Bu Tari

28th July 2018 | Cat: Cerita Dewasa | 4075 Views | No Comments

www.sang-pakar.site Bu Tari


Kejadiannya 13 tahun yang lalu, saat aku
masih kuliah disebuah kota S di P. Aku mempunyai teman satu angkatan
satu jurusan Yon namanya, berasal dari kota W. Kami begitu lengketnya,
study, ngobrol, jalan ngalor-ngidul, ngapelin cewek satupun sering
bersama. Sampai kecewapun sering bareng-bareng. Yon si anak “bocor”
tapi baik hati itu tinggal dirumah tantenya (yang biasa aku panggil Ibu
Tari) yang hanya punya anak gadis semata wayang. Itupun begitu lulus S1
Manajemen perusahaan langsung dilibas habis kegadisannya sama pacarnya,
dalam suatu perkawinan, terus diboyong ke Jakarta.

Tinggallah
Ibu Tari ini bersama suaminya yang pengusaha jasa konstruksi dan
trading itu dengan pembantu dan sopir. Kebetulan Yon ini keponakan
kesayangan. Wajar saja dia suka besar kepala karena jadi tumpahan
sayang Ibu Tari. Sampai suatu saat dia minta tinggal di luar rumah
utama yang sebenarnya berlebih kamar, ya si tante nurut saja. Alasan
Yon biar kalau pulang larut malam, tidak mengganggu orang rumah karena
minta dibukakan pintu.

Ruang yang dia minta dan bangun adalah
gudang di sebelah garasi mobil. Dengan selera anak mudanya dia atur
interior ruangan itu seenak perutnya. Setengah selesai penataan ruang
yang akhirnya jadi kamar yang cukup besar itu, sekali lagi Yon
menawarkan diri agar aku mau tinggal bersamanya. Saat itu Ibu Tari,
hanya senyum-senyum saja. Seperti dulu-dulupun aku menolaknya. Gengsi
sedikitlah, sebab ikut tinggal di rumah Bu Tari berarti semuanya serba
gratis, itu artinya hutang budi, dan artinya lagi ketergantungan. Biar
aku suka pusing mikirin uang kost bulanan, makan sehari-hari atau nyuci
pakaian sendiri, sedikitnya di kamar kostku aku seperti manusia merdeka.

Tapi
hari itu, entah karena bujukan mereka, atau karena sayangku juga pada
mereka dan sebaliknya sayang mereka padaku selama ini. Akhirnya aku
terima juga tawaran itu, dengan perjanjian bahwa aku tidak mau serba
gratis. Aku maunya bayar, walaupun uang bayaran kostku itu ibarat
ngencingin kolam renang buat Bu Tari yang memang kaya itu. Toh selama
ini aku menganggap rumah Bu Tari ini rumah kostku yang kedua,
sebelumnya sering juga aku menginap dan nongkrong hampir setiap hari di
sini.

Ada satu hal sebenarnya yang ikut juga menghalangiku
selama ini menolak tawaran Yon atau Bu Tari untuk tinggal di rumahnya.
Entah kenapa aku yang anak muda begini, suka merasakan ada sesuatu yang
aneh di dada kalau bertatapan, ngobrol, bercanda, diskusi dan
berdekatan dengan Bu Tari. Perempuan yang selayaknya jadi tante atau
bahkan ibuku itu. Buatku Ibu Tari bukan hanya sosok perempuan cantik
atau sedikitnya orang yang melihatnya akan menilai bahwa semasa
gadisnya Bu Tari adalah perempuan yang luar biasa. Bukan hanya sekedar
bahwa sampai setua itu Ibu Tari masih punya bentuk tubuh yang
meliuk-liuk. Senyumnya, dada, pinggang, sampai ke pinggulnya suka
membuatku susah tidur dan baru lega jika aku beronani membayangkan
bersetubuh dengannya. Jika aku beronani tidak cukup kalau cuma keluar
sekali saja.

Gejala apa ini, apakah wajar aku terobsesi sosok
perempuan yang tidak hanya sekedar cantik, tapi berintelegensi bagus,
penuh kasih dan nature. Buatku secantik apapun perempuan jika tidak
punya tiga unsur itu, hambar dalam selera dan pandanganku. Seperti
sebuah buku kartun yang tolol dan tidak lucu saja layaknya. Malangnya
Ibu Tari memiliki semua itu, dan lebih malangnya lagi aku. Di bawah
sadar sering aku diremas-remas iri dan cemburu jika melihat Ibu Tari
berbincang mesra atau melayani Pak Bagong, suaminya. Begitu telaten dan
indah. Gila!

Selama aku tinggal di rumah Bu Tari itu, pada
awalnya semua biasa saja. Perhatian dan sayang Bu Tari kurasakan tak
ada bedanya terhadapku dan Yon. Kupikir semua ini naluri keibuannya
saja. Tetapi semua itu berjalan hanya sampai kurang lebih 4 bulan.

