa waktu. Malam telah menggelap, ketika tiba-tiba wanita
itu teringat suaminya yang ditinggal di ruang keluarga. Sambil
menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal duduk menekuni slide di atas
meja observasi, Surti bangkit menuju ruang tengah.

“Hei…, sudah bangun kasihku cintaku”, sergah Surti karena ternyata Bari sudah bangun, walaupun masih bermalas-malasan.

Dengan
cepat Surti sudah berada di sisi suaminya, menciumi pipi lelaki
pujaannya itu dengan penuh kasih sayang sambil bertanya, “Mau makan
sekarang?”.

“Makan kamu?”, goda suaminya sambil mengacak-acak rambut Surti dengan gemas.

“Ah! Orang sudah letoy begitu, masih nantangin!”, sahut Surti sambil balas mengacak-acak rambut suaminya.

“Eh…,
jangan memandang rendah kekuatan seorang pria, ya!” sergah Bari sambil
mencoba bangkit, tetapi tidak bisa karena Surti tahu-tahu sudah duduk
di pangkuannya.

“Bukan begituuu..” sahut Surti serius, “Kamu memang
kelihatan letih. Perlu di isi dulu dengan makan malam yang sedap dan
penuh energi!”

“Lalu…, setelah di isi?” tanya Bari sambil mencoba
bangkit lagi, tetapi gagal lagi karena Surti malah menelungkup di dada
suaminya.

“Ya…, gimana nanti saja!” sahut Surti sambil memeluk
erat-erat suaminya dan menyembunyikan mukanya di leher orang yang
sangat dicintainya itu.

“Ah, kamu ini memang suka ngatur..”, sergah Bari sambil menepuk pantat istrinya dengan gemas.

“Kan, memang itu permintaan kamu tadi siang…, nanti malam kamu atur lagi, ya…, Ya, kan!?” sahut Surti tak mau kalah.

“Oke!., Oke!” Bari menyerah, “Sekarang, bagaimana kita bisa makan kalau aku di-kelonin terus seperti ini?”.

Surti
tertawa, lalu bangkit dan menyeret suaminya ke meja makan. Mereka
menyantap ikan gurame goreng kering dan lalap aneka daun, plus sambal
terasi.

Selesai makan malam yang telah betul-betul membuat Bari
segar kembali, sepasang suami istri itu duduk berdampingan menonton
berita malam di televisi. Seperti biasa, Surti manja merebahkan
kepalanya di dada Bari yang bidang, memeluk erat lengannya, dan
menopangkan satu kaki di atas pangkuan lelaki itu. Nyaman sekali
rasanya berduaan seperti ini, di malam sepi yang mulai ramai penuh
suara unggas malam.

Berbagai berita bermunculan di layar, tetapi
Surti tak terlalu tertarik. Baginya, suami yang pulang dengan sehat dan
cerita, lebih penting dibandingkan perang di sana-sini, persoalan
politik di mana-mana, atau selebriti dunia yang muncul tenggelam.
Semuanya tidak relevan buat Surti, sepanjang Bari ada di sampingnya,
dalam pelukannya, dalam jangkauan ciumannya.

“Aku besok mau cuti saja”, celetuk Bari ketika acara siaran berita menjelang usai.

“Cuti bagaimana?”, tanya Surti sambil memejamkan mata menikmati detak teratur jantung suaminya yang dekat sekali di telinganya.

“Ya
cuti…, artinya tidak masuk kantor…, Tinggal di rumah…, Satu hari
penuh…, Dari pagi sampai malam…” ujar Bari seperti orang membacakan
arti ‘cuti’ di kamus bahasa.

“Dan boleh begadang..”, sambung Surti cepat-cepat.

Bari tertawa, “Ya. Betul…, boleh begadang. Tapi buat apa begadang, kalau tidak ada yang dikerjakan”, katanya.

“Ngerjain aku, dong…” sergah Surti manja sambil memeluk lebih erat.

“Ngga mau”, kata Bari kalem, “Malam ini, kan kamu yang ngatur…, Aku sih, terima beres saja, kan?”

Surti
tertawa tergelak, “Kamu betul-betul ngga mau ngalah sama istri, ya!”
sergahnya sambil mencubit pipi suaminya dengan gemas, tetapi
cepat-cepat ia lalu mencium tempat cubitan itu ketika suaminya mengaduh.

