www.sang-pakar.site Cerita seks, Anak Kelas 3 SMP Di Rangsang Sama Om. Bag 1

Para pembaca yang budiman. Ini satu lagi
cerita pengalamanku semasa kuliah di Jakata, kenalan, jatuh cinta,
pacaran yang lembut dan bercinta yang amat mengesankan. Semoga anda
semua dapat menikmatinya dengan senang.

Tahun 2002. Dua tahun
sudah aku menginjak bangku kuliah fakultas teknik Mesin di salah satu
perguruan tinggi swasta di Jakarta. Berkawan dengan teman-teman kuliah
satu angkatan semua jurusan yang ada dengan segala kelebihan dan
kekurangannya disertai pesta, camping dan diakhiri pacaran dengan
cewek-ceweknya yang rata-rata cantik dan seksi merupakan bagian dari
kehidupan kampus. Aku mempunyai group atau kelompok teman-teman
seangkatan dari jurusan teknik, antara lain Mesin, Sipil, Arsitek dan
Elektro. Diantaranya Aryono dan Tonny, kami bertiga mempunyai ikatan
persahabatan yang erat bagaikan saudara kandung, sampai pada kegiatan
mendaki gunung Gede, Pangrango di Cimacan terus ke gunung Slamet di
Cirebon.

Kami bertiga pada umumnya, akhir minggu keempat, setiap
akhir bulan, naik ke gunung Gede (Pangrango). Pulangnya hampir
dipastikan lewat Sukabumi dan menginap satu malam di penginapan yang
murah dan biasanya mencari cewek-cewek manis di Sukabumi yang berakhir
dengan pelampiasan nafsu seks kami bertiga. Untuk mendapatkan
cewek-cewek Sukabumi, pada saat itu sedang In atau Ngetrend
khususnya kalau yang mencari cowok-cowok Jakarta, pasti dapat. Di sini
yang ingin kuceritakan adalah salah satu pengalamanku yang lain yang
tidak akan kulupakan seumur hidup.

Bermula dengan persahabatan
kami bertiga yang membuat Tonny berkenalan dengan adiknya Aryono,
bernama Aryani. Akhirnya mereka pacaran dengan hebat (dari
ujung rambut sampai ke ujung kaki). Aryani pada saat itu baru naik
kelas 3 SMP, jadi masih segar-segarnya suka sama cowok mahasiswa, si
Tonny ini. Aku belum punya pacar tetap dan seperti biasanya, kencan
kesana kemari dengan teman-teman cewek di kampus sampai sebatas
cium-ciuman dan pegang-pegang saja (petting). ML (Making Love) pun
akhirnya sama cewek-cewek tertentu saja yang dari lain almamater. Satu
waktu, entah mereka bertiga Aryono, Tonny dan Aryani, mungkin sudah
merencanakan untuk menjodohkan aku dengan salah satu teman sekolah
Aryani, tepat pada saat pesta ulang tahun temannya itu.

Kami
berempat datang pada malam acara pesta ulang tahun tersebut ke rumah
teman Aryani. Setiba kami di sana, aku diperkenalkan kepada yang
berulang tahun.

“Mas Adit,” kata Aryani kepadaku, “Kenalin, ini temanku Meiske, yang berulang tahun.” sambungnya lagi.

Begitu
aku melihat dengan siapa aku diperkenalkan, sambil memberi tanganku
untuk bersalaman, di depanku berdiri gadis yang tingginya lebih kurang
3 cm lebih pendek dari aku (173 cm), berkulit putih, matanya coklat tua
berbinar dengan bibir yang amat sensual serta rambut hitam panjang
sebahu, kontras dengan lehernya yang putih dan jenjang itu. Dan
terlebih-lebih, tanpa disadari, mataku turun melihat pakaiannya, rok
dan blus yang formal and casual dengan kancing terbuka sampai sebatas dadanya.

“Dadanya..
oh Tuhan.. betapa cantiknya makhluk yang engkau hadapkan padaku malam
ini. Ini wanita dewasa apa anak kelas 3 SMP?” dalam hatiku.

Kalau
aku boleh membandingkan Meiske dengan bintang film atau sinetron zaman
sekarang, Meiske mirip dengan Monica Oemardi (tidak terlalu extreem
kan).

Terus terang para pembaca yang budiman, aku tertegun sampai
Tonny menepuk pundakku sambil berkata, “Hey.. ngomong dong.. selamat
ulang tahun kek.. I Love You kek.. I want to kiss you kek…”

Aku
terkejut dan sadar, mereka bertiga tertawa, Meiske tersenyum malu dan
terasa ingin melepaskan genggaman tanganku, dengan cepat kusadari dan
aku berkata, “Maaf.. happy birthday Meis, saya Adhitya, dan.. maaf lagi
saya ngga bawa apa-apa.”