Di
suatu malam dari balik jendela kamarku kulihat beberapa kali Ibu Tari
keluar masuk rumah dengan gelisah menunggu Pak Bagong yang sampai jam
22.00 belum pulang. Sebentar dia kedalam sebentar keluar lagi, duduk
dikursi, memandang kejalan dengan muka gelisah, membalik-balik majalah
lalu masuk lagi. Keluar lagi. Kuperhatikan belakangan ini Ibu Tari
begitu murung. Ada masalah yang dia sembunyikan. Senyumnya sering kali
getir dan terpaksa.

Aku beranjak ke kamar mandi untuk pipis.
Buku Nick Carter yang sejak tadi membuat penisku tegang kugeletakkan
dimeja. Tapi begitu aku kembali ternyata Bu Tari sudah duduk di kursi
panjang di kamarku memegang buku itu. Aku hanya meringis ketika Bu Tari
meledekku membaca buku Nick Charter yang pas dicerita ah.,eh.,oh
kertasnya aku tekuk. Sesaat setelah kami kehabisan bahan bicara, muka
Bu Tari kembali mendung lagi. Dia berdiri, berjalan ke sana sini dengan
pelan tanpa suara merapikan apa saja yang dilihatnya berantakan. Sprei
tempat tidur, buku-buku, koran, majalah, pakaian kotor dan asbak rokok.
Ya maklum kamar bujanganlah. Aku pindah duduk dikursi panjang lantas
mematung memperhatikannya. Seperti tanpa kedip. Semua yang dilakukannya
adalah keindahan seorang perempuan, seorang ibu.

Setelah
selesai, sejenak Bu Tari hanya berdiri, melihat jam didinding lalu
menatapku dengan mata yang kosong. Aku coba untuk tersenyum sehangat
mungkin. Bu Tari duduk di sampingku. Mukanya yang tetap murung akhirnya
membuatku berani bicara mengomentari sikapnya belakangan ini dan
bertanya kenapa? Bu Tari tersenyum hambar, menggeleng-gelengkan kepala,
diam, menunduk, menarik napas dalam dan melepasnya dengan halus. Sunyi.
Seperti ingin to the point saja, Bu Tari menceritakan masalah dengan
suaminya.

Seperti kampung yang diserbu provokator dan perusuh
saja, otakku tercabik-cabik, terbuka. Hubungan Bu Tari dengan suaminya
selama ini ternyata semuanya penuh kepura-puraan. Kemesraan mereka semu
tak bernurani, bagai sebuah ruangan setengah kosong, dan setengahnya
lagi sekedar keterpaksaan pelaksanaan kewajiban saja. Bu Tari berada di
dalamnya. Suaminya tahu tapi seperti sengaja membiarkannya memikir,
menghadapi dan menyelesaikannya sendiri. Menerima keadaan.

Entah
karena kesepian, butuh orang sebagai tumpahan hatinya yang kesal dan
rasa disia-siakan. Bu Tari menceritakan bahwa Pak Bagong sudah lama
mempunyai istri simpanan di sebuah perumahan menengah pinggir kota. Tak
pernah hal ini dia ceritakan kepada siapapun juga kepada anaknya
sendiri Mbak Clara di Jakarta. Sama dengan kebanyakan istri-istri
pejabat yang walaupun tahu suaminya punya simpanan perempuan, Bu Tari
hanya bisa menahan hati. Konon katanya, justru sebenarnya banyak istri
pejabat yang malah mencarikan perempuan khusus untuk dijadiakn simpanan
suaminya sendiri, demi keamanan, “nama baik” dan jabatan. Biar si suami
tidak asal hantam dan makan sembarang wanita. Toh, Istri tahu atau
tidak, terima atau tidak, si suaminya dengan jabatan, uang dan
kelelakiannya dapat melakukan apa saja pada perempuan-perempuan yang
mau. Semua itu seperti permaisuri yang mencarikan selir untuk suaminya
sendiri.

“Dia ingin punya anak laki-laki Win (Win nama palsu
saya)” Begitu ucap Bu Tari malam itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Dulu
Bu Tari memang suka bercerita betapa inginnya dia punya anak laki-laki
yang banyak. Dia suka menyesali diri kenapa Tuhan hanya memberinya satu
anak saja.

“Apakah itu alasan yang wajar Win” Ucapnya lagi.

Kedua
tangannya memegang tangan kananku dan matanya yang memelas lurus
menatapku. Seolah meminta dukungan bahwa kelakuan Pak Bagong salah. Aku
bingung. Mau ngomong apa, seribu kata aduk-adukan diotak hingga aku
hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Diluar dugaanku, tangis
Bu Tari malah meledak tertahan. Dia jatuhkan mukanya ke pundak kiriku.
Aku bingung, tapi naluri lelakiku berkata dia teraniaya dan butuh
perlindungan, hingga akhirnya tanganku begitu saja merengkuhnya. Bu
Tari malah membenamkan wajahnya ke dadaku. Aku elus-elus punggungnya
dan dengan pipiku kugesek-gesek rambutnya agar dia tenang. Kucium wangi
parfum dari tubuh dan rambutnya.