“Memang begitu, kok, perjanjiannya…”, kata Bari bersikeras.

“Ayo dong, ke kamar” sergah Surti, tetapi ia sendiri masih memeluk suaminya, masih merebahkan kepala di dadanya.

“Kamu yang harus bisa membuat aku mau ke kamar”, jawab suaminya.

Surti
mengangkat mukanya, “Eh…, begitu ya? Jadi aku harus merayu, begitu?”
tanyanya sambil melebarkan kedua matanya yang indah itu.

Bari
menghindari tatapan istrinya, pura-pura tertarik menonton berita
terakhir. Surti menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak, lalu
bertanya, “Aku harus berbuat apa supaya kamu mau ke kamar?”.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi, Bari menyahut kalem, “Bagaimana kalau kamu menari bugil..”.

“Apa?”, jerit Surti sambil lebih membelalakkan matanya, “Ih, pikiranmu jorok ah!”.

Bari
terlonjak karena dicubiti oleh istrinya di pinggang, di perut, di paha,
di dada, di mana-mana. Lelaki itu tertawa-tawa kegelian, dan senang
karena bisa membuat istrinya terdesak dalam perdebatan. Sekarang ia
tinggal menunggu, maukah Surti melakukan apa yang dimintanya itu.

Setelah puas mencubiti suaminya, Surti berseru, “Baik! Jangan tinggalkan tempat…, Saya akan kembali sebentar lagi!”

Bari tersenyum enteng, tetapi sesungguhnya ia berdebar juga. Tegang sendiri memikirkan apa yang akan dilakukan istrinya.

Surti
menghilang ke dalam kamar cukup lama. Bari berkali-kali menengok,
kuatir jangan-jangan istrinya meninggalkannya tidur. Jangan-jangan ia
mempermainkan aku, pikirnya. Tetapi ia tidak beranjak dari kursi di
depan TV yang sudah menyelesaikan tayangan siaran berita, berganti
siaran musik. Ia masih menunggu, dan berharap akan benar-benar mendapat
“pertunjukan istimewa” dari istri tercintanya.

Lalu tiba-tiba
lampu ruangan mati. Bari tersentak, dan belum sempat menengok mencari
siapa yang iseng mematikan lampu, TV-pun ikut mati. Sialan! sergah pria
itu, istriku ternyata membawa remote control, dan pasti dia yang iseng.

“Jangan
becanda, ah…” Bari hendak mengeluh, tetapi lalu lampu di pojok
ruangan menyala. Sinarnya hanya temaram, menimbulkan suasana romantis.
Dan di sana…, di depan pintu kamar tidur…, Surti berdiri dengan
daster tipis yang menampakkan bahunya yang putih mulus. Ada tali kecil
yang mengaitkan daster itu ke bahunya. Dalam sinar yang temaram, Surti
tampak bagai sebuah manequin di etalase toko. Daster itu terlalu tipis
untuk bisa menyembunyikan tubuhnya yang telanjang. Tetapi karena sinar
temaram, Bari tidak bisa melihat seluruh tubuh istrinya. Lelaki itu
melongo.

“E-e-e…” Surti berbisik sambil mengacungkan dan menggoyang-goyangkan telunjuknya.

“Jangan beranjak dari tempat duduk…”

Bari
yang sudah siap bangun, kembali duduk, lalu tersenyum menikmati
pemandangan di depannya. Boleh juga gaya istriku! sergahnya dalam hati.
Mari nikmati saja pertunjukkan ini.

Surti melangkah perlahan
meninggalkan pintu kamar ke arah tengah ruangan. Langkahnya gemulai,
meniru Miranda di cat walk. Sudah beberapa kali Surti menonton sahabat
cantiknya itu beraksi. Ia sudah tahu bagaimana berjalan agar terlihat
seksi dan menawan. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis menggoda. Satu
tangannya di letakkan di belakang pinggangnya, dan satu lagi melenggang
santai. Bari tersenyum lebar. Bravo! tukasnya dalam hati, kalau dia
sudah bosan memotret, bolehlah melamar jadi peragawati!

