Aku, Suamiku Dan Temannya, Bag 1

12th August 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 2505 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Aku, Suamiku Dan Temannya, Bag 1

Naskah di bawah ini merupakan saduran
dari kisah sebenarnya seorang ibu rumah tangga, yang merupakan
pengalaman dari para ibu rumah tangga yang saya kumpulkan sejak tahun
1980 dalam satu buku berjudul “
Benang Merah“.

“Percayakah
kau bahwa dalam kehidupan seseorang disadari atau tidak dia pasti
pernah mempunyai suatu fantasi mengenai kehidupan seksualnya”, kata
suamiku pada suatu saat ketika kami sedang bermesraan di tempat tidur.

“Aku tidak mengerti maksudmu?” jawabku.

“Begini..
apakah dia itu seorang pria atau seorang wanita, apakah dia dalam
status sebagai seorang suami atau sebagai seorang istri, suatu ketika
dia akan pernah mengkhayal atau setidak-tidaknya pernah mempunyai suatu
ungkapan imajinasi mengenai keinginan seksualnya yang dia harapkan”,
kata suamiku selanjutnya.

“Ooo.. maksudmu suatu khayalan mengenai keinginan seksual?”

“Ya…!”

“Mungkin saja ada…”

“Kalau begitu apabila boleh aku tahu, apa yang menjadi fantasimu?”

“Ah, aku tidak pernah merasa mempunyai fantasi mengenai itu”

“Nah,
itulah masalahnya… kau bukan tidak mempunyai fantasi tetapi tidak
menyadari adanya fantasi tersebut. Seperti yang aku katakan tadi
fantasi tersebut sebenarnya terdapat pada semua orang, perbedaannya
hanyalah disadari atau tidak adanya fantasi tersebut oleh seseorang itu”

“Tetapi aku memang tidak pernah merasa atau memikirkan hal itu, apalagi mengkhayalkannya!”

“Boleh
saja seseorang mengatakan bahwa dia tidak mempunyai suatu fantasi
seksual, akan tetapi hal ini bukan berarti dia tidak dapat berfantasi.
Hanya saja ungkapan-ungkapan apa yang menjadi imajinasinya serta
bagaimana dia mewujudkan fantasinya, antara satu orang dengan lainnya
akan sangat berbeda. Hal ini tergantung dari pengaruh sifat pribadi,
taraf tingkat hidupnya, serta latar belakang pengalaman dan
pendidikannya serta lingkungan sosial di sekitarnya.”

“Misalnya apa..?”

“Ya, misalnya contoh yang paling umum bagi setiap orang, dia selalu mempunyai idola mengenai type lawan jenisnya”

“Ah, itu kan biasa, apalagi untuk anak-anak muda. Kalau sekarang sih bukan waktunya lagi”

“Tapi
hal itu tidak terbatas pada saat remaja saja. Bisa saja secara tidak
disadari hal itu terjadi sampai seseorang itu sudah dalam kehidupan
perkawinan. Misalnya.. mungkin saja suatu saat seseorang mempunyai
pikiran atau bayangan bagaimana kiranya kalau melakukan hubungan seks
dengan orang yang menjadi idola kita, mungkin dia seorang bintang film
atau penyanyi pop yang menjadi pujaan kita. Atau secara umum bagi
wanita senang apabila suaminya memakai kumis, atau celana jeans.
Demikian juga bagi pria, misalnya senang apabila istrinya berambut
panjang atau memakai gaun warna tertentu”

“Ah kau tambah membingungkan saja.. hal itu kan memang wajar-wajar saja apabila seseorang mempunyai anggapan seperti itu”

“Memang
betul sekali.. karena fantasi seksual itu memang suatu yang wajar.
Adanya suatu fantasi seksual dalam diri seseorang menurut Dr Andrew
Stanway, seorang pakar seksualogi dalam bukunya, “The Joy of Sexual
Fantasy” adalah merupakan suatu hal yang normal. Fantasi seksual
menurut dia adalah merupakan suatu bagian yang kompleks dari pengalaman
seseorang, akan tetapi memang oleh kebanyakan ahli masih mempertanyakan
apakah fantasi tersebut merupakan bagian dari suatu mimpi atau
merupakan bagian dari suatu pengalaman nyata. Fantasi seksual secara
umum berfungsi untuk menyalurkan keinginan alam bawah sadar seksual
seseorang menjadi suatu kenyataan dalam suatu bentuk yang dapat
diterima. Fantasi seksual secara tidak langsung sebenarnya juga
merupakan salah satu mekanisme pembangkit gairah seksual seseorang,
karena fantasi seksual menyalurkan sejumlah besar informasi yang
tersembunyi di antara alam sadar dan alam bawah sadar seseorang yang
berhubungan dengan kegairahan seksnya. Oleh karena itu kadangkala
fantasi seks tersebut dapat secara tiba-tiba melanda diri seseorang.
Apabila hal tersebut terjadi maka secara tidak disadari seseorang akan
mencari penyaluran sampai kepada batas-batas alam kesadarannya. Oleh
karena itu pula sangatlah penting bagi kita untuk menyadari dan
memahami adanya fantasi tersebut sehingga dapat menyalurkannya sampai
kepada batas-batas alam kesadaran kita secara lebih terarah… kalau
tidak mungkin saja seseorang itu akhirnya bertindak yang aneh-aneh”

“Eh tiba-tiba kok kau jadi seorang ahli psikologi, dalam masalah seksualogi lagi, kapan kau belajarnya?”