“Oh yaa.. ngga apa-apa, Mas-mas sama Yani udah pada datang aja, saya udah cukup senang, yok masuk!” katanya lagi.

Kami
berlima masuk, dan seperti kebiasaanku apabila berkenalan dengan teman
baru, aku terus mencari orang tuanya, juga berkenalan, biasa deh.. cari
dukungan utama dari orang tua.

Malam pesta ulang tahun berakhir
dengan gembira dan tentunya bagiku sendiri bisa berkenalan dengan gadis
yang menjadi idamanku yaitu, cantik, tinggi, putih dan yang terlebih
penting adalah dadanya yang besar dan montok. Kuketahui belakangan
ternyata ukurannya 36C.

“Woooww! Lagi-lagi.. ini anak SMP atau wanita dewasa sih?” dalam hatiku bertanya.

Begitulah setelah perkenalanku pada malam pesta ulang tahunnya Meiske. Aku jadi sering wakuncar
(wajib kunjung pacar) ke rumahnya dibilangan Jakarta Pusat. Kemudian
aku juga mengetahui bahwa ayahnya seorang ABRI, kawin dengan ibunya
seorang wanita keturunan Portugis, jadi pantas saja, Meiske mempunyai
perawakan seperti di awal ceritaku.

Kami berdua sering
jalan-jalan atau berempat dengan Tony dan Aryani pada saat libur atau
malam minggu. Untuk hal ini, Aryono tidak ikut karena ceweknya lain aliran
dengan Aryani dan Meiske saat itu. Reaksi teman-teman kuliah pada saat
itu yang tahu aku pacaran sama anak SMP, bukan main hebohnya.

“Hey
Dhit, tau diri donk.. elu kan udah tua, mahasiswa lagi.. masa elu mau
pacaran dan ngebodohin anak kecil? Masih SMP lagi! Emangnya kagak ada
cewek yang gedean dikit?” begitulah komentar mereka.

Aku tidak
memberi reaksi banyak, paling tidak hanya tersenyum sambil menunjukkan
kepalan tanganku dengan posisi jari telunjuk ke atas sambil berkata
kepada mereka, “Fuck you, man!”

Aku memanggilnya dengan Meis dan dia memanggilku dengan Mas Adit.
Awalnya, kami berdua pacaran seperti biasanya. Karena aku jauh lebih
dewasa dari Meiske, jadi aku lebih banyak mengajari dan melindungi
Meiske. Sampai-sampai waktu pertama kali aku cium bibirnya, dia masih
lugu. Hal ini terjadi pada saat kami pacaran di belakang rumahnya yang
mempunyai halaman serta kebun yang lumayan luas. Malam Minggu, kami
duduk berdampingan di kursi, kulingkarkan tangan kiriku kepundaknya,
dia merebahkan kepalanya ke dadaku.

Kuraba dengan lembut pipinya dan berkata, “Meis..”

“Hmmm.. apa Mas Adit?” jawabnya perlahan.

“Kamu tahu ngga bahwa aku sayang kamu..” aku berkata lagi.

Kepalanya
diangkat dari pundakku sambil memandangku dengan matanya yang bulat dan
berbinar-binar sayu. Tanpa kusadari, wajah kami saling mendekat dan
terasa nafas kami yang agak memburu.Kusentuh pipinya dengan kedua
telapak tanganku. Kukecup keningnya dan reaksinya, dia diam dan waktu
kulihat matanya tertutup.

“Meis, aku sayang kamu, Non..” bisikku di depan bibirnya.

“Hmm.. apa Mas?” berbisik jawabnya lagi.

“Aku
ingin mencium bibirmu.. boleh ngga?” suaraku kubuat selembut mungkin
dan seyakin mungkin, karena dia tidak bereaksi seperti anak gadis
lainnya kalau kucium keningnya biasanya langsung menyediakan bibir
mereka.

Meiske mengangguk pelan dan memejamkan matanya, menunggu
dengan lembut kukecup bibirnya yang sensual itu, reaksinya sesaat diam.
Setelah beberapa saat, tangannya melingkar di leherku dan kedua
tanganku melingkar di pinggangnya. Kemudian tanpa melepaskan bibirku di
bibirnya, dengan perlahan kuangkat tubuhnya sehingga dia berada di
pangkuanku. Bibirnya yang lembut kukulum dengan erat. Saat
kupermainkan, lidahku masuk ke dalam mulutnya, dia terkejut dan
melepaskan bibirnya sambil berkata pelan.