Sekitar
tiga langkah di depan suaminya yang tertegun, Surti berhenti.
Perlahan-lahan wanita seksi itu memutar tubuhnya 360 derajat. Bari
berhenti tersenyum. Ia menahan nafas, melihat tubuh istrinya melintas
bagai film slow motion, menerawangkan kemulusan yang tak tertutup oleh
pakaian dalam. Payudara yang sintal dan tegak menantang itu terlintas,
perut yang datar dan dihiasi noktah pusar bagai lesung pipit, lembah di
antara dua paha yang samar-samar terlihat, dua bukit di pantatnya yang
padat berisi sungguh menggemaskan. Satu persatu pemandangan indah itu
melintas untuk ditatap sepuas hatinya.

Surti melakukan gerakan
memutar perlahan itu dua kali. Satu ke arah kiri, satu lagi ke arah
yang berlawanan. Setelah putaran kedua, Surti diam sejenak menghadap
suaminya dengan kedua kaki tegak agak terentang. Ia menahan tawa
melihat suaminya menelan ludah berkali-kali. Rasain!, sergahnya dalam
hati, biar dia betul-betul kepengin!

Lalu, sambil tetap berdiri
tegak terentang itu, Surti perlahan-lahan mengangkat satu tangannya
untuk diletakkan di belakang leher. Ketiaknya yang bersih mulus segera
terpampang, dan seberkas keharuman yang lembut menyeruak penciuman
Bari, membuat pria itu menghela nafas dalam-dalam. Pria itu juga
kemudian menahan nafas, ketika dengan perlahan-lahan, menggunakan satu
tangan yang lainnya, Surti menurunkan kait daster di bahu kirinya.

Daster
itu merosot sedikit. Pelan-pelan bagian atas payudara kiri Surti
menyeruak. Bari menelan ludah. Bukit indah di dada istrinya itu
terlihat indah kalau hanya sebagian terkuak. Samar-samar ia bisa
melihat puting susunya yang kini menjadi satu-satunya penyangga
sehingga daster itu tidak merosot terus untuk menampakkan seluruh bola
putih mulus. Ingin rasanya Bari bangkit dan menarik daster itu. Tetapi
ia tidak boleh bergerak, bukan?

Lalu Surti menggunakan tangan
yang tertumpang di belakang lehernya untuk melepaskan kait daster yang
lain. Dan seperti sebelumnya, daster itu merosot perlahan. Kini
tertahan oleh tangan Surti yang berada di depan dadanya, sedikit di
bawah kedua putingnya. Dengan cara ini, Surti menampilkan bagian atas
kedua payudaranya yang ranum membusung menawan itu. Bari menelan ludah
lagi, sungguh seksi terlihat istrinya, dengan dua bukit yang mengintip
malu-malu dan bahu mulus terpampang bebas. Ingin sekali ia membenamkan
mukanya di sana. Ingin sekali! tetapi tidak bisa, bukan?

Sambil
tersenyum menggoda, Surti menurunkan sedikit tangannya yang berada di
depan dada. Sedikit saja, sehingga kini sebagian dari putingnya tampak
mengundang selera. Lalu wanita itu melangkah mundur perlahan-lahan.
Bari mengernyitkan dahi agar bisa terus memandang jelas. Sialan!
sergahnya dalam hati, kenapa dia musti mundur?

Setelah cukup
jauh, dan bahkan hampir menyentuh tembok di seberang Bari, wanita seksi
itu berhenti lalu berputar membelakangi suaminya. Sambil menengok
dengan gayanya yang manja, Surti menggunakan satu tangannya untuk
menarik bagian belakang dasternya pelan-pelan ke atas. Bari terhenyak
di kursinya, merasakannya nafasnya cepat memburu, ketika melihat paha
istrinya yang mulus tersingkap sedikit demi sedikit. Kain tipis itu
terus naik, perlahan-lahan menampilkan bagian belakang tubuh Surti yang
indah dan menggemaskan. Bari menahan nafas, ketika seluruh bulatan
seksi pantat istrinya terpampang bebas. “Oh.., mengapa ia harus berdiri
jauh-jauh begitu!”, keluh Bari.