“Kapan
aku belajarnya itu tidak penting… yang penting sekarang mau tidak kau
mengatakan atau mengingat-ingat kira-kira apa yang menjadi fantasimu?”

“Begini
saja.. sekarang kau saja dahulu yang mengatakan apakah kau juga
mempunyai fantasi tersebut, kau ingin berhubungan seks dengan siapa?
Nah ayo katakan!”

“Eh, jangan marah dulu, ya tentunya ada fantasiku itu tapi bukan seperti apa yang kau katakan!”

“Jadi seperti apa?”

“Kalau aku katakan apakah kau tidak terus marah?”

“Mengapa harus marah!”

“Baiklah..
memang selama ini aku merasakan adanya suatu fantasi seks yang
membayang dalam diriku, akan tetapi fantasi seks yang kurasakan
merupakan sebuah fantasi yang ganjil dan luar biasa”, kata suamiku.
Kemudian dia diam sejenak.

“Ayo katakanlah… aku akan mendengarkannya, apa yang kau maksud dengan ganjil dan luar biasa!” desakku agak penasaran.

“Yah
karena fantasi yang kurasakan mungkin akan sangat sulit dipahami karena
berkisar kepada masalah hubungan seks antara kau sebagai istriku dengan
laki-laki lain sebagai pihak ketiga….”

“Aku tidak jelas akan maksudmu?”

“Begini
secara jelasnya… fantasi tersebut berupa suatu keinginan dalam diriku
bahwa aku ingin sekali menyaksikan istriku melakukan hubungan badan
dengan laki-laki lain!”

“Apa…! Aku harus melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain?!”

“Ya
kira-kira begitu! Apakah hubungan itu dilakukan hanya oleh kau berduaan
saja dengan laki-laki lain tersebut dan aku hanya ikut menyaksikannya,
atau hubungan seks tersebut dilakukan bersama-sama secara bertiga,
yaitu antara kamu dengan laki-laki lain itu dan aku sendiri secara
bergantian, atau paling tidak aku ingin melakukan hubungan seks dengan
kau sebagai istriku sambil disaksikan oleh laki-laki lain”

“Memang aneh kedengarannya.. dan siapakah laki-laki lain yang kau maksudkan itu?”

“Siapa saja.. asal sehat dan kau senang menerimanya”

“Ah, itu fantasi gila namanya!” jawabku agak terhenyak.

“Nah, katanya kau tidak akan marah tapi sekarang marah”, kata suamiku.

“Bagaimana
tidak akan marah… hal itu kan tidak mungkin.. bayangkan saja apa kata
orang kalau mereka tahu aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki
lain!”

“Ya jangan sampai orang tahu..”

“Oke, taruhlah orang tidak tahu, tapi kita kan terlibat dalam suatu lembaga yang disebut lembaga perkawinan.”

“Ya betul, memangnya kenapa?”

“Kau
tahu tidak apa artinya itu? Yaitu dimana hubungan seks dengan orang
lain di luar pasangan dalam perkawinan kita dianggap sebagai suatu
penyelewengan, apalagi kalau itu dilakukan oleh seorang wanita yang
berstatus sebagai istri, maka hal ini akan dianggap suatu kesalahan
yang sangat besar sekali!”

“Justru itulah sekarang aku bertanya
kepadamu, karena aku tahu hal itu sangat susah untuk diwujudkan kalau
hanya aku saja yang berkeinginan, akan tetapi sebaliknya hal itu tentu
juga sangat mudah dapat dilakukan apabila kita berdua sepakat. Nah,
kalau kesepakatan ini ada, maka hal ini berarti juga tidak ada
penyelewengan!”

“Tidak ada penyelewengan yang bagaimana maksudmu?!”

“Ya sebagaimana yang kau katakan tadi!”

“Aku tidak mengerti maksudmu?”

“Begini,
kita harus lihat dahulu apa sih definisi dari suatu penyelewengan,
yaitu suatu perbuatan yang menyimpang dari suatu tujuan atau maksud.
Jadi penyelewengan dalam perkawinan artinya juga suatu perbuatan yang
menyimpang dari suatu tujuan atau maksud dalam perkawinan. Karena dalam
perkawinan itu terlibat kepentingan dari dua orang maka pengertian
penyelewengan dalam perkawinan dapat diartikan sebagai suatu perbuatan
pengkhianatan, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh salah satu pasangan
hidupnya secara diam-diam tanpa diketahui apalagi disetujui oleh
pasangan lainnya.”