Sesaat rasanya, sampai akhirnya
Bu Tari menarik mukanya dan memandangiku dengan senyumnya yang gusar.
Aku ikut tersenyum. Ada malu, ada rasa bersalah, ada pertanyaan ada
kehausan di mata Bu Tari, dan ada yang menyesakan dadanya. Entah rasa
sayang atau sekedar untuk menetralisir hatinya, aku usap air matanya
dengan jariku. Bu Tari hanya diam setengah bengong menatapku. Hening.
Sepi.

“Ibu bahagia sekali win kamu mau tinggal disini. Entah
bagaimana rasanya rumah ini kalau tak ada kamu dan Yon. Sepi. Tidak ada
lagi yang bisa diharapkan. Mungkin ibu bisa mati sedih dirumah sebesar
ini” Ucap Bu Tari pelan tertunduk murung.

“Kenapa Ibu baru menceritakannya sekarang?” Ucapku.

“Untuk apa?” Ucap Bu Tari menggeleng-geleng.

“Setidaknya beban Ibu dapat berkurang”.

“Buat
Ibu cukup melihat Kamu dan Yon ceria dan bahagia di rumah ini.
Kalianlah yang justru membuat Ibu betah di rumah. Untuk apa Ibu harus
mengurangi semua itu dengan masalah Ibu. Ibu sayang pada kalian”. Ucap
Bu Tari sambil memegang jari tanganku. Aku membalasnya dengan meremas
jari jemarinya pelan.

“Kamu sayang pada Ibu kan Win? Tanya Bu Tari menatapku.

Aku
menggangguk tersenyum. Bu Tari tersenyum bahagia. Lalu entah kenapa aku
nekat begitu saja mendekatkan mukaku, mencium kening dan pipinya dengan
lembut. Kulihat wajah Bu Tari yang surprise tapi diam saja.

“Bu Tari marah?” tanyaku.

Dia
menggeleng-geleng dan malah balas menciumku, menyenderkan kepalanya
miring di pundakku dan melingkarkan tangan kanannya di pinggangku.
Kupeluk dia. Lama sekali rasanya kami saling berdiam diri. Tapi aku
merasakan kedamaian yang luar biasa. Sampai akhirnya suara motor Yon
yang katanya habis diskusi di kelompok studinya tiba dan suara pintu
gerbang terbuka.

Sejak kejadian malam itu hubunganku dengan Bu
Tari jadi kian aneh. Mungkin awalnya hanya sekedar memperlihatkan rasa
sayang dan cinta layaknya seorang anak pada ibunya dan sebaliknya.
Walau dengan diam-diam disetiap kesempatan yang ada kami saling tidak
menyembunyikan semua itu. Bertatapan dengan mesra, bercanda dan saling
memperhatikan lebih dari dulu-dulu.

Tapi seperti air yang tak
diatur, semua mengalir begitu saja. Kian lama Bu Tari dan aku berani
saling mencium. Cium sayang dan lembut disetiap kesempatan yang ada
tanpa seisi rumah tahu Tapi kegalauan dihatiku tetap saja tak dapat
kuingkari. Sering aku bertanya sendiri sayangku, cintaku, ciumanku dan
pelukanku pada Bu Tari apakah manifestasi seorang anak pada sosok
ibunya, atau seorang lelaki pada seorang perempuan. Hati dan otakku
setiap hari dililit pertanyaan sialan itu. Begitu menjengkelkan.

Semua
itu berjalan sampai tak dapat kuingkari bahwa birahi selalu mengikutiku
jika aku berdekatan dan mencium Bu Tari. Selama ini aku berusaha
menekannya. Tapi itu meledak di suatu sore yang sepi.

Semula aku
hanya ingin meminjam koran yang biasanya tergeletak di ruang keluarga
rumah utama. Tapi saat kulihat Bu Tari tengah berdiri menikmati
ikan-ikan hias aquariumnya. Tiba-tiba aku ingin menggodanya. Aku
berjingkat perlahan dan menutup kedua matanya dengan tanganku dari
belakang. Ibu Tari kaget berusaha melepaskan tanganku. Aku menahan tawa
tetap menutup matanya. Tapi akhirnya Bu Tari mengenaliku juga.
Kukendorkan tanganku.