Apalagi kemudian perlahan-lahan
Surti merenggangkan kedua kakinya dan perlahan-lahan pula membungkuk
sambil tetap menahan tepian daster di pinggangnya. Bari semakin
terhenyak di kursinya, memandang istrinya pelan-pelan menungging.
Pantatnya yang seksi pelan-pelan menjadi bagian yang paling tinggi.
Dan…, Wow…, kewanitaan istrinya terlihat indah dari belakang, agak
sedikit terkuak menampakkan bagian yang tersembunyi. Bari menelan ludah
entah sudah berapa kali, belum pernah ia melihat istrinya begitu
menggiurkan seperti ini. Tak sadar, kejantanannya menegang membentuk
sebuah tonjolan di depan celananya.

Untuk beberapa jenak Surti
tetap membungkuk memamerkan bagian paling sensual dari tubuhnya.
Setelah hitungan ke sepuluh, cepat-cepat wanita itu menegakkan lagi
tubuhnya, sekaligus melepaskan dasternya turun menutupi kembali
pantatnya. Terdengar jelas Bari mendesah kecewa, dan Surti menahan
tawanya. “Malam ini dia harus memohon-mohon untuk bisa menjamahku!”,
sergah Surti dalam hati.

Lalu Surti berbalik lagi menghadap
suaminya. Masih dengan posisi kaki agak terentang, ia melepaskan
pegangan tangannya pada bagian atas dasternya. Dengan cepat, karena
sudah tak terkait lagi di bahu, daster tipis itu meluncur turun. Tubuh
yang menggiurkan, mulus tanpa cela, seksi, sensual, erotis,
menggemaskan, mengundang remasan, putih bersih halus. Wow!., Bari
berkali-kali menjerit kagum di dalam hati. Baru kali ini, ia bisa
betul-betul menikmati pemandangan tubuh istrinya, padahal sudah
seringkali mereka bercumbu bertelanjang bulat. Tetapi baru kali ini
Bari sadar bahwa istri tercintanya adalah sebuah keindahan yang tidak
hanya harus digumuli diremas, tetapi juga dipandang sepenuh kalbu.

Surti
menarik sebuah kursi di dekatnya. Pelan-pelan ia duduk, tanpa
sedetikpun mengalihkan pandangannya dari Bari, tanpa berhenti tersenyum
tipis menggoda. Setelah duduk, perlahan-lahan Surti mengangkat satu
kakinya untuk ditopangkan di sandaran kursi. Pelan-pelan Bari melihat
selangkangan istrinya terkuak. Bari menahan nafas menunggu sampai
lembah cinta yang selalu nikmat untuk ditelusuri dengan jari atau
lidahnya itu betul-betul terkuak sempurna. Wajah Surti merona nakal dan
genit menggoda, ketika akhirnya kakinya tertumpang di sandaran kursi.
Selangkangannya terkuak sempurna. Terpampang sepenuhnya untuk dipandang
sepuasnya oleh sang suami.

Bari bersiap untuk bangkit, tetapi
gerakannya terhenti karena Surti cepat sekali mengangkat telunjuknya
dan berdesah seksi, “Ssst…, jangan beranjak…, tetap di tempatmu..”.

Bari kembali duduk, dan lalu membelalakkan matanya melihat apa yang sedang dikerjakan istrinya.

Surti
memasukkan satu jari tengahnya ke mulutnya. Pelan sekali, dengan gaya
seksi, wanita itu menyedot-nyedot jarinya sendiri, membuatnya basah
dari ujung sampai ke pangkalnya. Lalu, Surti menggunakan jari yang
basah itu untuk membuat sebuah alur. Pelan-pelan ia mengguratkan
jarinya dari dagu, turun ke leher, turun ke antara dua bukit
payudaranya, berputar naik ke salah satu putingnya yang segera bereaksi
tegak lalu turun lagi ke perutnya, berputar-putar di pusarnya lalu
terus turun. Bari menelan ludah dan menahan nafas. Jari itu terus turun
ke selangkangan menyerong sedikit untuk melintas cepat di lepitan
pertemuan antara paha dan pinggulnya lalu menyelinap di antara dua
bibir kewanitaannya. Naik ke atas sampai ke lepitan yang menyembunyikan
tombol asmaranya berputar sejenak di sana lalu turun lagi.

Mulut
Surti terbuka sedikit, senyumnya menghilang. Gerakan ini sebetulnya di
luar rencana. Wanita sensual ini tadinya hendak menghapuskan gerakan
ini dari acting-nya. Tetapi entah kenapa kini ia ingin melakukannya.
“Aku akan mencobanya!”, sergah Surti dalam hati. Mudah-mudahan bisa.