“Jadi apa hubungannya dengan yang kau maksudkan tidak ada penyelewengan di sini?”

“Ya
seperti yang aku katakan tadi, bahwa untuk melaksanakan fantasiku itu,
aku telah sepakat dan bahkan telah memberikan izin kepadamu sebagai
suami untuk melakukan hubungan seks dengan orang lain, jadi sudah
barang tentu unsur penyelewengan tadi tidak berlaku lagi karena kita
sama-sama menyetujui, bahkan dengan restu suami!”

“Nah, sekarang kau
juga telah jadi pokrol bambu! Bikin argumentasi seenaknya saja!
Masalahnya kan bukan sampai disitu saja, tapi ada konsekwensi yang
lain, terutama untuk aku!”

“Misalnya apa?”

“Taruhlah aku mau
melakukan hal itu, maka ada suatu konsekwensi yang akan aku tanggung,
yaitu apabila terjadi sesuatu hal terhadap perkawinan kita dan terjadi
perpecahan, maka kau akan dapat saja berkata kepada orang lain bahwa
hal itu disebabkan karena kesalahan dariku. Kau dapat saja mengatakan
aku telah menyeleweng berkali-kali dengan laki-laki lain dan orang lain
tidak akan percaya bahwa kesemuanya itu sebenarnya kau yang
mengaturnya. Demikian juga seandainya laki-laki lain yang kau beri
kesempatan untuk berhubungan seks denganku pada suatu saat menceritakan
pengalamannya tersebut kepada orang lain, maka akan hancurlah diriku,
karena walaupun bagaimana orang lain tidak akan percaya bahwa
kesemuanya itu justru atas permintaanmu sebagai suami, semua orang akan
menuduhku sebagai seorang istri yang serong”

“Akan tetapi
sungguh mati selama ini tidak pernah terlintas dalam benakku untuk
berbuat seperti itu. Aku meminta istriku untuk melakukan hubungan seks
dengan laki-laki lain bukan bertujuan karena ingin memojokkanmu suatu
waktu guna kepentinganku sendiri akan tetapi malahan sebaliknya yaitu
agar kehidupan perkawinan kami tetap bergairah dan langgeng, karena aku
akan mendapat kepuasan lahir dan batin hanya dari istriku yang
sekarang. Sehingga istriku yang sekarang ini benar-benar merupakan
teman hidup bagiku karena dia merupakan ibu dari anak-anakku, temanku
berdiskusi dan menumpahkan perasaan serta sekaligus merupakan teman
berkencan dalam menyalurkan hasrat seks!” kata suamiku agak terkejut.

Setelah
diam sejenak selanjutnya dia berkata, “Mengenai kemungkinan laki-laki
itu akan bercerita kepada orang lain memang ada, akan tetapi apabila
memang hal itu terjadi, maka akan sangat mudah sekali ditangkal karena
justru orang lain tidak akan percaya kepada cerita dia. Apalagi bila
aku memberikan kesaksian bahwa kesemuanya itu hanyalah karangan dia
semata-mata sehingga hal itu benar-benar merupakan suatu fitnah saja”

“Baiklah kalau begitu, yang penting kini aku juga ingin tahu mengapa sih kau mempunyai fantasi seperti itu?”

“Entahlah,
aku sendiri tidak tahu mengapa mempunyai fantasi seperti itu. Tapi yang
jelas aku merasakan adanya suatu rangsangan gairah birahi yang hebat
apabila aku melihat ada seseorang laki-laki yang tertarik dan
memperhatikan bagian tubuhmu yang secara tidak sengaja terbuka.”

“Misalnya…”

“Ya,
misalnya ketika kita berlibur di pantai. Saat itu kau mengenakan
pakaian renang. Dan aku tahu saat itu ada beberapa laki-laki
memperhatikan bentuk tubuhmu. Mula-mula memang aku agak merasa cemburu,
akan tetapi lama-kelamaan hal itu menimbulkan semacam suatu imajinasi
dalam diriku. Apalagi apabila aku melihat kau bertelanjang bulat di
kamar.”

“Lha, memangnya kenapa? Aku kan bertelanjang bulat di kamar sendiri dan yang lihat hanya kamu sendiri saja?”

“Justru itu yang merangsang imajinasiku.”

“Kalau begitu aku tidak akan berbuat itu lagi!” kataku.