“Wiinn kamu bikin kaget ibu saja akh..” Ucap
Bu Tari tetap membelakangiku dan menarik kedua tanganku ke depan
dadanya. Bu Tari bersandar di dadaku. Kedua tanganku tepat mengenai
payudaranya yang kurasakan empuk itu. Gelora aneh mengalir di darahku.
Sementara Bu Tari terus mengomentari ikan-ikan di dalam aquarium, aku
justru memperhatikan bulu-bulu lembut di leher jenjangnya Rambutnya
yang lurus sebahu saat itu tertarik ke atas dan terjepit jepitan
rambut, hingga leher bagus itu dapat kunikmati utuh. Aku berdesir.
Kurasakan napasku mulai berat. Dengan bibirku akhirnya kukecup leher
itu. Bu Tari merintih kegelian dan mencubit lenganku dengan genit.

“Hii. Jangan Wiinn akhh…, Merinding Ibu ah”

Dekapan
tanganku di payudara dan dadanya makin kuat. Ketika kuperhatikan dia
tidak marah dan tenang maka kuulangi lagi kecupan itu berulang-ulang.
Kumis dan bekas cukuran di janggutku membuatnya geli. Tapi kurasakan
tangan Bu Tari perlahan mencengkram erat di kedua jariku dan dia diam
saja. Aku makin bernafsu. Ciuman, kecupan dan hisapan bibirku makin
menjadi-jadi ke leher dan telinganya. Bu Tari mendesah memejamkan mata.
Kepalanya bergerak-gerak mengikuti cumbuanku. Matanya terpejam dan
napasnya menggelora. Kucari bibirnya, karena susah maka kuputar
tubuhnya menghadapku dan langsung kusambar dengan bibirku. Kupeluk erat
Bu Tari. Dia menggeliat membalas permainan bibirku. Kedua tangannya
memegangi bagian belakang kepalaku seolah takut aku melepaskan ciuman
bibirku. Kuremas-remas payudaranya dengan tangan kananku. Bu Tari
melepaskan ciumannya lalu merintih-rintih dengan kepala terdongak ke
belakang seolah memberikan lehernya untukku. Dengan bibirku langsung
kuciumi leher itu. Tapi tiba-tiba Bu Tari setengah menghentakan badanku
seperti tengah bangun dari mimpi dan shock dia berkata, “Ya Tuhan,
Wiinn…, apa yang kita lakukan?”

Bu Tari menjauhiku dan
menempelkan kepalanya ke dinding menahan hati. Akupun bisu. Hening.
lama sekali. Aku kian gelisah. Aku ingin keadaan itu berakhir. Aku
dekati Bu Tari, memeluknya lagi. Kata-kata cinta meluncur begitu saja
dari mulutku. Semua itu membuat Bu Tari bingung. Menggeleng-gelengkan
kepalanya dan berlari masuk ke kamar menahan tangis.

Beberapa
hari sejak kejadian itu Bu Tari tidak menyapaku. Dia selalu berusaha
menghindariku. Aku bingung, aku takut dia marah. Aku takut dia menolak
cintaku. Aku takut gila, mencintai ibu kost sendiri, istri orang dan
perempuan yang jauh lebih tua dariku. Ditolak pula. Aku mulai murung.
Tapi itu hanya lebih kurang dua minggu. Hanya sampai pada suatu malam,
bulan jatuh dipelukanku saat Bu Tari lembut menyapaku dan tanpa bicara
sepatah katapun menciumiku. Sejak dulu juga, jika dibalik
ke”nature”annya sesekali kulihat kerling genitnya, adalah bukti bahwa
sebenarnya sudah lama aku tak bertepuk sebelah tangan. Tapi Bu Tari
takut bicara tentang cinta, bahwa dia sayang, merindukan dan
membutuhkanku.

Selanjutnya kami selalu berusaha bersikap wajar
di depan seisi rumah maupun tetangga. Satu hal yang pasti bahwa kami
bisa dengan bebas saling bercerita tentang apa saja. Termasuk
kebiasaanku beronani dengan membayangkan bersetubuh dengannya yang
membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Sebaliknya dari Bu Tari aku
tahu, bahwa suaminya Pak Bagong itu aneh, di ranjang bertempur tidak
pernah menang tapi malah punya simpanan. Untuk mencapai orgasme jika
bersetubuh dengan suaminya dia sering membayangkan bersetubuh denganku.
Gila.

Kami terus mengalir tanpa halangan yang
berarti. Maksudku tanpa tindak-tanduk yang dapat menimbulkan kecurigaan
orang seisi rumah maupun tetangga. Sampai suatu hari Pak Falcon
tetangga kami yang tinggal 6 rumah dari kami melangsungkan pernikahan
anaknya. Seharian itu aku dirundung nafsu dan cemburu. Seperti biasanya
jika dilingkungan perumahan itu ada pernikahan maka Pak Bagong dan Bu
Tari akan menjadi penerima tamu. Pak Bagong akan berbaju beskap,
berjarik, blangkon dan berkeris. Bu Tari akan berkebaya, berjarik dan
berselendang dengan rambut konde yang rapi. Bu Tari sendiri tahu bahwa
dengan pakaian seperti itulah seringkali aku mengungkapkan kekagumanku
atas kecantikan dan seks apple yang ditimbulkannya.