Nafas
Bari memburu keras. Ia sudah sangat terangsang oleh semua pertunjukkan
Surti, tetapi kali ini benar-benar nyaris tak tertahankan karena tahu
apa yang dilakukan istrinya. Wanita yang selalu menggiurkan baginya itu
melakukan hal yang tak terduga, merangsang dirinya sendiri di hadapan
suami. Betapa erotiknya pemandangan itu…, melihat seseorang yang
terkasih merangsang dirinya sendiri, terbuka tanpa tedeng aling-aling
menikmati jarinya yang lentik turun naik menelusuri lembah cintanya.

Dan
Surtipun merasakan darahnya berdesir cepat ketika perlahan-lahan
kenikmatan datang dari gerakannya sendiri. Ia sendiri tak kuasa lagi
mencegah gerakan tangannya, yang seakan-akan secara otomatis naik turun
sepanjang kanal senggamanya. Pelan-pelan kanal itu semakin basah, dan
semakin lancarlah perjalanan sang jari yang lentik.

Untuk
beberapa saat Bari ragu-ragu, apakah aku harus membantu? pikirnya.
Tetapi ia lalu memutuskan untuk duduk saja menonton gerakan-gerakan
erotis itu. Wajah Surti kini merona merah, dan matanya meredup sayup.
Mulutnya semakin terbuka, dan nafasnya mulai terdengar memburu.
Berkali-kali ia kelihatan menggeliat tertahan, terutama jika ujung
jarinya seperti tak sengaja menyentuh bagian atas kewanitaannya.

Surti
tak bisa menahan sebuah erangan keluar dari mulutnya. Sejenak ia
memejamkan mata, mengurut-urutkan jarinya agak lebih keras di kanal
cintanya. Beberapa kali ia melakukannya. Lalu ia membuka mata kembali,
memandang suaminya yang masih duduk dengan wajah terpesona. Ia
tersenyum manis. “Nah, apakah sekarang dia masih tidak mau ke kamar?”,
pikir Surti sambil menghentikan kegiatannya. Sambil tetap tersenyum,
cepat-cepat ia bangkit dan melangkah menuju kamar. Gerakan ini
dilakukan tiba-tiba, karena memang dimaksudkan sebagai surprise.

Bari
tersentak ketika menyadari istrinya telah hampir sampai di kamar. Ia
ragu-ragu, apakah sudah boleh berdiri dan ikut ke kamar? Ia baru saja
hendak bertanya, ketika dilihatnya istrinya berhenti di ambang pintu
dan menengok ke arahnya dengan gaya manja campur genit. Lalu istrinya
berkata pelan nyaris berbisik, “Kalau mau masuk, ketok pintu dulu, ya!”.

Belum
sempat Bari mencerna ucapan itu, Surti sudah menghilang masuk kamar dan
menutup pintu. Ketika terdengar suara kunci diputar, barulah Bari
terlonjak bangun. Cepat-cepat ia melangkah ke kamar, dan mengetuk. Satu
kali, tidak ada reaksi. Dua kali, hanya terdengar istrinya bergumam tak
jelas. Tiga kali, terdengar langkah menuju pintu. Empat kali, terdengar
suara Surti menggoda dari balik pintu, “Siapa itu?”.

“Buka, dong, Yang..”, ujar Bari dengan gaya memelas.

“Nanti dulu, saya pakai baju dulu..” kata Surti sambil menahan tawa.

“Aku nyerah, Yang…, Please jangan pakai baju lagi…” kata Bari betul-betul penuh dengan permohonan yang tulus.

Surti tertawa cekikikan mendengar ucapan suaminya. Tak tega, ia segera membuka pintu.

Apa
yang kemudian terjadi di kamar itu, tak usahlah diceritakan secara
rinci. Pokoknya, kegairahan suami istri itu muncul berkali-lipat lebih
besar daripada percumbuan pagi hari maupun siang hari. Bari melumat
habis istrinya, dan Surti megap-megap menikmat serbuan suaminya. Satu
jam lebih mereka bergumul. Silakan bayangkan sendiri apa yang mereka
lakukan!

TAMAT


Wow Tiga Kali Sehari!!