“Eh,
jangan salah sangka. Aku senang melihat itu semua. Malahan kalau kau
mau, boleh saja kau berkeliaran dalam rumah dengan bertelanjang bulat
seperti yang kau lakukan di kamar, karena terus terang hal itu
membangkitkan rasa birahiku. Aku merasa nikmat memperhatikanmu
berkeliaran di kamar dengan berpolos bugil. Dan dalam keadaan itu pula
kadang-kadang aku berpikir apakah laki-laki lain juga akan bangkit
birahinya apabila melihat keseluruhan bentuk tubuh istriku ini. Dan
bagaimanakah seandainya tubuh istriku yang segar berisi itu dinikmati
pula oleh laki-laki lain. Imajinasi itu akhirnya menimbulkan suatu
kenikmatan seksual yang lain bagiku. Apalagi bila aku membayangkan
bahwa ternyata laki-laki tersebut memang sangat terangsang oleh
keindahan tubuh istriku dan berusaha untuk menikmatinya di tempat
tidur. Imajinasiku itu selanjutnya terus berkembang yaitu apakah
istriku ini kira-kira juga tertarik untuk merasakan hubungan seks
dengan laki-laki lain dan bagaimanakah kiranya sikap istriku ketika
melayani laki-laki lain tersebut. Apakah dia juga akan menjadi sangat
lebih bergairah? Dan apakah dia akan mendapatkan kepuasan seks yang
lebih besar lagi?” bisik suamiku.

Lalu ia menambahkan,
“Kenikmatan seksual yang kurasakan akan menjadi lebih hebat lagi
apabila aku terus membayangkan bagaimana istriku dengan tubuhnya yang
dalam keadaan polos bugil bergumul dengan hebat dengan tubuh laki-laki
tersebut yang juga berada dalam keadaan berpolos bugil. Terlebih lagi
apabila aku membayangkan bahwa ternyata ukuran alat kejantanan
laki-laki tersebut jauh lebih besar dari pada ukuran alat kejantananku
sendiri, dan istriku benar-benar sangat tergiur akan kehebatan alat
kejantanan itu, sehingga ketika laki-laki itu menindihkan tubuhnya ke
tubuh istriku dan memasukkan alat kejantanannya ke liang istriku, aku
menyaksikan istriku menjadi bergelinjang dengan hebat merasakan alat
kejantanan tersebut tertanam dalam-dalam di liang senggamanya. Kemudian
aku pun membayangkan bagaimana ketika laki-laki tersebut mulai
mengayunkan tubuhnya di atas tubuh istriku dan istriku menjadi tambah
hebat bergelinjang sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya mengimbangi
gerakan turun-naiknya alat kejantanan laki-laki tersebut yang
memberikan suatu kenikmatan lain daripada yang pernah dirasakannya dari
alat kejantananku sendiri. Selanjutnya aku pun membayangkan bagaimana
ekspresi istriku dan laki-laki itu ketika mencapai dan melepaskan
puncak ejakulasi bersama dengan penuh kepuasan”, kata suamiku.

“Ah, sangat mengerikan sekali fantasimu.”

“Tapi
ini kan baru fantasi… apabila menjadi kenyataan mungkin tidak
mengerikan lagi, tapi… mengasyikan!” kata suamiku sambil tertawa.

“Tidak lucu ah!” kataku sambil memukul punggungnya.

“Eh,
jangan jadi sewot! Diberi kesempatan enak malah marah. Jarang kan suami
yang sebaik itu yang mengizinkan istrinya boleh main dengan laki-laki
lain. Malahan bukan itu saja kadang-kadang aku juga sering membayangkan
bagaimana rasanya apabila aku mempunyai seorang istri yang hiperseks
atau seorang istri yang senang menyeleweng dengan laki-laki lain.”

“Apa maksudmu dengan itu..? Jadi kau tuduh aku ini pernah menyeleweng?!” jawabku agak tersinggung.

“Bukan
itu maksudku, tapi itu adalah kelanjutan dari ungkapan imajinasi
fantasi seksualku, seperti yang kukatakan tadi, aku kan ingin sekali
melihat istriku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain, sehingga
hal itu menimbulkan semacam imajinasi lanjutan dalam diriku mengenai
type istri yang bagaimana yang kira-kira kuinginkan, atau paling tidak,
aku kira-kira ingin mempunyai seorang istri yang berpandangan sangat
bebas mengenai masalah hubungan seks, tidak posesif dan memandang
masalah hubungan seks dengan laki-laki lain atau sebaliknya bukan
merupakan suatu masalah yang tabu melainkan sesuatu yang wajar dan
dapat dinikmati bersama”, kata suamiku selanjutnya.

“Bilang saja
terus terang kau yang mau melakukan hubungan seks dengan wanita lain!.
Kalau begitu carilah type istri sebagaimana yang kamu idamkan… karena
bagiku tidak mungkin melakukan hal tersebut! Kalau mau, kau lakukan
sendiri saja! Jangan ajak-ajak orang!” kataku bertambah ketus.

“Nah, lagi-lagi marah. Ini kan semua baru gagasan. Siapa tahu kau mau?” balas suamiku.

“Mau
apanya? Lagi pula sekiranya aku mau melakukan hal itu, aku lakukan saja
sendiri secara diam-diam”, kataku dengan hati yang agak mendongkol.