Rasanya aku
gelisah terus melihat kesintalan tubuh Bu Tari yang terlilit pakaian
adat Jawa yang ketat itu. Jika berjalan pinggulnya bergoyang-goyang
mengundang sensasi. Beberapa kali kutebar pandanganku berkeliling,
selalu saja kulihat ada mata tamu pria entah muda, entah tua ada yang
tengah melirik atau memperhatikannya. Semua itu membuatku pingin marah
saja rasanya.

Tetapi sebelum seremoni perkawinan itu usai,
tiba-tiba pembantu Bu Tari, yang biasanya aku panggil Mbak Suti datang
mengabarkan bahwa barusan dia terima telepon di rumah yang mengabarkan
adik Pak Bagong yang tinggal di kota P mengalami kecelakaan lalu
lintas. Pak Bagong, Bu Tari, Yon, Mbak Suti dan aku akhirnya pamit
pulang duluan pada Pak Falcon.

Sampai dirumah, Pak Bagong dan
Ibu Tari menelepon balik ke kota P melakukan konfirmasi berita. Adik
Pak Bagong bersama Dorti anaknyalah yang mengalami kecelakaan. Mobilnya
tertabrak bis antar kota yang selip. Dua-duanya masuk IGD rumah sakit
dan Pak Bagong sebagai anak tertua di keluarganya diminta datang. Teman
sekamarku Yon sendiri ingin ikut nengok. Yon naksir berat pada Dorti,
pernah menyatakan cinta dua kali. Tapi dua kali pula Dorti menolak.
Sementara Ibu Tari sendiri harus tetap tinggal karena besok pagi ada
tim BPKP dari Jakarta yang akan datang melakukan audit di kantornya.
Ibu Tari key person yang harus ada.

Pak Bagong dan Yon berangkat
ke kota P dengan mobilnya dan akan mampir ke rumah Pak Sarmin supirnya
dulu untuk diajak berangkat. Aku, Bu Tari dan Mbak Suti ngobrol
sebentar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada adik
Pak Bagong dan anaknya. Sampai Mbak Suti menguap beberapa kali. Selama
ngobrol tak pernah mataku lepas dari busungnya dada Bu Tari dengan
payudaranya yang montok dan sedikit terlihat. Bu Tari tahu aku selalu
memperhatikannya, tapi dia membiarkan saja, bahkan seolah justru senang
dan menikmati kekagumanku, birahiku dan kegusaranku.

“Sudahlah sana
tidur kalau ngantuk, aku tidak balik lagi kerumah pak Falcon kok Ti,
wong hampir selesai kok” Ucapnya. Bu Tari beranjak pergi katanya mau
pipis. Ketika Bu Tari berjalan, pinggulnya yang bergoyang-goyang tak
lepas mataku. Begitu padat, begitu bulat.

Mbak Suti langsung
pamit tidur. Tinggallah aku di ruang tengah itu, sendiri, melamun.
Sekian lama hubungan kami berjalan. Selama ini kami hanya sampai batas
berpelukan, berciuman, saling tindih di ranjang dengan napas yang
menderu-deru dan berujung orgasme tanpa coitus. Entah berapa kali
penisku menekan-nekan dan menggesek-gesek di vaginanya yang basah di
celana. Entah berapa kali spermaku membasahi celana dalamku sendiri dan
celana dalam Bu Tari. Lantas walaupun penisku belum pernah sekalipun
masuk ke vaginanya, kecuali hanya menggesek-gesek dan aku orgasme,
masih perjakakah aku?

Langkah Bu Tari terdengar dan terus
kupandangi sekujur tubuhnya yang semampai melenggok-lenggok, dari
kepala sampai kaki ketika dia berjalan kearahku. Stagen di pinggangnya
sudah tak ada hingga perutnya sedikit terlihat. Dadaku berdebar-debar.
Berkali kali kutelan ludah.

“Kamu melihat Ibu, kaya Ibu ini apaan sih?”, ucap Bu Tari genit mengibaskan tangan kanan di mukaku.

“Ibu cantik sekali, makin seksi, seksi sekali berkebaya dan Saya terangsang sekali” Ucapku asal saja menunjuk ke penisku.

“Hus.
Sekali, sekali. Daripada melamun sini pijitin Ibu”, Ucap Bu Tari duduk
membelakakingiku dan menepuk pundaknya. Aku pijit kedua pundaknya
perlahan-lahan. Bu Tari kadang menggeliat keenakan.