“Lidahnya mau ngapain Mas..?” tanyanya.

Lugu banget kan ini cewek! Rupanya dia belum mengerti tentang permainan lidah sambil berpagut.

“Meis.. kamu belum tahu kan?” aku berkata dan dia menggeleng pelan.

“Meis,
kalau kita kissing saling cinta, bukan hanya bibir ketemu bibir saja,
tapi lidah juga harus main.. Coba kamu rasakan deh.. dan nikmati
yaa…” kataku membujuk halus, dia mengangguk pelan.

“Sekarang, boleh aku cium kamu lagi ngga?” tanyaku dengan lembut.

Meiske
hanya mengangguk dan langsung kukecup lagi bibirnya sambil
mempermainkan lidahku dan ternyata reaksinya.. lidahnya ikut main
dengan lidahku dan sementara tanganku mulai meraba-raba punggungnya
dengan lembut, membuat nafasnya Meiske memburu ditengah-tengah kecupan
dan pagutan bibir kami berdua.

Sementara itu, tanganku mulai
turun ke arah dadanya. Dia tidak bereaksi tehadap tanganku yang sudah
mengusap susunya yang ternyata, montok dan memang benar-benar besar dan
kenyal. Maklum umurnya masih 17 tahun. Nafasnya makin memburu tatkala
kecupanku turun ke lehernya dan kugigit-gigit kecil. Rintihan halus
mulai keluar juga saat tanganku masuk ke dalam bajunya setelah
kancingnya berhasil kulepaskan satu persatu tanpa disadarinya. Tanganku
terus meraba susunya yang masih terbungkus BH. Yang kurasakan hanya
setengah menutupi susunya yang besar dan montok serta lembut itu, atau
memang BH-nya terlalu kecil untuk menampung bukit indahnya Meiske yang
montok. Bibirku terus mengecup turun dari leher ke dadanya sementara
tanganku bergerilya ke punggungnya yang akhirnya berhasil melepaskan
kaitan BH-nya. Kurasakan Meiske tersentak pada saat aku berhasil
melepaskan BH-nya.

“Mas Adit.. jangaaan.. Maaass…” rintihnya
terengah-engah sambil menunduk melihat ke arah mukaku yang hampir
terbenam di antara kedua susunya yang besar dan montok itu.

Aku melepaskan kecupanku di pangkal dadanya sambil melihat ke arahnya dengan lembut tetapi masih penuh nafsu.

Sambil tersenyum lembut, “Kenapa sayang.. kamu takut yaa..?” tanyaku hati-hati.

“Iya mas…” jawabnya dengan suara bergetar akan tetapi kedua tangan masih tetap memeluk leherku dengan kencang.

“Jangan
takut Meis, Mas tahu kamu belum pernah seperti ini, rasakan dan nikmati
saja pelan-pelan.” jawabku lagi sambil tanganku tetap membelai susunya
yang putih disertai puting kecilnya yang berwarna merah muda (pink).

Rupanya
dengan gerakan Meiske tersentak itu, BH yang dipakainya terlepas dari
susunya yang montok. Kukecup lagi bibirnya dengan lembut. Sejenak
kusadari bahwa ini adalah hal yang pertama kali Meiske alami bersama
lelaki dewasa seperti aku jadi aku berniat untuk petting dulu sama dia
agar tidak kaget dan terlalu memaksa. Aku takut akibatnya dapat
merugikanku sendiri untuk menikmati tubuh perempuan berdarah Portugis
ini. Demikianlah kejadian demi kejadian yang aku dan Meiske lakukan,
yaitu petting atau French kissing sejak kami pacaran yang
kuajari dia, baik di rumahnya maupun di rumahku dan dengan pasti kami
lakukan pada saat rumah kami berdua dalam keadaan yang memungkinkan.

Sampai
satu hari Minggu, aku bisa mengajaknya keluar dari pagi jam 08:00
sampai jam 17:00, atas izin orang tuanya. Kami berdua naik motorku,
Honda CB-100 tahun 70an. Motor seperti ini dan CB-125 lagi top-topnya
berputar-putar keliling Jakarta. Kami makan mie ayam Gang Kelinci dan
berakhir di rumahku yang kebetulan lagi sepi. Orang tuaku sedang
mengunjungi famili di Bandung, kedua kakakku sibuk dengan urusannya
masing-masing dan tinggalah pembantuku bik Inem yang lumayan sudah 59
tahun umurnya di kamar belakang. Meiske langsung kuajak ke kamarku,
terpisah dari ruang utama cukup jauh. Mungkin karena rasa kangen yang
meluap-luap, begitu masuk ke kamarku, Meiske memelukku dengan erat dan
sepertinya kurasakan dia agak buas. Menciumiku dengan cara menarikku
dengan kasar, sehingga kami terjatuh di atas tempat tidurku dengan
posisi dia berada di atasku.