“Bukan
itu maksudku… aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencari istri
lain, akan tetapi justru kamulah yang aku inginkan menjadi type istri
sebagaimana yang aku idamkan”, kata suamiku.

“Jadi aku harus menyeleweng dan melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain, begitu maksudmu?”

“Ada benarnya dan ada tidaknya”, kata suamiku.

“Benar dan tidak bagaimana?”

“Benarnya
memang aku ingin melihat kamu melakukan hubungan seks dengan laki-laki
lain, tidak benarnya adalah hal itu bukan berarti kamu harus
menyeleweng, karena seperti yang aku katakan tadi kesemuanya itu
berdasarkan persetujuan dan permintaanku sebagai suami, jadi unsur
penyelewengan di sini sekali lagi aku katakan sama sekali tidak ada…
tapi apabila kau lakukan secara diam-diam maka itu baru namanya
penyelewengan”, kata suamiku.

“Benar-benar kamu tidak menyesal apabila aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain?” kataku menegaskan.

“Malahan
sebaliknya… karena hal itu justru aku rasakan sebagai penambah
semangat dan gairahku terhadapmu. Mungkin kau merasakan bagaimana
keadaanku selama ini, aku merasa kehilangan gairah dalam bercinta dan
merasa sangat lelah sekali. Hal ini disebabkan aku merasakan fantasi
itu sedemikian membebani diriku”, kata suamiku.

Kini aku tahu bahwa masalah yang dihadapi
suamiku selama ini adalah beban psikologis. Fantasi seksualnya telah
membebani pikiran suamiku sedemikian hebatnya sehingga mempengaruhi
kualitas hubungan seksual kami sebagai suami-istri. Memang aku
merasakan akhir-akhir ini suamiku sering menjadi gelisah sendiri dan
tidak tahu apa yang harus diperbuat dan merasa sangat letih sekali baik
fisik maupun mental. Hal tersebut berpengaruh juga terhadap kualitas
hubungan seks kami. Aku merasakan gairah suamiku menjadi agak menurun.
Suamiku sering mengalami prematur ejakulasi dan telah mencapai puncak
ejakulasi hanya dalam beberapa detik saja begitu dia melakukan
penetrasi, bahkan kadang-kadang telah orgasme sebelum sempat melakukan
persetubuhan sama sekali. Oleh karena itu suamiku mulai rajin
mengkonsumsi vitamin dan makanan yang dapat meningkatkan potensi
laki-laki, akan tetapi sejauh itu hal tersebut sama sekali tidak
membantu.

Di lain keadaan hal ini membawa dampak juga terhadap
diriku. Secara terus terang aku pun terkadang merasa kurang mendapat
kepuasan dalam hubungan suami istri. Kuakui selama ini aku juga sering
mengalami gejolak birahi yang tiba-tiba muncul, terutama di pagi hari
apabila malamnya kami melakukan hubungan intim dan suamiku tidak dapat
melakukannya secara sempurna. Hal ini dimaklumi oleh suamiku karena dia
tahu bagaimana kualitas hubungan suami-istri kami belakangan ini. Oleh
karena itu suamiku membeli sebuah alat vibrator. Suamiku mengatakan
alat itu mungkin secara tidak langsung dapat membantu kami untuk
mendapatkan kepuasan dalam hubungan suami istri. Pada mulanya aku
memakai alat itu sebagai simulator sebelum kami berhubungan badan. Akan
tetapi lama kelamaan secara diam-diam aku sering pergunakan alat
tersebut sendirian di pagi hari untuk menyalurkan hasrat kewanitaanku
yang aku rasakan semakin meluap-luap.

Rupanya fantasi seksual
suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar fantasi saja akan tetapi
dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu
kenyataan. Selama ini suamiku terus membujukku agar aku mau membantunya
dalam melaksanakan fantasinya. Apabila aku menolaknya atau tidak mau
membicarakan hal tersebut, tidak jarang akhirnya kami terlibat dalam
suatu pertengkaran yang hebat. Malahan bukan itu saja. Gairah seks-nya
pun semakin bertambah turun. Hal ini lama-kelamaan membuatku menjadi
agak khawatir juga, aku takut suamiku akan menderita impotensi. Aku
berpikir bahwa aku harus membantu suamiku walaupun konsekuensi yang aku
khawatirkan akan terjadi. Oleh karena itu aku mengalah dan berjanji
akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutegaskan kepada
suamiku bahwa aku mau melakukan hal itu hanya untuk sekali ini saja.

“Aku
telah mengundang Syamsul untuk makan malam di sini malam ini”, kata
suamiku di suatu hari sabtu. Aku agak terkesiap mendengar kata-kata
suamiku itu. Aku berfirasat bahwa suamiku akan memintaku untuk
mewujudkan niatnya bersama dia, karena Syamsul adalah salah seorang
yang sering disebut-sebut oleh suamiku sebagai salah satu orang yang
katanya cocok untuk diriku dalam melaksanakan fantasi seksual-nya dan
kebetulan saat itu semua anak-anak sedang libur bersama kawan-kawannya
ke luar kota sehingga tinggal aku dan suamiku saja yang berada di rumah.