Makin lama
pijitanku makin turun, ke punggungnya, ke tulang-tulang rusuknya, ke
pinggangnya. Tak lama kutarik pundaknya dan kusandarkan punggungnya ke
dadaku, kutempelkan pipi kananku ke pipi kirinya. Lalu kupijit kedua
pahanya, kuelus-elus dan kuremas-remas sampai ke pinggulnya. Bu Tari
memejamkan matanya. Pijitan bercampur elusan kedua tanganku merambat
naik dan berhenti di dadanya untuk meremas-remas buah dada yang
kurasakan besar dan kenyal itu. Mukaku kugesek-gesekan di rambut dan
kondenya, pipinya, dan kukulum-kulum telinganya. Deru napas Bu Tari
mulai tak teratur kadang diselingi desahan halus. Tangan kanannya
mencoba meraih kepalaku, kadang mencengkram lembut rambutku. Telapak
tangan kirinya digosok-gosokan kepipi kiriku. Remasan tanganku ke buah
dadanya makin liar, mukaku meliuk-liuk menciumi apa saja di kepalanya.
Kubuka kancing baju kebayanya. Sembulan sepertiga buah dada dari BH-nya
indah sekali. Aku makin terangsang. Penisku yang berdiri sejak tadi
ingin meledak rasanya. Kutarik baju kebayanya turun ke belakang hingga
pundak dan lehernya bebas kuciumi dan jilati. Ibu Tari mengerang
nikmat. Kulingkarkan kedua tanganku memeluknya erat-erat. Bibir Bu Tari
yang setengah terbuka kusambar dengan bibirku dan kukulum habis. Ujung
lidah kami beradu, kutelusuri lidahnya sampai seberapa jauh dapat
masuk, ke rongga-rongga mulutnya. Begitu kami bergantian.

Aku
dan Bu Tari mulai tak tahan, kurebahkan dia disofa. Kutelusuri
tubuhnya, kuciumi dari muka, dada, perut paha, dan betisnya yang masih
dibalut kain jarik. Naik lagi dan kutindih Bu Tari. Erangannya makin
merangsangku. Kubuka ikat pinggangku.

“Jangan disini sayang.
Nanti kalau Suti bangun…” Tiba-tiba ucap Bu Tari tak menyelesaikan
kalimatnya. Kami berdiri. Bu Tari melepas ritsluiting celanaku,
memasukan tangannya ke celana dalamku dan meremas-remas penisku yang
tegang dengan geregetan.

“Heemm” Ucapnya lalu membimbingku masuk ke
kamarnya berjalan mundur dengan memegang dan menarik penisku. Itu
membuat kami tertawa.

Pintu kamar dikuncinya cepat-cepat. Kubuka
bajuku dan Bu Tari setengah menunduk membuka celanaku lalu mencari
penisku. Begitu dapat langsung dimasukan ke mulutnya, dijilati
dihisap-hisap, diciumi dan kadang dikocok-kocok dengan tangannya. Yang
begini belum pernah dia lakukan. Aliran kenikmatan merambat sampai
ubun-ubun kepalaku. Aku memberinya isyarat agar melepaskan penisku. Aku
dipuncak nafsu dan ingin memasukan penisku langsung saja ke vaginanya,
tapi dia menolak. Badanku rasanya makin bergetar dengan tulang yang mau
berlepasan dan syaraf-syaraf di tubuhku rasanya kelojotan nikmat. Bu
Tari begitu bernafsu dan nikmat memainkan penisku di mulutnya

Aku
tak tahan dan minta rebahan di ranjang. Bu Tari melepas baju kebayanya.
Dengan tetap BH masih di dada dan kain jariknya yang belum terlepas,
mulutnya langsung mengejar burung pusakaku sampai dua biji telornyapun
dia cium, jilat dan hisap. Aku makin bergelinjang, melayang-layang
nikmat. Hingga dipuncaknya, aku tak sempat lagi memberitahunya kalau
spermaku mau keluar. Hingga akkhh…, crott…, croot…, Crroott.
Spermaku muncrat di dalam mulut Bu Tari. Tapi Bu Tari justru malah
bernafsu, menelannya dan terus menghisap-hisap penisku sampai bersih,
kasat dan ngilu rasanya. Aku terkejut. Bangun terduduk.

“Ibu telan? Apa ibu tidak jijik?”, Tanyaku bodoh.

Ibu Tari menggeleng, justru mukanya cerah, kepuasan terpancar di wajahnya. Aneh pikirku.

“Orang
bilang, meminum air mani perjaka akan membuat perempuan awet muda.
Lepas betul atau tidak yang terang Ibu sudah mencobanya barusan Sayang”
Ucap Bu Tari lalu menciumiku dari muka sampai dadaku, sementara tangan
kanannya terus meremas-remas penisku.

“Ayo lagi Sayang, Ibu pingin
kamu puas” Ucap Bu Tari mesra. penisku yang tadi terkulai karena sudah
keluar sperma dan shock mulai menegang lagi akhirnya. Bu Tari kembali
mengulum dan menghisap-isap penisku.