Padahal, biasanya kalau kami berdua
ada kesempatan, ciuman sambil pegang-pegang, seingatku aku selalu ambil
peranan dan dengan lembut serta very enjoyable bagiku dan Meiske sendiri yang kulihat dia sangat menikmati permainan petting
dariku. Tetapi hari ini aku hampir kewalahan menghadapi ciumannya yang
bertubi-tubi dan kurasakan bahwa ini bukan ciuman anak SMP lagi, tetapi
ciuman wanita yang lagi berahi tinggi. Menyadari hal tersebut, aku
akhirnya mulai memberikan respon yang tinggi juga. Dengan segera aku
membalikkan badanku, sehingga posisiku berada di atasnya serta kubalas
kecupannya dengan gairah tetapi juga dengan lembut serta
gigitan-gigitan kecil di bibirnya, serta permainan lidah pada saat
mengulum bibirnya yang sensual itu. Sementara tanganku bergerak membuka
baju casualnya, seperti biasanya Meiske sudah tahu kalau kami mau
petting, dia selalu pakai baju casual dengan kancing di depan.

Desahan-desahan
kecilnya mulai terdengar bersamaan dengan kecupan dan gigitan kecilku
yang turun ke arah susunya yang besar dan montok itu sampai aku
berhasil menjilati puting susunya yang berwarna merah muda (pink)
bergantian, kiri dan kanan. Desahannya makin menjadi-jadi sewaktu aku
menghisap putingnya yang kecil dan mulai keras disertai gigitan-gigitan
kecil yang menggemaskan dan menikmatkan dia.

“Aduuuuh.. Maaass Adiit!” erangannya sambil mencengkramkan tangannya di kepalaku.

Sementara
itu, penisku mulai berontak di balik jeans dan CD-ku. Cepat-cepat aku
membuka zip (ruistzleting) jeansku agar Mr. Penis Adithya agak leluasa
untuk diperbaiki letaknya (daripada terjepit). Kulepaskan kecupanku
dari susunya Meiske yang besar dan aku memandangnya dengan penuh kasih
dan lembut, kukecup bibirnya Meiske.

“Meis sayang, aku ingin membuat kamu jadi milikku seutuhnya, kamu mau kan?”

“Mas Adit, aku mau apa aja yang Mas lakukan untukku.. aku mau Mas..” jawabnya mesra dan nafasnya mulai memburu.

“Meis…
aku akan membuat kamu untuk tidak melupakan hubungan kita dan aku mau
kamu tidak seperti anak SMP lagi yaa, mau kan?” kataku lagi dengan
lembut setengah bebisik, dia mengangguk manja.

Sambil berbaring side by side,
kukecup bibirnya yang sensual sambil kubuka habis bajunya. Tanganku
yang cukup berpengalaman melepas BH-nya yang berwarna pink, hal ini
membuat penisku tegang (kira-kira 100 volt). Akhirnya terlihat dua
bukit keemasannya, susunya yang sekali lagi, “Alaamaaak.. kok anak SMP
bisa punya seperti ini?” dalam hatiku, putih ,besar, montok dan kenyal
dengan putingnya yang kecil berwarna merah muda (pink). Sejenak aku
memandanginya sambil perlahan-lahan tanganku menjamah, membelai serta
mengusap-usap putting yang menggemaskanku. Meiske tersadar saat aku
masih memandang ke arah susunya dan tiba-tiba dia mengeluh sambil
menyusupkan kepalanya di dadaku yang juga sudah telanjang.

“Maasss.. jangan diliatin terus dong.. Meis kan malu!” katanya perlahan dengan nada manja.

Aku tertawa perlahan sambil memeluknya dengan mesra.

“Malu
sama siapa sayang? Sama aku? Iya? Kan yang ngeliatin juga cuma satu
orang kan..?” jawabku tersenyum geli melihat kelakuannya anak SMP ini.

“Tapi Meis kan tetap aja malu.. soalnya Mas Adit orang laki-laki yang pertama yang lihat Meis ngga pakai BH.” katanya lagi.