Memang
selama ini sudah ada beberapa nama kawan-kawan suamiku maupun kenalanku
sendiri yang disodorkan kepadaku yang dianggap cocok untuk melakukan
hubungan seks denganku, salah seorangnya adalah Syamsul. Akan tetapi
sejauh ini aku masih belum menanggapi secara serius tawaran dari
suamiku tersebut dan juga kebetulan kami tidak mempunyai kesempatan
yang baik untuk itu. Syamsul adalah salah seorang kawan dekatnya dan
aku pun kenal baik dengan dia. Secara terus terang memang kuakui juga
penampilan Syamsul tidak mengecewakan. Bentuk tubuhnya pun lebih kekar
dan atletis dari tubuh suamiku.

Aku berpikir tidak ada lagi
gunanya aku berargumentasi dengan suamiku. Kehendaknya agar aku
melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain sedemikian kuat. Hal itu
sebenarnya membuatku agak tersinggung juga. Karena hal ini hanya biasa
dilakukan oleh seorang wanita penghibur atau dengan kata lain seorang pelacur
dan suamiku menghendaki aku melakukan hal seperti itu walaupun dengan
alasan lain. Namun mengingat kehendak suamiku itu merupakan suatu
akibat dari gejala psikologi, maka aku kesampingkan masakah harga diri
itu. Aku hanya berpikir bagaimana aku dapat membantu suamiku mengatasi
masalahnya. Selain itu aku pun mengharap bahwa dengan aku penuhinya
fantasi seksualnya itu malam ini, maka suamiku tidak akan lagi
mempunyai fantasi semacam itu karena secara psikologis keinginannya
telah tercapai.

Ketika Syamsul datang, aku sedang merapikan
wajahku dan memilih gaun yang agak seksi sebagaimana anjuran suamiku
agar aku terlihat menarik. Dari cermin rias di kamar tidurku, kudapati
gaun yang kukenakan terlihat agak ketat melekat di tubuhku sehingga
bentuk lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Buah dadaku kelihatan
menonjol membentuk dua buah bukit daging yang indah. Sambil
mematut-matutkan diri di muka cermin akhirnya aku jadi agak tertarik
juga memperhatikan penampilan keseluruhan bentuk tubuhku. Kudapati
bentuk keseluruhan tubuhku masih tetap ramping dan seimbang, tidak
dipenuhi oleh lemak sebagaimana ibu-ibu rumah tangga lainnya yang
seumurku. Buah dadaku yang subur juga kelihatan masih sangat kenyal dan
padat berisi. Demikian pula bentuk pantatku kelihatan agak menonjol
penuh dengan daging yang lembut namun terasa kenyal. Ditambah lagi
kulitku yang memang putih bersih tanpa adanya cacat keriput di
sana-sini membuat bentuk keseluruhan tubuhnya menjadi sangat sempurna.

Melihat
penampilan keseluruhan bentuk tubuhku itu secara terus terang timbul
naluri kewanitaanku bahwa aku bangga akan bentuk tubuhku. Oleh sebab
itu aku berpikir pantas saja suamiku mempunyai imajinasi yang
sedemikian terhadap laki-laki yang memandang tubuhku karena bentuk
tubuhku ini memang menggiurkan selera kaum pria.

Setelah makan
malam suamiku dan Syamsul duduk mengobrol di taman belakang rumahku
dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir yang dicampur
dengan arak ginseng dari Cina. Tidak berapa lama aku pun ikut duduk
minum bersama mereka. Malam itu benar-benar hanya tinggal kami bertiga
saja di rumah. Kedua pembantuku yang biasa menginap, tadi siang telah
kuberikan istirahat untuk pulang ke rumah masing-masing. Ketika hari
telah menjelang larut malam dan udara mulai terasa dingin tiba-tiba
suamiku berbisik kepadaku.

“Aku telah bicara dengan Syamsul
mengenai rencana kita. Dia setuju dan malam ini dia akan menginap di
sini!. Tapi walaupun demikian kau tidak perlu memaksakan diri untuk
melakukan hubungan seks dengannya apabila memang suasana hatimu memang
belum berkenan, kuserahkan keputusan itu sepenuhnya kepadamu!” bisik
suamiku selanjutnya. Mendengar bisikan suamiku itu aku diam saja. Aku
tidak menunjukkan sikap yang menolak atau menerima. Aku merasa sudah
berputus asa bahkan aku merasa benar-benar nekat menantang kemauan
suamiku itu. Aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti bila aku
benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain. Apakah dia nanti tidak
akan menyesal bahwa istrinya telah dinikmati orang lain? Atau
setidak-tidaknya seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia
telah dilihat dan dinikmati oleh laki-laki lain. Apalagi bila dalam
rahimku nanti akan tersebar benih laki-laki lain selain dari benih
suamiku sendiri.