“Kalau Ibu masih pingin, ambil semua sperma Saya” Ucapku, Ibu Tari tersenyum.

Kubuka
BH-nya dan kutarik lilitan kain jariknya. Bu Tari berdiri untuk
memudahkan melepas kain jariknya. Tubuhnya yang telanjang bulat
langsung kuterkam, kurebahkan dan kutindih. Dua payudaranya yang besar
itu kuhisap-hisap putingnya bergantian. Tangan kananku menggosok-gosok
vaginanya. Kuciumi, kujilati dan kuhisap-hisap semua bagian yang
menurut instingku bisa membangkitkan gairahnya. Bibir, lidah, telinga,
leher, payudara, perut, pusar, paha, vagina, betis sampai ke jari dan
telapak kakinya. Tubuh Bu Tari bergelinjangan tak karuan dadanya
naik-turun kelojotan. Tangan kirinya meremas-meremas payudaranya dan
tangan kanannya menggosok-gosok vaginanya sendiri. Konde rambut Bu Tari
hampir terlepas. Mulutku naik lagi ke atas menyusuri betis dan paha
hingga akhirnya berhenti di vaginanya. Dengan kedua tanganku kusibak
pelan bulu vaginanya. Kulihat belahan vaginanya yang memerah berkilat
dan bagian dalamnya ada yang berdenyut-denyut. Kuciumi dengan lembut,
bau divaginanya membuat sensasi yang aneh. Tak pernah ada bau seperti
ini yang pernah kukenal rasanya.

Dengan hidung kugesek-gesek
belahan vagina Bu Tari sambil menikmati aroma baunya. Erangan dan
gelinjangan tubuhnya terlihat seperti pemandangan yang indah sekaligus
menggairahkan.

“Aakhhk…, eekhh…, nikmat sekali sayang. Teruuss sayang”, Rintih Bu Tari.

Kujulurkan
lidahku, kujilat sedikit vaginanya, ada rasa asin. Lalu dari bawah
sampai atas kujulurkan lidahku menjilati belahan kewanitaannya. Begitu
seterusnya naik turun sambil melihat reaksi Bu Tari.

“Akkhh…,
Akkhh…, Akkhh…, Engghh” Bu Tari terus merintih nikmat, tangannya
mencari tangan kananku, meremas-remas jariku lalu membawanya ke
payudaranya. Aku tahu dia ingin yang meremas payudaranya adalah
tanganku. Begitu kulakukan terus, tangan kananku meremas payudaranya,
mulutku menjilati dan menghisap-hisap vaginanya, tangan kiriku
mengelus-elus pinggang, paha sampai ke betisnya yang putih mulus dan
halus itu.

“Akkhh…, sudah Sayang…, sudah…, ayo sekarang
Sayang Ibu sudah tak tahan akkhh…, masukan sayang, masukan” Desah Bu
Tari mengerang meraih kepalaku agar menghentikan jilatan di vaginanya
dan minta disetubuhi. Tanpa harus mengulangi lagi permintaannya
langsung saja aku merangkak naik, menindih tubuh Bu Tari. Bu Tari
melebarkan pahanya. Penisku menuju vaginanya. Beberapa kali kucoba,
memasukan, beberapa kali pula gagal. Aku tak tahu mana yang pas
lubangnya, mana yang hanya belahan vagina. Tapi tangan Bu Tari segera
membantu, memegang penisku, membimbing ke depan lubang vaginanya lalu
berkata “Ya itu Sayang…, disitu…, tekan Sayang tekan…, disitu…,
aakkhh…, ayo Sayang…, Ibu tak tahan…, oo.., akkhh” Ibu Tari
merintih ketika penisku yang kutekan masuk seluruhnya ke lubang
vaginanya. Sejenak tubuhku kaku, aku diam saja, aku nervous. Batang
penisku rasanya terjepit oleh dinding vagina Bu Tari yang seperti
berdenyut-denyut dan menghisap-hisap. Nikmat luar biasa. Ini yang
pertama.

Bu Tari menggoyang-goyangkan pinggulnya, setengah
berputar-putar dan kadang naik turun. Penisku yang tertancap di
vaginanya yang setengah becek dibuat seperti mainan yang membuatnya
nikmat tak karuan.