Kukecup
lagi keningnya, terus turun ke matanya yang indah, hidungnya yang
bangir, terus turun ke sudut bibirnya yang sensual, merah merekah
disertai desahan-desahan kecilnya terdengar olehku. Di sana aku
mempermainkan lidahku serta kugigit lembut. Dia menggelinjang dan
dengan tidak sabar dia mengecup bibirku dengan buas, sementara
tangannya mulai mengusap kepalaku, aku pun tidak tinggal diam. Dengan
segera tanganku turun ke susunya yang menjadi kegemaranku bermain,
kuraba dan kuputar-putar putingnya yang mungil. Dia mengerang nikmat.

Tanganku
terus turun. Kusibak rok mini (kulot)nya Meiske, terus ke arah belakang
tempat zip (ruitszleting) langsung kubuka perlahan-lahan. Dia diam saja
dan aku merasakan bahwa dia sudah pasrah dengan apa yang akan
kulakukan. Kutarik roknya ke bawah dan dia membantu untuk melepaskannya.

Para
pembaca yang budiman, anda bisa membayangkan, dihadapanku (laki-laki
sehat fisik dan mental berumur 22 tahun) tergeletak sebatang tubuh
gadis 17 tahun yang berdarah Portugis. Dengan tinggi 170 cm, putih
mulus dengan perut yang rata, buah dada yang besar berukuran 36C,
montok serta kenyal, mengenakan CD mini berwarna pink.

“Tuhan… betapa sempurnanya ciptaanMu.” dalam hatiku.

“Maass Adit… peluk Meis dong…” tiba-tiba katanya dengan sendu membuyarkan lamunanku.

Kembali
aku memeluknya dengan lembut dan aku merasa penisku melakukan
pemberontakan yang gila. Sambil mencium bibirnya, lehernya terus turun
ke susunya serta putingnya yang menggairahkan, aku melepaskan jeansku.
Kini di tempat tidurku tergeletak sepasang manusia hanya tertutup oleh
CD masing-masing, pink dan white saling berpagut menggelora. Kukecup
kedua puting merah muda itu berulang-ulang dengan lembut sampai basah
oleh air liurku. Kuturunkan kecupanku ke arah pusarnya Meis, dia
bergerak sambil terus menjambak rambutku sambil mendesah disertai
erangan-erangan nikmatnya yang halus. Sampai akhirnya bibirku berada di
atas vaginanya yang sudah basah tertutup oleh Miss Pink CDnya.

“Meiske
sayang.. mau kan kamu merasakan dan menikmati ini? Pelan-pelan yaa?”
kataku sambil mulai membuka CD-nya lepas dari tubuhnya.

Meiske hanya
menganggukkan kepalanya dengan rintihan kenikmatan yang kuyakin belum
pernah dirasakannya seumur hidup. Dihadapanku terlihat anak gadis,
perawan, telanjang dengan lubang kewanitaan ditumbuhi bulu-bulu halus
yang teratur rapi nan cantik. Vagina anak perawan yang belum pernah
disentuh oleh laki-laki manapun. Kukecup bibir atas benda indah itu
yang dengan serta merta mengeluarkan aroma yang khas. Aku merasakan
gerak gelinjang Meiske serta keluhan panjang.

“Ooohhh… Maasss…!”

Kuyakin Meiske sudah kehilangan kata-kata untuk menyatakan kenikmatan yang belum pernah dia alami, karena umurnya baru 17 tahun.

Cerita seks, Anak Kelas 3 SMP Di Rangsang Sama Om. Bag 1

cewek smk yg haus sex sama omCerita sek siswi ma om omCerita cewe abg 17th bokep anak bandung diperkosa om-om penis gede dan panjangCerita sex abg vs omCerita sex abg vs om pesta sexCerita sex ampun om terlalu besar kontol omCerita sex anak sekolah di perkosa om omCerita sex di paksa ml sama om sendiriCerita sex jangan om aku masih smp dihamili omku sendiriCerita sex omCerita sex om om 17cerita sex sama om omCeritacewe anak smp jakarta bokep vs om-om penls gede dan panjangCerita seks anak sekolah ngentot ama om-omcerita seks abg perawan smk lugu menurut saat di raba di rumahnyaCerita cewek smp ngentot sama om kontol gedecerita dewasa bercinta dengan sma cantik om omcerita dewasa perawan dan omcerita ngentot abg smp di entot omomCerita om ngentot abg perawanCerita om ngetot gadis perawanCerita sek abg hijab ma om omCerita sek dewasa aku di paksa ngento sama omkucerita sek gadis smpCerita sek om omCerita sek sama abg lugu kontol gedeCrt bergambar entot perawan cantik vs om nya