Tidak berapa lama kemudian aku masuk ke kamar
dan siap untuk pergi tidur. Secara demonstratif aku memakai baju tidur
nylon yang tipis tanpa BH sehingga buah dadaku terlihat membayang di
balik baju tidur itu. Ketika aku keluar kamar, baik suamiku maupun
Syamsul agak terhenyak untuk beberapa saat. Akan tetapi mereka segera
dapat menguasai dirinya kembali dan suamiku langsung berkata kepadaku.

“Syamsul
baru saja cerita bahwa dia telah mempelajari pijat refleksi Siatzu. Aku
rasa kau harus coba! Apa benar dia bisa! Kau mau kan…?” tanya suamiku
kepadaku.

“Boleh saja…!” jawabku sambil agak merapatkan leher baju
tidurku sehingga siluet puting susuku kini tercetak dengan lebih jelas.

“Ah
sebenarnya aku tidak terlalu mahir…!” kata Syamsul, “Tapi bila mau
dicoba boleh saja. Nanti setelah pijat Siatzu, saya juga akan
memberikan pijatan dengan tehnik kucing mandi”, katanya lagi.

“Oo ya… tehnik apa itu?” aku bertanya agak heran.

“Susah diterangkan sekarang, nanti saja deh kalau pijat refleksinya sudah selesai.”

“Ayo..!” kata suamiku dengan wajah yang berseri-seri dan semangat yang tinggi suamiku mengajak kami segera masuk ke kamar tidur.

Dengan
berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri bertelungkup di atas
tempat tidur untuk siap dipijit. Sebenarnya aku tetap masih merasa
risih tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki lain apalagi aku dalam
keadaan hanya memakai sehelai baju tidur nylon yang tipis dan tanpa BH.
Akan tetapi kupikir aku harus berusaha tetap tenang agar keinginan
suamiku dapat terwujud dengan baik.

Mula-mula Syamsul memijit
sekitar bagian punggungku dengan lembut kemudian secara perlahan-lahan
terus turun ke bawah menelusuri bagian pinggulku. Sementara itu aku
terus berusaha sekuat tenaga menekan perasaan risih dan malu dengan
melepaskan pikiranku dari kedua hal tersebut dan berusaha menikmati
pijitan Syamsul itu yang sebenarnya lebih tepat dikatakan rabaan dan
sentuhan di tubuhku. Rupanya usahaku itu berhasil dengan baik, akan
tetapi lama-kelamaan secara tidak langsung aku jadi terbawa oleh
semacam arus sensasional yang menjalar dalam tubuhku. Apalagi ketika
tangan Syamsul tiba pada bagian belahan pantatku yang gempal lembut
kemudian meremas-remas dengan halus pinggul serta daging pantatku yang
hanya ditutupi oleh gaun tidur nylon yang tipis maka terasa adanya
suatu gejolak hangat dalam diriku. Aku menjadi pasrah dan benar-benar
mulai menikmati pijitannya itu.

Selanjutnya kurasakan tangan
Syamsul mulai lebih berani lagi menyentuh tubuhku dengan
sentuhan-sentuhan yang semakin lama semakin nakal. Bahkan dia kini
berusaha membuka baju tidurku dan menelanjangi diriku dengan seenaknya
sampai aku benar-benar dalam keadaan bertelanjang bulat tanpa ada lagi
sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Aku hanya dapat memejamkan
mata dan pasrah saja menahan perasaan malu bercampur gejolak dalam
diriku ketika tubuhku ditelanjangi di hadapan suamiku sendiri. Kemudian
dia menelentangi tubuhku dan menatap dengan penuh selera tubuhku yang
telah berpolos bugil sepuas-puasnya. Aku benar-benar tidak dapat
melukiskan betapa perasaanku saat itu. Seumur hidupku, aku belum pernah
bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain apalagi dalam situasi
seperti sekarang ini. Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia tubuhku
yang tidak diketahui Syamsul.

Tidak berapa lama kemudian
tiba-tiba kurasakan Syamsul mulai melumat bibirku dalam suatu adegan
cium yang panjang dan berapi-api. Selanjutnya ketika bibir kami
terlepas Syamsul berbisik kepadaku bahwa sekarang saatnya dia akan
melakukan tehnik pijitan kucing mandi. Berbarengan dengan itu
dia mulai menjilati seluruh tubuhku yang telanjang dengan lidahnya
bagaikan seekor kucing yang sedang memandikan anaknya. Aku berpikir
jadi inilah yang dia maksudkan dengan tehnik kucing mandi. Aku menjadi
menggelinjang, entah karena apa. Tapi yang terang aku merasakan seluruh
pembuluh darah di tubuhku menjadi bergetar dan aku terlambung dalam
suatu kenikmatan yang belum pernah kurasakan selama ini. Apalagi sambil
menjilati tubuhku dia juga meremas dan menghisap buah dadaku dengan
lahap, menjilati liang kewanitaanku dengan rakusnya dan sementara itu
suamiku hanya menonton saja dengan asyiknya seperti orang dungu.