“Ayo Sayang…, ayo…, bareng-bareng Sayang…
Ibu mau keluar Sayang…, ayo…, ayo..” Rintih Bu Tari dengan mata
setengah terpejam dan mulutnya yang terus terbuka mendesah-desah dan
kian kuat menggoyang-goyangkan pinggulnya. Akupun terus mengimbanginya
sampai tiba-tiba Bu Tari seperti terdiam dan kedua tangannya merangkul
leherku kuat-kuat dan dari mulutnya keluar desahan panjang. “Aakkhh…,
Oukhh…, Engkhh…”, Bersamaan dengan rintih kepuasannya, denyutan dan
hisapan vagina Bu Tari makin kuat dan nikmat rasanya. Akupun sudah tak
tahan lagi dan ingin agar spermaku segera keluar. Karenanya
kunaik-turunkan penisku, kuputar-putar dan kunaik-turunkan terus hingga
akhirnya croott…, croott…, crroot. “Akhh…” Bersamaan dengan
muncratnya spermaku di vaginanya, kembali Bu Tari mendesah nikmat.
Napasku memburu, aku lemas sekali rasanya. Sementara Bu Tari tetap
menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan pelan dan tangannya
mengelus-elus rambutku.

Beberapa saat kubiarkan tubuhku menindih
tubuh bugil Bu Tari tanpa tangan atau dengkulku menahan beban badanku.
Penisku tetap menancap di vaginanya. Ketika ingin kucabut Bu Tari
melarangnya. “Jangan sayang, jangan dicabut dulu, biarkan ibu memiliki
dan menikmatinya, peluk…, peluk…, tetap tindihlah Ibu sayang. Ibu
puas, Kamu puas sayang hemm?.., nikmat sayang?..” Ucap Bu Tari sambil
terus menciumiku.

Malam itu kami habiskan tidur sambil
berpelukan di ranjang yang biasa Ibu Tari tidur dan bersetubuh dengan
suaminya. Tapi sejak malam itu dan disetiap kesempatan yang ada
kusetubuhi pula Bu Tari di ranjang yang sama. Aku tak perlu lagi hanya
beronani dengan membayangkan bersetubuh dengannya, begitupula Bu Tari
tak perlu lagi hanya sekedar membayangkan bersetubuh denganku jika ia
melayani suaminya. Kami baru bersetubuh di hotel jika salah satu dari
kami sudah tak tahan lagi sementara kesempatan di rumah tak ada. Atau
ketika obsesiku kumat untuk bersetubuh dengan Bu Tari dalam pakaian
kebaya, kain jarik dan berkonde. Ini terkadang aneh, berlama-lama Bu
Tari ke salon rias, begitu selesai langsung ke Hotel dan kuacak-acak
sampai berantakan. (Aneh ya?!).

Sering pula jika keadaan
memungkinkan, Bu Tari suka menyelinap ke kamarku untuk “fast sex”. Seks
cepat dengan tetap masih berpakaian. Tandanya, Bu Tari masuk ke kamarku
sudah tanpa celana dalam dan dipuncak nafsu. Ini sering terjadi jika Bu
Tari sedang butuh tapi Pak Bagong tak acuh terus tidur.

Tentang
vagina Bu Tari, mungkin itu yang disebut vagina empot ayam. Vagina yang
tak pernah kutemui pada semua perempuan (adik-adik, Mbak-Mbak,
tante-tante dan ibu-ibu rumah tangga yang muda maupun tua) yang pernah
kutiduri, sampai hari ini sekalipun diumurku yang 37 tahun.

TAMAT                   

Bu Tari

cerita ngentot dewasa forum semprot misi kehancurancerita sek semprotcerita sex gembelcerita seks gangbangCerita sex sedarahcerita sex stw gendutCerbung sex petualangan ku forum semprotancersex ngintip tante selingkuhcerita sex dgn pemulung tuaCerita bokep sama ibuk ibuk stwcerita sex sodomiCersex paksa ngentot tetangga stw montok dimobilcerita sex ibu stwCerita ngentot ibu ibu desaCerita ngentot ibu tuaCerita dewasa bergambar entot janda dikampungcerita ngentot mama ku guru ngaji yang nakal dan binalCerita ngesex ama pengemisCerita ibu hotcerita seks ngentot gara gara ibu mertuaCerita seks ngentot sedarahCerita dewasa gangbangcerita seks semprot comCerita sex dengan ibu kandungCerita sex stw petaniCerita dewasa ngentot sodomi ibu ibuCerita sex ibu gemukCerita dewasa ibu pemulungCerita sex ngentot wanita stw di kampungCerita sex sm ibu ibu hajiCerbung sex ngentot ibu ibu forum semprotancerita pemerkosaan ibu setengah bayaCerita Dewasa 2 gadis pengemis yg kehujanancerita sex tuaCerita sex ngentot ibu kandungCerita ml dgn ibu ibu stw montokcerbung xxxCerita ngentot janda sampe hamilCerbung sex ibu bercadar semok forum semprotanCerbung sex aku ngentot ibu hajah forum semprotanCerita seks sama stw gemuk di bis malamCerita sex bagi- bagi mani ke ibu-ibu forum semprotcerita sex dikampungcerita bokep - ngentot stw gembelcerita ngentot ibu2 stwCerita ml dgn ibu ibu stwCerita bokep ibu pemulungCerita sex janda stw gemukCerita ibu stw mlCerita budak nafsu stw maniak sex