Suamiku
kelihatan benar-benar menikmati adegan tersebut. Tanpa berkedip dia
menyaksikan bagaimana tubuh istrinya digarap dan dinikmati
habis-habisan oleh laki-laki lain. Sebagai seorang wanita normal
keadaan ini mau tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu
arus birahi yang hebat. Jilatan-jilatan Syamsul di bagian tubuhku yang
sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang
belum pernah kurasakan selama ini.

Tidak berapa lama kemudian
Syamsul berdiri di hadapanku melepaskan celananya sehingga dia juga
kini berada dalam keadaan bertelanjang bulat. Saat itu pula aku dapat
menyaksikan ukuran alat kejantanan Syamsul yang telah menjadi tegang
ternyata memang jauh lebih besar dan panjang dari ukuran alat
kejantanan suamiku. Bentuknya pun agak berlainan. Ukuran alat
kejantanan Syamsul hampir sebesar lengan bayi dan bentuknya agak
membengkok ke kiri.

Kemudian dia menyodorkan alat kejantanannya
tersebut ke hadapan wajahku. Secara reflek aku segera menggenggam alat
kejantanannya dan terasa hangat dalam telapak tanganku. Aku tidak
pernah membayangkan selama ini bahwa aku akan pernah memegang alat
kejantanan seorang laki-laki lain di hadapan suamiku. Oleh karena itu
aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin bertambah asyik
menikmati bagian dari adegan itu tanpa memikirkan perasaanku sebagai
istrinya yang sedang digarap habis-habisan oleh seorang laki-laki lain.
Dalam hatiku tiba-tiba muncul kembali perasaan geramku terhadap
suamiku, sehingga dengan demonstratif kuraih alat kejantanan Syamsul
itu ke dalam mulutku menjilati seluruh permukaannya dengan lidahku
kemudian kukulum dan hisap sehebat-hebatnya.

Aku merasa sudah
kepalang basah maka aku akan nikmati alat kejantanan itu dengan
sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku. Kuluman dan hisapanku itu
membuat alat kejantanan Syamsul yang memang telah berukuran besar
menjadi bertambah besar lagi. Di lain keadaan dari alat kejantanan
Syamsul yang sedang mengembang keras dalam mulutku kurasakan ada
semacam aroma yang khas yang belum pernah kurasakan selama ini. Aroma
itu menimbulkan suatu rasa sensasional dalam diriku dan liang
kewanitaanku mulai terasa menjadi liar hingga secara tidak sadar
membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap alat
kejantanan itu lebih hebat lagi secara bertubi-tubi.

Kuluman dan
hisapanku yang bertubi-tubi itu rupanya membuat Syamsul tidak tahan
lagi. Dengan keras dia menghentakkan tubuhku dalam posisi telentang di
atas tempat tidur. Aku pun kini semakin nekad dan pasrah untuk
melayaninya. Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar.
Berbarengan dengan itu kurasakan alat kejantanannya kini menghimpit
dengan tepat di liang surgaku dan selanjutnya secara perlahan-lahan
langsung memasuki dengan mudah ke dalam liang kenikmatanku yang telah
menganga lebar dan licin dengan cairan birahi.

Aku agak
terlonjak sejenak ketika merasakan alat kejantanan Syamsul itu
menerobos ke dalam liang kemaluanku dan menyentuh leher rahimku. Aku
terlonjak bukan karena alat kejantanan itu merupakan alat kejantanan
dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki
tubuhku selain alat kejantanan suamiku, akan tetapi lebih disebabkan
aku merasakan alat kejantanan Syamsul memang terasa lebih istimewa
daripada alat kejantanan suamiku, baik dalam ukuran maupun
ketegangannya. Selama hidupku memang aku tidak pernah melakukan
hubungan seks dengan laki-laki lain selain suamiku sendiri dan keadaan
ini membuatku berpikiran lain. Aku tidak menyangka ukuran alat
kejantanan seorang laki-laki sangat berpengaruh sekali terhadap
kenikmatan seks seorang wanita. Oleh karena itu secara refleks aku
mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang
Syamsul erat-erat untuk selanjutnya aku mulai mengoyang-goyangkan
pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Syamsul.

Bersambung ke bagian 02

Aku, Suamiku Dan Temannya, Bag 1

Cersex aku digenjot anakku dan teman temannyaIstriku berfantasy dgn pria lain forum semprotSuami ibu ku maksa ngentotin akuAyo entot istriku forum semprotcersex aku suami yang menyaksikanFantasy suamiku akan terwujud forum semprot